Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

TARI KUKUPU GUBAHAN IRAWATI DURBAN DI PUSAT BINA TARI KOTA BANDUNG Siti Faridah Azizah; Ai Mulyani; Farah Nurul Azizah
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Kukupu diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri tahun 1952 menggambarkan siklus kehidupan kukupu sejak keluar kepompong, menjemur sayap hingga saling berkejaran, digambarkan dengan gerakan yang indah. Terinspirasi dari kehidupan binatang, bermula dari pemikiran Tb. Oemay Martakusuma ini bertujuan ‘membaletkan’ tari Sunda. Namun pada tahun 1978 Irawati melakukan gubahan pada beberapa koreografi dan kostum tarian tersebut, hingga saat ini tarian tersebut masih terpelihara dan diajarkan di sanggar Pusbitari. Pada penelitian ini mengkaji struktrur Tari Kukupu menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, terdapat langkah-langkah pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi, dan analisis data. Hasil penelitian terhadap struktur Tari Kukupu yang saling berkorelasi dengan aspek di dalamnya terdiri dari tigabelas ragam gerak bersumber dari gerak binatang, dapat ditampilkan di panggung manapun sesuai kebutuhan pertunjukan, menggunakan lagu Jemplang dua wilet, berjudul Tari Kukupu, tarian yang bersifat non- literal yang berjenis tipe murni adanya penyajian simbolis-representasional. Ditarikan secara berpasangan atau genap oleh penari perempuan, menggunakan rias korektif serta kostum identik dengan kupu-kupu, berupa properti selendang dan sayap, didukung pula pencahayaan yang hangat. Kata Kunci: Struktur, Tari Kukupu, Pusbitari, Gubahan, Irawati. ABSTRACT Created by Rd. Tjetje Somantri in 1952, the Kukupu dance depicts the butterfly's life cycle from emerging from the chrysalis and drying its wings to chasing one another through beautiful movements. Inspired by animal life and originating from the vision of Tb. Oemay Martakusuma, the dance aimed to infuse Sundanese dance with balletic qualities. In 1978, Irawati revised aspects of the choreography and costumes, the dance remains preserved and is currently taught at the Pusbitari studio. This study examines the structure of the Kukupu Dance based on Y. Sumandiyo Hadi’s conceptual framework regarding dance structure, which encompasses: dance movement, space, musical accompaniment, title, theme, type/genre/nature, mode of presentation, number and gender of dancers, makeup and costumes, lighting, and props. Employing a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, the study utilizes data collection steps including observation, interviews, documentation, triangulation, and data analysis. The findings regarding the Butterfly Dance structure and its interrelated internal aspects reveal a dance comprising thirteen movement variations derived from animal behavior. It is adaptable to various stages depending on performance needs, set to the jemplang song two wilet tempo, and titled Kukupu dance. It is a non-literal, pure dance featuring symbolic-representational elements. Performed in pairs or even-numbered groups by female dancers, the performance features corrective makeup and butterfly-themed costumes including shawl and wing props complemented by warm lighting. Keywords: Structure, Kukupu Dance, Pusbitari, Composition, Irawati.
Revitalisasi Wayang Wong Priangan melalui Pendampingan Penciptaan Dramatari "Srikandi Bhuana" di Sanggar Getar Pakuan Kota Bogor Herdiani, Een; Mulyani, Ai; Ruhimat, Ismet; Mughni Munggaran, Muhammad; Sartika, Ika
Smart Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Smart Dedication : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : SMART SCIENTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70427/smartdedication.v3i2.341

Abstract

Eksistensi Wayang Wong Priangan saat ini menghadapi tantangan regenerasi yang serius akibat dominasi genre tari populer dan dampak stagnasi pascapandemi COVID-19. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses revitalisasi  Wayang Wong Priangan di Sanggar Getar Pakuan, Kota Bogor, melalui pendampingan penciptaan karya inovatif bertajuk "Srikandi Bhuana". Metode pelaksanaan meliputi tahapan sosialisasi, pelatihan intensif berbasis nilai filosofis, penerapan teknologi di panggung, hingga pementasan publik. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa integrasi narasi epik Bharatayudha dengan inovasi artistik, seperti penggunaan teknologi laser pada properti panah, berhasil meningkatkan apresiasi masyarakat dan minat generasi muda secara signifikan. Capaian program melampaui target dengan keterlibatan 75 pelaku seni dan sambutan antusias dari ribuan penonton di Alun-Alun Kota Bogor. Kesimpulannya, reinterpretasi tradisi melalui kemasan yang relevan dengan ekosistem digital dan kolaborasi lintas institusi merupakan strategi kunci dalam memastikan keberlanjutan seni pertunjukan tradisional di era modern.