Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ISLAM BERBUNGKUS KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM): Ali Romdhoni
Jurnal Dialog Vol 36 No 1 (2013): JURNAL DIALOG
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.432 KB) | DOI: 10.47655/dialog.v36i1.80

Abstract

Melalui metode deskriptis, interpretatif dan analitis, tulisan menunjukkan bukti bahwa seni Ketoprak, yang digemari masyarakat ‘abangan’ di Pati, Jawa Tengah, ternyata menyimpan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Budaya juga merupakan perwujudan usaha manusia untuk eksis, dan nantinya juga membentuk struktur sosial dan mendorong manusia melakukan pilihan-pilihan strategis sebagai bentuk survival strategy mereka menghadapi lingkungan fisik dan sosialnya. Salah satu bentuk survival strategy dalam penelitian ini adalah pilihan para pekerja seni Ketoprak untuk menampilkan cerita-cerita yang bernuansa keteladanan. Satu tindakan yang membuat warna Ketoprak menjadi “berbeda” dari konteks kelahirannya. Salah satu faktor pendorong pilihan tindakan ini adalah tidak ingin terasing di masyarakat. Ini karena struktur sosial masyarakat di Pati mayoritas santri.
RELASI MAKAM, PESANTREN, DAN PEDAGANG: Pengaruh Ziarah Terhadap Pendidikan dan Ekonomi di Kajen Kabupaten Pati Ali Romdhoni
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 1, No 2 (2015): Agama, Nasionalisme, dan Karakter Kebangsaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.797 KB) | DOI: 10.18784/smart.v1i2.252

Abstract

Praktik ziarah ke makam-makam tokoh terkenal telah menjadi tradisi yang populer di Indonesia, khususnya Jawa. Salah satu lokasi  yang cukup ramai dikunjungi peziarah adalah situs Makam Syeh Mutamakin (1645-1740) di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah. Penelitian melalui pendekatan kualitatif ini bermaksud mengungkapkan pengaruh keberadaan makam Syeh Mutamakin sebagai tempat berziarah terhadap kehidupan ekonomi dan perkembangan pendidikan, khususnya pesantren di Desa Kajen, Margoyoso. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi ziarah ke makam Syeh Mutamakin mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan, terutama pedagang di lingkungan makam. Sejarah kealiman Syeh Mutamakin dalam bidang agama dan pengaruhnya di lingkungan Kajen Margoyoso juga mendorong kelestarian bahkan pertumbuhan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam.Kata kunci: ziarah, Syeh Mutamakin, ekonomi, pendidikan.
Reflections on Sundanese Sandekala: Legal Aspects and Environmental Awareness Post-Pandemic Covid-19 Sarip, Sarip; Romdhoni, Ali; Kusuma Dewi, Elya; Syarifudin, Aip
Unifikasi : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 12 No. 01 (2025)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v12i01.907

Abstract

This study aims to examine the legal review of Sundanese local wisdom, specifically the concept of Sandekala traditionally practiced by West Java community. The analysis evaluated the effect of government policies on the implementation of local wisdom values in the context of education, technology, and restrictions during the COVID-19 pandemic, with particular attention to the role in fostering environmental awareness post-pandemic. Moreover, this study examined how these policies complement or deviate from the legal principles underlying local wisdom and environmental sustainability. An analytical method was used to review legal journals and online discussions, investigating how shifts in the understanding and application of local wisdom values have occurred in response to government measures. Furthermore, there are also big myths about these values that cause problems for keeping local wisdom true and useful. The results showed the importance of matching government policies with local values, including Sandekala, as a form of customary law that remains relevant, and ensuring the continuity of inclusive cultural and legal practices while protecting the environment in the post-pandemic context. This study provides valuable insights into how policies can enhance local wisdom and ensure compliance with relevant legal frameworks. In conclusion, keeping local wisdom is not just culture but also part of sustainable and inclusive law in Indonesia. Local wisdom should be kept and studied using science and technology.
Cultivating Social Character through Project-Based Learning in Islamic Elementary Schools in Semarang Imron, Ali; Muarifah, Siti; Oktradiksa, Ahwy; Romdhoni, Ali
Jurnal Tarbiyatuna Vol 15 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/tarbiyatuna.v15i1.10166

