Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

MEMAKNAI KEMBALI KONSEP NUSYUZ DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM PERSPEKTIF GENDER & MAQASHID SYARIAH JASSER AUDA Muhammad Habib Adi Putra; Umi Sumbulah
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.10179

Abstract

Sebagian ulama kontemporer memandang bahwa konsep nusyuz dalam pasal 84 Kompilasi Hukum Islam (KHI) bersifat diskriminatif terhadap perempuan. Dalam pasal tersebut setidaknya hak dan kewajiban banyak dilimpahkan terhadap perempuan. Jika istri tidak dapat menjalankan kewajiban, maka berlaku hukum nusyuz, namun tidak berlaku sebaliknya bagi suami. Dalam konteks ini maka terdapat ambivalensi, ambiguity, dan ketidakadilan suatu hukum. Karena itu, tulisan ini mendiskusikan  kembali makna nusyuz dalam KHI perspektif gender dan relevansinya dalam perkembangan hukum Islam di Indonesia. Penelitian pustaka dengan pendekatan historis dn analisis gender ini menunjukkan: pertama, relevansi konsep nusyuz dalam fikih dan KHI terletak pada implikasi hukum yang tersirat dari pemahaman pada substansi tekstualitas; kedua, pemaknaan kembali konsep nusyuz melalui pendekatan sistem maqashid al-syariah Jasser Auda bahwa dalam rangka melindungi dan mengembangkan hak asasi perempuan adalah dengan menambahkan konsep nusyuz suami pada pasal 84 KHI. Dengan demikian, prinsip kesetaraan dan keadilan menjadi aspek penting dalam memaknai kembali konsep nusyuz, yang bisa saja dilakukan baik oleh isteri maupun suami.
Teologi dan Mistisisme Pada Masa Dinasti Abbasiyah Muhammad Habib Adi Putra; Ahmad Syafi’i Mufadzilah Riyadi
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 20 No. 1 (2022): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.724 KB) | DOI: 10.30762/realita.v20i1.105

Abstract

Permasalahan teologi dan mistisisme membawa peradaban yang berbeda, akan tetapi dibalik perkembangan peradaban tersebut tidak terlepaskan dari konflik internal umat Islam, terutama pada masa Bani Abbasiyah demi memperkokoh kekuasaan khalifah pada saat itu. Konflik terjadi sebenarnya sangat dilatar belakangi oleh unsur politik karena sistem politik pada Abbasiyah sangat berbeda dengan masa-masa yang sebelumnya. Dengan latarbelakang politik itu para penguasa berambisi untuk menerapkan kekuasaannya dengan jalan teologi yang mengakibatkan terjadi berbagai macam politik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif historis yang bersifat studi pustaka (library research) dengan menggunakan sumber data berupa  buku-buku referensi dan artikel-artikel jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi dan mistisisme menjadi sudut pandang lain atas kemajuan yang para khalifah Abbasiyah capai. Kemajuan Dinasti Abbasiyah didukung juga karena berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada sisi lain teologi dan mistisisme juga digunakan sebagai tongkat penyangga yang kokoh bagi khalifah. Pengaruh pemikiran diluar Islam sangat mempengruhi arah pemikiran umat Islam di Era Abbasiyah. Dampak dari hal tersebut ajaran Islam tidak semurni yang diterapkan pada masa rasulallah, sahabat dan tabi’in. Akibatnya pertikaian demi pertikaian semakin ketat. Terutama dalam mistisisme menjadi perdebatan yang sangat heboh, dampak dari itu hal tersebut para sufi kehilangan nyawanya demi memperkokoh ajarannya.
Teologi dan Mistisisme Pada Masa Dinasti Abbasiyah Muhammad Habib Adi Putra; Ahmad Syafi’i Mufadzilah Riyadi
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 20 No. 1 (2022): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.724 KB) | DOI: 10.30762/realita.v20i1.105

