Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengolahan Limbah Wudhu Dengan Reaktor Lahan Basah Buatan dan Saringan Pasir Lambat Bahagia Bahagia; Zulkifli AK; Teuku Muhammad Zulfikar; Muhammad Nizar; Windiara Windiara
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 4, No 3 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v4i3.4586

Abstract

Abstract - Used water ablution is a part of domestic liquid waste with a high rate of water and quality that allows it to be recycled through processing. Used water ablution treatment can be carried out using sand filters and intermittent artificial soil. Used water ablution treatment is carried out using sand filters and intermittent artificial soil. Observations were carried out for 32 days until there was a decrease in used water ablution parameters. The quality parameters measured were TSS, TDS, and DO, used water had a concentration value of TSS = 13.75 mg / L, TDS = 137.4 mg / L, DO = 7.75 mg / L. The results of processing using a combination of TSS sand filter = 70.10% and artificial wetlands showed the efficiency of TSS reduction = 82.69%, processing using a combination of TDS sand filter = 67.54% and artificial wetlands showed an efficiency of decreasing TDS = 70%, processing using DO sand filter combination = 77.16%. Processing ability using a combination of artificial sand and wetland filters has succeeded in reducing the levels of TSS, TDS, and DO because it is able to meet the quality standards set by the government.Keywords: Used water ablution, sand filter, wetland made by TSS, TDS and DO. Abstrak - Air wudhu’’ merupakan air yang dipakai untuk bersuci dari hadas kecil untuk melaksanakan kegiatan ibadah shalat. Sisa dari air wudhu’’ menjadi air bekas wudhu’’ yang menjadi bagian dari limbah cair domestik. Apabila volume air bekas wudhu’’ kualitas besar memungkinkan dilakukan pengolahan air bekas tersebut. Pengolahannya dapat dilakukan dengan menggunakan saringan pasir dan lahan basah buatan. Prosesnya dengan cara mengalirkan air bekas wudhu’’ secara berselang (intermitten). Dilakukan pengamatan selama 32 hari sampai terjadi penurunan parameter air bekas wudhu’’. Pengukuran parameter dilakukan terhadap TSS, TDS, dan DO. Air bekas wudhu’’ memiliki nilai kosentrasi TSS=13,75 mg/L, TDS=137,4 mg/L, DO=7,75 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan menggunakan kombinasi saringan pasir nilai TSS=70,10%, lahan basah buatan terjadi penurunan efisiensi TSS = 82,69%. Penurunan nilai TDS kombinasi saringan pasir sebesar 67,54%, sehingga efisiensi penurunan TDS=70%, nilai kombinasi saringan pasir sebesar DO=77,16%. Pengolahan air bekas wudhu’’ dengan saringan pasir dan lahan basah buatan telah berhasil menurunkan kadar TSS, TDS, dan DO yang memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan pemerintah.Kata kunci : Air bekas, wudhu’’ , saringan pasir, lahan basah, TSS, TDS dan DO.
Analisis Kualitas Air Permukaan DAS Alas-Singkil Untuk Monitoring Tingkat Pencemaran Air Permukaan Zulkifli AK; Bahagia Bahagia; Suhendrayatna Suhendrayatna; Vera Viena
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 4, No 6 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v4i6.4660

