Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PEMODELAN 3D JEMBATAN CISOMANG MENGGUNAKAN METODE TERRESTRIAL LASER SCANNER Siburian, Leonardo; Gumilar, Irwan; Wisayantono, Dwi
Indonesian Journal of Geospatial Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Akhir Desember 2016 diberitakan pembatasan jumlah kendaraan dikarenakan adanya kerusakan struktur jembatan Cisomang yaitu pergeseran pier jembatan yang menyebabkan kerusakan berupa keretakan, pergeseran objek struktur, dan deformasi. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan perbaikan jembatan yang salah satunya adalah pemantauan jembatan, untuk mengetahui kondisi jembatan selama perbaikan. Salah satu bentuk pemantauan perbaikan jembatan Cisomang adalah menggunakan metode Terrestrial Laser Scanner (TLS) sebagai analisis ukuran teliti struktur jembatan. Akuisisi data TLS dilakukan selama tiga hari menggunakan TLS Topcon GLS 2000 terdiri 55 data scan yaitu sejumlah 361.183.804 point clouds. Pengolahan data TLS dilakukan pada perangkat lunak MAPTEK i-site, yang mencakup registrasi antara target, filtering, georeferensi, dan meshing. Pengolahan data menghasilkan model tiga dimensi jembatan Cisomang yang digunakan sebagai dokumentasi objek strukrur jembatan dan mendeteksi deformasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan. Kualitas data yang dihasilkan dari proses registrasi data point clouds adalah 0.02 m. Dari pengukuran TLS, didapatkan perbandingan ukuran dengan As Built Drawing (ABD) pada tahun 2005, misalkan adanya pergerakan terbesar yang terjadi diantara pier P2A dan pier P3A sebesar 69,4 cm dan rotasi sebesar 0°53?23?? pada sisi timur pier P2A.
PEMODELAN 3D “GEDUNG MERDEKA” MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNING Noviansyah, Rezky Hartawan; Gumilar, Irwan; Abidin, Hasanuddin Zainal
Indonesian Journal of Geospatial Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Gedung Merdeka merupakan salah satu bangunan bersejarah di pusat Kota Bandung yang memiliki nilai historis tinggi dan telah berdiri sejak tahun 1895. Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini pernah menjadi tempat pergelaran konferensi Asia-Afrika yang merupakan cikal bakal lahirnya gerakan non-blok di dunia. Jika dilihat dari penampakannya, bangunan ini bernuansa art deco dan dilengkapi dengan lantai marmer italia beserta kayu cikenhout. Oleh karena itu, untuk mempertahankan semua keunikan yang berada pada gedung tersebut perlu dilakukan sebuah upaya untuk melestarikan keberadaannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemodelan tiga dimensi (3D). Pada kasus ini cara yang digunakan adalah dengan menggunakan teknologi Terrestrial Laser Scanning (TLS) dengan teknik pemodelan terbalik (reverse modelling). Model tiga dimensi yang akan terbentuk dari proses tersebut merupakan solusi konkret dari upaya pengarsipan, pendokumentasian, dan pemasaran Gedung Merdeka. Metodologi Penelitian ini diawali dengan studi literatur lalu dilanjutkan dengan akuisisi data, dan diakhiri dengan pengolahan data yang menghasilkan model tiga dimensi. Pada saat akuisisi data, metode yang digunakan adalah pemindaian obyek menggunakan TLS yang memanfaatkan prinsip pengukuran berbasis pulsa. Dalam melakukan pengolahan data, metode yang digunakan adalah registrasi, filtering, unify dan pembuatan model tiga dimensi. Pada proses registrasi didapatkan total point cloud sebanyak 257.126.364 titik dengan nilai rata-rata galat hasil registrasi sebesar sebesar 2 mm. Data point cloud yang telah diolah lalu dibentuk menjadi sebuah model 3D melalui serangkaian proses dengan menggunakan beberapa perangkat lunak. Pada model 3D yang dihasilkan juga didapat volume bagian main hall sebesar 10098.8 m3. Proses validasi model 3D dilakukan dengan membandingkan antara model tiga dimensi yang dihasilkan dengan hasil ukuran distometer, yaitu antara 2 mm ? 9 mm dengan  perbedaan jarak rata-rata sebesar 4 mm.
Identifikasi Pergerakan Tanah Menggunakan Total Station Robotik di Kampung Nagrog, Desa Mukapayung Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat Sadarviana, Vera; Abidin, Hasanuddin Zainal; Gumilar, Irwan; W, Nunghatta S; T, Achmad R
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v2018i2.3707

