Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Transmisi, Musik Lokal-Tradisional, dan Musik Populer Eli - Irawati
PANGGUNG Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.056 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i3.893

Abstract

 Popular music, like popular culture, is considered to reflect the tastes of ordinary people or the masses, produced for and through the modern mass media. One of the characteristics that distinguish between local-traditional music with popular music is its transmission. This paper is intended as a preliminary attempt to show the transmission between the two musics, which is then expected to trigger ideas about the possibilities of musical transmission in relation to the development of recent information and communication technology, the existence of popular music whose transmissions depend on this technology, as well as the benefits of information technology to the transmission of local-traditional music. The development of information and communication technology today has provided an alternative to the transmission of music, both local-traditional and popular, which may even be very effective and efficient.Keywords: local-traditional music, popular music, transmission, information technology.ABSTRAKMusik populer, seperti halnya budaya populer, merupakan musik yang dianggap mencerminkan-memuat selera rakyat kebanyakan atau rakyat jelata, diproduksi untuk, dan melalui, media massa modern. Salah satu karakteristik yang membedakan antara musik-musik lokal-tradisional dengan musik populer adalah transmisinya. Tulisan ini ditujukan sebagai upaya awal untuk mencoba memperlihatkan perbedaan transmisi antara kedua musik tersebut, yang kemudian diharapkan menggugah gagasan-gagasan bersama soal kemungkinan-kemungkinan transmisi musik dengan dukungan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini, eksistensi musik populer yang transmisinya bergantung pada teknologi ini, serta manfaat yang bisa diperoleh oleh musik-musik lokal-tradisional agar transmisinya tetap dan semakin terjaga. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini telah memberikan alternatif bagi transmisi musik, baik lokal-tradisional maupun populer, yang bahkan mungkin justru sangat efektif dan efisien.Kata kunci: Musik lokal-tradisional, musik populer, transmisi, teknologi informasi. 
NURTURE DAN NATURE PADA IRINGAN MUSIK NGINGGUT DALAM RITUAL SEMEGAH ERAU PELAS BENUA DI GUNTUNG KALIMANTAN TIMUR Yusuf Rizky N.C; Paramitha Dyah Fitriasari; Eli Irawati
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v14i2.3910

Abstract

Nginggut music tradition in the Semegah ritual is one of the cultures that has been maintained until now. Nginggut and Belian musicians are important elements of bonding, harmony, magical and sacred atmosphere in the implementation of rituals. The ritual implementer must be a person who is considered capable of carrying out the ritual and has physical, psychological, and reasoning endurance. This view forms the social construction of the paradigm that men are people who deserve to carry out rituals, both as leaders and musicians. Meanwhile, women are the people who support the ritual, because they are considered naturally unable to fulfill the requirements as ritual implementers. The theory of nurture and nature states that the emergence of a construction as well as a social paradigm is determined through the biological type of human that is obtained from birth. Based on this theoretical statement, the author examines the relationship between Ngiggut music which places men as performers of rituals, as well as the relationship between nurture and nature that forms the structure of society so that it has an influence in the aspect of Ngiggut music on Semegah rituals.Keywords: Nginggut music, Semegah ritual, Male
Implementasi Kreasi Komposisi Pada Iringan dan Tari Jathilan Kuda Prawira di Kalurahan Patalan Kapanewon Jetis Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta Eli Irawati; Ni Kadek Rai Dewi Astini
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i2.7771

