Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai Area Under the Curve dan Akurasi Interleukin-18 untuk Diagnosis Acute Kidney Injury pada Pasien Politrauma (Penelitian Data Sekunder): Tinni Trihartini Maskoen, Sahat Maruli Andre Simatupang, Reza Widianto Sudjud Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 1 (2018): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.133 KB)

Abstract

Politrauma merupakan cedera berat yang mengenai dua atau lebih area tubuh dengan Injury Severity Score (ISS) sama dengan atau lebih besar dari 16. Politrauma dapat menyebabkan hipovolumia dan hipoksia akibat perdarahanakut sehingga terjadi disfungsi organ multipel termasuk ginjal yang menyebabkan terjadi Acute Kidney Injury (AKI). Diagnosis AKI saat ini ditegakkan dengan penilaian kenaikan kreatinin serum yang terdeteksi setelah kerusakan ginjal terjadi. Interleukin-18 (IL-18) merupakan penanda biologis awal untuk mendeteksi AKI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Area Under the Curve (AUC) dan akurasi IL-18 untuk diagnosis AKI pada pasien politrauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji diagnosis ini dilakukan dengan metode analisis data sekunder pada sebagian data penelitian Academic Leadership Grant (ALG) dan data rekam medis pasien politrauma di IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari 2017–Juni 2017 terhadap 30 sampel data penelitian. Analisis data menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) dengan program Statistical Product and Service Solution (SPSS)® versi 24.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan pada cut of point 374,37 ng/mL, IL-18 menghasilkan nilai sensitivitas 77,8%, spesifisitas 76,2%, nilai AUC 0,81 dan akurasi 76,6%. Simpulan penelitian ini adalah nilai AUC untuk diagnosis AKI pada pasien politrauma memberikan hasil yang baik, sedangkan nilai akurasi untuk diagnosis AKI pada pasien politrauma memberikan hasil yang sedang.
Sepsis dengan Disfungsi Multi Organ: Eko Suprayogi, Sudarsono, Eddy Harijanto Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 1 (2018): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.528 KB)

Abstract

Sindrom disfungsi multi organ (MODS), juga dikenal sebagai multiple organ failure (MOF), kegagalan organ total (TOF) atau kegagalan organ multisystem (MSOF), mengubah fungsi organ pada pasien akut yang memerlukan intervensi medis untuk mencapai homeostasis. MODS adalah penyebab kematian tersering pada pasien sepsis. Proses patofisiologi nya sangat rumit dan kompleks. Akibatnya hingga saat ini harapan pasien untuk dapat bertahan hidup dari MODS masih jauh dari harapan. Pada tulisan ini, dikemukakan sebuah kasus pasien sepsis dengan MODS yang beruntung dapat selamat dan bertahan hidup yang kemungkinan penyebab utamanya adalah penegakan diagnosis awal dan penanganan MODS pada pasien secara dini dan adekuat.
Pemberian Nutrisi Melalui Ileostomi dari Enteric Content Jejunostomi pada Pasien Short Bowel Syndrome: Halim, Tinni Trihartini. Maskoen, Tatang Eka Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 1 (2018): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.396 KB)

Abstract

Short bowel syndrome (SBS) adalah suatu keadaan malabsorbsi dan malnutrisi pascareseksi usus halus yang ekstensif, kelainan kongenital atau penyakit usus halus. Manajemen nutrisi pada fase awal sangat mengandalkan nutrisi parenteral. Nutrisi parenteral jangka lama menimbulkan komplikasi serius. Tujuan akhir manajemen nutrisi pasien SBS dapat menggunakan usus halus yang tersisa. Manajemen nutrisi dengan memasukkan kembali enteric content dari stoma proksimal ke distal dapat mengurangi keluaran stoma. Pada kasus ini, seorang anak laki-laki usia 13 tahun menderita short bowel syndrome setelah mengalami reseksi ileum proksimal 50 cm dan jejunum distal 10 cm akibat volvulus. Usus halus tidak dapat disambung kembali dan akhirnya dibuat jejunostomi dan ileostomi. Nutrisi enteral dimulai pada fase adaptasi dengan ileostomy feeding dari enteric content jejunostomi.
Penilaian Nyeri di Ruang Perawatan Intensif: Hadi Sumitro Jioe, Suwarman Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 1 (2018): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.994 KB)