Abstract

Abstrak -  Kualitas air permukaan yang mengalir di Daerah Aliran Sungai (DAS)Alas Singkil perlu dilakukan analisis komponen/indikator lingkungannya. Pengukuran kualitas air sungai akibat adanya pencemaran. DAS Alas Singkil menaungi delapan sungai di Kota Subulussalam yang bergabung membentuk sungai. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis tingkat pencemaran air sungai Wilayah Sungai (WS) Alas-Singkil dengan parameter uji Total suspended Solid (TSS), pH, kandungan oksigen dan kadar logam. Hasil penelitian menunjukkan suhu daerah aliran sungai (DAS) Alas Singkil menunjukkan kisaran antara 27,4 – 29,1 °C. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesis di sungai wilayah Alas Singkil baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil uji TDS menunjukkan nilai 23,9 mg/L - 97,5 mg/L yang masih berada dibawah baku mutu. Lokasi paling tinggi TDS berada pada titik Sungai Lae Kombih (AP2) dan nilai paling rendah pada lokasi Sungai Lae Soraya (AP1). Hasil uji menunjukkan bahwa  nilainya masih dibawah baku mutu yaitu 1.000 mg/L. Hasil uji TSS antara  4 -36 mg/L. Konsentrasi TSS semua lokasi tidak melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah RI No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Kelas Air II.  Hasil uji pH lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit yaitu 6,82–8,86 pH karena dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya sedimentasi aliran sungai.  Hasil uji kadar logam : tembaga (CU), Timbal (Pb), Cadmium (Cd) dan Seng (Zn) pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas  Singkil menunjukkan masih barada dalam ambang batas dengan hasil uji Laboratoirum dibawah baku mutu yaitu 0,0008 b , 0,0001 b , 0,0004 b dan 0,0001 b  (Tidak terdeteksi karena berada di bawah Batas Minimum Deteksi Alat Uji).  Kata kunci : Air permukaan, DAS, kualitas, pencemaran air sungai, pemantauan dan penertiban.  Abstract –  The quality of surface water flowing in the Alas Singkil Watershed (DAS) needs to be analyzed for environmental components/indicators. Measurement of river water quality due to pollution. The Alas Singkil watershed covers eight rivers in Subulussalam City which combine to form rivers. The purpose of the study was to analyze the level of water pollution of the Alas-Singkil River Basin (WS) with the test parameters of Total suspended Solid (TSS), pH, oxygen content and metal content. The results showed that the temperature of the Alas Singkil watershed showed a range between 27.4 – 29.1 °C. Temperature can affect photosynthesis in the Alas Singkil river area either directly or indirectly. The TDS test results showed a value of 23.9 mg/L - 97.5 mg/L which was still below the quality standard. The highest location for TDS is at the point of the Lae Kombih River (AP2) and the lowest value is at the location of the Lae Soraya River (AP1). The test results show that the value is still below the quality standard of 1000 mg/L. TSS test results between 4 -36 mg/L. The concentration of TSS in all locations does not exceed the quality standard set by the Government of Indonesia Regulation No. 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management for Water Class II. The pH test results are more stable and are in a narrow range of 6.82-8.86 pH because it is influenced by the buffer capacity, namely the presence of river flow sedimentation. The test results for the levels of metals: copper (CU), Lead (Pb), Cadmium (Cd) and Zinc (Zn) in the Alas Singkil Watershed (DAS) showed that they were still within the threshold with the Laboratory test results below the quality standard, namely 0, 0008 b , 0.0001 b , 0.0004 b and 0.0001 b (Not detected because it is below the Minimum Detection Limit for Test Equipment).Keywords: Surface water, watershed, quality, river water pollution, monitoring and control.
Pengolahan Air Sungai Krueng Daroy Banda Aceh Menggunakan Biofilter Sarang Tawon Ali Akbar; Bahagia Bahagia; Irhamni Irhamni; Zulkifli AK
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 3, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v3i2.4659

Abstract

Abstrak -  Sungai Krueng Daroy merupakan perairan yang terletak di kawasan kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Hulu sungai Krueng Daroy berada di kawasan pegunungan Mata Ie, air sungai Krueng Daroy digunakan sebagai sumber pembuangan dari penduduk berupa limbah rumah tangga, dan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan biofilter sarang tawon untuk menurunkan kadar parameter pH, TDS, DO, TSS, BOD dan COD. Sampel diambil dari air sungai Krueng Daroy sebanyak tiga titik sampel yaitu: Jembatan Peuniti, Jembatan Geuce dan Jembatan Keutapang. Hasil penelitan menunjukkan bahwa kadar pH terendah pada titik Peuniti dan titik Keutapang yaitu 7. Parameter TDS nilai terendah pada titik Peuniti yaitu 98,0. Parameter DO terendah pada titik Keutapang yaitu 1,7. Parameter TSS terendah pada titik Geuce dan titik Keutapang yaitu 3,4, parameter BOD terendah pada titik Geuce yaitu 1,00 dan parameter COD nilai terendah terletak pada titik Peuniti dan titik Geuce yaitu 11,04. Setelah perlakuan dengan kombinasi biofilter terjadi penurunan parameter kualitas air sungai pada semua parameter kecuali COD yang belum memenuhi Peraturan Pemerintah RI. No. 82 Tahun 2001 kelas 1, untuk itu diperlukan pengolahan menggunakan media biofilter lainya dalam mengolah air sungai, agar semua baku mutu dapat diturunkan.Kata kunci : Air sungai, biofilter media plastik dan kualitas air.                         Abstract –  Krueng Daroy River is a water located in the district of Aceh Besar and Banda Aceh City. The headwaters of the Krueng Daroy river are in the Mata Ie mountain area, the water of the Krueng Daroy river is used as a source of disposal from residents in the form of household waste and garbage. This study aims to determine the ability of a honeycomb biofilter to reduce levels of parameters pH, TDS, DO, TSS, BOD and COD. Samples were taken from the water of the Krueng Daroy river as many as three sample points, namely: Peuniti Bridge, Geuce Bridge and Keutapang Bridge. The results showed that the lowest pH level at the Peuniti point and the Keutapang point was 7. The lowest value TDS parameter at the Peuniti point was 98.0. The lowest DO parameter at the Keutapang point is 1.7. The lowest TSS parameter is at the Geuce point and the Keutapang point is 3.4, the lowest BOD parameter is at the Geuce point is 1.00 and the lowest COD parameter is at the Peuniti point and the Geuce point is 11.04. After treatment with a combination of biofilters, there was a decrease in river water quality parameters in all parameters except COD which did not meet the Indonesian Government Regulations. No. 82 of 2001 class 1, it is necessary to process using other biofilter media in treating river water, so that all quality standards can be lowered.­Keywords: River water, plastic media biofilters and water quality
Pengolahan Limbah Wudhu Dengan Reaktor Lahan Basah Buatan dan Saringan Pasir Lambat Bahagia Bahagia; Zulkifli AK; Teuku Muhammad Zulfikar; Muhammad Nizar; Windiara Windiara
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 4, No 3 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v4i3.4586

