Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Cool-Down Stretching terhadap Intensitas Delayed Onset Muscle Soreness pada Otot Biceps Brachii Setelah Latihan Beban Fearen Finery Ludji; Su Djie To Rante; Kartini Lidia; Arley Sadra Telussa
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i2.4007

Abstract

Latihan beban merupakan program latihan menggunakan beban dengan banyak potensi untuk kesehatan tubuh. Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) menjadi salah satu alasan menurunnya motivasi untuk melanjutkan program latihan, sehingga manfaatnya tidak optimal. Cool-down stretching merupakan salah satu modalitas untuk mengurangi risiko terjadinya DOMS setelah berolahraga. Namun, banyak penelitian memiliki hasil yang bertolak belakang mengenai efektivitas cool-down stretching terhadap DOMS. Mengetahui efektivitas cool-down stretching terhadap intensitas DOMS pada otot biceps brachii setelah latihan beban. Menggunakan desain penelitian True Experimental dengan pedekatan Posttest-Only Control Group Design. Peneliti menginduksi DOMS menggunakan latihan beban pada otot biceps brachii, lalu kelompok intervensi diberikan perlakuan cool-down stretching. Posttest dilakukan untuk mengukur intensitas DOMS menggunakan 100mm Visual Analog Scale. Teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling dan jumlah sampel masing-masing kelompok sebanyak 16 orang. Uji bivariat menggunakan Independent T-Test dan Mann Whitney U Test, dan uji multivariat dengan Two Way Anova. Rerata intensitas DOMS pada kelompok kontrol dan intervensi secara berururtan, untuk 24 jam sebesar 64,56 dan 41,50, untuk 48 jam sebesar 43,38 dan 31,88, serta untuk 72 jam sebesar 24,94 dan 34,38. Hasil bivariat menunjukkan nilai p=0,007 (p<0,05) untuk 24 jam, p=0,116 (p>0,05) untuk 48 jam, dan p=0,806 (p>0,05) untuk 72 jam. Cool-down stretching efektif dalam menurunkan intensitas DOMS setelah 24 jam, tetapi tidak efektif setelah 48 dan 72 jam.
Analisis Hubungan Obesitas dengan Kejadian Osteoartritis Lutut di Kota Kupang Maria Cesilia Tena; Sangguana Marthen Jacobus Koamesah; Gottfrieda Patiencia Taengob Adang; Su Djie To Rante
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 6 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i6.4209

Abstract

Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif kronis pada sendi yang diderita oleh 240 juta orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini menyebabkan nyeri dan kaku pada sendi, sehingga terjadi hambatan fisik dalam mobilitas sehari-hari. Osteoartritis lutut secara keseluruhan adalah yang paling umum dengan 83% kasus yang meningkat setiap tahun. Salah satu faktor risiko terjadinya osteoartritis adalah obesitas dan dikaitkan sebagai penyebab perkembangan osteoartritis lutut. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan kejadian osteoartritis lutut di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan didapatkan 97 sampel. Data dalam penelitian ini dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian osteoartritis lutut di Kota Kupang dengan didapatkan nilai p = <0,001 (p < 0,05). Terdapat hubungan antara obesitas dengan kejadian osteoartritis lutut di Kota Kupang. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi upaya pencegahan dan penatalaksanaan osteoartritis lutut, terutama melalui pengendalian berat badan dengan edukasi gizi seimbang dan aktivitas fisik teratur yang perlu diprioritaskan dalam program kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok usia lanjut. Tenaga kesehatan di puskesmas perlu melakukan skrining IMT secara rutin pada pasien osteoartritis untuk deteksi dini dan intervensi obesitas, sementara kebijakan kesehatan perlu mengintegrasikan pengelolaan obesitas sebagai bagian dari strategi komprehensif pencegahan osteoartritis lutut mengingat prevalensi obesitas yang terus meningkat di Kota Kupang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis faktor-faktor lain seperti aktivitas fisik, riwayat cedera, dan faktor genetik, serta menggunakan desain kohort untuk melihat hubungan sebab-akibat secara lebih kuat.
Perbandingan Pemberian Rebusan Air Biji Ketumbar dan Air Kelapa Muda Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total Matthew Fiorentino Yusuf Tan Mbatu; Derri R. Tallo Manafe; Su Djie To Rante; Gottfrieda Taeng-Ob Adang
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 6 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i6.4212

