Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai Area Under Curve dan Akurasi Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin untuk Diagnosis Acute Kidney Injury pada Pasien Politrauma di Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung: Tinni Trihartini Maskoen, Azizah Masthura, Suwarman Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 3 (2017): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.074 KB)

Abstract

Politrauma adalah jejas pada beberapa bagian tubuh dengan Injury Severity Score (ISS)>16. Politrauma dapat terjadi hipovolume dan hipoksia sehingga menyebabkan Acute Kidney Injury (AKI). Diagnosis AKI saat ini berdasarkan kenaikan kreatinin serum yang terdeteksi setelah kerusakan ginjal terjadi. Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin (NGAL) merupakan penanda biologis awal untuk mendeteksi terjadinya AKI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai area under curve (AUC) dan akurasi NGAL untuk diagnosis AKI pada pasien politrauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan melakuka n analisis data sekunder pada sebagian data penelitian Academic Leadership Grant (ALG) dan data rekam medis pasien politrauma di IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari 2017–Juni 2017. Analisis data menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) dengan program statistical product and service solution (SPSS)® versi 24.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan pada cut-off point 8480 pg/mL, NGAL plasma memiliki sensitivitas 71,4%, spesifisitas 84,6%, nilai duga positif 55,5%, nilai duga negatif 91,6%, nilai AUC 80% dan akurasi 81,8 %. Kesimpulan penelitian ini adalah NGAL dapat dipergunakan untuk mendiagnosis AKI pada pasien politrauma.
Hubungan Nilai Prokalsitonin dengan Angka Mortalitas Pasien Ventilator Associated Pneumonia di Unit Perawatan Intensif RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang: Zulkifli, Agustina Br. Haloho, Theodorus, Riety Irmalia Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 3 (2017): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.511 KB)

Abstract

Prokalsitonin banyak digunakan sebagai marker dalam menentukan prognosis dan respon terapi pada VAP dimana sensitifitas dan spesifisitas kadar prokalsitonin dalam menentukan tingkat mortalitas pada VAP mencapai 90% dan 74%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai prokalsitonin dengan angka mortalitas pasien VAP di Unit Perawatan Intensif.Penelitian observasional analisis dengan studi kohort telah dilakukan di ruang ICU, HCU IGD dan HCU BHC periode Juli 2016–September 2016. Didapatkan sampel sebanyak 30 pasien VAP yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis statistik yang dilakukan adalah titik potong (cut off point) untuk mengetahui titik potong kadar prokalsitonin menggunakan ROC curve sedangkan hubungan antara kedua variabel dianalisa dengan Uji Chi square. Analisis data menggunakan SPSS versi 20.0.Dengan analisa ROC curve didapatkan nilai cut off (titik potong) nilai prokalsitonin adalah 20.475ng/mL sehingga dari 30 pasien VAP dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok risiko sebanyak 13 orang (prokalsitonin ≥ 20,475 ng/mL) dan kelompok pembanding sebanyak 17 orang (prokalsitonin <20,475 ng/mL). Dari uji Chi Square didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara nilai prokalsitonin dengan angka mortalitas pasien VAP (OR = 7,467 (IK 1,400–39,836) dan p = 0,023). Uji log rank menunjukkan tidak ada perbedaan ketahanan hidup 28 hari antara kelompok pembanding dan kelompok risiko (p = 0,481). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara nilai prokalsitonin dengan angka mortalitas pasien VAP dimana nilai prokalsitonin ≥20,475 ng/ mL 7,467 x lebih berisiko secara signifikan terhadap angka mortalitas pada pasien VAP.
Pengaruh Pemberian Oksikodon Oral 20 mg sebagai Analgesia Preventif terhadap Intensitas Nyeri dan Kebutuhan Rescue Analgetik Pascabedah Laparaskopi Kolesisitektomi: Munandar Marsuki, Muh. Ramli Ahmad, Syafruddin Gaus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 3 (2017): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.783 KB)

