p-Index From 2021 - 2026
1.048
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sylva Scienteae
Gusti Syeransyah Rudy
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN KOTA KELURAHAN ANGSAU DI KABUPATEN TANAH LAUT Noorrinda Amelia; Gusti Syeransyah Rudy; Setia Budi Peran
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.22 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i6.4723

Abstract

This research aims to measure or calculate the level of perception of the people arround about the existence of Urban Forest Pelaihari based on a gender perspective and explain the factors that influence the level of people arround about the existence of Pelaihari City Forest. The method used was interviews with respondents chosen by using the Purpossive Random Sampling technique, in which there were family heads (KK) or respondents, 81 men and 16 women. The results of the research conducted, obtained the level of perception of men and women classified as moderate category with an average score of 15.28. The education and employment factors dominate the formation of a significant level of perception of women, because women with higher levels of education tend to have better perceptionsPenelitan ini bertujuan mengukur atau menghitung besarnya tingkat persepsi masyarakat sekitar tentang keberadaan Hutan Kota Pelaihari berdasarkan perspektif gender dan menerangkan faktor apa saja yang berpengaruh terhadap besarnya tingkat persepsi masyarakat tentang adanya Hutan Kota Pelaihari. Metode yang dilakukan yaitu wawancara dari responden yang dipilih dengan teknik Purpossive Random Sampling, dimana terdapat kepala keluarga (KK) atau responden ,81 orang resonden laki – laki dan 16 orang responden perempuan. Hasil dari penelitian yang dilakukan, didapatkan besarnya tingkat persepsi responden laki –laki dan responden perempuan tergolong kategori sedang dengan skor rata – rata 15,28. Faktor pendidikan dan pekerjaan mendominasi pembentukan besarnya tingkat persepsi perempuan secara signifikan, karena perempuan dengan tingkat pendidikannya lebih tinggi condong mempunyai persepsi lebih baik
KOMPOSISI JENIS, STRUKTUR TEGAKAN DAN DIVERSITAS VEGETASI HUTAN BAKAU DI PULAU KARAMIAN KABUPATEN SUMENEP JAWA TIMUR Mohammad Jufri; Gusti Syeransyah Rudy; Kissinger Kissinger
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i1.5049

Abstract

Mangroves become forest ecosystems with extreme physical factors, waterlogged habitats with high salinity located on beaches and rivers. Soil conditions in muddy. Mangrove forests become one of the important economic sources for people who live in the marine area of Karamian Island. The purpose of this study is to analyze the composition of mangrove forest vegetation types on keramian island, analyze horizontal vegetation structures in mangrove communities and analyze the deversity of mangrove forest diversity types. This study uses observation method with purposive sampling data collection technique as much as 3 research plots with a length of 200 m each plot. Important value index (INP) of Rhizopora sp tree (142.11 %), rhizopora sp pole level (275.79 %) and seedling level Rhizopora sp ( 88.84 %) with the diversity of species or diversity of mangrove forests on karamian island is still relatively low at every level of vegetation that has been observedHutan bakau (Mangrove) menjadi ekosistem hutan dengan faktor fisik yang ekstrim, habitat tergenang air dengan salinitas tinggi yang berada di pantai dan sungai. Kondisi tanah pada hutan mangrove berlumpur. Hutan bakau menajadi salah satu sumber ekonomi penting bagi manusia yang berada dan tinggal di wilayah perisir laut Pulau Karamian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis komposisi jenis vegetasi hutan mangrove di pulau Keramian, menganalisis struktur vegetasi horizontal pada komunits mangrove serta menganalisis deversitas jenis keragaman hutan mangrove. Penelitian ini menggunakn metode observasi dengan dengan teknik pengambilan data purposive sampling sebanyak 3 plot penelitian dengan panjang masing-masing plot 200 m. Indeks nilai penting (INP) tingkaat pohon Rhizopora sp (142,11 %), tingkat tiang Rhizopora sp (275,79 %) dan tingkat semai Rhizopora sp ( 88,84 %) dengan diversitas jenis atau keragaman hutan mangrove di pulau Karamian masih tergolong rendah pada setiap tingkat vegetasi yang telah diamati
DIVERSITAS VEGETASI DI KAWASAN KARST Syahril Sabirin; Gusti Syeransyah Rudy; Susilawati Susilawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 3 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 3 Edisi Juni 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i3.19752