Abstract

Abstract - Used water ablution is a part of domestic liquid waste with a high rate of water and quality that allows it to be recycled through processing. Used water ablution treatment can be carried out using sand filters and intermittent artificial soil. Used water ablution treatment is carried out using sand filters and intermittent artificial soil. Observations were carried out for 32 days until there was a decrease in used water ablution parameters. The quality parameters measured were TSS, TDS, and DO, used water had a concentration value of TSS = 13.75 mg / L, TDS = 137.4 mg / L, DO = 7.75 mg / L. The results of processing using a combination of TSS sand filter = 70.10% and artificial wetlands showed the efficiency of TSS reduction = 82.69%, processing using a combination of TDS sand filter = 67.54% and artificial wetlands showed an efficiency of decreasing TDS = 70%, processing using DO sand filter combination = 77.16%. Processing ability using a combination of artificial sand and wetland filters has succeeded in reducing the levels of TSS, TDS, and DO because it is able to meet the quality standards set by the government.Keywords: Used water ablution, sand filter, wetland made by TSS, TDS and DO. Abstrak - Air wudhu’’ merupakan air yang dipakai untuk bersuci dari hadas kecil untuk melaksanakan kegiatan ibadah shalat. Sisa dari air wudhu’’ menjadi air bekas wudhu’’ yang menjadi bagian dari limbah cair domestik. Apabila volume air bekas wudhu’’ kualitas besar memungkinkan dilakukan pengolahan air bekas tersebut. Pengolahannya dapat dilakukan dengan menggunakan saringan pasir dan lahan basah buatan. Prosesnya dengan cara mengalirkan air bekas wudhu’’ secara berselang (intermitten). Dilakukan pengamatan selama 32 hari sampai terjadi penurunan parameter air bekas wudhu’’. Pengukuran parameter dilakukan terhadap TSS, TDS, dan DO. Air bekas wudhu’’ memiliki nilai kosentrasi TSS=13,75 mg/L, TDS=137,4 mg/L, DO=7,75 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan menggunakan kombinasi saringan pasir nilai TSS=70,10%, lahan basah buatan terjadi penurunan efisiensi TSS = 82,69%. Penurunan nilai TDS kombinasi saringan pasir sebesar 67,54%, sehingga efisiensi penurunan TDS=70%, nilai kombinasi saringan pasir sebesar DO=77,16%. Pengolahan air bekas wudhu’’ dengan saringan pasir dan lahan basah buatan telah berhasil menurunkan kadar TSS, TDS, dan DO yang memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan pemerintah.Kata kunci : Air bekas, wudhu’’ , saringan pasir, lahan basah, TSS, TDS dan DO.
Pengolahan Air Sungai Krueng Daroy Banda Aceh Menggunakan Biofilter Sarang Tawon Ali Akbar; Bahagia Bahagia; Irhamni Irhamni; Zulkifli AK
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 3, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v3i2.4659

