Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : RELIGIA

DAKWAH DAN DIALEKTIKA AKULTURASI BUDAYA Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.178 KB) | DOI: 10.28918/religia.v15i1.122

Abstract

Dakwah para penyebar Islam awal ke Nusantara telah menunjukkan akomodasi yang kuat terhadap tradisi lokal  masyarakat setempat. Sehingga Islam datang bukan sebagai ancaman, melainkan sahabat yang memainkan peran penting dalam transformasi kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa karakter Islam Indonesia yang berdialog dengan tradisi masyarakat sesungguhnya dibawa oleh para mubaligh India dalam penyebaran Islam awal di Indonesia yang bersikap akomodatif terhadap tradisi masyarakat atau kultur masyarakat setempat ketimbang mubaligh Arab yang puritan untuk memberantas praktik-praktik lokal masyarakat. Karakter Islam yang dibawa orang-orang India inilah yang diteruskan Walisongo dalam dakwahnya di Jawa. Proses dialog Islam dengan tradisi masyarakat diwujudkan dalam mekanisme proses kultural dalam menghadapi negosiasi lokal. Perpaduan antara Islam dengan tradisi masyarakat ini adalah sebuah kekayaan tafsir lokal agar Islam tidak tampil hampa terhadap realitas yang sesungguhnya. Islam tidak harus dipersepsikan sebagai Islam yang ada di Arab, tetapi Islam mesti berdialog dengan tradisi lokal masyarakat setempat
ISTIQOMAH DAN KONSEP DIRI SEORANG MUSLIM Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 14 No 1: April 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.076 KB) | DOI: 10.28918/religia.v14i1.36

Abstract

Seorang muslim dengan tingkat keimanan kepada Allahdan istiqomah yang tinggi akan selalu konsisten dalam perilakunya.Artinya dia akan berperilaku taat hukum, konsisten denganidealismenya dan tidak pernah meninggalkan prinsip yang dia pegangmeskipun dia harus berhadapan dengan resiko maupun tantangan.Selanjutnya, seorang muslim yang konsisten akan dapat mengontroldirinya dan mengendalikan emosinya dengan baik. Dia tetap konsistendengan komitmennya, dan juga memiliki pikiran positif, dan tidak pernahkembali ke belakang meskipun dia dalam situasi yang betul-betultertekan. Gaya perilaku ini bisa menciptakan kepercayaan diri,integritas, dan kemampuan mengendalikan stress yang kuat. Dengandemikian, citra diri seorang muslim adalah sesuatu yangmerepresentasikan tentang dirinya. Artinya sejauhmana diamengevaluasi kualitas dirinya sebagai seorang muslim, keimanannyakepada Allah, dan perbuatan terbaiknya berdasarkan pada ajaranajaranIslam. Evaluasi ini tentunya jarang dilakukan karenamengandung unsur bias subyektif yang tinggi, namun ini merupakansalah satu ajaran Islam yang prinsip karena setiap muslim seharusnyamengevaluasi dirinya sebelum ia nantinya dievaluasi di hadapan Allah.Moslem with high belief in Allah and high “istiqamah” will have aconsistency in his attitude. It means that he will conduct accord withthe law, consistent with his ideals and never leave his principal althoughhe should face many risks and challenges.Consistent Moslem will be able to control his self and effectivelymanage his emotion. He is still consistent with his commitment, andalso has positive thinking, and never return to the back although instressful situation. This style of attitude eventually can create strongself-confidence, integrity and skill to manage the stress.Thus, self image of a Moslem is a representing of Moslem about hisself. It means how far does he evaluates quality of his self as aMoslem, his faith in Allah and his best doing based on Islamicteachings. This evaluation of course is hardly to be conducted becauseit has high subjective bias, but it is one of principal Islamic teachingsbecause every Moslem should evaluate his self before he will beevaluated in front of Allah.
ISLAM WETU TELU DI BAYAN LOMBOK: DIALEKTIKA ISLAM NORMATIF DAN KULTURAL Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 12 No 1: April 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.937 KB) | DOI: 10.28918/religia.v12i1.196

Abstract

Islam reached Lombok island at sixteenth century, approximately at 1545. Its well known spreader was an expedition from Java led by Sunan Prapen son of Sunan Giri, one of the famous Wali Songo. Before Islam reached this island, according to some historian, the indigenous Sasak –appellation to indigenous of Lombok people—had their own traditional religion, Boda. Islam –since the very beginning of its history and will continuosly last to the end of time—has faced some different even contradictive values of local traditions and cultures. Its leads to a kind of dialectical process, and in turn produces what is called local Islam such as Islam Wetu Telu in Bayan, West Lombok. This article is aimed at revealing historical root of religious identity of Sasak community. Historical sketch of its religious identity leads to Wetu Telu religion that was collaboration of tradition, cultural and relegious values of the comers and those of the indigenous people in the past. Another point of view sad that Wetu Telu religion is an uncompleted process of islamization toward Waktu Lima religion that is considered by presently most Muslims in Lombok the true and pure Islam.