Abstract

By Project Based Learning, students of Elementary School in Semarang can develop their social-caring character. In this digital era, helpful character, tolerance, social act, and good morality are declining. This research assesses if project-based learning instills those characters in the students. This qualitative research used NVivo software to analyze interviews, observation, document analyses, and Focus Group Discussions. Principles, instructors, and students from various elementary schools in Semarang which apply project-based learning participated in the research. Morning alms, visits to orphanages, donations on Fridays, anti-bullying socialization, and incidental activities such as sharing takjil and social fundraising varied in each initiative. Those projects enable students to use their talents in real-life situation. Project based learning develops social skill of students although the plan and the implementation are difficult. Students' social awareness, teamwork, and empathy increase significantly. Project based learning has been proven can significantly help elementary school students improve their social-caring character so that it gives valuable contribution to character education and becomes model for other schools.
Majapahit Heritage in the Cultural System of the Sultanate of Demak Bintara Romdhoni, Ali; Che Noh, Noorsafuan Bin; Cholid, Nur; Hartatik, Endah Sri; Wasino, Wasino
Paramita: Historical Studies Journal Vol 34, No 2 (2024): Disaster and Disease in History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v34i2.50310

Abstract

Abstract: Although historical researchers do not doubt the identity of the Demak Bintara Sultanate as an Islamic kingdom, there are old cultural systems that continue to be used by generations of the Demak Bintara Sultanate. This article aims to study the legacy of Majapahit in the cultural system of the Demak Bintara Sultanate. The research method used in this article is historical, examining secondary sources on the history of Majapahit and Demak Bintara. The results of this study indicate the existence of a social and political system that prevailed when Majapahit still existed until the establishment of Demak Bintara. Majapahit and Demak Bintara operated a mandala political system, a pattern of relationships among kingdoms in a region with a large kingdom as the center. In addition, the pattern of relations between the clergy and rulers in the Majapahit and Demak Bintara eras shows similarities. The rulers maintained good relations with the clergy to gain political support and power. On the other hand, the kings provided various facilities to the clergy for educational needs and religious rituals. Majapahit and Demak Bintara also had an orientation as maritime kingdoms. These findings imply that the cultural heritage identities of Majapahit and Demak Bintara that can be found today are not necessarily different. This refutes some people's assumption that the Demak Bintara generation always purified any cultural heritage of Majapahit. Abstrak: Meskipun identitas Kesultanan Demak Bintara sebagai kerajaan Islam tidak diragukan oleh para peneliti sejarah, namun demikian terdapat sistem budaya lama yang terus digunakan oleh generasi Kesultanan Demak Bintara. Artikel ini bertujuan mengkaji warisan Majapahit dalam sistem budaya Kesultanan Demak Bintara. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode sejarah dengan mengkaji sumber-sumber sekunder tentang sejarah Majapahit dan Demak Bintara. Hasil kajian ini menunjukkan adanya sistem sosial dan politik yang berlaku pada masa Majapahit masih eksis sampai berdirinya Demak Bintara. Majapahit dan Demak Bintara menjalankan sistem politik mandala, yaitu pola hubungan antar kerajaan di satu wilayah dengan satu kerajaan besar sebagai pusatnya. Selain itu, pola hubungan antara para agamawan dan penguasa di era Majapahit dan Demak Bintara menunjukkan kesamaan. Para penguasa menjaga hubungan baik dengan kaum agamawan untuk mendapatkan dukungan politik dan kekuasaan. Di sisi lain, para raja memberikan berbagai fasilitas kepada agamawan untuk kebutuhan pendidikan dan ritual agama. Majapahit dan Demak Bintara juga memiliki orientasi sebagai kerajaan maritim. Implikasi dari temuan ini adalah identitas warisan budaya Majapahit dan Demak Bintara yang masih bisa dijumpai hari ini tidak selalu berbeda. Hal ini membantah anggapan sebagian orang bahwa setiap budaya warisan Majapahit selalu dibersihkan oleh generasi Demak Bintara.