Abstract

Nyeri secara umum dikenal sebagai tanda vital kelima serta merupakan signal dari menurunnya fungsi fisiologis dari kebanyakan organ tubuh. Nyeri hebat dapat mencetuskan respon stres dan menstimulasi aktivitas adrenergik–simpatis menyebabkan takikardi, hipertensi, meningkatkan konsumsi oksigen dalam otot jantung serta dapat menyebabkan iskemik otot jantung pada pasien-pasien tertentu. Pada pasien dengan kondisi kritis nyeri dapat bermanifestasi sebagai gelisah dan delirium seringkali tidak tertangani dengan baik sehingga dapat menyebabkan sekuele psikis sebagai post-traumatic stress disorder. Manifestasi sistemik dari nyeri adalah systemic inflammatoryresponse syndrome, hiperglikemi, imunosupresi, penyembuhan luka yang sulit, hiperkoagulabilitas, dan peningkatan reaksi katabolisme tubuh. Hal tersebut berujung pada peningkatan lama rawat di ruang perawatan intensif ataurumah sakit serta mortalitas. Pengukuran nyeri pada pasien dengan kondisi kritis jarang sekali menggunakan sistem penilaian yang tervalidasi dan penilaian berdasarkan respon fisiologis (denyut jantung, tekanan darah arteri, polapernafasan) dapat berujung pada kesalahan. Penilaian intensitas nyeri secara rutin dapat meningkatkan kualitas dari penanganan nyeri dan kualitas hidup pasien pada ruang perawatan intensif hingga pasien dipulangkan. Olehkarena itu, penilaian nyeri pada pasien-pasien kritis yang dirawat di ruang perawatan intensif harus berdasarkan kriteria penilaian yang dapat diulang serta terpercaya dalam skala waktu tertentu sehingga dapat dilakukan evaluasi.Skala behavioral pain scale (BPS) dan critical care pain observation tool (CPOT) dapat digunakan untuk menilai nyeri pada pasien dengan kondisi kritis baik sadar maupun tidak sadar yang menggunakan alat bantu pernafasanmekanik akan tetapi dengan perbedaan sensifitas dan spesifisitas. Penggunaan kedua skala nyeri secara bersamaan dapat meningkatkan nilai sensitifitas untuk penilaian nyeri.
Extra Corporeal CO2 Removal (ECCOR); Revolusi dalam Eliminasi CO2 Respirasi: Ronggo Prakoso, Dita Aditianingsih, Yohanes WH George Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 1 (2018): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.477 KB)

Abstract

Ventilasi mekanik masih merupakan terapi suportif utama gagal napas akut untuk memperbaiki pertukaran gas. Namun data menunjukkan perburukan cedera paru dan meningkatnya mortalitas dapat terjadi akibat penerapan ventilasi mekanik yang tidak tepat. Derajat regangan paru pada akhir inspirasi mengakibatkan berpindahnya serangkaian mediator dari paru melalui sirkulasi sistemik ke organ distal (ventilator induced lung injury, VILI). Extra Corporeal CO2 Removal (ECCOR) diperuntukkan mengeliminasi CO2 tanpa memperbaiki oksigenasi.Pendekatan ini memungkinkan ventilasi mekanik dengan tekanan pembangkit saluran napas yang lebih rendah sambil tetap mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, mencegah hiperkapnia dan asidosis respiratorik akibat diturunkannya ventilasi. Turunnya kebutuhan ventilasi alveolar dapat menghindari kelelahan otot napas pada kondisi eksaserbasi pasien penyakit paru obstrukif kronik (PPOK).
Penyulit Penyapihan Ventilasi Mekanik pada Pasien Sindrom Distres Pernapasan Akut Akibat Kontusio Paru dan Pneumonia: Sandhie Prasetya, Indriasari Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.733 KB)

Abstract

Kontusio paru didapatkan pada sekitar 20% dari pasien trauma tumpul dada. Kisaran kematian dilaporkan dari 10%–25%, dan 40%–60% pasien memerlukan bantuan pernapasan dengan ventilasi mekanik. Sekitar 20%–30% pasien yang menggunakan ventilasi mekanik mengalami kesulitan dalam proses penyapihan. Pemakaian ventilasi mekanik jangka panjang akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas serta memperpanjang waktu perawatan dan menambah biaya perawatan. Laporan kasus ini membahas penyulit penyapihan ventilasi mekanik pada pasien sindrom distres pernapasan akut akibat kontusio paru dan pneumonia yang dirawat di ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama 21 hari. Selama perawatan didapatkan pneumonia dan penyulit dalam proses penyapihan ventilasi mekanik. Keseimbangan cairan kumulatif positif dapat menjadi salah satu faktor penyulit penyapihan.
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS): Aldreyn Asman Aboet, Tinni Trihartini Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.606 KB)

Abstract

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah cedera paru akut difus inflamasi yang terjadi peningkatan permeabilitas vaskular paru dan kehilangan pengisian udara pada jaringan paru. Faktor predisposisi ARDS berupa pneumonia, sindrom sepsis (septicemia, sepsis berat, dan syok sepsis), gastric aspiration dan trauma multisistem. Tampilan klinis ARDS seperti onset akut, hipoksemia berat, dan infiltrate paru bilateral tanpa bukti-bukti kegagalan jantung kiri atau kelebihan cairan. Ventilasi mekanik dengan low tidal – volume ventilation berfungsi mengurangi cedera paru pada pasien dengan ARDS yang dikenal sebagai lung protective ventilation yaitu memberikan volume tidal yang rendah (6mL/kgBB) dan penggunaan positive end-expiratory pressure (PEEP). Ventilasi non mekanik adalah manajemen cairan dan kortikosteroid dosis tinggi. Lung protective ventilation pada ARDS berfungsi mengurangi kerusakan organ akibat ventilasi mekanik. Acute Respiratory Distress Syndrome akan tetap menjadi sumber utama dari morbiditas dan mortalitas di ICU.
Acute Kidney Injury (AKI) pada Pasien Kritis: Arie Zainul Fatoni, Nurita Dian Kestriani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.281 KB)

