Ahmad Munji
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Jl. Walisongo 3-5 Semarang

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

AHMAD ZIYAUDDIN GUMUSHANEVI DAN TRADISI STUDI HADIS DI TEKKE ABAD KE-19 TURKI Munji, Ahmad
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : ilmu hadis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.8428

Abstract

Sebagai sebuah disiplin ilmu dalam Islam tasawuf seharusnya berkiblat pada dua sumber utama, yaitu al-Qur’an dan hadis. Tradisi ini pada dasarnya telah berlangsung lama sejak lahirnya tasawuf. Hal ini ditandai dengan munculnya ulama-ulama dalam tasawuf yang merupakan periwayat hadis. Namun pada perjalanannya, ulama tasawuf banyak sekali mengabaikan faktor kesahihan sebuah hadis yang mereka jadikan sebagai bahan dakwah dan pedoman ibadahnya. Makalah ini bertujuan untuk menguak sebuah tradisi yang menarik antara tasawuf dan hadis di masa akhir kekaisaran Ottoman. Untuk membatasi periode supaya tidak melebar, pembahasan hanya akan berfokus pada abad 19 dan pada satu tokoh, Ahmad Ziyauddin Gumushanevi. Dengan menggunakan pendekatan historis dan metode deskriptif analitis, hasil kajian menyimpulkan bahwa Gumushanevi merupakan ulama tasawuf yang punya konsen terhadap kajian hadis. Hal ini dibuktikan dengan aktifitasnya dalam menulis karya seperti kumpulan hadis, syarah, dan kumpulan hadis arba’in yang menjadi trend ulama sebelumnya. Selain itu, Gumushanevi juga mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap keberlangsungan studi hadis di tengah masyarakat Ottoman melalui karya dan murid-muridnya. [Ahmad Ziyauddin Gumushanevi and the Tradition of Hadith Study in Tekke 19th Century Turkey. As an Islamic science discipline, Sufism must be oriented towards two main sources, the Qur'an and hadith. In fact, this tradition has been going on for a long time since the birth of Sufism. This is correlated with the scales of the scholars in Sufism who are the narrators of hadith. However, on their journey, Sufism scholars neglect the validity of a hadith which they use as material for their new preaching and worship. This paper aims to uncover an interesting tradition between Sufism and hadith at the end of the Ottoman Empire. In order to cope with the non-widened period, the discussion will only focus on the 19th century and on one character, Ahmad Ziyauddin Gumushanevi. By using a historical approach and analytical descriptive method, the results of the study conclude that Gumushanevi is a Sufism scholar who has a concern about hadith studies. This is evidenced by his activities in writing works such as a collection of hadiths, sharhs, and collections of hadith arba’in which became the trend of previous scholars. In addition, Gumushanevi also had a very large contribution to the continuity of the study of hadith in Ottoman society through his works and students.]
PERAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PENYEBARAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DI KAMPUS AL-KHAIRIYAH CITANGKIL Munji, Ahmad; Lisnawati, Erni; Nurudin; Azizah
Ta'dibiya Vol 4 No 2 (2024): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v4i2.157

Abstract

Teknologi merupakan fasilitas untuk menyelesaikan segala sesuatu. Teknologi sendiri memiliki beragam jenis misalnya teknologi pendidikan, teknologi informasi, teknologi keamanan dan lain-lain. Khusus dalam teknologi pendidikan, yaitu teknologi yang membahas segala sesuatu tentang teknologi dalam dunia pendidikan seperti bagaimana cara seorang guru menyampaikan suatu gagasan atau intinya menyampaikan sesuatu kepada peserta didik yang tujuannya adalah segala kegiatan yang dikelola digunakan oleh pengajar itu bisa terealisasikan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu, Teknologi merupakan solusi bagi seorang tenaga pendidik yaitu untuk mencari suatu cara atau alternatif dalam menyelesaikan atau menjalankan pekerjaannya sebagai seorang pendidik. Jadi artinya merupakan fasilitas bagi seorang pendidik. Peran teknologi dalam pendidikan sangatlah dibutuhkan karena pada dasarnya ilmu dalam Islam harus berpedoman pada prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Alquran dan Hadis.
PERAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PENYEBARAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DI KAMPUS AL-KHAIRIYAH CITANGKIL Munji, Ahmad; Lisnawati, Erni; Nurudin; Azizah
Ta'dibiya Vol 4 No 2 (2024): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v4i2.157

Abstract

Teknologi merupakan fasilitas untuk menyelesaikan segala sesuatu. Teknologi sendiri memiliki beragam jenis misalnya teknologi pendidikan, teknologi informasi, teknologi keamanan dan lain-lain. Khusus dalam teknologi pendidikan, yaitu teknologi yang membahas segala sesuatu tentang teknologi dalam dunia pendidikan seperti bagaimana cara seorang guru menyampaikan suatu gagasan atau intinya menyampaikan sesuatu kepada peserta didik yang tujuannya adalah segala kegiatan yang dikelola digunakan oleh pengajar itu bisa terealisasikan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu, Teknologi merupakan solusi bagi seorang tenaga pendidik yaitu untuk mencari suatu cara atau alternatif dalam menyelesaikan atau menjalankan pekerjaannya sebagai seorang pendidik. Jadi artinya merupakan fasilitas bagi seorang pendidik. Peran teknologi dalam pendidikan sangatlah dibutuhkan karena pada dasarnya ilmu dalam Islam harus berpedoman pada prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Alquran dan Hadis.
Husein Muhammad’s Thoughts on Gender Equality in Islamic Inheritance Law Firdawaty, Linda; Munji, Ahmad; Sukandi, Ahmad; Bukhari, Nurnazli; Apriani, Ira
al-'adalah Vol 19 No 2 (2022): AL-'ADALAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v19i2.13123

Abstract

This research aims to analyze the philosophical reasons for Husein Muhammad's thoughts about the importance of the equal distribution of inheritance between men and women in Islamic inheritance law, as well as the method of legal reform that he uses when understanding verses about inheritance. This research is field research. Data was collected through virtual interviews. Data analysis was descriptive qualitative, with maslahah theory, and historical and sociological approaches. The research findings show that one of the reasons why verses about inheritance need to be reinterpreted, according to Husein, is because these verses fall into the category of mutashabihat verses (interpretable) so they need to be reinterpreted by looking at the current context. Another reason is that the inheritance verses that regulate section 2:1 for men and women in the Prophet's era were only intended for the context of society at that time, where women had no inheritance rights, and even women were used as objects of inheritance. Nowadays, the existence of women is growing. That way the portion of their inheritance should be reformed and adapted to current socio-cultural developments. Husein emphasized that gender bias occurs due to bias when interpreting the Qur’an, and the influence of patriarchal culture.