Abstract

ABSTRAKDesa Mukapayung Kidangpananjung Kecamatan Cililin mengalami bencana longsor pada tahun 2013. Bukit yang mengelilingi desa menjadi morfologi yang terganggu kestabilannya pada saat terjadi hujan lebat semalaman. Bukit tersebut memiliki tingkat kemiringan yang curam dan berpotensi mengalami pergerakan tanah atau longsor. Apabila potensi kerentanan dipicu oleh getaran/gempa dan peningkatan volume air, seperti hujan maka bukit tersebut dapat mengalami kembali pergerakan tanah/longsoran. Untuk itu, pemantauan gerakan tanah perlu dilakukan dalam upaya mitigasi bencana lanjutan. Pemantauan gerakan tanah dilakukan menggunakan Total Station Robotik yang menghasilkan vektor pergerakan tanah dari titik-titik pantau yang dipasang di lereng bukit. Dari hasil vektor tiga periode pengamatan diketahui bahwa arah pergerakan tanah berbeda untuk di suatu titik pantau. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lereng yang diamati memiliki bidang gelincir lebih dari satu. Sehingga pada saat terjadi longsor maka arah pergerakan tanah/material lereng dapat bergerak sesuai dengan bidang gelincir yang mengalami tekanan yang paling besar. Kata kunci: longsor, pemantauan, robotikABSTRACTMukapayung Kidangpananjung Village, Cililin Subdistrict experienced a landslide disaster in 2013. The hills that surround the village become morphologically disturbed when heavy rain occurs overnight. The hill has a steep slope and has the potential to experience land movement or landslides. If the potential for the vulnerability is triggered by vibrations/earthquakes and an increase in the volume of water, such as rain, the hill can re-experience land movement/landslides. For this reason, monitoring of land movements needs to be carried out in further disaster mitigation efforts. Soil movement monitoring is carried out using a Robotic Total Station which produces a vector of ground movement from monitoring points mounted on the hillside. From the results of the vector of three observation periods, it is known that the direction of ground movement is different for each monitoring point. This indicates that the observed slope has more than one slip plane. When a landslide occurs, the movement direction of land/slope material can move in accordance with the slip plane which is experiencing the greatest pressure. Keywords: landslide, monitoring, robotic
PERENCANAAN LOKASI PENGUNGSIAN UNTUK KORBAN BANJIR DI KABUPATEN BANDUNG Yoga Jayantara, I Gst Ngr; Meilano, Irwan; Gumilar, Irwan
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 8, No 2 (2020): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v8i2.26041

