Tjipto Suwandi
Department Of Occupational Safety And Health, Faculty Of Public Health, Universitas Airlangga Campus C Mulyorejo, Surabaya, East Java Indonesia 60115

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

DENTAL ERGONOMICS Tjipto Suwandi
STOMATOGNATIC - Jurnal Kedokteran Gigi Vol 7 No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dental Ergonomic is a new brand of Medical and dental knowledge which dialing with various dental technologies and fisiologies. Dental profesional is suggested to aplly this Dental Ergonomic to anable the best treatment achived and satisfaction of patients.
ANALISIS KEPATUHAN PEKERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA PADA PT.X TAHUN 2019 Devi Charolina Sanur; Tjipto Suwandi; Muhamadiah Muhamadiah
Al Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences) Vol 9 No 1 (2020): Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Scie
Publisher : STIKes Al-Insyirah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/kesmas.v9i1.928

Abstract

The frequent occurrence of near miss is found such as being pinched, sprained and so on due to lack of following the SOP and not using PPE at PT. X. This study aims to analyze the relationship between age, years of service, compliance with SOP and compliance with the use of PPE on workers at PT. X in 2019. This type of research is quantitative with the type of analytic cross sectional study design. The sample in this study was 34 people. Data analysis was performed univariate, bivariate and multivariate. The results of research variables related to work accidents are age (p value = 0.020), years of service (p value = 0.042), adherence to follow SOP (p value = 0.024) and compliance with PPE use (p value = 0.002). The most dominant variable to work accidents is compliance with PPE use (p value = 0.002). Confounding variables are variables of age, years of service and compliance following the SOP. The conclusion in this study is adherence to the use of PPE as the most dominant factor for workplace accidents in workers at PT. X. It is recommended to PT. X to conduct a socialization about the use and danger of not using PPE as well as occupational safety and health.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KEBISINGAN DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN PADA PEKERJA DI MADIUN Rakhmanisa Lindhi Hanifa; Tjipto Suwandi
Journal of Public Health Research and Community Health Development Vol. 1 No. 2 (2018): Maret
Publisher : Sekolah Ilmu Kesehatan Dan Ilmu Alam (SIKIA), Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jphrecode.v1i2.16246

Abstract

Kebisingan dapat menimbulkan respon yang berbeda terhadap tenaga kerja satu dengan yang lainnya. Pengaruh dari adanya kebisingan kepada kesehatan yaitu terjadinya kerusakan pada indera pendengar. PT.INKA merupakan industri dalam bidang perkeretaapian dengan kegiatan pembuatan dan perawatan kereta yang memungkinkan adanya resiko kebisingan, selain itu PT.INKA juga belum mengadakan pemeriksaan tes audiometri pada pekerjanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pada pekerja di PT INKA. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan case control dengan melakukan pendekatan kuantitatif. Wawancara dilakukan pada kepala bagian K3, 15 pekerja pada welding 1 dan 15 pekerja pada kantor. Wawancara dilakukan untuk mendapat informasi mengenai variabel yang diteliti. Selain itu dilakukan observasi mengenai kebiasaan pekerja dalam pemakaian APT. Variabel bebas penelitian adalah intensitas kebisingan, usia, masa kerja dan kebiasaan memakai APT. Sedangkan variabel terikat adalah gangguan pendengaran pada pekerja. Kebisingan pada area kerja welding 1 melebihi NAB (94,8 dBA) sedangkan pada ruang kantor sebesar 63,2 dBA. Gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja di PT.INKA untuk kelompok terpapar yang bekerja pada bagian welding 1 sebanyak 4 responden (26,7%) dan untuk kelompok tidak terpapar yaitu pekerja pada bagian kantor sebanyak 7 responden (46,7%). Hasil uji analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja di PT.INKA. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja belum tentu disebabkan oleh intensitas yang tinggi pada area kerja melainkan ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran tersebut.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN TIDAK AMAN PADA PEKERJA DI PABRIK PUPUK NPK Listyandini, Rahma; Suwandi, Tjipto
HEARTY Vol 7 No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.012 KB) | DOI: 10.32832/hearty.v7i1.2299

Abstract

Kecelakaan kerja sebagian besar disebabkan oleh 88% tindakan tidak aman dan 10% kondisi tidak aman, serta 2% tidak dapat dihindarkan. Tindakan tidak aman adalah kesalahan dan pelanggaran peraturan yang dapat menyebabkankecelakaan kerja. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan tindakan tidak aman di pabrik pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK) PT. X. Penelitian ini menggunakan metode observasional denganrancang bangun cross sectional. Data diperoleh dengan menyebarkan kuesioner. Jumlah responden sebesar 65 pekerja. Analisis data menggunakan uji Chi Square (? = 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adahubungan antara predisposing factor: umur (p=0,144), tingkat pendidikan (p=1,000), masa kerja (p=0,462), pengetahuan (p=0,287), sikap (p=1,000), dan keterampilan (p=0,663) dengan tindakan tidak aman. Namun, adahubungan yang signifikan antara enabling factor: APD (Alat Pelindung Diri) (p=0,000) dan reinforcing factor: pengawasan (p=0,000) dan safety talk (p=0,000) dengan tindakan tidak aman. Kesimpulannya, ketersediaan APD,pengawasan, dan safety talk berhubungan dengan tindakan tidak aman. Perusahaan sebaiknya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pekerja dengan memberikan pelatihan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja),menggiatkan safety talk, serta menyediakan goggle untuk meningkatkan tindakan aman