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) lewat pembinaan kesenian kelompok jatilan di Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DIY merupakan salah satu cara untuk bisa memberikan fasilitas perubahan komposisi iringan, tari, busana, dan tata rias. Kelompok jatilan yang dibina dapat diberikan keterampilan wawasan dan jiwa mencintai kesenian tradisi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas aspek ragam iringan musikal, tata rias, dan busana sehingga nantinya dapat meningkatkan kreativitas seniman setempat. Kelompok mitra yang akan dibina adalah Kelompok Jatilan Kuda Prawira. Kegiatan meliputi pemberian materi berupa pengayaan gending gending/lagu, pola tabuhan, gerak tari, rias, dan busana. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan secara personal baik itu secara demontrasi, ceramah, latihan, maupun pengembangan. Luaran dari kegiatan pembinaan Kelompok Jatilan Kuda Prawira adalah dapat menghasilkan kelompok jatilan yang profesional, mengerti tentang pengemasan seni pertunjukan baik dari segi musikal, penataan tari, maupun rias busana sehingga nantinya bisa lebih diminati dan dapat menghidupi anggota kelompoknya dengan berkesenian.
Typological Analysis of Metalhead Community’s Logo as Visual Communication During Covid-19 Pandemic Sujud Puji Nur Rahmat; Shabri Bin Saad; Eli Irawati
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.7073

Abstract

Typology Analysis of Metalhead Community Logos as Visual Communication During the Covid-19 Pandemic. The Covid-19 pandemic brought many changes in terms of how to communicate within the community, namely Metalhead, both nationally and internationally by utilizing social media Facebook, Instagram, and so on through logos and graphic designs. The research problem is the tendency to use a logo which is the hallmark of the Metalhead group in terms of typography and function. Qualitative research methods with observational data collection, literature review, and documentation. The approach using typology studies includes typography and function. The findings from the results of the study show that the metalhead logo typology through digital posters has its own characteristics, in color selection, the dominant use of white in writing and the background tends to be dark in color, namely black, red, and other colors but not so dominating. Regarding letters, they tend to use unusual letters (design themselves) in writing band names. Event themes, schedules, venues, and sponsors tend to use fonts that are universally understood or still use conventional fonts in Microsoft Word. The function of the metalhead logo is to form a collective identity and communication among Metalheads and the wider community. Analisis Tipologi Logo Komunitas Metalhead sebagai Komunikasi Visual Selama Pandemik Covid-19. Masa pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan dalam hal cara berkomunikasi di ranah komunitas yaitu Metalhead, baik secara nasional maupun internasional dengan memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram, dan lain sebagainya lewat logo dan desain gambar. Permasalahan penelitian adalah kecenderungan penggunaan logo yang menjadi ciri khas kelompok Metalhead dalam ragam tipografi dan fungsi. Metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data secara observasi, kajian kepustakaan, dan dokumentasi. Pendekatan menggunakan studi tipologi mencakup tipografi dan fungsi. Temuan dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tipologi logo Metalhead lewat poster digital memiliki kekhasan tersendiri, dalam pemilihan warna, dominan menggunakan warna putih dalam tulisan dan latar belakang cenderung berwarna gelap yaitu hitam, warna merah, dan warna lainnya tetapi tidak begitu mendominasi. Terkait huruf, cenderung menggunakan huruf yang tidak lazim (mendesain sendiri) dalam menuliskan nama band. Tema acara, jadwal, tempat, dan sponsor cenderung menggunakan huruf yang dapat dimengerti secara universal atau masih menggunakan huruf-huruf konvensional dalam Microsoft Word. Fungsi logo Metalhead sebagai pembentuk identitas kolektif dan komunikasi di antara sesama Metalhead serta masyarakat luas. 
KANA PERANAK DALAM PERAYAAN GAWAI PADI SUKU DAYAK MUALANG DI KALIMANTAN BARAT Alexandrian Mualang Panurian; Eli Irawati; Haryanto Haryanto
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.8970

