Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Relief: Journal of Craft

TABUIK PARIAMAN DALAM PERAYAAN MUHARRAM (Pendekatan Sosiologi Seni) Yulimarni Yulimarni; Anin Ditto
Relief : Journal of Craft Vol 1, No 2 (2022): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.355 KB) | DOI: 10.26887/relief.v2i1.2596

Abstract

Tabuik is a work of decorative art that is formed on an aesthetic concept and is the main object for the implementation of the Muharram celebration in Pariaman City. The activity is held once a year. This study aims to examine the Pariaman tabuik from the perspective of the sociology of art by using the theory of Vera L. Zolberg. This research uses qualitative research and is analysed descriptively. Data was obtained through observation, interviews, literature study, and documentation. The data were analyzed through three stages, namely identification, classification, and interpretation. The results show that tabuik is a cultural artefact whose existence is very important in the celebration of Muharram and is formed due to social processes. Initially, the tabuik celebration was carried out as a sacred ceremony and contained sacred values. Now the implementation of Tabuik is more directed to the value of entertainment or tourism. All of that, of course, cannot be separated from the role of government institutions, tabuik artists, and supporting communities as art constructions. So that tabuik can live and thrive in Pariaman City until now.
Puncak Perayaan Tabuik Pada Media Logam bustamar, aldi wahyudi; bahrudin, ahmad; yulimarni, yulimarni
Relief : Journal of Craft Vol 3, No 2 (2024): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v3i2.2805

Abstract

ABSTRAKPerayan tabuik merupakan kegiatan untuk mengenangnya cucu Nabi Muhammad SAW yang di Pariaman pada tanggal 1 sampai 10 Muharam. Dalam acara tersebut terdapat fungsi (nilai) di antaranya fungsi sosial dan fungsi ekonomi, yang dapat memperkuat persatuan, serta kesejahteraan dalam masyarakat Pariaman. Hal logam tersebut menjadi ide penciptaan dalam karya relief. Metode yang dilakukan dimulai dari eksplorasi mencari referensi tulisan, dan data tentang tabuik. Perancangan karya sesuai konsep yang dijelaskan menjadi beberapa sketsa alternatif, sehingga diwujudkan menjadi karya teknik tatah pada media plat alumunium, dan tembaga dengan menggunakan teori ekspresi. Hasil karya rendah dengan judul-judul:Tabuik naiak pangkek, tabuik basandiang, maadu tabuik, mamanjek tabuik, tabuik tabuang, yang difungsikan sebagai hiasan dinding.  Kata kunci: Tabuik, ekspresi, dan relief logam
MANUMBUAK PADI PADA KARYA SULAM Maharani, Maharani; Widdiyanti, Widdiyanti; yulimarni, yulimarni
Relief : Journal of Craft Vol 4, No 1 (2024): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v3i3.4915

Abstract

Manumbuak padi is an activity of Minangkabau`s women in processing paddy into rice traditionally using traditional tools. the traditional tools is lasuang, pestle/antan and tampian. Nowadays, rice processing using lasuang is starting to be abandoned, because it has been replaced by more sophisticated technology. This is the interest and concept in creating embroidery works. The embroidery creation methods that we used are three-stage theory, the exploration stage, looking for ideas and reference sources. The design stage, namely expressing ideas in the form of a design, continued with the realization stage. The work is made using embroidery techniques using cotton linen and polycherry thread. The works in the form of wall decorations have a diameter of 80 cm, and each work has a storyline according to its title, namely Work 1 entitled manjamua padi (drying rice), work 2 manumbuak padi (pounding rice), work 3 basumarak (lively/excited), work 4 manampi (winnowing), work 5 manyumpik bareh (putting rice into a sack), and work 6 malapeh panek (unwinding or resting).
Visualisasi Makan Bajamba Dengan Teknik Ukir Pada Kayu Farihah, Nur Annisa; Yulimarni, Yulimarni; prastawa, Wisnu
Relief : Journal of Craft Vol 3, No 1 (2023): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v3i1.5393

Abstract

Makan bajamba adalah budaya asli Minangkabau khususnya di nagari Koto Baru Salo, kabupaten Agam yang sangat patut untuk dilestarikan keberadaannya. Dalam Konsep perwujudan karya bersumber dari budaya makan bajamba menghadirkan visualisasi dari prosesi makan bajamba yang diwujudkan dalam bentuk relief dengan tiga nilai utama yang terkandung di dalam makan bajamba yaitu nilai kebersamaan, nilai etika dan nilai silaturahmi. Proses perancangan, perwujudan serta penerapan karya menggunakan teori bentuk, estetika, dan fungsi. Teknik yang digunakan pada pembuatan karya ini adalah teknik ukir tinggi, dengan menggunakan bahan utama kayu surian. Hasil akhir dari karya ukir kayu berbentuk relief ini bejumlah tujuh karya yang berjudul yaitu Karya I Mahidang, Karya II Pasambahan, Karya III Jamba, Karya IV Adab Makan Bajamba, Karya V Menikmati Jamba, Karya VI Parabuang, Karya VII Makan Parabuang. Dalam setiap karya mengandung nilai dan ilmu pengetahuan tentang kegiatan makan bajamba .
Kuluk Kerinci Sebagai Motif Hias Pada Tas Wanita nanda, afri novia; Widdiyanti, Widdiyanti; yulimarni, yulimarni
Relief : Journal of Craft Vol 4, No 2 (2025): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v4i1.5450

