Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pemantau Hemodinamik dari Invasif menuju Tidak Invasif: Loodie Ackly Agu, Tatang Eka Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 3 (2018): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.949 KB)

Abstract

Pasien yang dirawat di unit perawatan intensif membutuhkan pemantauan hemodinamik, ketidakstabilan hemodinamik menyebabkan ketidakseimbangan antara pengiriman dan permintaan oksigen dan menjadi faktor penyebab utama gagal organ. Ketidakstabilan hemodinamik ini didasari atas 3 kelainan hemodinamik utama yaitu perubahan volume sirkulasi (hipovolemia), disfungsi jantung, dan perubahan tonus vaskular (misalnya syok vasoplegik pada sepsis) yang akan mengakibatkan disfungsi organ, gagal multi-organ dan akhirnya kematian. Perkembangan pemantau hemodinamik telah bergeser dari pemantau invasif menuju kurang invasif atau minimal invasif sampai tidak invasif, dikalibrasi atau tanpa kalibrasi dengan filosofi dari pendekatan statik menuju pendekatan fungsional. Metode pemantauan curah jantung didasarkan pada Ficks principle, thermodilution, Doppler, analisa kontur nadi dan bioimpendance. Pengenalan macam-macam pemantau hemodinamik sesuai klasifikasi dan mekanisme kerjanya sangat membantu dalam mengaplikasikan pada pasien yang bertujuan memandu manajemen medis dalam pencegahan atau terapi gagal organ agar mendapatkan hasil akhir pasien lebih baik. Direkomendasikan lebih memilih teknik tidak invasif atau kurang invasif daripada teknik lebih invasif; pendekatan dinamis (kontinyu) dari pada pendekatan statis (intermitent) dan menggunakan teknik yang dikalibrasi pada pasien kritis dan tidak stabil.
Sindroma Guillain-Barre dengan Hospital Acquired Pneumonia di Unit Perawatan Intensif: Tias Diah Setiari, Reza Widianto Sudjud Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 3 (2018): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.528 KB)

Abstract

Sindroma Guillain-barre merupakan suatu penyakit autoimun yang berhubungan dengan demielinisasi sistem saraf perifer serta terjadinya kelemahan otot progresif. Hal ini sering dicetuskan oleh infeksi virus atau bakteri dan memiliki karakteristik acute symmetric ascending flaccid paralysis dengan atau tanpa keterlibatan sistem sensoris. Sindroma Guillain-barre sangat jarang terjadi, namun dapat menjadi kondisi yang berat dimana terjadi disfungsi dari pernapasan dan mungkin memerlukan ventilasi mekanis yang dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Sepertiga pasien yang memerlukan ventilasi mekanis memiliki angka mortalitas sekitar 10% dan dari semua pasien yang memakai ventilator, sekitar 20% meninggal karena pneumonia, acute respiratory distress syndrome dan sepsis. Kasus ini memaparkan tentang seorang anak laki-laki dengan diagnosa Sindroma Guillainbarre dengan komplikasi syok septik yang disebabkan oleh hospital acquired pneumonia
Pengelolaan Pasien Tetanus di Intensive Care Unit: Hendra Laksamana Jaya, Ricky Aditya Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 3 (2018): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.452 KB)

Abstract

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. Tetanus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang karena akses program imunisasi yang buruk. Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus yaitu membuang sumber tetanospasmin, netralisasi toksin yang tidak terikat, perawatan penunjang (suportif) sampai tetanospasmin yang berikatan dengan jaringan habis dimetabolisme. Sebagian besar kasus membutuhkan waktu 4−6 minggu untuk pengobatan suportif di ICU. Faktor beratnya penyakit dan keberhasilan terapi suportif akan menentukan outcome.
Manajemen AKI Induce Sepsis di ICU dengan Edema Paru: Saut Hutasoit, Tinni Trihartini Maskoen, Nurita Dian Kestriani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 3 (2018): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.248 KB)

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ yang disebabkan disregulasi respons tubuh terhadap infeksi yang dapat mengancam jiwa. Akut kidney injury (AKI) adalah salah satu disfungsi organ yang dapat terjadi akibat sepsis. Mortalitas infeksiintra-abdomen yang sudah sepsis berkisar 30%-60%. Perempuan 64 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin didiagnosis Sepsis ec Peritonitis ec Gaster Perforasi dan AKI stage II. Pasien diresusitasi dan operasi, pascaoperasidirawat di ICU dengan tambahan diagnosa edema paru. Terapi untuk stabilisasi hemodinamik pada kondisi syok (cairan dan vasopressor), pemberian antibiotik, dan balans cairan negatif pada pasien dengan overload denganmonitor CVP. Pasien diberikan Albumin 25 % selama 3 hari dan pemberian diuretik Furosemid. Hari keenam, edema paru membaik dengan hemodinamik stabil, dilakukan ekstubasi. Pasien dipulangkan dengan fungsi ginjal normal serta gambaran paru dalam batas normal. European Society of Intensive Care Medicine tahun 2017 merekomendasikan resusitasi cairan dengan kristaloid, menghindari kelebihan cairan diberikan diuretik, atau diuretik ditambah albumin atau dengan renal replacement therapy (RRT) untuk pencegahan AKI dan proteksi fungsi ginjal di ICU. Penanganan yang adekuat seperti kontrol sumber infeksi, resusitasi cairan dan menghindari kelebihan cairan, antibiotika, perawatan ICU, memberikan hasil yang baik untuk pasien sepsis dengan AKI dan edema paru.
Efektivitas Penambahan 0,6 mL Dekstrosa 40 % pada 12mg Levobupivakain 0,5% Isobarik terhadap Mula dan Lama Kerja Blokade Sensorik-Motorik Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea: Zulkifli, Fredi Heru, Irfannuddin, Nurmala Dewi Maharani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 36 No 3 (2018): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.435 KB)

