Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Asuhan Akupuntur pada Kasus Sulit Buang Air Besar di Praktik Mandiri Sely Meting Pluit Jakarta Utara Sely Meting; Amal Prihatono; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026): September: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i3.7090

Abstract

Constipation is a global health problem experienced by about 14% of the adult population and 30% of the elderly. Around 23% occurs in women and 11% in men in Asia, including Indonesia. The aim of the study was to provide acupuncture care for constipation cases at Sely Meting Independent Practice, Pluit, North Jakarta. The research method used was a case study, with a sample of 1 person using purposive sampling, and data collection was carried out using a client data sheet instrument (DSI). The acupuncture points used in the therapy were LI4, KI6, LI11, SP15, BL25, ST25, ST44. The therapy was provided in 12 sessions, twice a week for 6 weeks. The analysis of the case study results used content analysis. Research using the case study method found a significant difference between the first therapy session and the twelfth therapy session. Patient complaints in the final session improved from difficulty in bowel movements to normal. Acupuncture therapy at this point can be recommended to therapists in managing patients based on syndromes and a high-fibre diet therapy.
Penatalaksanaan Akupunktur pada Kasus Nyeri Betis di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo Asgar; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2886

Abstract

Nyeri betis merupakan keluhan yang sering dialami oleh kelompok pekerja akibat adanya cedera pada area betis. Manifestasi nyeri dapat berupa rasa panas, gemetar, kesemutan, terbakar, tertusuk, maupun ditikam, yang timbul akibat gangguan pada struktur pembentuknya. Dalam sudut pandang Traditional Chinese Medicine (TCM), nyeri terjadi akibat terhambatnya aliran Qi dan darah. Akupunktur berfungsi sebagai terapi komplementer yang efektif untuk mengatasi stagnasi serta memulihkan sirkulasi Qi dan darah guna mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan seorang partisipan yang mengalami nyeri betis. Intervensi akupunktur dilakukan di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo sebanyak 6 sesi terapi sejak 3 Mei hingga 23 Mei 2025. Pengumpulan data menggunakan Lembar Data Klien, yang kemudian diolah berdasarkan empat metode diagnostik: Pengamatan (Wang), Pendengaran dan Penciuman (Wen), Wawancara (Wen), serta Palpasi/Sentuhan (Qie). Hasil pascaterapi menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan; intensitas nyeri betis responden yang semula berada pada kategori nyeri sedang sebelum intervensi, menurun secara signifikan menjadi kategori tidak nyeri hingga nyeri ringan setelah menjalani terapi akupunktur. Hasil ini membuktikan adanya pengaruh signifikan dari pemberian terapi akupunktur terhadap penurunan intensitas nyeri betis pada pasien di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo.
Peran Akupunktur dalam Mengatasi Mual pada Klien Tuberkulosis Melina Solihin; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini; Leny Candra Kurniawan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2901

Abstract

Mual merupakan efek samping yang sering muncul pada pasien tuberkulosis yang menjalani pengobatan anti-tuberkulosis (OAT) dan dapat menurunkan toleransi serta kepatuhan terapi. Pendekatan komplementer seperti akupunktur berpotensi berperan sebagai terapi adjuvan untuk mengatasi keluhan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran asuhan akupunktur dalam mengurangi mual pada klien tuberkulosis yang menjalani terapi OAT berdasarkan perspektif Chinese Medicine. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan satu partisipan yang menjalani 12 sesi akupunktur selama enam minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis CM (empat cara pemeriksaan), observasi tanda objektif seperti lidah, nadi, dan nyeri tekan titik diagnostik, serta wawancara subjektif setiap sesi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan hierarki patologis Biao–Ben. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bermakna pada durasi dan intensitas mual, perbaikan fungsi Shen, serta peningkatan fungsi organ paru dan limpa-lambung secara bertahap. Namun, tanda-tanda defisiensi kronis terdalam, khususnya defisiensi Yin ginjal dan kelemahan Qi limpa, relatif menetap hingga akhir terapi. Berdasarkan temuan tersebut, akupunktur disarankan untuk dilanjutkan sebagai terapi adjuvan dengan fokus lanjutan pada tonifikasi konstitusional guna mendukung pemulihan jangka panjang.
Studi Kasus: Efektivitas Asuhan Akupunktur pada Pasien Nyeri Pinggang (Yaotong) Dino Leo; Mayang Wulandari; Ikhwan Abdullah; Leny Candra Kurniawan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2902

Abstract

Nyeri punggung bawah atau low back pain merupakan gangguan muskuloskeletal dengan prevalensi tinggi dan dampak signifikan terhadap fungsi serta produktivitas. Dalam perspektif Chinese Medicine, kondisi ini dikenal sebagai Yaotong yang berkaitan dengan hambatan aliran Qi dan Xue pada meridian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara komprehensif manfaat asuhan akupunktur pada penderita Yaotong di Klinik DNL. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap satu partisipan perempuan berusia 33 tahun selama enam minggu (enam sesi terapi). Data dikumpulkan melalui Empat Cara Pemeriksaan akupunktur, telaah rekam medis, serta dokumentasi longitudinal tiap sesi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui reduksi dan komparasi silang antar-sesi. Hasil menunjukkan penurunan bertahap intensitas nyeri sejak sesi kedua, hilangnya penjalaran nyeri pada sesi ketiga, serta tidak ditemukannya keluhan nyeri maupun nyeri tekan pada sesi keenam. Perbaikan juga tampak pada perubahan karakteristik lidah dan nadi, peningkatan kualitas tidur, serta pemulihan kapasitas aktivitas fungsional. Disarankan penelitian lanjutan dengan jumlah partisipan lebih besar untuk memperkuat evidensi klinis asuhan akupunktur pada Yaotong.