Abstract

Kadar kolesterol total yang tinggi atau hiperkolesterolemia merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Penggunaan bahan alami seperti rebusan air biji ketumbar dan air kelapa muda dapat menjadi salah satu upaya nonfarmakologis untuk menurunkan kadar kolesterol total dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pemberian air rebusan biji ketumbar dan air kelapa muda dengan frekuensi satu kali setiap hari selama satu minggu terhadap penurunan kadar kolesterol total. Penelitian ini merupakan penelitian quasi-experiment dengan rancangan penelitian pretest-posttest with control group design. Responden penelitian berjumlah 48 responden dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Frekuensi pemberian intervensi dilakukan sebanyak satu kali setiap hari selama satu minggu. Terdapat perubahan yang signifikan terhadap kadar kolesterol total pre test dan post test pada kelompok intervensi air rebusan biji ketumbar (p value: 0,000) kelompok intervensi air kelapa muda (p value : 0,013) dan kelompok kontrol tidak ada perubahan yang signifikan (p value : 0,121). Uji one way anova menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelompok (p value: 0,007) dan hasil uji tukey menunjukan bahwa pemberian rebusan air biji ketumbar lebih efektif secara signifikan (p value: 0,039). Ada perbedaan efektivitas antara pemberian air rebusan biji ketumbar dan air kelapa muda air kelapa muda terhadap penurunan kadar kolesterol total dan air ketumbar lebih efektif dibandingkan dengan air kelapa muda.
Relationship Between Duration of Hemodialysis and Knowledge Level About Chronic Kidney Disease Among Hemodialysis Patients in Kupang City Betty Griselda Christine Soemoeljo; Teguh Dwi Nugroho; Su Djie To Rante; Elisabeth Levina Sari Setianingrum
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11194

Abstract

Long-term kidney disease is a worldwide health issue that is becoming more common, leading to numerous individuals needing ongoing hemodialysis treatment. Understanding the illness and the management of hemodialysis is vital for successful treatment and improving life quality. However, the length of time a patient undergoes hemodialysis does not always match their level of understanding about the condition. The aim of this study was to determine the relationship between hemodialysis duration and knowledge levels about chronic kidney disease among hemodialysis patients in Kupang City. The research method used was analytical with a cross-sectional design. Sampling was conducted using purposive sampling according to specific inclusion criteria. Knowledge levels were assessed using the Chronic Kidney Disease Knowledge Questionnaire, while the duration of hemodialysis was gathered from medical records. The data analysis involved univariate and bivariate analysis, utilizing the Chi-square test (p < 0.05). A large portion of the participants were between the ages of 52 to 66 years (41.1%), had completed high school (35.6%), and were either unemployed or retired (36.2%). Regarding the length of hemodialysis, the majority of participants fell into the category of more than 24 months (43.6%). Knowledge levels ranged from good to poor. Bivariate analysis indicated no significant connection between the duration of hemodialysis and the understanding of chronic kidney disease (p-value = 0.500). There is no association between the length of hemodialysis and the understanding of chronic kidney disease among patients receiving hemodialysis in Kupang City.
Relationship Between Central Obesity and Low Back Pain Complaints Among Housewives in Kampung Sawah Village, West Sumba Dominggus R.K.U.W Pandango; Su Djie To Rante; Audrey Gracelia Riwu; Dwita Anastasia Deo
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11205

Abstract

Central obesity can increase mechanical stress and inflammation on the spine, which can lead to low back pain (LBP). Housewives have limited physical activity and repetitive domestic workloads that can exacerbate this risk. Objective to determine the relationship between central obesity and low back pain complaints among housewives in Kampung Sawah Village, West Sumba. Method: A cross-sectional analytical study of 101 housewives. Methods: The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 101 housewives were included as respondents. Central obesity was determined based on waist circumference measurements, while LBP complaints were assessed using a standardised questionnaire. The analysis of the relationship between variables was performed using the Chi-Square test. Results of the total respondents, 89 people (88.1%) were identified as having central obesity, and 67 of them reported complaints of LBP. The Chi-Square test showed a value of p=0.001, indicating a significant relationship between central obesity and complaints of low back pain. There is a significant relationship between central obesity and LBP complaints among housewives in Kampung Sawah Village, West Sumba. Prevention can be achieved through increased physical activity and education on ergonomic work posture.
Effect of Isometric Handgrip Exercise on Blood Pressure Reduction in Individuals with Prehypertension and Stage 1 Hypertension Marescha Alehandro L. Pajukang; Su Djie To Rante; Regina Marvina Hutasoit; Deif Tunggal
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11394

Abstract

Hypertension is a significant worldwide health concern that greatly affects heart-related illnesses and deaths. One recommended method to help lower blood pressure without medication is the isometric handgrip exercise. This research aimed to investigate the impact of isometric handgrip exercise on lowering blood pressure in those with prehypertension and stage 1 hypertension. The study utilized a quasi-experimental design following a two-group pretest–posttest format. The participants included 50 seminarians from Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang, who were chosen through purposive sampling based on specific inclusion and exclusion criteria. The participants were split into two groups: the intervention group (n = 25) that engaged in isometric handgrip exercises for three minutes daily over five days, and the control group (n = 25) that did not participate in any exercise. The data were evaluated using the Wilcoxon Signed Rank test and the Mann–Whitney test. After five days of exercise, a notable decrease in blood pressure occurred in the intervention group, both for prehypertension (systolic p < 0.001; diastolic p = 0.005) and stage 1 hypertension (systolic p = 0.003; diastolic p = 0.012). No remarkable changes were noted in the control group (p > 0.05). The comparison between the two groups indicated significant differences in blood pressure changes for both categories (p < 0.05). Isometric handgrip training significantly affects reducing blood pressure in individuals with prehypertension and stage one hypertension.