Abstract

The aim of this research is to identify the types of vegetation that make up the karst area in Uren Village, Halong District, Balangan Regency. The object of this research is the understory plants in the karst area of Uren Village, Halong District, Balangan Regency. Primary data for this study were obtained through field observations by creating single plots using the purposive sampling method, which was determined based on land cover using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). The results of this research found a total of 26 types of understory plants, with the following species names: daun hampalas (Acrotema costatum), kaladi hijau (Alocasia micholitziana), rarangka (Aristolochia macrophylla), mamali (Asian copperleaf), bajakah (Spatholobus littoralis), pacing (Costus woodsonii), ambung (Crassocephalum crepidioides), hiring (Cyperus rotundus), benggala (Tragia involucrata), pucuk paku (Diplazium esculentum), lirik macan (Geoppertia bachemiana), patiti (Hedychium greenii), bilaran tapah (Ipomoea purpurea), jelatang (Laportea macrostachya), piduduk (Melastoma malabathricum), sambung rambat (Mikania micrantha), pakis (Deparia petersenii), pandan hutan (Pandanus tectorius), pohon kasai (Paullinia pinnata), malalong (Philodendron grandipes), kakaladian (Philodendron toshibae), sirih hutan (Piper aduncum), rawa putih (Clerodendrum thomsoniae), rotan (Calamus axillaris), paku cakar ayam (Selaginella umbrosa) and paku-pakuan (Thelypteris reticulata).
KOMUNITAS ANTAR TUMBUHANAN OBAT DI DAERAH TEPIAN SUNGAI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS MANDIANGIN Muhammad Rafiyadi Taufik; Setya Budi Peran; Gusti Syeransyah Rudy
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.10919

Abstract

Tumbuhan obat merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang disediakan alam yang dipercayai dan diketahui masyarakat berkhasiat sebagai obat, namun tumbuhan obat ini sering diabaikan karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi karena hanya berupa semak atau rerumputan dan tidak semua masyarakat mengetahui khasiat tumbuhan obat tersebut. Beberapa tumbuhan obat juga memiliki nilai ekonomi yang dimanfaatkan masyarakat guna peningkatan kesejahteraannya (Limbong et al., 2016). Bagian tumbuhan herba yang digunakan untuk obat-obatan adalah akar, umbi, batang, daun, pucuk, bunga, dan buah. Bagian tersebut ada yang dapat langsung digunakan sebagai obat dan ada pula yang harus melalui proses pengolahan (Sari, 2010). Metode penelitian ini dilakukan dengan membuat petak pengamatan tunggal di sepanjang tepi sungai dengan cara bertingkat yaitu (2m×2m), (5m×5m), (10m×10m) dan (20m×20m). Pada setiap tingkat petak pengukuran tersebut dicatat semua spesies tumbuhan yang ditemui mulai dari tingkat semai, pancang, tiang hingga tingkat pohon. Jumlah individu secara kumulatif dihitung untuk setiap spesies tumbuhan pada tiap strata tersebut. Khusus untuk tingkat pohon diukur pula diameter batang pohon setinggi dada dengan menggunakan pita diameter. Berdasarkan hasil identifikasi dan determinasi tumbuhan obat yang telah dilakukan di sepanjang tepi sungai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Mandiangin, menunujukkan jumlah jenis semai yang ditemukan pada tepi sungai sebanyak 11 jenis tumbuhan dengan 11 jenis nama ilmiah dan 8 famili. Dari tabel ini jika diambil 3 jenis dengan jumlah individu tertinggi secara berurutan maka yang pertama adalah Sampai ringan dengan 115 individu, lalu Pilak dengan 43 individu dan Paikat laki dengan 28 individu. Untuk jenis Rahwana dan Tampar badak memiliki jumlah yang sama yaitu ditemukan dengan jumlah 2 individu, sedangkan jenis Kirinyuh hanya ditemukan dengan jumlah 1 individu saja. Jenis ini menjadi jumlah jenis individu yang terendah. Berdasar pada jumlah dan populasi tumbuhan bawah yang bermanfaat obat maka Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Mandiangin mempunyai potensi untuk dimanfaatkan terutama dari 4 spesies tumbuhan yang populasinya tinggi.
SEBARAN ANAKAN BENUANG (Octomeles sumatrana Miq.) DI KHDTK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Abil Wahyu Rizqi; Gusti Syeransyah Rudy; Dina Naemah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18387

