Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Verification of The Method for Determining Calcium Content in Animal Feed Syafrinal, Syafrinal; Hafnimardiyanti; Samah, Selfa Dewati; Riani, Pevi; Futeri, Renny; Nurmaliza
Chempublish Journal Vol. 9 No. 2 (2025): Chempublish Journal (July - December)
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/chp.v9i2.48076

Abstract

Calcium is one of the essential macromineral elements in animal feed. To ensure that animal feed meets nutritional and safety standards, accurate and validated analytical methods are needed to determine calcium levels, specifically using the ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy) technique, which is known for its high sensitivity, enabling the rapid and precise detection of calcium elements at low concentrations. This study aims to verify the method for analyzing calcium content in animal feed, referring to method verification parameters, including linearity, accuracy, precision (repeatability test), limit of detection (LoD), method detection limit (MDL), and limit of Quantitation (LOQ). The verification process was conducted using calcium standard solutions at various concentrations and analysis of animal feed samples according to SNI 3148.2:2009 using Inductively Coupled Plasma (ICP-OES) with a linearity test parameter coefficient of correlation (r) value of 0.9991, precision with a % RSD value of 2.18%, accuracy (recovery) reaches 90-99%, with a detection limit (LoD) of 0.0745 mg/L and a Limit of Quantitation (LoQ) of 0.9060 mg/L, all of which meet the acceptance criteria set by AOAC. These results prove that the ICP-OES technique is suitable for use as a test method for determining the calcium content in animal feed, can be adopted as a standardized routine procedure.
STUDI KOMPARATIF BILANGAN ASAM PADA BERBAGAI PRODUK MINYAK GORENG DAN LEMAK PANGAN SEBAGAI INDIKATOR MUTU MENGGUNAKAN METODE AOCS Pevi Riani; Syafrinal Syafrinal; M Ikhlas Armin; Hafnimardiyanti Hafnimardiyanti; Renny Futeri; Selfa Dewati Samah
CHEDS: Journal of Chemistry, Education, and Science Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/cheds.v10i1.13909

Abstract

Bilangan asam merupakan salah satu parameter penting yang digunakan untuk menentukan mutu minyak dan lemak pangan. Parameter ini terbentuk akibat reaksi hidrolisis yang terjadi selama proses penggorengan. Bilangan asam menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak dan dinyatakan sebagai miligram kalium hidroksida (KOH) yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam satu gram minyak. Nilai bilangan asam yang lebih tinggi mencerminkan tingkat kerusakan minyak yang lebih besar akibat meningkatnya pembentukan asam lemak bebas. Penelitian ini mengevaluasi bilangan asam dari beberapa sampel minyak dan lemak, meliputi minyak goreng kemasan, minyak bekas penggorengan ayam, minyak bekas penggorengan camilan, minyak bekas penggorengan ikan, dan margarin. Analisis dilakukan menggunakan metode resmi AOCS Cd 3d-63 (*Acid Value of Fats and Oils*). Bilangan asam yang diperoleh untuk minyak goreng kemasan, minyak bekas penggorengan ayam, minyak bekas penggorengan camilan, minyak bekas penggorengan ikan, dan mentega berturut-turut adalah 0,2299; 0,3815; 0,5307; 0,5762; dan 0,3344 mg KOH/g. Hasil ini menunjukkan bahwa minyak goreng kemasan memiliki mutu terbaik, sebagaimana dibuktikan oleh nilai bilangan asam yang paling rendah. Sebaliknya, minyak bekas penggorengan ikan menunjukkan tingkat kerusakan tertinggi, yang ditandai dengan nilai bilangan asam tertinggi.
PENENTUAN pH, CHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN TOTAL SUSPENDED SOLID PADA KOLAM LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT Syafrinal; Selfa Dewati Samah; Melysa Putri; Fatmawati Fatmawati; Ria Januarti
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/sainti.v20i1.198

