Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM LONDE TOMANGNGURA (PANTUN) PENDEKATAN HERMENEUTIKA Daud Rodi Palimbong; Tajuddin Maknun; Lukman Lukman; A.B. Takko
Cakrawala Indonesia Vol 6 No 2 (2021): Nopember-April
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jci.v6i2.507

Abstract

Tidak bisa dielakkan bahwa sastra tradisional kita sangat sarat dengan nilai-nilai luhur yang mengandung kearifan lokal masyarakat pemiliknya yang bermanfaat bagi kehidupan saat ini. Demikian juga dengan sastra Toraja yang sarat dengan kandungan nilai-nilai yang mengimplementasikan suatu kearifan lokal masyarakat penuturnya. Salah satu sastra Toraja yang mengadung kearifan lokal adalah Londe Tomangngura atau pantun anak muda. Nilai kearifan lokal dalam pantun anak muda adalah bagaimana menata hidup dalam kehidupan bermasyarakat yang sejalan dengan kehidupan saat ini untuk mengembangkan nilai-nilai agar mampu menatap sikap dan perilaku serta menghargai pranata yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Adapun rumusan masalah dalam kajian ini adalah bagaimanakah nilai-nilai kearifan lokal pantun anak muda (Londe Tomangngura) Toraja melalui kajian hermeneutik. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengungkap nilai-nilai kearifan lokal dalam pantun anak muda (Londe Tomangngura). Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dimana data dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian ini adalah mengungkapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam londe tomangngura dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat khususnya bagi generasi muda seperti nilai kasih sayang, menghargai, Pendidikan, cinta kasih dan kejujuran.
Pollution Forensic Linguistic Analysis Natalius Pigai’s Good On Social Media Fatahuddin Burhanuddin; Tajuddin Maknun; Ery Iswary; Firman saleh
La Ogi : English Language Journal Vol 8 No 2 (2022): July
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, LP3M Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.937 KB) | DOI: 10.55678/loj.v8i2.693

Abstract

This study aims to: (1) explain the meaning of denotation and connotation of defamation on social media, (2) explain the pragmatic analysis (speech acts) of defamation on social media, and (3) explain the juridical effects of defamation on social media. The data in this study are language that contains criminal acts of defamation on social media Facebook. The data source in this study is the social media Facebook. The method used in this research is descriptive qualitative method, data collection techniques in the form of capturing screens, reading techniques, and taking notes. Data were analyzed using qualitative content analysis techniques. The results of this study indicate that: based on the semantic study of NA speech on social media Facebook, NP contains denotative and connotative meanings. The use of the type of animal chosen by the speaker is a different animal from the animals that are used to insult and humiliate. In this pragmatic study of speech is a type of ommissive illocutionary speech act. There is also a metaphorical meaning in the words "human", "gorilla", and "desert lizard", which is to compare the power between ordinary people, a group of people who have power against the government, and a group of people who are against the government. Perlocutionary in this sentence is the reporting of AN in Polda Papua and Polda Papua Barat so that Bareskrim takes the case. AN will be subject to Article Law Number 19 of 2016 Amendments to the ITE Law and KUHP Article 310 paragraph (2) of the Criminal Code regarding written pollution.