Abstract

Kana Peranak merupakan nyayian resitatif Suku Dayak Mualang yang disajikan pada saat Perayaan Gawai Padi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan kajian tekstual Kana Peranak. Untuk membedah objek ini, maka digunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil analisis dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Kana Peranak memiliki delapan dari sepuluh fungsi musik menurut Allan P. Meriam. Fungsi-fungsi tersebut antara lain Fungsi Hiburan, Fungsi Kenikmatan Estetis, Fungsi Ekspresi Emosional, Fungsi Komunikasi, Fungsi Penyelenggaraan Kesesuaian Dengan Norma-Norma Sosial, Fungsi Penopang Keseninambungan dan Stabilitas Kebudayaan, Fungsi Penopang Integrasi Sosial dan Fungsi Penggambaran Simbolik. Pada kajian tekstual, mengambil sampel Kana Peranak yang berjudul ”Limak Penyawak Sak Lempak Mrawai Awak”, terdapat tiga bagian pada bagian analisis musikal yaitu transkrip notasi, analisis motif nyayian serta analisis makna dan lirik. Adapun elemen pendukung musik meliputi pelaku, tempat, waktu, kostum dan suasana.
Gondang Mangaliat Dalam Acara Adat Pesta Gotilon Di HKBP Kirab Remaja Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat Tinambunan, Nova Oktaviana; Razak, Amir; Irawati, Eli
SELONDING Vol 20, No 2 (2024): : SEPTEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i2.12103

Abstract

Pesta Gotilon merupakan upacara panen masyarakat Batak Toba yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Pesta Gotilon adalah sebagai ungkapkan rasa syukur atas berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia. Pesta tersebut dilaksanakan di gereja HKBP Kirab Remaja Cileungsi. Dalam acara adat Pesta Gotilon terdapat tahapan prosesi adat, pada salah satu prosesi adat tersebut membawakan repertoar Gondang Mangaliat, dimana pada saat Gondang Mangaliat disajikan masyarakat gereja terlihat sangat bahagia dan bersukacita menikmati musik yang disajikan. Prosesi Gondang Mangaliat yang membawa semua warga jemaat ikut berdiri, menari dan bersukacita, ini menjadi fokus yang akan diteliti, menunjukan bahwa Gondang Mangaliat memiliki pengaruh yang besar bagi seseorang ketika mendengar repertoar Gondang Mangaliat sebagai suatu peristiwa nostalgia bagi masyarakat suku Batak. Bentuk musik yang terdapat dalam repertoar Gondang Mangaliat memiliki bentuk musik tiga bagian dan coda
Design of “Munyer” as a Respons to Social Condition in New Normal Warsana, Warsana; Irawati, Eli
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.9276

Abstract

This study aimed to observe social background of “Munyer” masterpiece creation. This study was a qualitative study through library research, observation and interview to elaborate the composition. The finding showed that the design method consisted of initial stimulation, idea generation, exploration, improvisation, formation and presentation or performance. The result of this design was a new musical masterpiece with instruments, pattern and performance in five composition parts. Each part illustrates online learning situation happened in New Normal. Thus, the creation of “munyer” was a response to social condition in new normal where all pedagogical activities were conducted via online. However, there were complex obstacles and problems during online classes such as poor provider network, massive internet data plan, non-updated hardware and software, etc.
Kreativitas Seniman Tingkilan Kutai Kalimantan Timur Eli Irawati
PANGGUNG Vol 23 No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.150

Abstract

ABSTRACT For Kutai society, the term of Tingkilan has two meanings: first, as a betingkilan activity, that is performed by the performers through chanting the songs, whereas the lyrics are in the form of pantun which are intended as satire. Second, betingkilan is also known as a kind of musical ensemble.  The creativity of Tingkilan playings are inseparable from some aspects that influenced it, either external or internal factors. The external aspects are connected with the Kutai society’s views about their concepts of life, customs, and traditions, due to geographical situations, history, and the advance of science and technology.  Whereas the internal aspects that influence the improvement of Tingkilan playings are the efforts of the artists themselves to create new works productively that can accommo- date the contemporary Kutai society’s preferences which of course need the artists creative touch. Keywords: Creativity aspects, Tingkilan, Kutai, and ethnomusicology  ABSTRAK Tingkilan dalam masyarakat Kutai memiliki dua pengertian yaitu sebagai sebuah ak- tivitas betingkilan atau mendendangkan lagu yang berisi sindiran lewat pantun dan juga untuk penyebutan sebuah ansambel musik. Kreativitas Tingkilan tidak terlepas dari bebe- rapa faktor yang mempengaruhinya baik yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi pan- dangan masyarakat tentang konsep hidup, adat, dan tradisi masyarakat Kutai disebabkan oleh letak geografis yang strategis, sejarah, dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun faktor internal yang mempengaruhi perkembangan Tingkilan adalah adanya upaya dari para senimannya untuk produktif menciptakan karya-karya baru yang bisa mengakomodir dari selera masyarakat Kutai zaman sekarang yang tentunya membu- tuhkan sentuhan olah kreativitas dari para senimannya. Kata kunci: Faktor-faktor kreativitas, Tingkilan, Kutai, dan etnomusikologi
Transmisi, Musik Lokal-Tradisional, dan Musik Populer Eli - Irawati
PANGGUNG Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i3.893