Abstract

Uji klinik acak berpembanding, secara tersamar ganda dilakukan di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang dari bulan Juli–Oktober 2017. Terdapat 48 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien dibagi dalam dua kelompok.Kelompok I diberikan 12 mg levobupivakain 0,5% isobarik dan 0,6 mL dekstrosa 40%, sedangkan kelompok II diberikan 12 mg levobupivakain 0,5% isobarik dan 0,6 mL NaCl 0,9%. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan onset blokade sensorik (3±1 vs 5±2; p=0,000), regresi dua segmen (139,54±16,35 vs 113,42±23,87; p=0,000), dan durasi blokade sensorik (170,71±17,88 vs 154,46±21,66; p=0,007), onset blokade motorik (4±2 vs 6±2; p=0,000) dan durasi blokade motorik (143,7±19,28 vs 127,17±24,92; p=0,013).
Perbandingan Keefektifan Gel Lidokain 2% dengan Spray Lidokain 10% untuk Mengurangi Dosis Propofol pada Pasien Endoskopi Saluran Cerna Atas: Aries Perdana, Christopher Kapuangan, Panji Adinugroho Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.818 KB)

Abstract

Kombinasi spray lidokain dan anestetika intravena menjadi utama pada prosedur endoskopi saluran cerna, namun spray lidokain menyebabkan iritasi lokal, mual, muntah, dan rasa pahit. Gel lidokain merupakan alternatif anestetik lokal dengan keuntungan mengurangi gesekan mukosa dengan endoskop saat insersi, serta pemberian lidokain yang tebal dan lengket menghasilkan anestesia lokal yang lebih baik pada rongga mulut dan orofaring. Penelitian ini membandingkan antara keefektifan gel lidokain dan spray lidokain dalam mengurangi penggunaan propofol. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap pasien endoskopi saluran cerna atas dengan sedasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan Juli–September 2015. Setelah mendapat persetujuandari Komite Etik FKUI-RSCM, 52 subjek dirandomisasi menjadi 2 kelompok (kelompok gel lidokain 2% dan spray lidokain 10%). Total dosis propofol, angka kejadian gag refleks, hipotensi, bradikardia, dan desaturasi dicatat pada masing-masing kelompok. Analisis data dilakukan dengan uji t-test tidak berpasangan. Rata-rata dosis propofol grup gel lidokain 2% (186,92±43,52 mg) berbeda secara bermakna dengan grup spray lidokain 10% (218,85±61,01 mg), p<0,05, IK 95%=31,92. Gel lidokain 2% lebih efektif dibanding dengan spray lidokain 10% dalam mengurangi dosis propofol pada pasien endoskopi saluran cerna atas.
Perbandingan Efektivitas Tablet Hisap Amylmetacresol-dibenal dengan Profilaksis Deksametason Intravena Sebelum Pemasangan Pipa Endotrakeal untuk Mengurangi Kekerapan Nyeri Tenggorok Pascaoperasi: Eddy Harijanto, Riyadh Firdaus, Dedy Kurnia Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.158 KB)

Abstract

Post-operative sore throat (POST) is one of the complications that often arise in the general anesthesia with intubation techniques. The purpose of this study was to compare the effectiveness of amylmetacresol-dibenal lozenges with prophylactic intravenous dexamethasone before intubation to reduce the incidence of POST. After approval from Ethics Committee Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Ciptomangunkusumo Hospital and consent from patients,a prospective randomized clinical,double-blind trial was done in 121 patients that would undergo surgery under general anesthesia using endotracheal tube. Patients were divided into two groups randomly; Group A 61 people and group B 60 people. Before induction, patients in group A was given amylmetacresol - dibenal lozenges and injection of 2 mL of 0.9% NaCl, while group B was given intravenous dexamethasone 10 mg and placebo lozenges. POST was evaluated by the numerical rating scale (NRS) 3 times, after surgery when Alderette score of 10, 2 hours postoperatively and 24 hours postoperatively. The frequency and degree of POST were recorded and analyzed with Chi-Square test. There were no significant difference in the incidence of POST in both groups after surgery when Alderette score of 10 , h 2, and the 24th hour postoperatively. The degree of POST was not significantly different between the two groups. Amylmetacresol - dibenal lozenges before intubation tube has the same effectiveness of prophylactic intravenous dexamethasone in reducing the incidence of POST.
Waktu Pulih Pasien Pascavitrektomi: Perbandingan antara Rumatan Kombinasi Sevofluran 1,2 Vol% - Fentanil 1,2 Mcg/Kg/Jam dengan Rumatan Sevofluran 2 Vol%: Arif HM Marsaban, Christopher Kapuangan, Krisna Andria Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.176 KB)