Abstract

Nyeri merupakan salah satu efekdari operasi yang dapatdiantisipasi. Saat ini penanganan nyeri pascabedah perlahan-lahan beralih kependekatan preventif. Oksikodon oral control release (CR) merupakan agonis opioid yang dapat digunakan sebagai analgesia preventif pada nyeri akut sedang sampai berat pascabedah.Oksikodon memiliki afinitas yang tinggi terhadap reseptor μ, κ dan ϑ.Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesia preventif oksikodon oral 20 mg pada pasien pascabedah laparaskopi kolesistektomi dengan menilai intensitasnyeri dan kebutuhan rescue analgetik.Uji klinis acak tersamar ganda.Penelitian ini dilakukan terhadap 43 pasien (18–65 tahun), status fisik ASA I-II, yang menjalani operasi laparaskopi kolesistektomi menggunakan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Mei–Juli 2017. Kelompok O sebanyak 21 orang yang mendapatkan oksikodon oral 20 mg dan kelompok K sebanyak 22 orang yang mendapatkan plasebo berupa vitamin c tablet 1 mg, yang masing-masing kelompok diberikan 1 jam sebelum operasi dan kedua kelompok diberikan ketorolak 30 mg setiap 8 jam pascabedah. NRS dan kebutuhan rescue analgetiik di catat pada jam 1,4,8,12 dan 24 jam pascabedah. Data dianalisis dengan Uji Chi- square,Uji ttidak berpasangan dan uji Mann Whitney. Hasil perhitungan statitistik diperoleh NRS dan total kebutuhan rescue analgetik fentanil jam 1,4,8,12 dan 24 jam pascabedah lebih rendah pada kelompok O dibanding dengan kelompok K dengan hasil yang sangat bermakna (p<0,05). Penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan oksikodon oral 20mg sebagai analgesia preventif dapat menurunkan intensitas nyeri dan kebutuhan rescue analgetik.
Tatalaksana Pasien Sepsis Pascaperforasi Gaster dengan Intra Abdominal Infection dan Congestive Heart Failure: Gede Indra Jaya, Haizah Nurdin, Adrian Hartomuljono Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 3 (2017): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.456 KB)

Abstract

Tatalaksana sepsis menurut International Guideline for Management of Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2016 yaitu dilakukannya resusitasi cairan kristaloid, paling sedikit 30 mL/kg IV untuk mengatasi hipoperfusi disebabkan oleh sepsis yang diberikan dalam 3 jam pertama. Penambahan cairan dipandu berulang/sering dengan reassesment status hemodinamik (nadi, tekanan darah, saturasi oksigen arteri, frekuensi napas, temperatur, urin output, dan lainnya, dengan alat invasif atau noninvasif sebagaimana yang tersedia, menilai fungsi kardiak, melakukan prediksi fluid responsive, mempertahankan MAP 65 mm Hg dengan vasopressor, normalisasi laktat, Melakukan pengambilan sampel mikrobiologi kultur ,segera memberikan antimikroba IV setelah penegakan diagnosa sepsis dalam 1 jam pertama. Penatalaksanaan sepsis ini akan lebih sulit apabila telah ada gangguan jantung sebelumnya. Monitoring makrosirkulasi dan mikrosirkulasi sebagai parameter perfusi jaringan diperlukan sebagai pedoman pemberian resusitasi cairan . Melaporkan sebuah kasus seorang penderita lak-laki berusia 68 tahun dengan perkiraan tinggi badan 165 cm berat badan 70 kg . Penderita masuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) mengeluh nyeri perut disertai sesak napas, terdiagnosis sebagai perforasi gaster. Protokol intraabdominal infeksi dijalankan, komplikasi gangguan ginjal akut dan gagal jantung muncul. Tatalaksana sepsis disertai gagal jantung akut dekompensasi dikerjakan beserta monitoring hemodinamik makrosirkulasi, parameter perfusi jaringan, biomarker sepsis hingga akhirnya pasien dapat sembuh kembali
Emboli Paru: Strategi Diagnostik dan Tata Laksana dalam Perspektif Perawatan Kritis: Ngurah Putu Werda Laksana, Tinni T. Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 3 (2017): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.955 KB)