Abstract

Abstrak -  Sungai Krueng Daroy merupakan perairan yang terletak di kawasan kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Hulu sungai Krueng Daroy berada di kawasan pegunungan Mata Ie, air sungai Krueng Daroy digunakan sebagai sumber pembuangan dari penduduk berupa limbah rumah tangga, dan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan biofilter sarang tawon untuk menurunkan kadar parameter pH, TDS, DO, TSS, BOD dan COD. Sampel diambil dari air sungai Krueng Daroy sebanyak tiga titik sampel yaitu: Jembatan Peuniti, Jembatan Geuce dan Jembatan Keutapang. Hasil penelitan menunjukkan bahwa kadar pH terendah pada titik Peuniti dan titik Keutapang yaitu 7. Parameter TDS nilai terendah pada titik Peuniti yaitu 98,0. Parameter DO terendah pada titik Keutapang yaitu 1,7. Parameter TSS terendah pada titik Geuce dan titik Keutapang yaitu 3,4, parameter BOD terendah pada titik Geuce yaitu 1,00 dan parameter COD nilai terendah terletak pada titik Peuniti dan titik Geuce yaitu 11,04. Setelah perlakuan dengan kombinasi biofilter terjadi penurunan parameter kualitas air sungai pada semua parameter kecuali COD yang belum memenuhi Peraturan Pemerintah RI. No. 82 Tahun 2001 kelas 1, untuk itu diperlukan pengolahan menggunakan media biofilter lainya dalam mengolah air sungai, agar semua baku mutu dapat diturunkan.Kata kunci : Air sungai, biofilter media plastik dan kualitas air.                         Abstract –  Krueng Daroy River is a water located in the district of Aceh Besar and Banda Aceh City. The headwaters of the Krueng Daroy river are in the Mata Ie mountain area, the water of the Krueng Daroy river is used as a source of disposal from residents in the form of household waste and garbage. This study aims to determine the ability of a honeycomb biofilter to reduce levels of parameters pH, TDS, DO, TSS, BOD and COD. Samples were taken from the water of the Krueng Daroy river as many as three sample points, namely: Peuniti Bridge, Geuce Bridge and Keutapang Bridge. The results showed that the lowest pH level at the Peuniti point and the Keutapang point was 7. The lowest value TDS parameter at the Peuniti point was 98.0. The lowest DO parameter at the Keutapang point is 1.7. The lowest TSS parameter is at the Geuce point and the Keutapang point is 3.4, the lowest BOD parameter is at the Geuce point is 1.00 and the lowest COD parameter is at the Peuniti point and the Geuce point is 11.04. After treatment with a combination of biofilters, there was a decrease in river water quality parameters in all parameters except COD which did not meet the Indonesian Government Regulations. No. 82 of 2001 class 1, it is necessary to process using other biofilter media in treating river water, so that all quality standards can be lowered.­Keywords: River water, plastic media biofilters and water quality
Analisis Kualitas Air Permukaan DAS Alas-Singkil Untuk Monitoring Tingkat Pencemaran Air Permukaan Zulkifli AK; Bahagia Bahagia; Suhendrayatna Suhendrayatna; Vera Viena
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 4, No 6 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v4i6.4660

Abstract

Abstrak -  Kualitas air permukaan yang mengalir di Daerah Aliran Sungai (DAS)Alas Singkil perlu dilakukan analisis komponen/indikator lingkungannya. Pengukuran kualitas air sungai akibat adanya pencemaran. DAS Alas Singkil menaungi delapan sungai di Kota Subulussalam yang bergabung membentuk sungai. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis tingkat pencemaran air sungai Wilayah Sungai (WS) Alas-Singkil dengan parameter uji Total suspended Solid (TSS), pH, kandungan oksigen dan kadar logam. Hasil penelitian menunjukkan suhu daerah aliran sungai (DAS) Alas Singkil menunjukkan kisaran antara 27,4 – 29,1 °C. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesis di sungai wilayah Alas Singkil baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil uji TDS menunjukkan nilai 23,9 mg/L - 97,5 mg/L yang masih berada dibawah baku mutu. Lokasi paling tinggi TDS berada pada titik Sungai Lae Kombih (AP2) dan nilai paling rendah pada lokasi Sungai Lae Soraya (AP1). Hasil uji menunjukkan bahwa  nilainya masih dibawah baku mutu yaitu 1.000 mg/L. Hasil uji TSS antara  4 -36 mg/L. Konsentrasi TSS semua lokasi tidak melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah RI No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Kelas Air II.  Hasil uji pH lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit yaitu 6,82–8,86 pH karena dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya sedimentasi aliran sungai.  Hasil uji kadar logam : tembaga (CU), Timbal (Pb), Cadmium (Cd) dan Seng (Zn) pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas  Singkil menunjukkan masih barada dalam ambang batas dengan hasil uji Laboratoirum dibawah baku mutu yaitu 0,0008 b , 0,0001 b , 0,0004 b dan 0,0001 b  (Tidak terdeteksi karena berada di bawah Batas Minimum Deteksi Alat Uji).  Kata kunci : Air permukaan, DAS, kualitas, pencemaran air sungai, pemantauan dan penertiban.  Abstract –  The quality of surface water flowing in the Alas Singkil Watershed (DAS) needs to be analyzed for environmental components/indicators. Measurement of river water quality due to pollution. The Alas Singkil watershed covers eight rivers in Subulussalam City which combine to form rivers. The purpose of the study was to analyze the level of water pollution of the Alas-Singkil River Basin (WS) with the test parameters of Total suspended Solid (TSS), pH, oxygen content and metal content. The results showed that the temperature of the Alas Singkil watershed showed a range between 27.4 – 29.1 °C. Temperature can affect photosynthesis in the Alas Singkil river area either directly or indirectly. The TDS test results showed a value of 23.9 mg/L - 97.5 mg/L which was still below the quality standard. The highest location for TDS is at the point of the Lae Kombih River (AP2) and the lowest value is at the location of the Lae Soraya River (AP1). The test results show that the value is still below the quality standard of 1000 mg/L. TSS test results between 4 -36 mg/L. The concentration of TSS in all locations does not exceed the quality standard set by the Government of Indonesia Regulation No. 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management for Water Class II. The pH test results are more stable and are in a narrow range of 6.82-8.86 pH because it is influenced by the buffer capacity, namely the presence of river flow sedimentation. The test results for the levels of metals: copper (CU), Lead (Pb), Cadmium (Cd) and Zinc (Zn) in the Alas Singkil Watershed (DAS) showed that they were still within the threshold with the Laboratory test results below the quality standard, namely 0, 0008 b , 0.0001 b , 0.0004 b and 0.0001 b (Not detected because it is below the Minimum Detection Limit for Test Equipment).Keywords: Surface water, watershed, quality, river water pollution, monitoring and control.
Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Cacingan Pada Murid Di Sekolah Dasar Negeri 18 Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh Tahun 2022 Yuli Maulina; Zulkifli Ak; Asnawi Abdullah
Journal of Health and Medical Science Volume 2 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v2i1.1210