Abstract

Waktu pulih yang cepat dan lancar telah menjadi kebutuhan yang penting bagi unit pembedahan, khususnya bagi unit yang memiliki beban jadwal operasi yang banyak. Kecepatan waktu pulih diperlukan untuk meningkatkan turn-over-rate unit tersebut. Efek sinergis kombinasi opioid dan gas anestesi telah digunakan secara umum untuk mempertahankan kedalaman anestesia intraoperatif. Hanya saja tidak terlalu banyak data mengenai waktu pulih kombinasi opioid dan gas inhalasi, khususnya kombinasi sevofluran-fentanil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pulih antara rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol% - fentanil 1,2 mcg/kg/jam dengan rumatan sevofluran 2 vol%. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi elektif vitrektomi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo periode bulan Mei–Juli 2015 sebanyak 30 sampel subjek penelitian diambil dengan metode konsekutif. Waktu pulih pascaoperasi dicatat dan data waktu pulih dianalisis dengan uji independent sample t-test. Waktu pulih antara rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam dengan rumatan sevofluran 2 vol% memiliki perbedaan yang signifikan (p<0,005 kombinasi rumatan sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam memiliki waktu pulih (6,47±1,727 detik) yang lebih singkat dibanding dengan rumatan sevofluran 2 vol% (11,87±1,846 detik). Waktu pulih pascavitrektomi pada kelompok rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam lebih singkat secara bermakna dari pada waktu pulih pada kelompok rumatan sevofluran 2 vol%.
Uji Kesahihan dan Keandalan QoR-40 versi Indonesia sebagai Instrumen untuk Menilai Kualitas Pemulihan Pasca-anestesia Umum: Eddy Harijanto, Andi Ade Wijaya, Dini Handayani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.46 KB)

Abstract

Quality of Recovery-40 (QoR-40) adalah salah satu instrumen yang telah digunakan luas di dunia untuk menilai kualitas pemulihan pasca-anestesia umum. Saat ini belum ada instrumen spesifik yang menilai kualitas pemulihanpasca-anestesia di Indonesia. Hasil terjemahan akan diujikan pada 115 subjek yang menjalani anestesia umum satu hari praoperasi dan satu hari pascaoperasi. Uji kesahihan isi menggunakan koefisien Aiken v, uji kesahihan konstruksi (analisis faktor dan uji korelasi pearson), konsitensi internal (Chronbach α), ketanggapan (responsiveness) dengan standard respons mean (SRM). Uji kesahihan isi formula Aiken V didapatkan bahwa QoR-40 versi Indonesia sahih dengan nilai ≥0,5. Uji kesahihan konstruksi dengan analisis faktor menunjukan semua faktor memiliki korelasi yang tinggi (korelasi≥0,5). Uji korelasi Pearson didapatkan 3 item pertanyaan dari dimensi dukungan tehadap pasien yang tidak sahih (mendapat dukungan dari dokter Rumah Sakit, ρ=0,252), (mampu memahami arahan dan nasehat ρ=1,98), (merasa bingung ρ=0,202). Standart respons mean (SRM) pada uji ketanggapan adalah 1,06. Terdapat hubungan negatif antara skor QoR-40 versi Indonesia dengan lama masa rawatan. QoR -40 versi Indonesia menunjukkan kesahihan dan keandalan yang memuaskan. Dimensi dukungan terhadap pasien dengan koefisien kesahihan terendah dan tiga pertanyaan yang tidak memiliki kesahihan konstruksi. Instrumen Qor-40 versi Indonesia sensitif untuk menilai perubahan klinis pascanestesia umum.
Tata Laksana Anestesi pada Pasien Anak dengan Hipersplenism, Thalassemia Mayor, dan Trombositopenia yang Menjalani Splenektomi: Doddy Tavianto, Ati Nurchaeni Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.215 KB)

Abstract

Thalassemia merupakan penyakit genetik pembentukan rantai globin pada hemoglobin. Operasi spelenektomi pada pasien hipersplenism dengan thalassemia mayor dan trombositopenia merupakan hal yang menantang bagi seorang ahli anestesi dikarenakan manifestasi sistemik yang timbul karena thalassemia, penumpukan kadar besi, dan komplikasi agen kelasi besi. Kasus ini mempresentasikan tentang seorang anak perempuan usia 6 tahun dengan thalasemia mayor dan trombositopenia yang menjalani operasi splenektomi dalam anestesi umum. Operasi berlangsung selama 6 jam dengan perdarahan 2.700 mL dengan transfusi 700 mL PRC, 300 mL FFP, dan 200 mL trombosit. Hemodinamik intraoperatif pernah mengalami penurunan dikarenakan perdarahan akibat terpotongnya arteri gastric brevis. Setelah operasi pasien diekstubasi dan dirawat di HCU.