Abstract

Permasalahan teologi dan mistisisme membawa peradaban yang berbeda, akan tetapi dibalik perkembangan peradaban tersebut tidak terlepaskan dari konflik internal umat Islam, terutama pada masa Bani Abbasiyah demi memperkokoh kekuasaan khalifah pada saat itu. Konflik terjadi sebenarnya sangat dilatar belakangi oleh unsur politik karena sistem politik pada Abbasiyah sangat berbeda dengan masa-masa yang sebelumnya. Dengan latarbelakang politik itu para penguasa berambisi untuk menerapkan kekuasaannya dengan jalan teologi yang mengakibatkan terjadi berbagai macam politik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif historis yang bersifat studi pustaka (library research) dengan menggunakan sumber data berupa  buku-buku referensi dan artikel-artikel jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi dan mistisisme menjadi sudut pandang lain atas kemajuan yang para khalifah Abbasiyah capai. Kemajuan Dinasti Abbasiyah didukung juga karena berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada sisi lain teologi dan mistisisme juga digunakan sebagai tongkat penyangga yang kokoh bagi khalifah. Pengaruh pemikiran diluar Islam sangat mempengruhi arah pemikiran umat Islam di Era Abbasiyah. Dampak dari hal tersebut ajaran Islam tidak semurni yang diterapkan pada masa rasulallah, sahabat dan tabi’in. Akibatnya pertikaian demi pertikaian semakin ketat. Terutama dalam mistisisme menjadi perdebatan yang sangat heboh, dampak dari itu hal tersebut para sufi kehilangan nyawanya demi memperkokoh ajarannya.
Dialektika Poligami dengan Feminisme : Analisis Maqasid Syariah Terhadap Poligami Menurut Ulama Klasik dan Feminisme Mohammad Lukman Chakim; Muhammad Habib Adi Putra
Al-Syakhsiyyah: Journal of Law & Family Studies Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/syakhsiyyah.v4i1.4683

Abstract

The practice of polygamy was circulated long before the arrival of Islam. Polygamy is believed to have existed long before Islam came and was already practiced by humans around the world, they did it, and made it part of the dynamics of normal life. That being said, no civilization of that era was alien to polygamy. Studies of polygamy today are growing and crowded, where the classic opinion that is mostly pro-polygamy is widely protested by feminists. According to feminism, that polygamy should be tightened or precisely abolished. The pros and cons of polygamy with feminism are so extraordinary, in Indonesia this discourse can be seen in the CLD-KHI. For that the author makes the focus of the question a). how polygamy according to classical scholars and feminism and b). how is the sharia maqasid analysis of the dialectic of polygamy with feminism. This research was conducted using a literature research method  with primary sources in the form of books related to the views of classical scholars and feminism and supported by secondary sources that will be analyzed with a maqasid-based dialectic approach. Departing from the above, the author is interested in conducting research with the aim of providing a middle ground for the two camps, by providing dialectics, through sharia maqasid it is hoped that it will be able to provide concepts or rules about polygamy that represent the two camps, the view of classical ideas and the Marriage Law Number 1 of 1974 and the discourse of polygamy in the view of feminism.
KESETARAAN GENDER DALAM FIKIH PEREMPUAN PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH JASSER AUDA Mohammad Lukman Chakim; Muhammad Habib Adi Putra habib
MAQASHID Jurnal Hukum Islam Vol. 5 No. 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Syariah - IAI Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/maqashid.v5i1.831

Abstract

The dynamics of today's civilization are growing, it continues to drive changes significantly, both in the technological and other spheres. Existing social construction has shifted, and even needs to be updated to keep up with developments. This includes the role and position of women. In the past, women in the discussion of jurisprudence were only about worship, the treatment of worship that there were differences with men. For example, if the congregation, men are encouraged to read Subhanallah while women pat both palms. But now the discussion of women is getting wider to their roles, positions and relationships with men. This research focused on the gender equality thinking of Husein Muhammad and Musdah Mulia. This research is a normative research (library research) with research sources including several books by Husein Muhammad, Musdah Mulia and Jasser Auda. The thinking of gender equality (women's jurisprudence) of the two figures was then analyzed with Jasser Auda's system (maslahah) approach. The gender equality of women's jurisprudence in the perspective of the Jasser Auda system has conformity with Islamic law. The gender equality of women's jurisprudence has fulfilled all six systems of features (benefits). In the cognitive system, equality has a cognitive conformity capable of uncovering the meaning or practical implications of Islamic law. The argumentation of women's jurisprudence was also adopted from the powerful nash texts, this corresponded to the system of wholeness. Thus with the system of openness and interrelationship, which demands to open wide the thinking of equality to respond to the development of the times. Gender equality view Women's jurisprudence provides answers to these changes in a measured and directed manner, so that Islamic law is always contextual based on the multidimensional system and the meaning of Jasser Auda.
Studi Perjumpaan Aliran Mistik Kejawen dan Mistik Islam Chakim, Mohammad Lukman; Putra, Muhammad Habib Adi
Spiritualita Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Usluhuddin dan Dakwah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/spiritualita.v7i2.1356

