Ai Mulyani
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

TARI NGECEK SETEPAK KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA Sulthan Irsyad Rahmagya; Ai Mulyani; Risa Nuriawati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Ngecek Setepak merupakan sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Andi Supardi di Sanggar Kinang Putra pada tahun 2017. Kata Ngecek sendiri berarti enjot, dorong dan tekan, sedangkan kata Setepak berarti mengikuti irama gendangan topeng. Tarian ini terinspirasi dari kesenian Topeng Betawi yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk kreasi baru. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi penulis untuk mengkaji tarian dengan fokus pada struktur Tari Ngecek Setepak. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan teori struktur dari Y Sumandiyo Hadi yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya dan properti tari. Penelitian ini menghasilkan data mengenai struktur Tari Ngecek Setepak yang di dalamnya ada korelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya yaitu terdiri dari; gerak tari yang dapat ditampilkan pada panggung proscenium dan arena menggunakan alat musik gambang kromong, dengan tema kegembiraan yang bersifat non-literal atau tidak bercerita, tarian ini berjenis tari kreasi baru dengan tipe murni dan memiliki mode penyajian simbolis-representasional. Tari Ngecek Setepak ditarikan secara berkelompok berjumlah lima orang penari perempuan dengan rias korektif dan kostum tari yang dimodifikasi dari tari tradisi Betawi, dengan tata cahaya yang menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan. ABSTRACT NGECEK SETEPAK DANCE BY ANDI SUPARDI AT KINANG PUTRA STUDIO, DECEMBER 2025. The Ngecek Setepak Dance is a creative dance created by Andi Supardi at the Sanggar Kinang Putra in 2017. The word "Ngecek" itself means to push and press, while the word "Setepak" means to follow the rhythm of the Topeng drumming. This dance is inspired by the Betawi Topeng art, which was then developed into a new creative form. This is the main attraction for the author to study the dance, focusing on the structure of the Ngecek Setepak Dance. The research method used is a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, with the following data collection steps: literature study, field study, and data analysis. This study uses the structure theory by Y Sumandiyo Hadi, which consists of: dance movement, dance space, dance accompaniment, dance title, dance theme, dance type/nature/character, presentation mode, number of dancers and gender, makeup and costume, lighting, and dance properties. This research produces data on the structure of the Ngecek Setepak Dance, in which there is a correlation between its aspects. The dance structure consists of: dance movements that can be performed on a proscenium stage and in an arena using gambang kromong musical instruments, with a theme of joy that is non-literal or non-narrative, this dance is a new creative dance with a pure type and has a symbolic-representational presentation mode. The Ngecek Setepak Dance is performed in a group of five female dancers with corrective makeup and dance costumes modified from Betawi traditional dance, with lighting adjusted to the performance needs. Keywords: Ngecek Setepak Dance, Andi Supardi, Structure.
TARI KUKUPU GUBAHAN IRAWATI DURBAN DI PUSAT BINA TARI KOTA BANDUNG Siti Faridah Azizah; Ai Mulyani; Farah Nurul Azizah
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Kukupu diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri tahun 1952 menggambarkan siklus kehidupan kukupu sejak keluar kepompong, menjemur sayap hingga saling berkejaran, digambarkan dengan gerakan yang indah. Terinspirasi dari kehidupan binatang, bermula dari pemikiran Tb. Oemay Martakusuma ini bertujuan ‘membaletkan’ tari Sunda. Namun pada tahun 1978 Irawati melakukan gubahan pada beberapa koreografi dan kostum tarian tersebut, hingga saat ini tarian tersebut masih terpelihara dan diajarkan di sanggar Pusbitari. Pada penelitian ini mengkaji struktrur Tari Kukupu menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, terdapat langkah-langkah pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi, dan analisis data. Hasil penelitian terhadap struktur Tari Kukupu yang saling berkorelasi dengan aspek di dalamnya terdiri dari tigabelas ragam gerak bersumber dari gerak binatang, dapat ditampilkan di panggung manapun sesuai kebutuhan pertunjukan, menggunakan lagu Jemplang dua wilet, berjudul Tari Kukupu, tarian yang bersifat non- literal yang berjenis tipe murni adanya penyajian simbolis-representasional. Ditarikan secara berpasangan atau genap oleh penari perempuan, menggunakan rias korektif serta kostum identik dengan kupu-kupu, berupa properti selendang dan sayap, didukung pula pencahayaan yang hangat. Kata Kunci: Struktur, Tari Kukupu, Pusbitari, Gubahan, Irawati. ABSTRACT Created by Rd. Tjetje Somantri in 1952, the Kukupu dance depicts the butterfly's life cycle from emerging from the chrysalis and drying its wings to chasing one another through beautiful movements. Inspired by animal life and originating from the vision of Tb. Oemay Martakusuma, the dance aimed to infuse Sundanese dance with balletic qualities. In 1978, Irawati revised aspects of the choreography and costumes, the dance remains preserved and is currently taught at the Pusbitari studio. This study examines the structure of the Kukupu Dance based on Y. Sumandiyo Hadi’s conceptual framework regarding dance structure, which encompasses: dance movement, space, musical accompaniment, title, theme, type/genre/nature, mode of presentation, number and gender of dancers, makeup and costumes, lighting, and props. Employing a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, the study utilizes data collection steps including observation, interviews, documentation, triangulation, and data analysis. The findings regarding the Butterfly Dance structure and its interrelated internal aspects reveal a dance comprising thirteen movement variations derived from animal behavior. It is adaptable to various stages depending on performance needs, set to the jemplang song two wilet tempo, and titled Kukupu dance. It is a non-literal, pure dance featuring symbolic-representational elements. Performed in pairs or even-numbered groups by female dancers, the performance features corrective makeup and butterfly-themed costumes including shawl and wing props complemented by warm lighting. Keywords: Structure, Kukupu Dance, Pusbitari, Composition, Irawati.