Ponendi Hidayat
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PATH COEFFICIENT ANALYSIS G39×CIHERANG AND MENTIK WANGI×G39 RICE IN F4 GENERATION Zheng, Shao Hui; D.H., Totok Agung; Azis, Fuad Nur; Hidayat, Ponendi; Susanti, Dyah; Riyanto, Agus
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 36, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya and Indonesian Agronomic Assossiation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Current research was conducted with the objectives to identify the utmost traits that may be beneficial for the higher productivity of the grains on high protein content genotypes lines by path coefficient. Path coefficient can define coefficient correlation directly and indirectly to gain information about nature relationship between yield component and protein content to grain yield. Research material consisted of 61 selected plants from G39×Ciherang and 66 selected plants from Mentik Wangi×G39 at F4 generation. Plants were planted in Banyumas in May 2011. Number of panicles per plant, panicle length, 1000 g of grain weight, percentage of filled grain per panicle, protein content, and grain yield were correlated by using Pearson correlation and were followed by path coefficient. Number of panicles per plant, panicle length, 1000 g of grain weight, percentage filled grain per panicle, and protein content were used as dependent variable, while grain yield was used as independent variable. The result showed that protein content in both populations was not correlated with all yield components. The numbers of panicles, followed by panicle length, had highest positive direct effect to yield. The number of panicle was a positive mediator variable to yield from another variable.Keywords: correlation, direct effect, indirect effect, mediator variable, path analysis
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ENAM GENOTIPE BAWANG MERAH YANG DIPERLAKUKAN DENGAN VARIASI PUPUK K DAN SAAT PANEN Ubad Badrudin; Sunarto Sunarto; Ponendi Hidayat
Agrin Vol 11, No 2 (2007): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2007.11.2.71

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K dan saat panen enam genotipe bawangmerah yang tetap, sehingga diperoleh hasil maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan PusatPenelitian dan Pengembangan Kedelai (SRDC) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, sejak bulanJuni sampai September 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT)dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah pepumukan K, K0: kontrol dan K1=150 kg KCl/ha, dan anakpetak berupa kombinasi antara genotipe bawang merah dan saat panen. Keenam genotip bawang merahmenunjukkan pertumbuhan dan hasil bervariasi, tetapi bukan disebabkan oleh variasi pemupukkan K. Hasilumbi bervariasi ketika panen dilakukan pada saat yang berbeda. Umur panen 70 hst (U2) memberikan hasillebih baik daripada umur panen 60 hst (U1). Bobot kering askip tanaman per rumpun, dan diameter umbisetiap genotip bawang merah ditentukan oleh saat panen. Galur K (V3) pada umur panen 70 hst (U2)menunjukkan hasil yang paling tinggi. Jumlah umbi per rumun keenam genotip bawang merah ditentukanoleh pemberian pupuk K dan saat panen. Jumlah umbi per rumun Galur K (V3) dan varietas Tiron (V6)meningkat sejalan dengan pemberian pupuk K (K1) dan jika dipanen pada umur 70 hst (U2), sehinggadiameter umbinya menjadi kecil-kecil.Kata Kunci: bawang merah, genotipe, pupuk K, saat panen. ABSTRACTThis research project aimed to find out the proper dose of K fertilizer and harvest time for shallot, soas to gain their maximal yield. Its was carried out in Soybean Research and Development Center (SRDC)field of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, since June until September 2006. A three replication ofSplit Plot Design arranged in Randomized Completely Block Design was employed. The main plot consistedof K0: control and K1: 150 kg KCL per hectare, whilst sub plot was combination between six shallotgenotype and harvesting time. The growth and yield of six shallot varieties varies and its variation dependedon K fertilizer and harvesting time. K application (K0 and K1) was not affect all of observed variables. Bulbyield varies when its harvest was done in different time. Harvesting time in 70 days after planting (U2)resulted higher yield than those of 60 days after planting (U1). Askip dry weight of crop per clump and bulbdiameter of each variety depended on harvesting time. K line (V3) produced the highest yield when shallotwaa harvested in 70 days after planting (U2). The number of tuber per clump for all varieties was determinedby both K application and harvesting time. The number of tuber for K line (V3) and Tiron variety (V6)increased when K fertilizer was applied and shallot was harvested in 70 days after planting (U2), and hencethe diameter of tuber decreased.Key words: shallot, genotype, K fertilizer, harvesting time.
Respon Morfologi Sembilan Genotipe Kedelai (Glycine max) pada Sistem Pertanaman Monokultur dan Tumpang Sisip Kedelai-Jagung: Morphological Responses of Nine Soybean (Glycine max L.) Genotypes Under Monoculture and Soybean–Maize Intercropping Systems Fatmalah, Nurul; Fatichin; Ponendi Hidayat
Biofarm : Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 21 No. 1 (2025): BIOFARM JURNAL ILMIAH PERTANIAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/biofarm.v21i1.6219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon morfologi sembilan genotipe kedelai pada sistem pertanaman monokultur dan tumpang sisip. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas pada bulan Juli – Oktober 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor, perlakuan terdiri dari 9 genotipe kedelai yaitu genotipe Slamet, Anjasmara, Grobogan, PB-4-1, C5, P71, Dena 1, Malika, dan Indo 253. Setiap perlakuan diulang tiga kali, sehingga terdapat 27 petak pada setiap sistem pertanaman. Data yang berdistribusi normal dan homogen dianalisis dengan uji ragam atau analysis of variance (ANOVA) gabungan untuk menduga ada tidaknya interaksi antara genotipe dengan sistem pertanaman. Jika uji F berpengaruh nyata maka nilai tengah diuji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%. Menggunakan aplikasi Ms. Excel Office 2019, SPSS 25, dan aplikasi DSAASTAT 1.514. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara genotipe dan sistem pertanaman pada karakter luas daun, jumlah polong per tanaman dan jumlah polong isi per tanaman. Kata kunci: Sistem Pertanaman; Tumpang Sisip; Genotipe Kedelai
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG HIJAU PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS DAN DOSIS SILIKA darmono, didik; Sakhidin; Ponendi Hidayat
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 4 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, NOVEMBER 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i4.7681