Abstract

Kabupaten Bandung merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia yang rutin mengalami bencana banjir setiap tahunnya, sehingga warga yang terdampak banjir harus mengungsi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperkecil dampak banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum khususnya di Kabupaten Bandung adalah dengan rencana memindahkan penduduk ke tempat lain, namun sebagian masyarakat menolak adanya rencana relokasi sebagai upaya menanggulangi bencana banjir. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh lokasi pengungsian sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan dan dibobot menggunakan metode AHP. Metode AHP merupakan suatu metode pendukung dalam pengambilan sebuah keputusan yang dapat mengurangi masalah multi kriteria yang rumit menjadi suatu hirarki. Dalam metode AHP permasalahan yang rumit dapat diuraikan ke dalam beberapa kelompok dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki sederhana sehingga permasalahan yang ada menjadi lebih sistematis dan terstruktur. Penelitian ini menggunakan 9 kriteria yang diambil dari beberapa pertimbangan sesuai dengan karakteristik wilayah Kabupaten Bandung yaitu jarak dari sumber air, jarak dari lokasi bencana, jarak dari fasilitas kesehatan, kemiringan lereng, jarak dari ancaman longsor, jenis tutupan lahan, aksesibilitas, luas lokasi, dan hak atas tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kriteria jarak dari sumber air memiliki bobot tertinggi yaitu 20% berdasarkan hasil penilaian oleh responden. Lokasi dengan kesesuaian lahan tinggi untuk lokasi pengungsian terletak di Kecamatan Cileunyi, Ibun, Majalaya, Margaasih, Margahayu, Pacet, Rancaekek, Soreang, Kertasari, Pengalengan dan Rancabali.
Identifikasi Pergerakan Tanah Menggunakan Total Station Robotik di Kampung Nagrog, Desa Mukapayung Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat Sadarviana, Vera; Abidin, Hasanuddin Zainal; Gumilar, Irwan; W, Nunghatta S; T, Achmad R
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDesa Mukapayung Kidangpananjung Kecamatan Cililin mengalami bencana longsor pada tahun 2013. Bukit yang mengelilingi desa menjadi morfologi yang terganggu kestabilannya pada saat terjadi hujan lebat semalaman. Bukit tersebut memiliki tingkat kemiringan yang curam dan berpotensi mengalami pergerakan tanah atau longsor. Apabila potensi kerentanan dipicu oleh getaran/gempa dan peningkatan volume air, seperti hujan maka bukit tersebut dapat mengalami kembali pergerakan tanah/longsoran. Untuk itu, pemantauan gerakan tanah perlu dilakukan dalam upaya mitigasi bencana lanjutan. Pemantauan gerakan tanah dilakukan menggunakan Total Station Robotik yang menghasilkan vektor pergerakan tanah dari titik-titik pantau yang dipasang di lereng bukit. Dari hasil vektor tiga periode pengamatan diketahui bahwa arah pergerakan tanah berbeda untuk di suatu titik pantau. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lereng yang diamati memiliki bidang gelincir lebih dari satu. Sehingga pada saat terjadi longsor maka arah pergerakan tanah/material lereng dapat bergerak sesuai dengan bidang gelincir yang mengalami tekanan yang paling besar. Kata kunci: longsor, pemantauan, robotikABSTRACTMukapayung Kidangpananjung Village, Cililin Subdistrict experienced a landslide disaster in 2013. The hills that surround the village become morphologically disturbed when heavy rain occurs overnight. The hill has a steep slope and has the potential to experience land movement or landslides. If the potential for the vulnerability is triggered by vibrations/earthquakes and an increase in the volume of water, such as rain, the hill can re-experience land movement/landslides. For this reason, monitoring of land movements needs to be carried out in further disaster mitigation efforts. Soil movement monitoring is carried out using a Robotic Total Station which produces a vector of ground movement from monitoring points mounted on the hillside. From the results of the vector of three observation periods, it is known that the direction of ground movement is different for each monitoring point. This indicates that the observed slope has more than one slip plane. When a landslide occurs, the movement direction of land/slope material can move in accordance with the slip plane which is experiencing the greatest pressure. Keywords: landslide, monitoring, robotic
Pergeseran koseismik dari Gempa Bumi Jawa Barat 2009 Irwan Meilano; Hasanuddin Z. Abidin; Heri Andreas; Dina Anggraeni; Irwan Gumilar; Teriyuki Kato
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.483 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.4

Abstract

SARIUntuk mengetahui besar dan pola pergeseran koseismik Gempa Bumi Jawa Barat 2009, telah dilakukan pengamatan GPS (Global Positioning System) pada 4 – 7 September 2009. Hasil pengolahan data menunjukkan terdapat pergeseran koseismik maksimum sebesar 2,1 cm terdeteksi di sekitar Garut Selatan. Secara umum pola pergeseran tersebut menunjukkan arah baratdaya (SW) untuk stasiun GPS yang terletak di timurlaut (NE) dari sumber gempa bumi. Sedangkan untuk stasiun GPS yang terletak pada arah baratlaut (NW) dari sumber gempa bumi di sekitar Kota Cianjur, tidak menunjukkan pola pergeseran yang signifikan. Data pergeseran di permukaan tersebut digunakan untuk menentukan geometri sumber gempa menggunakan pemodelan dislokasi elastis. Sumber gempa memiliki arah jurus N600E kemiringan 500, dengan mekanisme sesar naik. Arah sudut jurus ini hampir tegak lurus dengan arah kompresif maksimum akibat tunjaman Lempeng Australia sehingga disimpulkan bahwa gempa bumi ini bukan gempa bumi interplate tetapi gempa bumi intraslab.Kata kunci: Pergeseran koseismik, Gempa Bumi Jawa Barat 2009, intraslabABSTRACTOn September 4-7 2009, GPS observation was carried out to determine the amount and pattern of coseismic displacement of the 2009 West Java earthquake. GPS data analysis show that 2.1 cm coseismic displacement was detected around South of Garut. In general, coseismic displacement pattern show South- West direction of displacement for GPS station located at North-East. While no significant coseismic displacement was detected for GPS station located North-West of epicenter. Surface displacement data was used to determine earthquake source’s geometry by using elastic dislocation modeling technique. The strike of the earthquake was 600, dip 500 and the mechanism was reverse fault. The inferred strike was perpendicular to the direction of maximum compression of Australian Plate subduction so it can be concluded that the earthquake did not occur in the interplate but in the intraslab.Keywords: Coseismic displacement, 2009 West-Java earthquake, intraslab
Analisis Hasil Pengukuran Terrestrial Laser Scanner untuk Deteksi Rekahan dalam kaitannya dengan Analisis Struktur Geologi (Studi Kasus: Tebing Citatah 125, Jawa Barat) Gusti Ayu Jessy Kartini; Irwan Gumilar; Budi Brahmantyo; Brian Bramanto; Nia Haerani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 9, No 3 (2018)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2636.821 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v9i3.177

