Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : WIDYAKALA JOURNAL

Representasi Karakter Ibu Sebagai Orang Tua Tunggal Dalam Film Wonderful Life Khansa Nur Aini; Sri Wijayanti
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 9, No 2 (2022): Urban Lifestyle and Urban Development
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.894 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v9i2.519

Abstract

Stigma negatif ibu sebagai orang tua tunggal, terlebih dengan kondisi memiliki anak berkebutuhan khusus di masyarakat melatarbelakangi penelitian ini dilakukan. Untuk itu penelitian ini bertujuan menjelaskan penggambaran ibu sebagai orang tua tunggal dengan anak berkebutuhan khusus di film Wonderful Life. Metode penelitian menggunakan semiotik Roland Barthes agar dapat memberikan pencerahan pada masyarakat terkait stigma negatif ibu tunggal. Hasil penelitian ini menemukan bahwa karakter ibu tunggal masih dijadikan sebagai komoditas untuk menarik simpati. Ibu tunggal dalam praktik budaya patriarki yang berlaku di Indonesia khususnya pada lingkup keluarga, masih diposisikan sebagai subordinat. Temuan penelitian ini mengkonfirmasi sejumlah mitos ibu tunggal di masyarakat. Diantaranya ibu tunggal objek seksualitas, perilaku anak merupakan tanggung jawab ibu, ketidakberdayaan perempuan sebagai ibu tunggal, dilema ibu tunggal sebagai economic provider, dan ketergantungan ibu tunggal pada support systems keluarga.
Representasi Feminisme Dalam Karakter Pahlawan Perempuan Captain Marvel Naurissa Biasini; Sri Wijayanti
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 8 (2021): Special Issue : Design Lifestyle And Behavior
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.81 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v8i0.393

Abstract

Abstract — One of the film genres with an extraordinary development is film with the theme of heroism. Various film producer companies such as Marvel Entertainment, Warner Brothers, and Disney are competing to produce hero-themed films that always attract the attention of the audience. However, Marvel Entertainment has put more emphasis on male hero characters, until in 2019 there is a female hero character who has her own film, Captain Marvel. This is interesting because usually women in films are shown only as supporting characters for male heroes. Therefore, this study aims to see how feminism is represented in the character of Captain Marvel. This study will use Roland Barthes' Semiotics research method to see the symbols used to describe the values of Feminism displayed by this character, supported by Communication Theory and Feminism Theory related to mass media, especially films. The results showed that the character of Captain Marvel is depicted as a female figure who has greater strength than men and shows some values of radical and liberal feminism. In the film, Marvel Entertainment unfortunately has to show that Captain Marvel must have super power before recognized or considered superior to men.Keywords: Film, Feminism, Captain Marvel, Captain Marvel, Roland Barthes SemioticAbstrak — Salah satu genre film dengan perkembangan yang luar biasa adalah film yang bertemakan kepahlawanan. Berbagai perusahaan produsen film seperti Marvel Entertainment, Warner Brothers, hingga Disney berlomba-lomba menghasilkan film-film bertema kepahlawanan yang selalu menarik perhatian penonton. Namun selama ini Marvel Entertainment lebih menekankan pada tokoh-tokoh pahlawan pria, hingga pada tahun 2019 ada karakter pahlawan perempuan yang memiliki filmnya sendiri yaitu Captain Marvel. Hal ini menarik karena biasanya perempuan dalam film ditampilkan hanya sebagai karakter pendukung pahlawan pria. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana representasi Feminisme dalam sosok karakter Captain Marvel. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian Semiotika Roland Barthes untuk melihat simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan nilai-nilai Feminisme saja yang ditampilkan oleh karakter tersebut, didukung dengan Teori Komunikasi dan Teori Feminisme yang berkaitan dengan media massa terutama film. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa karakter Captain Marvel digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki kekuatan yang besar dari laki-laki dan menunjukkan beberapa nilai feminism radikal maupun liberal. Dalam film yang diteliti, Marvel Entertainment sayangnya harus menampilkan Captain Marvel memiliki kekuatan super terlebih dahulu untuk dapat diakui atau dianggap lebih hebat dari pria.     Kata Kunci: Film, Feminisme, Captain Marvel, Semiotika Roland Barthes
Representasi Karakter Autis Dalam Film-Film Indonesia Sri Wijayanti; Isti Utami
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 9, No 1 (2022): Urban Lifestyle and Urban Development
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.031 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v9i1.503

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi kepedulian arti pentingnya pemahaman yang benar terkait autis. Untuk itu, penelitian ini bertujuan menjelaskan penggambaran autis melalui karakter yang ditampilkan dalam film-film Indonesia yang diproduksi pada kurun 2013-2018. Film dipandang berperan besar dalam upaya sosialisasi isu autisme yang sampai saat ini masih lazim disalahpahami masyarakat. Sehingga mengakibatkan stigma dan perilaku diskriminatif terhadap penyandang autis dan keluarganya. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotika Barthes untuk dapat mengungkap representasi autis yang ditampilkan melalui karakter Abang (film Malaikat Juga Tahu), karakter Budi (film Malaikat Kecil) dan karakter Banyu (film Dancing In The Rain). Hasil penelitian menemukan bahwa film-film Indonesia masih menempatkan penyandang autis sebagai kelompok marginal dan sebagai bagian dari disabilitas yang digunakan sebagai komoditas penarik simpati. Temuan menarik lainnya, menampilkan sejumlah kriteria penyandang autis. Di satu sisi, penyandang autis cenderung menampilkan laki-laki, berlangsung seumur hidup, berasal dari kalangan menengah atas, senantiasa ada caregiver yang mendampingi, mendapatkan perilaku diskriminatif sampai digambarkan hiperpositif sehingga tampak kurang realistis. Namun, disisi lainnya, penyandang autis juga ditampilkan memiliki kemandirian dalam kehidupan keseharian, kelebihan dibidang tertentu, kesamaan karakteristik serta kepekaan perasaan.