Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Modal manusia dalam prespektif Islam hubungannya dengan Kinerja Perusahaan Nurrohman Nurrohman
Khazanah Sosial Vol. 2 No. 1 (2020): Khazanah Sosial Vol 2, No 1 April 2020
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v2i1.7897

Abstract

Dalam tulisan ini membahas Penekanan prinsip dan nilai ajaran islam pada variabel-variabel yang sudah populer dalam pandangan atau kajian konvensional. Tampaknya sudah terabaikan dan terlupakan oleh manajer-pemilik muslim padahal itu semua merupakan unsur penting serta sangat berharga dari sumber daya manusia Islam yang memang jarang  di adopsi oleh mereka dalam operasi bisnis yang dijalankannya. Variabel-variabel itu adalah motivasi, pengetahuan, pengalaman dan pelatihan bisnis. Penulisan artikel ini menggunakan metode survei literatur. Penggunaan metode ini dengan memanfaatkan sumber daya perpustakaan dalam memperoleh data, melacak sumber-sumber sebelumnya untuk menyiapkan kerangka kerja teoritis dan mempertajam metodologi. Prinsip-prinsip  yang dipegang seorang modal manusia islam selain untuk meningkatkan produktifitas dalam mencapai laba perusahaan yang maksimal juga mendapatkan ridho Allah swt melalui pekerjaan yang sedang dikerjakannya. 
The Concept of Halal as the Foundation for the Development of the Halal Industry in Islamic Economic Law Fakhry Fadhil; Muflih Adi Laksono; Nurrohman Nurrohman
IQTISHOD: Jurnal Pemikiran dan Hukum Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : STAI Al-Mas'udiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69768/ji.v5i1.275

Abstract

The concept of halal was initially understood as a religious provision related to what is permissible for Muslims to consume. However, over time, the meaning of halal has expanded significantly and is no longer limited to the aspect of consumption alone. Halal has developed into a broader value system that encompasses various economic activities, including production, distribution, and consumption of goods and services. This development has led to the emergence of the halal industry, which integrates Islamic principles into various sectors such as food, pharmaceuticals, cosmetics, fashion, finance, and tourism. This study aims to analyze the concept of halal as a foundation for the development of the halal industry from the perspective of Islamic economic law. The research employs a normative approach using a literature study method by examining Islamic legal sources, including the Qur’an, hadith, fiqh literature, and regulations related to halal product assurance. The findings indicate that the concept of halal is not only related to the legal permissibility of products but also reflects values of justice, transparency, cleanliness, and public welfare in economic activities. In Indonesia, the development of the halal industry is supported by regulations through Law No. 33 of 2014 on Halal Product Assurance, implemented by Halal Product Assurance Organizing Agency with the involvement of Indonesian Ulema Council in determining halal fatwas.
SINERGI TEKNOLOGI HIJAU DALAM KERANGKA FILSAFAT EKONOMI SYARIAH: SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK MASA DEPAN INDONESIA Citra Kharisma Utami; Nurrohman Nurrohman; Irfan Safrudin
Equality: Journal of Islamic Law (EJIL) Vol. 3 No. 1 (2025): Equality: Journal of Islamic Law (EJIL)
Publisher : Islamic Law Doctoral Study Programme, Postgraduate UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ejil.v3i1.1217

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi sinergi antara teknologi hijau dan filsafat ekonomi syariah sebagai solusi berkelanjutan untuk pembangunan ekonomi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis yang melibatkan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip maqashid syariah mendukung penerapan teknologi hijau untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan material tetapi juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Kebaharuan dari penelitian ini terletak pada integrasi nilai spiritual syariah dengan solusi teknologi modern untuk mengatasi tantangan lingkungan. Adapun penelitian ini berkontribusi sebagai acuan kebijakan pemerintah dan lembaga ekonomi syariah dalam mendukung agenda pembangunan hijau yang berlandaskan nilai Islam. Abstract: This research aims to explore the synergy between green technology and Islamic economic philosophy as a sustainable solution for economic development in Indonesia. This research uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach involving a literature study. The results show that the maqashid principle of sharia supports the application of green technology to maintain environmental sustainability and improve social welfare. This finding confirms that Islamic economics is not only orientated towards material profit but also considers aspects of environmental sustainability and social justice. The novelty of this research lies in the integration of sharia spiritual values with modern technological solutions to address environmental challenges. The research contributes as a reference for government policies and Islamic economic institutions in supporting the green development agenda based on Islamic values.
Silariang in Bugis-Makassar Culture: Civil Rights Protection Based on Islamic Law, Customary Law, and Maqâshid al-Syarî‘ah Jusalim Sammak; Nurrohman Nurrohman; Harry Yuniardi; Budi Tresnayadi
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.12561