Abstract

Kegagalan diagnosis dini emboli paru pada pasien kritis menyebabkan tertundanya pemberian trombolitik dan antikoagulan sebagai lini pertama mengatasi obstruksi pulmonal yang menjadi etiologi disfungsi ventrikel kanan hingga penurunan curah jantung. Spektrum klinis yang heterogen (asimtomatik hingga syok), tumpang tindih dengan penyakit kritis dasar dan angka kematian dini yang berkisar antara <1%->15% menyebabkan penegakkan diagnosis emboli paru pada pasien kritis memiliki tantangan tersendiri. Gangguan pengiriman oksigen (DO2) yang sulit dijelaskan penyebabnya, memungkinkan emboli paru perlu segera distratifikasi sebagai diagnosis banding, karena pada kondisi syok, lama waktu penegakkan diagnosis berbanding lurus dengan prognosis buruk pasien, perburukan yang progresif. Angiografi CT masih dianggap baku emas penegakkan diagnosis emboli paru. Pemeriksaan penunjang sederhana (foto toraks, elektrokardiogram, ekokardiografi) walaupun tidak sensitif dan spesifik, dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding lain dengan tanda dan gejala yang sama. Resusitasi awal emboli paru masif (status syok) yang meliputi terapi cairan, vasopressor dan inotropik harus dengan pemantauan terukur demikian halnya teknik ventilasi juga perlu pemahaman interaksi jantung-paru. Terapi definitif emboli paru (panduan ESC) meliputi farmakologis dan nonfarmakologis dengan target pengembalian aliran pulmonal serta identifikasi faktor risiko emboli paru.
Penatalaksanaan Pasca Serangan Jantung Berulang Pada Pasien dengan Sindrom Wolff Parkinson White Pasca Amputasi Pedis: Lira Panduwaty, Erwin Pradian, Nurita Dian Kestriani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.512 KB)

Abstract

Penatalaksanaan pasca return of spontaneous circulation (ROSC) pada pasien pasca henti jantung berulang memerlukan strategi yang menyeluruh meliputi optimalisasi hemodinamik, manajemen hipotermia, manajemen kejang, proteksi jalan napas dan penilaian prognostik terhadap cedera otak. Wolff-Parkinson-White (WPW) merupakan gangguan konduksi di jantung yang dikarenakan terdapatnya jaras tambahan. Kasusnya sangat jarang terjadi, dengan 40% kasus asimtomatik. Pada kasus ini, seorang perempuan 58 tahun datang ke IGD RS Hasan Sadikin dengan keluhan utama kaki kiri nyeri dan kehitaman sejak 11 hari yang lalu. Pemeriksaan EKG menunjukkan diagnosis WPW. Pasca operasi amputasi, terjadi serangan jantung mendadak yang mengakibatkan pasien diintubasi dan dirawat di ICU. Dalam perawatan ICU, pasien mengalami henti jantung berulang hingga dua kali. Perawatan dan tatalaksana pasien pasca ROSC berulang dengan sindrom WPW menjadi hal yang sangat menantang bagi intensivist, dikarenakan banyaknya faktor pencetus yang bisa dialami pasien dan komplikasi fatal akibat henti jantung berulang.
Receptor Interacting Protein Kinase 3 sebagai Prediktor Kematian 28 Hari Pasien Sepsis Di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang: Liana Sidharti, Rizal Zainal, Zulkifli, Zen Hafy Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.111 KB)

Abstract

Sepsis merupakan disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat dari gangguan regulasi respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di ICU. Kondisi sepsis dapat menginduksi terjadinya necroptosis, selain menginduksi stres oksidasi.Nekroptosis merupakan bentuk kematian yang terprogram dan pada akhirnya menyebabkan gangguan fungsi atau kerusakan organ.Kinase 3 yang berinteraksi dengan reseptor (RIP3 atau RIPK3) dan substratnya, pseudokinase mixed lineage kinase domain-like protein, telah ditemukan sebagai komponen inti dari proses ini.RIPK3 mempunyai implikasi klinis pada pasien sepsis. Studi pada tikus menunjukkan bahwa defisiensi RIPK3 menjadi proteksi terhadap sepsis dan berpotensi sebagai target terapi SIRS dan sepsis. Penelitian ini merupakan kohort retrospektif. Data yang diambil merupakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien yang di simpan di bagian rekam medis RSMH. Sampel penelitian adalah adalah seluruh rekam medik pasien yang didiagnosis sepsis yang dirawat di ruang kritikal RSMH Palembang selama periode Februari 2019 - Agustus 2019.Didapatkan59 subjek penelitian yang memenuhi kriteria penelitian. Dari uji analisis ROC didapatkan bahwa Cut-off Point RIPK3 terletak pada nilai >0.51 dengan sensitivitas sebesar 92.5% dan spesifisitas 89.5% dengan nilai Area Under Curve sebesar 0.925 yang menunjukkan bahwa RIPK3 memiliki kemampuan memprediksi mortalitas yang sangat kuat. Dari penelitian ini didapatkan bahwa RIPK3 dapat dijadikan suatu biomarker yang dapat memprediksi tingkat mortalitas pada pasien sepsis.
Manajemen Hemodinamik pada Pasien Syok Septik : Osmond Muftilov, Nurita Dian Kestriani, Erwin Pradian Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.645 KB)