Abstract

Tengkuluk (kuluk) adalah penutup kepala tradisional perempuan suku Kerinci yang dikenakan oleh anak batino. Secara umum, kuluk berbentuk lingkaran besar (2 gelang besar) dengan lidah atau jumbei berupa kain beludru hitam atau merah (8-10 cm) yang dipasang dari atas lingkaran hingga belakang kepala sebatas pinggang. Bentuk kuluk menginspirasi motif hias pada tas dengan pola berulang melingkar. Proses penciptaan karya ini meliputi tiga tahap: eksplorasi dengan mengamati langsung bentuk kuluk, perancangan sketsa hingga desain terpilih, serta perwujudan karya melalui teknik batik tulis pada tas wanita. Penciptaan didasarkan pada teori bentuk, fungsi, kreasi, motif, dan warna. Tas yang dihasilkan berupa tas selempang dan tas tangan untuk membawa barang pribadi dalam acara formal atau resmi. Karya ini bertujuan melestarikan budaya serta menggabungkan motif nagguri lahak sebagai simbol pentingnya hidup bersih dalam masyarakat. Motif pada tas mencerminkan kebersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan perempuan. Tujuh karya yang dihasilkan berjudul: “Berdampingan”, “Refleksi”, “Seluruh Sisi”, “Beriringan”, “Bersua”, “Kesatuan”, dan “Saling Support.” 
KREASI MOTIF LIMPAPEH PADA OUTER WANITA ferina, nadia; Widdiyanti, Widdiyanti; yulimarni, yulimarni; Kurniawan, Ramadhani
Relief : Journal of Craft Vol 4, No 2 (2025): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v4i1.5451

Abstract

Limpapeh merupakan sejenis binatang yang selalu mendiami rumah atau bangunan yang besar. Limpapeh adalah sebutan untuk kaum perempuan atau anak gadis yang mendiami sebuah rumah gadang. Limpapeh memberi pengertian bahwa apabila dalam sebuah rumah tersebut ada seorang wanita, maka rumah tersebut terlihat semarak. Bentuk motif limpapeh menginspirasi pengkarya untuk dijadikan motif hias outer wanita dengan menggunakan komposisi pola berulang. Metode penciptaan karya seni melalui tiga tahap. Tahap eksplorasi dengan mencari referensi melalui studi pustaka. Tahapan perancangan dengan membuat gambar rancangan melalui gambar sketsa alternatif dan desain gambar kerja. Tahapan perwujudan menggunakan teknik batik tulis dan jahit. Penciptaan menggunakan teori bentuk, fungsi, kreasi, warna dan komposisi. Bentk karya yang diciptakan adalah outer wanita dengan jenis outer panjang dan vest menggunakan teknik batik tulis. Fungsi outer ini sebagai pakaian wanita remaja hingga dewasa yang bisa digunakan pada saat santai dan formal, pemakaiannya harus disesuaikan dengan kegiatan yang kita lakukan. Alasan pengkarya menciptakan karya ini yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa banyak motif-motif yang terdapat di Sumatera Barat, salah satunya motif limpapeh, sesuai dengan maknanya kita sebagai perempuan haruslah pandai menjaga diri. Jumlah karya yang dibuat sebanyak tujuh karya dengan judul yaitu : “Ketegasan”, “Sang Bijaksana”, “Kemurahan”, “Keadilan”. “Keijaksanaan”. “Kebijaksanaan 2”, “Kehormatan”. 
PERKEMBANGAN BENTUK SUNTIANG ANAK DARO DI KOTA PARIAMAN Mulya, Kartika Firdha; Akmal, Ahmad; Yulimarni, Yulimarni
Relief : Journal of Craft Vol 5, No 1 (2025): Relief: Journal of Craft
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/relief.v5i1.6129

Abstract

Salah satu budaya tradisional Minangkabau adalah baralek. Baralek adalah upacara perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita di Minangkabau. Pakaian mempelai pria disebut roki dan dilengkapi dengan asesoris lainnya. Pakaian wanita lengkap terdiri dari baju kurung (atasan), kodek (bawahan), hiasan kepala berupa suntiang, dan aksesoris lengkap lainnya. Penelitian ini berfokus pada perkembangan bentuk suntiang yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang dikenakan pada anak daro di Kota Pariaman, perkembangan bentuk, dan ragam hias suntiang.Metode yang digunakan penulis dalam mempelajari perkembangan bentuk suntiang anak daro di Kota Pariaman adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data melalui data referensi, data lapangan, setelah itu data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan, kemudian ditarik kesimpulan.Hasil penelitian perkembangan suntiang anak daro dapat dilihat dari cara pemasangan dan bentuk suntiang, yaitu dari suntiang tusuak berkembang menjadi suntiang songkok. Suntiang songkok terdiri dari tiga bentuk, pertama suntiang berbentuk kipas atau mahkota, kedua suntiang berbentuk gonjong rumah gadang, ketiga suntiang berbentuk tingkuluk tanduak. Suntiang anak daro tersusun dari gabungan beberapa unsur berupa bungo sarunai dengan motif bunga melati, kambang goyang dengan motif bunga ros, mansi-mansi dengan motif cumi-cumi, burung merak dan kote-kote atau jurai-jurai yaitu beberapa helai yang memiliki motif berupa ikan, kupu-kupu dan burung.