Abstract

Produksi kacang hijau di Indonesia masih rendah karena luas penanaman yang terbatas. Penambahan luas penanaman melalui pemanfaatan lahan suboptimal seperti lahan salin dapat menjadi pemecahan masalah rendahnya produksi kacang hijau dalam negeri. Tanah salin memiliki keterbatasan berupa garam berlebih yang merugikan pertumbuhan tanaman. Pupuk silika dilaporkan dapat meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi cekaman salinitas. Penelitian ditujukan untuk mengkaji bagaimana pengaruh dosis pupuk silika, tingkat salinitas,dan interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau. Penelitian didalam greenhouse ini memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor penelitianyaitu. dosis pupuk silika (P) sebagai faktor pertama dan tingkat salinitas (S) sebagai faktorkedua. Dosis pupuk silika terdiri atas 4 taraf yaitu 0 ml L-1 = P1, 2 mL L-1 =P2, 4 mL L-1 = P3 dan 6 mL L-1 = P4. Salinitas terdiri atas 3 tingkat yaitu < 2 dS m-1 = S1, 4 dS m-1 = S2 dan 8 dS m-1 = S3. Kombinasi faktor penelitian menghasilkan 12 bentuk perlakuan dan di ulang 3 kali sehingga terbentuk 36 unit percobaan. Data penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk silika hanya berpengaruh pada jumlah daun trifoliat kacang hijau pada umur 42 hari setelah tanam.Jumlah daun trifoliat tertinggi diperoleh pada dosis pupuk silika 0 ml L-1, yaitu 6,89 helai.Tingkat salinitas menurunkan hampir seluruh variabel pertumbuhan, hasil dan fisiologitanaman kacang hijau. Interaksi dosis pupuk silika dan tingkat salinitas mempengaruhi jumlahpolong per tanaman. Jumlah polong tertinggi diperoleh melalui pemberian pupuk silika 6 mLL-1 pada kondisi salinitas < 2 dS m-1.