Abstract

Scanline adalah salah satu metode yang umum digunakan untuk mengobservasi dan mengukur rekahan pada suatu bidang permukaan, namun metode ini memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya adalah sulitnya melakukan sampling pada area ekstrim sehingga dapat membahayakan operator. Mengacu pada keterbatasan tersebut, terrestrial laser scanner menjadi salah satu metode yang potensial untuk menutupi keterbatasan tersebut. TLS dapat merekam jutaan point cloud yang dapat merepresentasikan permukaan tanpa harus mengukurnya secara langsung, yang kemudian dapat menjadi metode pendukung dalam akuisisi data rekahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rekahan menggunakan TLS yang kemudian dibandingkan dan divalidasi dengan metode scanline (studi kasus: Tebing Citatah 125, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat). Penelitian ini dimulai dengan akuisisi data rekahan dengan menggunakan metode scanline dan TLS yang hasilnya kemudian dianalisis dengan diagram rose. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa TLS memiliki potensi sebagai metode pendukung untuk akuisisi data rekahan. Hal tersebut dibuktikan dengan kemiripan hasil orientasi rekahan pada Tebing Citatah 125 menggunakan TLS terhadap hasil metode scanline pada orientasi rekahan arah timur laut-barat daya dengan kemiringan relatif tegak 30o-90o.
Pemanfaatan metode TLS (Terrestrial Laser Scanning) untuk pemantauan deformasi gunung api. Studi kasus: kerucut sinder Gunung Galunggung, Jawa Barat Yudovan Vidyan; Hasanuddin C. Abidin; Irwan Gumilar; Nia Haerani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4119.245 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i1.50

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berfokus pada konsep dasar, prosedur, dan pemantauan deformasi kerucut sinder (cinder cone) Gunung Galunggung dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning (TLS). Pemantauan deformasi dengan menggunakan titik kontrol yang selama ini biasa digunakan tidak merepresentasikan zona deformasi secara keseluruhan. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi TLS. Saat ini pemantauan deformasi gunung api dengan menggunakan TLS belum banyak dilakukan. Permasalahan dalam penerapan metode TLS untuk pemantauan deformasi gunung api pun belum banyak diketahui. Oleh sebab itu tulisan ini mencoba mengkaji masalah tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, dan membandingkan model tiga dimensi (3D) untuk menginterpretasikan deformasi kerucut sinder dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2012 dan September 2012. Model 3D dari kedua kala kemudian dibandingkan untuk memperoleh kisaran nilai vektor deformasi vertikal serta volume permukaan kerucut sinder. Hasil akhir yang diperoleh berupa model deformasi 3D kala kedua terhadap kala pertama. Dari hasil penelitian ini didapat estimasi volume kala pertama sebesar 21.635,19 m3 dan kala kedua sebesar 21.513,15 m3 serta rentang deformasi dominan sebesar 6-10 cm. Hasil pemodelan morfologi 3D dari pengukuran TLS dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi kerucut sinder Gunung Galunggung. Hasil pemodelan pada kedua kala menunjukkan adanya nilai deformasi namun dengan nilai yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan oleh permukaan objek yang tidak konsisten akibat gangguan dari vegetasi, proses pemfilteran secara manual serta belum adanya koreksi terhadap sumber kesalahan.Kata kunci: Terrestrial laser scanning, deformasi, gunung api, kerucut sinder ABSTRACTThis research is focused on basic concept and procedures of deformation monitoring of Galunggung volcano cinder cone using Terrestrial Laser Scanning (TLS) method. Deformation monitoring which has been applied using point  control approach cannot fully interpret the deformation zone. This can be overcome by the use of TLS technology. There are only a few researches about volcano deformation using TLS till these days, and consequently, the problems that may probably arise in this monitoring are still unknown. This research try tries to asses this these problems. Methodology used in this research consist of literature study, survey planning, acquiring data, TLS data processing, and comparison of 3D model to interpret cinder cone deformation from two epoch of observations that have been conducted on in April 2012 and September 2012. Three-dimensional model of these two observations are compared to obtain the deformation vector values and cinder cone surface volume. The final results obtained from this research are the volume estimation of the first and the second observations, and also the deformation range, which are 21,635.19 m3, 21,513.15 m3, and 6-10 cm, respectively. The result of 3D morphology modeling using TLS can be applied for mapping and monitoring the cinder cone deformation of Galunggung Volcano. The modeling result showed that there are deformation between two epoch but with relatively high values of displacement. This high values due to object surface inconsistency because of caused by vegetation disturbance, manual filtering process and also the absence of no correction of error sources.Keywords: Terrestrial laser scanning, deformation, volcano, cinder cone
KARAKTERISTIK DEFORMASI GUNUNG MURIA PERIODE 2010-2014 Ari Nugroho; Irwan Gumilar
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 17, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jpen.2015.17.2.2504