Abstract

Acute kidney injury (AKI) adalah gangguan klinis yang kompleks. AKI merupakan sindrom AKI yang paling umum di intensive care unit (ICU) dan terjadi pada sekitar setengah dari pasien kritis yang dirawat di ICU. AKI pada pasien ktitis terjadi akibat kombinasi antara paparan dan kerentanan tubuh pasien. Penyebab utama AKI dibagi menjadi tiga kategori: prerenal, renal dan postrenal. Definisi dan staging AKI awalnya didasarkan pada kriteria risk injury failure loss and end stage (RIFLE) dan kriteria acute kidney injury network (AKIN). Diagnosis terbaru berdasarkan pada guideline kidney disease improving global outcome (KDIGO) dengan berdasarkan pengukuran produksi urin dan kreatinin serum. Namun, beberapa biomarker dan terutama biomarker penarik siklus sel dapat diperiksa. Pasien dengan AKI berada pada peningkatan risiko kematian dan gangguan ginjal. Terapi AKI ditujukan untuk mengatasi penyebab dasar AKI, dan untuk membatasi kerusakan dan mencegah progresifitas serta pada kondisi tertentu diperlukan renal replacement therapy (RRT). Prinsip utamanya adalah untuk mengobati penyakityang mendasarinya, untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan dan mengoptimalkan hemodinamik, dan untuk mengobati gangguan elektrolit. Pencegahan AKI tetap berdasarkan pada resusitasi cairan dan vasopressor untukmenjaga kestabilan hemodinamik.
Plasmafaresis pada Guilain Barre Syndrome dengan Sepsis: Cecep Hidayat, Adhrie Sugiarto, Dita Aditianingsih, Yohanes George Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.896 KB)

Abstract

Terdapat kasus seorang pria, 39 tahun dengan demyelinating inflammatory polyneuropathy akut. Pada perawatan intensif terdapat keluhan kelemahan kaki dan otot pernapasan, sehingga diperlukan alat bantu napas. Selamadelapan hari, sebelum masuk rumah sakit keluhan yang dirasakan kaki lemas saat berjalan dan sering tersedak air liur saat tidur. Hari ke-9 keluhan yang dirasakan demam, diare, sakit kepala, kemudian pasien didiagnosis vertigo. Keluhan satu hari kemudian adalah kelelahan, demam, sulit bangun dan perlu bantuan saat berjalan. Selanjutnya, pasien didiagnosis menderita myasthenia gravis atau stroke, dan dirawat selama tujuh hari, namun tidak adaperbaikan, pasien diminta untuk dipulangkan. Satu hari sebelum masuk RSCM, kondisi pasien di rumah semakin lemah, banyak mengeluarkan liur, kesulitan bernapas, dan sering tersedak. Akhirnya pasien dirujuk ke RSCM menggunakan ambulans klinik dengan bantuan ventilator. Di RSCM pasien didiagnosis “imunitas polineuropati akut”. Pasien dipasang kateter double-lumen di paha kiri, diintubasi dengan respirator, dipindahkan ke unit perawatan intensif selama tujuh hari, serta dilakukan plasmafaresis sebanyak empat kali. Terdapat perubahan signifikan pada hari ke-3, kemudian ventilator dilepas. Plasmaferesis dilakukan dalam perawatan Guilain Barre Syndrome (GBS) dengan tujuan memperbaiki atau mengurangi kelemahan anggota gerak di bawah ventilasi mekanis dan mengurangi lama tinggal di ICU.
Penatalaksanaan Krisis Miastenia: Rommy Fransiscus Nadeak, Tatang Eka Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 2 (2018): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.995 KB)

Abstract

Krisis miastenia adalah salah satu komplikasi miastenia gravis (MG) yang ditandai oleh kelemahan otot otot sehingga mengakibatkan gagal pernapasan yang membutuhkan intubasi endotrakeal dan pemakaian ventilator mekanik. Kemajuan perawatan di Intensive care unit dapat menurunkan angka kematian pada krisis miastenia. Strategi pengobatan terbaru termasuk penggunaan anticholinesterase, steroid, immunosupresan, plasmapharesis dan thymectomy. Walaupun thymectomy semakin diterima sebagai terapi standard untuk miastenia gravis, krisis miastenia tetap merupakan komplikasi mayor yang mengancam jiwa dari prosedur thymectomy. Plasmapharesis (PE) digunakan untuk menurunkan jumlah antibodi yang bersirkulasi dan sekarang digunakan secara luas untuk terapi MG ketika pengobatan tradisionil tidak sukses dan munculnya krisis miastenia