Abstract

This study analyzes the forms and mechanisms of silariang marriage, its causes, legal implications for family status and civil rights protection, and its relevance within maqâshid al-syarî‘ah in Bugis-Makassar society. It employs qualitative descriptive-analytical field research using normative-juridical, sociological, and maqâshidî perspectives. Research was conducted in six South Sulawesi regencies: Maros, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, and Bulukumba. Primary data came from 102 silariang participants, 72 community or religious leaders, and 18 Office of Religious Affairs (KUA) officials through in-depth interviews, participant observation, and documentation, analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana model. Analysis involved data reduction, data display, and conclusion drawing to compare participants, local leaders, and institutional perspectives systematically across study sites. Findings show that silariang generally occurs as an unregistered marriage facilitated by a wali hakim or religious leader because the wali nasab withholds consent. Causes include family factors such as parental rejection and arranged marriage, economic factors involving high uang panai’, customary factors involving social stratification or sayye, and social factors such as premarital pregnancy. The practice creates legal uncertainty concerning marriage registration, inheritance rights, children’s lineage, and protection of wives’ rights. From a maqâshid al-syarî‘ah perspective, a dialectic arises between hifzh al-nasl and hifzh al-dîn, prioritized by religious leaders, and hifzh al-‘irdh, prioritized by customary leaders to preserve family siri’. The study recommends strengthening KUA’s role in resolving wali ‘adhal cases and facilitating itsbat nikah, educating communities on reasonable mahar and uang panai’, and revitalizing abbaji’ as a local-wisdom-based reconciliation mechanism without compromising family civil rights. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan mekanisme perkawinan silariang, faktor penyebabnya, implikasi hukum terhadap status dan perlindungan hak keperdataan keluarga, serta relevansinya dalam kerangka maqâshid al-syarî‘ah pada masyarakat Bugis-Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian lapangan deskriptif-analitis dengan pendekatan normatif-yuridis, sosiologis, dan maqâshidî. Penelitian dilakukan di enam kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Maros, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Data primer diperoleh dari 102 pelaku silariang, 72 tokoh masyarakat atau agama, dan 18 pejabat Kantor Urusan Agama (KUA) melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk membandingkan pengalaman pelaku, tokoh lokal, dan perspektif kelembagaan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silariang umumnya berlangsung dalam bentuk perkawinan tidak tercatat (nikah siri) yang difasilitasi wali hakim atau tokoh agama karena wali nasab tidak memberikan persetujuan. Faktor penyebabnya meliputi faktor keluarga berupa penolakan orang tua dan perjodohan, faktor ekonomi berupa tingginya uang panai’, faktor adat berupa perbedaan stratifikasi sosial atau sayye, serta faktor sosial berupa kehamilan di luar nikah. Praktik ini menimbulkan ketidakpastian hukum terkait pencatatan perkawinan, hak waris, nasab anak, dan perlindungan hak istri. Dalam perspektif maqâshid al-syarî‘ah, terdapat dialektika antara hifzh al-nasl dan hifzh al-dîn yang diprioritaskan tokoh agama dengan hifzh al-‘irdh yang diprioritaskan tokoh adat untuk menjaga siri’ keluarga. Penelitian merekomendasikan penguatan peran KUA dalam penyelesaian wali adhal dan itsbat nikah, edukasi mengenai kewajaran mahar dan uang panai’, serta revitalisasi abbaji’ sebagai mekanisme rekonsiliasi berbasis kearifan lokal tanpa mengorbankan hak-hak keperdataan keluarga.
The Philosophical Foundations of Marketing Ethics in the Sharia Economic System from the Perspective of Modern Literature Ade Iskandar Nasution; Hasan Bisri Bisri; Nurrohman Nurrohman
Jurnal Maps (Manajemen Perbankan Syariah) Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Masoem University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32627/maps.v10i1.2261

Abstract

This article aims to examine the philosophical foundations of marketing ethics in the Islamic economic system through an analysis of the latest literature. This qualitative study employs a literature review method, drawing on relevant books, academic journals, and Islamic legal documents. The results of the study indicate that Islamic marketing ethics are rooted in the principles of justice, honesty, transparency, the prohibition of fraud (gharar), and social responsibility. Philosophically, these principles refer to the maqashid al-sharia—the primary objectives of Islamic law to promote public welfare and prevent harm in economic activities. The analysis also found that the values of Sharia marketing ethics are not only normative but also practical in building consumer trust and strengthening business competitiveness. This study recommends strengthening the understanding and implementation of Sharia marketing ethics in modern business practices as a contribution to sustainable and equitable economic development.