Abstract

 Popular music, like popular culture, is considered to reflect the tastes of ordinary people or the masses, produced for and through the modern mass media. One of the characteristics that distinguish between local-traditional music with popular music is its transmission. This paper is intended as a preliminary attempt to show the transmission between the two musics, which is then expected to trigger ideas about the possibilities of musical transmission in relation to the development of recent information and communication technology, the existence of popular music whose transmissions depend on this technology, as well as the benefits of information technology to the transmission of local-traditional music. The development of information and communication technology today has provided an alternative to the transmission of music, both local-traditional and popular, which may even be very effective and efficient.Keywords: local-traditional music, popular music, transmission, information technology.ABSTRAKMusik populer, seperti halnya budaya populer, merupakan musik yang dianggap mencerminkan-memuat selera rakyat kebanyakan atau rakyat jelata, diproduksi untuk, dan melalui, media massa modern. Salah satu karakteristik yang membedakan antara musik-musik lokal-tradisional dengan musik populer adalah transmisinya. Tulisan ini ditujukan sebagai upaya awal untuk mencoba memperlihatkan perbedaan transmisi antara kedua musik tersebut, yang kemudian diharapkan menggugah gagasan-gagasan bersama soal kemungkinan-kemungkinan transmisi musik dengan dukungan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini, eksistensi musik populer yang transmisinya bergantung pada teknologi ini, serta manfaat yang bisa diperoleh oleh musik-musik lokal-tradisional agar transmisinya tetap dan semakin terjaga. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini telah memberikan alternatif bagi transmisi musik, baik lokal-tradisional maupun populer, yang bahkan mungkin justru sangat efektif dan efisien.Kata kunci: Musik lokal-tradisional, musik populer, transmisi, teknologi informasi. 
Implementasi Kreasi Komposisi Pada Iringan dan Tari Jathilan Kuda Prawira di Kalurahan Patalan Kapanewon Jetis Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta Eli Irawati; Ni Kadek Rai Dewi Astini
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i2.7771

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) lewat pembinaan kesenian kelompok jatilan di Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DIY merupakan salah satu cara untuk bisa memberikan fasilitas perubahan komposisi iringan, tari, busana, dan tata rias. Kelompok jatilan yang dibina dapat diberikan keterampilan wawasan dan jiwa mencintai kesenian tradisi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas aspek ragam iringan musikal, tata rias, dan busana sehingga nantinya dapat meningkatkan kreativitas seniman setempat. Kelompok mitra yang akan dibina adalah Kelompok Jatilan Kuda Prawira. Kegiatan meliputi pemberian materi berupa pengayaan gending gending/lagu, pola tabuhan, gerak tari, rias, dan busana. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan secara personal baik itu secara demontrasi, ceramah, latihan, maupun pengembangan. Luaran dari kegiatan pembinaan Kelompok Jatilan Kuda Prawira adalah dapat menghasilkan kelompok jatilan yang profesional, mengerti tentang pengemasan seni pertunjukan baik dari segi musikal, penataan tari, maupun rias busana sehingga nantinya bisa lebih diminati dan dapat menghidupi anggota kelompoknya dengan berkesenian.