Abstract

ABSTRAK KARAKTERISTIK DEFORMASI GUNUNG MURIA PERIODE 2010-2014. Kegiatan pemantauan deformasi di Gunung Muria direkomendasikan oleh IAEA untuk dilakukan selama lima tahun. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui deformasi tanah di sekitar Muria yang terdiri dari pergeseran regional maupun lokal serta nilai regangan tanah, data ini bermanfaat untuk mendukung aspek keamanan dan keandalan calon tapak dalam rencana pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Sejak tahun 2010 sampai dengan 2014 telah dilakukan pemantauan pada 5 lokasi BM (Benchmark). yaitu di Mijen, Rahtawu, Perdopo, Cranggang, dan Ketek Putih. Pemantauan dilakukan dengan metode survei GPS secara periodik bekerjasama dengan Fakultas Teknik Jurusan Geodesi ITB. Hasil analisis menggunakan software GAMIT 10.4 dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2014 terjadi pergeseran regional di sekitar Muria yang didominasi oleh pergerakan lempeng (rotasi blok Sunda) dengan kecepatan 2,2 cm/tahun. Pergeseran lokal terjadi di 5 lokasi BM dengan kecepatan 2-3 mm/tahun. Perhitungan regangan diperoleh nilai sebesar 2 x 10-2 microstrain/tahun terjadi di wilayah Utara Muria, nilai tersebut lebih tinggi dari nilai regangan yg konsisten (5 x 10-8 microstrain/tahun), artinya ada indikasi gerakan tanah. Kata kunci: deformasi, global positioning system, metode diferensial.ABSTRACT THE CHARACTERIZATION OF MURIA MOUNTAIN DEFORMATION IN THE PERIOD OF 2010-2104. Deformation monitoring activity for Muria Mountain is recommended by the IAEA to be carried out in five years. The goal of this activity is to identify the soil deformation and strain surrounding Muria regionally and locally, this data is beneficial to support safety and reliability aspect of candidate site for constructing the Nuclear Power Plant in Muria Peninsula. Since the year of 2010 to 2014 the deformation monitoring had been applied in five benchmarks which are Mijen, Rahtawu, Perdopo, Cranggang, and Ketek Putih. The monitoring has been done successfully in collaboration with the faculty of Geodesy ITB. Based on the analysis by using GAMIT 10.4 it can be concluded that until the year of 2014 the regional deformation surrounding the Muria is dominated by plate movement namely Sunda block which has the acceleration as fast as 2.2 cm/year. The local deformation at the 5 Benchmark indicates the presence of deformation as fast as 2-3 mm/year. The strain measurement demonstrates the presence of the strain rate at Northern Muria as big as 2 x 10-2 microstrain/year, which is higher than the number of consistent strain (5x 10-8 microstrain/year), this mean there is an indication of deformation. Keywords: deformation, global positioning system, differensial method.
Studi Pemantauan Penurunan Muka Tanah di Cekungan Bandung dengan Metode Survei GPS dan InSAR Irwan Gumilar; Hasanuddin Z. Abidin; L.M. Hutasoit; D.M. Hakim; Dina A. Sarsito; H. Andreas; Teguh P. Sidiq
Indonesian Journal of Geospatial Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Land subsidence is a phenomena that has been commonly occurs in big cities around the world. Especially in Indonesia, Bandung as the one of big cities in Indonesia, has been identified for land subsidence. This land subsidence is suspected to ground water explotation by the factories which are located around Bandung basin. Land subsidence has caused many problems, such as damage to houses, buildings, and infrastructures (roads, bridges, etc.), and as the most serious problem is that land subsidence can increase the size of areas susceptible for flooding. In 2010 was noted that for almost the whole year, in the south Bandung experienced a terrible flood. Seeing the causes which is caused by land subsidence, it is a necessary to do charachteristic mapping of land subsidence. As one of the method that will be use for monitorizing the land subsidence is using GPS (Global Positioning System) survey and InSAR (Interferometry Synthetic Aperture Radar). In this paper, will be explained about land subsidence that occur in Bandung from GPS data. Keywords : GPS, groundwater, InSAR, land subsidence.