Abstract

Limbah cair pabrik minyak kelapa sawit dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Parameter uji yang dapat menunjukan kualitas limbah cair pabrik kelapa sawit adalah pH, Chemical Oxygen Demand, dan Total Suspended Solid. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai pH dengan menggunakan pH Meter, COD dan TSS dengan menggunakan spektrofotometer UV – Vis pada setiap kolam limbah cair pabrik kelapa sawit sebelum dibuang ke sungai agar tidak mencemari lingkungan. Hasil penelitian selama tiga minggu pengujian menunjukan bahwa nilai pH kolam limbah cair pabrik kelapa sawit cenderung semakin naik dari kolam fat fit hingga oulet kolam V sedangkan nilai COD dan TSS cenderung turun dari kolam fat fit hingga outlet kolam V. nilai pH limbah yang dibuang ke sungai berada pada rentang 6 -9, nilai COD di bawah 350 mg/L dan TSS di bawah 250 mg/L. Hasil yang diperoleh telah sesuai dengan peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014. Limbah cair pabrik kelapa sawit yang dihasilkan telah aman dibuang ke sungai.
PENGARUH PROSES PENGERINGAN TERHADAP NILAI PLASTISITAS RETENSI KARET REMAH Khairul Akli; Aby Febrian; Selfa Dewati Samah; Maryam Maryam
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karet remah SIR 20 yang berasal dari pengolahan karet alam (Hevea brasiliensis) berperan penting sebagai komoditas ekspor utama dalam perekonomian Indonesia dan dengan keberagaman penggunaannya dalam produk konsumen dan perangkat medis, karet alam memiliki sifat unik seperti daya pulih, elastisitas, dan ketahanan aus. Proses pengeringan karet alam pada suhu tinggi memiliki dampak signifikan pada sifat plastisitas dan kekuatan karet. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh suhu (130- 155°C) dan waktu pengeringan (77-110 menit) terhadap plastisitas karet remah SIR 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai PRI masih memenuhi standar kualitas pada rentang tertentu dan kualitas optimal nilai PRI 75-76% diperoleh pada suhu 130-135°C selama 77 menit. Peningkatan suhu operasi dan waktu pengeringan menyebabkan penurunan signifikan nilai PRI yang cukup signifikan akibat terjadinya oksidasi termal pada struktur molekul karet, sehingga mempengaruhi kualitas karet remah. Hasil studi mengenai pengaruh suhu dan waktu pengeringan ini dapat memberikan informasi teknis bagi industri karet dalam mempertahankan kualitas produknya sambil meminimalkan dampak lingkungan.
PENENTUAN KADAR NITROGEN DIOKSIDA (NO2) DALAM UDARA AMBIEN DENGAN METODE GRIESS SALTZMAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER Renny Futeri; M. Ikhlas Armin; Selfa Dewati Samah; Gustiarini Rika Putri; Netri Elisma; Syafrinal; Melysa Putri; Anisa Dwi Santia
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nitrogen dioksida (NO2) berkontribusi besar sebagai prekursor untuk sejumlah polutan udara sekunder yang berbahaya termasuk asam nitrat, bagian nitrat aerosol anorganik sekunder dan oksidan termasuk ozon. Gas nitrogen dioksida (NO2) merupakan polutan udara ambien bersama unsur nitrogen monoksida (NO) yang biasanya dihasilkan dari kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar mesin kendaraan, pembakaran sampah, pembakaran batu bara dan industri Penelitian ini bertujuan untuk pemantauan kualitas pencemaran udara di kawasan industri di Jakarta Timur. Kandungan NO2 di udara dapat ditentukan menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis berdasarkan SNI 7119-2:2017. Prinsip pengujian NO2 menggunakan spektrofotometer UV-Vis berdasarkan SNI 7119-2:2017. Hasil pengujian dilakukan dapat disimpulkan kadar NO2 yang didapatkan sampel 1 didapatkan kadar NO2 25,153 µg/Nm3, pada sampel 2 didapatkan kadar NO2 28,371 µg/Nm3, pada sampel 3 didapatkan kadar NO2 107,022 µg/Nm3, pada sampel 4 didapatkan kadar NO2 29,720 µg/Nm3, dan pada sampel 5 didapatkan kadar NO2 83,446 µg/Nm3. Berdasarkan PP RI No 22 lampiran VII Tahun 2021 tentang pengendalian pencemaran udara, baku mutu untuk NO2 adalah 200 µg/Nm3 selama 1 jam. Maka dapat disimpulkan dari hasil pengujian yang telah dilakukan kadar NO2 di lingkungan tersebut masih di bawah baku mutu yang artinya bukan merupakan lokasi sumber pencemar NO2, aman dan memenuhi persyaratan untuk kesehatan manusia dan lingkungan.