Abstract

Manajemen hemodinamik pada fase awal dan lanjut dari syok septik adalah komponen penting terapi. Sindrom penyakit kompleks seperti syok septik memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik multimodal. Selain diagnosis syok septik dan terapi kausal, tantangan utama dalam perawatannya adalah resusitasi serta penanganan disfungsi kardiovaskular dan pernapasan. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan pasien dengan syok septik akibat perforasi duodenum. Seorang wanita berusia 32 tahun dirawat di ruang resusitasi dengan diagnosissyok septik karena peritonitis difus. Resusitasi hemodinamik dilakukan dengan terapi cairan dan pemberian obat vasopresor dan inotropik. Setelah stabilisasi dan optimalisasi, pasien menjalani laparotomi eksplorasi dan ditemukan perforasi pada duodenum. Selama perawatan di ICU, hemodinamik pasien dimonitor menggunakan perangkat PiCCO. Pasien mengalami perbaikan kondisi dan pindah ke bangsal bedah pada hari ke 7. Penilaian serial status hemodinamik pasien dengan syok septik sangat penting untuk menentukan pilihan terapi dalam mengoptimalkan tekanan perfusi dan aliran darah global sehingga dapat mengoptimalkan perfusi jaringan. Kompleksitas dan heterogenitas pasien dengan syok septik menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan individual untuk manajemen hemodinamik.
Tata Laksana Sepsis Bundle pada Pasien Syok Sepsis dengan Perforasi Gaster: Budi Hartanto, Ardi Zulfariansyah Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.803 KB)

Abstract

Perforasi gaster adalah kondisi yang membutuhkan tindakan bedah emergensi. Komplikasi tersering pada kasus ini adalah sepsis dan syok sepsis. Seorang pria datang dengan keluhan nyeri seluruh perut sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan mula - mula di ulu hati dan menyebar ke seluruh perut. Pasien diketahui sering mengkonsumsi obat - obatan dan jamu anti nyeri sejak 3 tahun yang lalu. Pasien datang dengan kondisi syok dan gagal napas, dilakukan penatalaksanaan sepsis bundle di ruang resusitasi serta intubasi sebelum pasien dilakukan operasi laparotomi eksplorasi. Selama operasi ditemukan perforasi gaster dan dilakukan jahit primer serta omental patch. Pascaoperasi pasien dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dengan support hemodinamik dan ventilator selama beberapa hari. Setelah hari ke 3 perawatan kondisi pasien stabil dan dapat dilepas dari ventilator. Setelah hari ke 5 perawatan pasien dikeluarkan dari ICU. Tindakan resusitasi dengan target penurunan laktat adalah tujuan dari resusitasi sesuai sepsis bundle .
Myasthenia Gravis dan Tuberculosis: Nur Arafah Pane, Reza Widianto Sudjud Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.383 KB)

Abstract

Myasthenia gravis adalah salah satu karakteristik penyakit autoimun yang disebabkan oleh adanya gangguan dari synaptic transmission atau pada neuromuscular junction. Hal ini ditandai oleh suatu kelemahan abnormal dan progresif pada otot rangka yang dipergunakan secara terus menerus dan disertai dengan kelelahan saat beraktivitas. Sebelum memahami tentang myastenia gravis. Pengetahuan tentang anatomi dan fungsi normal dari neuromuscularjunction sangatlah penting. Membran presinaptik (membran saraf), membran post sinaptik (membran otot), dan celah sinaps merupakan bagian-bagian pembentuk neuromuscular junction. Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat penting pada patofisiologi myastenia gravis, dimana antibodi yang merupakan produk dari sel B justru melawan reseptor asetilkolin. Penatalaksanaan myastenia gravis dapat dilakukan dengan obat-obatan, thymomectomy ataupun dengan imunomodulasi dan imunosupresif terapi yang dapat memberikan prognosis yang baik pada kesembuhannya. Pada beberapa kasus banyak terjadi myastenia gravis setelah pasien mengalami penurunan imun yang sebabnya belum diketahui. Boleh jadi pada kasus ini TB salah satu penyebabnya menjadi penurunan imun sehingga terjadi myastenia gravis tapi bukan semua penderita Tuberculosis akan menjadi myastenia gravis boleh jadi ada penyebab autoimunnya yang lain.