Abstract

Tegakan yang berkualitas bisa dicapai dengan menentukan pohon induk sebagai langkah pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pohon induk dan sebaran anakan Benuang (Octomeles sumatrana Miq.) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mandiangin. Penentuan pohon induk dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah 3 pohon untuk setiap jenisnya. Anakan pohon yang diamati merupakan anakan pohon yang tumbuh di sekitar pohon induk dan masih berada di bawah tajuk pohon induk. Data yang diambil pada peneltian ini terdiri dari pohon induk dan anakannya dengan beberapa parameter, seperti diameter, tinggi bebas cabang, tinggi total, lebar tajuk, jumlah anakan, jarak anakan dari pohon induk. Sebaran pohon induk benuang di KHDTK ULM ada 3 pohon yang. Sebaran rata-rata pohon induk benuang (O. sumatrana Miq.) diameter 112 cm, tinggi total 26 m, tinggi bebas cabang 15 m, dan lebar tajuk 11 m. Sebaran anakan dari pohon Benuang (O. sumatrana Miq.) memiliki rata rata anakan berjumlah 68 anakan.
KEANEKARAGAMAN VEGETASI HUTAN KERANGAS Dl KELURAHAN PASlR PUTlH KABUPATEN KOTAWARlNGlN TlMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Dwi Ayu Sapitri; Susilawati Susilawati; Gusti Syeransyah Rudy
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 2 Edisi APRIL 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i2.18942

Abstract

Hutan kerangas, sebagai ekosistem tumbuhan yang tumbuh dalam wilayah terbatas, rentan mengalami degradasi. Jika mengalami degradasi, akan berubah menjadi padang terbuka yang dikenal sebagai "Padang". Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi jenis vegetasi penyusun hutan kerangas, menganalisis indeks nilai penting (INP) di hutan kerangas dan menganalisis indeks keragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan komunitas tumbuhan di Kelurahan Pasir Putih Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu metode jalur dan garis berpetak (Nested Sampling) dengan membuat jaIur transek sepanjang 100 m sebanyak 5 jalur dengan menggunakan roIe meter dengan plot berukuran 20×20 m, 10×10 m, 5×5 m dan  2×2 m. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat total 4 jenis tumbuhan yang didapat pada lokasi penelitian. Pada tingkat semai, kantong semar memiliki nilai INP tertinggi sebesar 80.36%, galam pada tingkat pancang sebesar 125.79%, dan galam pada tingkat tiang sebesar 182.65%. Pada tingkat semai sendiri, indeks keanekaragaman jenisnya sedang, sedangkan pada tingkat pancang dan tiang, keanekaragaman jenisnya rendah. Jenis-jenis yang dominan pada tingkat semai adalah kantong semar, sedangkan pada tingkat pancang dan tiang adalah galam. Indeks kemerataan jenis pada kawasan hutan kerangas di lokasi penelitian menunjukkan kemerataan jenis yang tinggi