Abstract

Perjumpaan antara aliran mistik kejawen dan mistik islam merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Aliran mistik kejawen adalah manifestasi dari agama Jawa, yang merupakan akumulasi praktik religi masyarakat Jawa dengan pengaruh sinkretik dari agama Hindu, Budha, dan Islam. Aliran mistik islam adalah ajaran tasawuf yang berasal dari nilai-nilai Islam normatif yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Kedua aliran mistik ini memiliki titik temu dari segi tujuan, yaitu menjadikan penganutnya sebagai manusia yang sempurna melalui perantara penyatuan diri seorang makhluk dengan Sang Pencipta. Namun, kedua aliran mistik ini juga memiliki perbedaan dari segi metode, konsep, dan praktik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara analitis komparatif tentang persamaan dan perbedaan antara aliran mistik kejawen dan mistik islam di masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Abstract The encounter between the Javanese mystical stream and the Islamic mystical stream is an interesting phenomenon to study. The Javanese mystical stream is a manifestation of the Javanese religion, which is an accumulation of religious practices of the Javanese people with syncretic influences from Hinduism, Buddhism, and Islam. The Islamic mystical stream is a teaching of Sufism that originates from the normative values of Islam that are sourced from the Qur’an and hadith. Both mystical streams have a common point in terms of their goal, which is to make their adherents as perfect human beings through the intermediary of unifying oneself with the Creator. However, both mystical streams also have differences in terms of their methods, concepts, and practices. This study aims to examine analytically and comparatively the similarities and differences between the Javanese mystical stream and the Islamic mystical stream in Javanese society. This study uses a qualitative method with a literature study approach. Data are obtained from primary and secondary sources that are relevant to the research topic.
Studi Perjumpaan Aliran Mistik Kejawen dan Mistik Islam Chakim, Mohammad Lukman; Putra, Muhammad Habib Adi
Spiritualita Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Usluhuddin dan Dakwah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/spiritualita.v7i2.1356

Abstract

Perjumpaan antara aliran mistik kejawen dan mistik islam merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Aliran mistik kejawen adalah manifestasi dari agama Jawa, yang merupakan akumulasi praktik religi masyarakat Jawa dengan pengaruh sinkretik dari agama Hindu, Budha, dan Islam. Aliran mistik islam adalah ajaran tasawuf yang berasal dari nilai-nilai Islam normatif yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Kedua aliran mistik ini memiliki titik temu dari segi tujuan, yaitu menjadikan penganutnya sebagai manusia yang sempurna melalui perantara penyatuan diri seorang makhluk dengan Sang Pencipta. Namun, kedua aliran mistik ini juga memiliki perbedaan dari segi metode, konsep, dan praktik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara analitis komparatif tentang persamaan dan perbedaan antara aliran mistik kejawen dan mistik islam di masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. AbstractThe encounter between the Javanese mystical stream and the Islamic mystical stream is an interesting phenomenon to study. The Javanese mystical stream is a manifestation of the Javanese religion, which is an accumulation of religious practices of the Javanese people with syncretic influences from Hinduism, Buddhism, and Islam. The Islamic mystical stream is a teaching of Sufism that originates from the normative values of Islam that are sourced from the Qur’an and hadith. Both mystical streams have a common point in terms of their goal, which is to make their adherents as perfect human beings through the intermediary of unifying oneself with the Creator. However, both mystical streams also have differences in terms of their methods, concepts, and practices. This study aims to examine analytically and comparatively the similarities and differences between the Javanese mystical stream and the Islamic mystical stream in Javanese society. This study uses a qualitative method with a literature study approach. Data are obtained from primary and secondary sources that are relevant to the research topic.
Dearabization of Islamic Government during the Abbasid Dynasty Riyadi, Ahmad Syafi'i Mufadzilah; Putra, Muhammad Habib Adi
Journal of Islamic History and Manuscript Vol. 1 No. 1 (2022): Journal of Islamic History and Manuscript
Publisher : Institute of Research and Community Service UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.177 KB) | DOI: 10.24090/jihm.v1i1.6591

Abstract

The Arabization movement was one of the government's political models during the Umayyad Dynasty. Arabization, known as ta'rib became a characteristic of the administration of the Umayyad dynasty, which influenced the socio-political life of Arab Muslims, the Mawali, and Dzimmi groups. The influence of social strata became a feature of the Arabization movement at that time. During the Abbasid dynasty, this movement began to fade, especially the problem of social strata that prioritized Arab Muslims. The Abbasid dynasty, from the point of view of Islamic civilization, generally continued the reign of the Umayyad dynasty, but some aspects of government changed, especially the issue of Arabization. This study focuses more on the impact of the reduced priority of Arab Muslims during the Abbasid dynasty. The demise of the Abbasid dynasty gave a new face to the development of politics, economy, government administration, education, and law enforcement aspects. This research is a type of qualitative research using qualitative descriptive analysis. This type of research is historical research with a socio-political approach to government. The qualitative method used in this study uses historical research methodology, namely heuristics, verification, interpretation, and historiography. Based on the heuristic aspect, the researcher used a literature study. The results of this study indicate that the existence of Dearabization had a significant impact on the reign of the Abbasid dynasty. The policies taken by the caliphs of the Abbasid dynasty gave a new color to the development of politics, economy, government administration, education, and law.