Abstract

Penyakit kecacingan banyak ditemukan di daerah dengan kelembaban tinggi terutama pada kelompok masyarakat dengan kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Usia Sekolah Dasar merupakan golongan yang sering terkena infeksi kecacingan karena sering berhubungan dengan tanah. Salah satu penyakit kecacingan adalah penyakit cacing usus yang ditularkan melalui tanah atau sering disebut soil transmitted helminths. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini pada murid di Sekolah Dasar Negeri 18 Kota Banda Aceh berjumlah 65 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan tekhnik total population dan diperoleh sampel sebanyak 65 orang responden. Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 25 Februari sampai dengan 01 bulan Maret Tahun 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian, selanjutnya dilakukan uji statistik dengan uji chi- square. Penelitian menunjukkan bahwa 67,7% murid tidak cacingan, 60,0% murid tidak ada mencuci tangan, 60,0% murid tidak ada memotong kuku, 66,2% murid ada bermain ditanah, 75,4% murid tidak ada jajan sembarangan. Dari hasil uji statistik dapat disimpulkan ada hubungan antara mencuci tangan (p-value=0,001), memotong kuku (p-value=0,004), bermain ditanah (p-value=0,000), jajan sembarangan (p-value=0,000) dengan penyakit cacingan pada murid di Sekolah Dasar Negeri 18 Kota Banda Aceh Tahun 2022.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Gampong Anoi Itam Kecamatan Sukajaya Sabang Tahun 2022 Salsabilla Suci; Zulkifli Ak; Ramadhaniah Ramadhaniah
Journal of Health and Medical Science Volume 2 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v2i1.1211

Abstract

Community behavior in managing waste is one of the environmental health behaviors. The emergence of the waste problem cannot be separated from the behavior of the community as waste producers and managers, therefore community behavior is the most important variable in waste management and its success must be supported by a high level of public awareness. This research is descriptive analytical with cross sectional design. The population in this study were housewives in Anoi Itam Village, Sukajaya Sabang District, totaling 71 respondents. Sampling was done by proportional random sampling technique. Data analysis used univariate and bivariate analysis, with chi square statistical test. Data collection was carried out on 27 February to 1 March 2022. The results showed that mothers with poor waste management behavior (50,7%), housewives aged 28-39 years (49,3%), housewives with low education (45,1%), mothers with low income low family (74.6%), mothers with good knowledge (83.1%), mothers with positive attitudes (83.1%), no infrastructure (59.7%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between knowledge and waste management behavior (p = 0.000), meaning that the better the mother's knowledge, the better the behavior towards waste management, and there was no relationship between age, education, family income, knowledge, attitudes, and infrastructure.