Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Laju Penempelan Biofuling terhadap Substrat Alami dan Buatan di Desa Tanjung Piring Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan Madura Rohmah, Khilda Firdausiyah; Salma, Amanda Nadiva; Indriyawati, Novi; Dewi, Kartika; Agustin, Cantika Ellycia; Wulansari, Destin Retno; Fitriana, Dianita Aryani; Himmah, Nurul; Prasetyo, Adi; Fadilah, Iqbal Riza
Jurnal Laut Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2025): October
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lkuntan.v8i3.98076

Abstract

Biofouling merupakan penempelan dan pertumbuhan organisme pada permukaan benda yang terbenam di laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis biofouling, komposisi, kelimpahan, laju pertumbuhan, kategori indeks biologis serta parameter kualitas perairan Tanjung Piring, Socah, Kabupaten Bangkalan guna mengetahui kecocokan perairan untuk biofouling hidup. Metode yang digunakan adalah metode visual census, dengan mengidentifikasi jenis dan jumlah individu setiap jenis biota penempel yang ditemukan. Kegiatan pengamatan menggunakan substrat buatan dengan 2 perlakuan, di cat dan tanpa cat antifouling. Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh 4 spesies dari 2 kelas Gastropoda, Bivalvia dan Maxillopoda yang ditemukan pada 2 titik pengamatan. Spesies yang ditemukan yaitu Turbo chrysostomus, Nassarius oliva, Ostrea edulis dan Amphibalanus amphitrite. Nilai spesies paling melimpah pada substrat sebesar 0,371 ind/cm2. Hasil indeks keanekaragaman dimana titik 2 menunjukkan keanekaragaman yang lebih besar. Indeks keseragaman menunjukkan hasil tertinggi sebesar 0.4773 menandakan distribusi tiram lebih merata serta hasil dominansi menunjukkan rentang nilai antara 0,55-0,66, dengan kategori sedang. Hasil pengukuran kualitas perairan menunjukkan nilai suhu antara rentang 27-35°C, salinitas antara 25-30 ppt, pH mulai 7,7-8,8. Kedalaman paling dalam pada nilai 22 cm dan kecerahan tertinggi mencapai 100%. Hasil DO tetinggi bernilai 6,08 dengan kecepatan arus paling kuat sebesar 25,27 ke arah barat laut.
Distribusi Barium Terlarut pada Estuari dan Laut Padelegan Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan Hidayatullah, Muhamad Aziz; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Kartika, Ary Giri Dwi; Indriyawati, Novi; Efendi, Makhfud
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.49525

Abstract

Barium (Ba) merupakan salah satu elemen minor di perairan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi apabila dimanfaatkan sebagai produk garam turunan. Sumber utama Ba terlarut berasal dari sungai, dan estuari menjalankan peran penting sebagai pengontrol fluktuasi kadar Ba terlarut pada sungai sebelum masuk ke laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Ba terlarut, distribusi Ba terlarut dan korelasi Ba terlarut dengan salinitas. Kadar Ba terlarut diketahui dari hasil pengujian sampel air laut yang diambil di 9 titik mulai dari daerah estuari hingga laut lepas. Pengujian kadar Ba terlarut menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry sesuai SNI 06-6989.39-2005. Kadar Ba terlarut di Perairan Padelegan berkisar antara 0,009-0,003 mg/L. Hasil visualisasi distribusi kadar Ba terlarut tertinggi berada di estuari dan kadar terendahnya berada di stasiun laut lepas. Distribusi Ba terlarut dari estuari hingga laut lepas menunjukkan kadar yang menurun secara bertahap. Hasil korelasi antara kadar barium terlarut dengan salinitas berbanding lurus yang disebabkan oleh intrusi air laut.  Barium (Ba) is a minor element in marine waters which has high economic value when used as a derivative salt product. The main source of dissolved Ba comes from rivers, and estuaries play an important role as controlling fluctuations in dissolved Ba levels in rivers before they enter the sea. This research aims to determine dissolved Ba levels, dissolved Ba distribution and the correlation of dissolved Ba with salinity. Dissolved Ba levels are known from the results of testing seawater samples taken at 9 points from the estuary area to the open sea. Dissolved Ba levels were tested using Atomic Absorption Spectrophotometry based on SNI SNI 06-6989.39-2005. Dissolved Ba levels in Padelegan Water range between 0,009-0,003 mg/L. Visualization results of the distribution of the highest dissolved Ba levels are in estuaries and the lowest levels are at open sea. The distribution of dissolved Ba from the estuary to the open sea shows gradually decreasing levels. Correlation results between dissolved barium levels and directly proportional salinity caused by seawater intrusion.
PENGARUH VARIASI PUPUK TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN MIKROALGA DIATOM Chaetoceros calcitrans Azkiya, Azmi Binta; Indriyawati, Novi; Wulandari, Destin Retno; Amanda, Vevilia Tri; Supriyanto, Supriyanto
JURNAL AKUAKULTUR, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP, ILMU KELAUTAN Vol 8 No 1 (2025): JOURNAL OF INDONESIAN TROPICAL FISHERIES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/joint-fish.v8i1.598

Abstract

The use of Pro Analis fertilizer with uneconomical prices in microalgae culture has been a problem that has hampered the utilization of microalgae. The use of agricultural fertilizers as a more economical source of nutrients. This study was conducted to determine the density value of microalgae cultured using agricultural fertilizers to determine which agricultural fertilizers support the cultivation of Chaetoceros calcitrans. This study was conducted using an experimental method, the study was conducted on a laboratory scale with 4 treatments with a research design P1 using variations of Urea Silica fertilizer; P2 NPK and silica; and P3 Urea, NPK and Silica with a ratio of Urea; NPK; Silica fertilizer (0.1; 0.1; 0.015 gr / L). The results of data analysis show that the provision of fertilizer variation treatment has a significant difference (≤0.05) and has a positive correlation with a very strong correlation (r = 0.656) and R2 = 0.431 which shows that the provision of fertilizer variation affects the density value of the Chaetoceros calcitrans microalgae by 43.1% with the provision of NPK and silica fertilizer variation treatment (P2) resulting in the highest density of 291 x104 and the largest cell size with a size of 3.566 µm with these results indicating the ability of agricultural fertilizers as a substitute source of nutrients in microalgae culture.
Pengaruh Variasi Salinitas Terhadap Fase Pertumbuhan Mikroalga Tetraselmis chuii Sanda, Eka Yasmin Sevia; Indriyawati, Novi; Fauriah, Salwa Najah; Supriyanto, Supriyanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 1 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i1.30347

Abstract

Tetraselmis chuii merupakan mikroalga uniseluler yang termasuk dalam famili Chlorodendraceae dan kelas Chlorodendrophyceae. Tetraselmis chuii memiliki masa depan yang menjanjikan sebagai sumber makanan atau produk kesehatan karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi salinitas terhadap fase pertumbuhan Tetraselmis chuii menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan salinitas (Kontrol = 30ppt, P1 = 27ppt, P2 = 35 ppt, dan P3 = 37 ppt) serta tiga ulangan. Pengamatan kepadatan sel (sel/mL) dilakukan menggunakan haemocytometer dan dianalisis secara statistik dengan uji korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan pola pertumbuhan normal melalui fase adaptasi, eksponensial, stasioner, dan kematian. Perlakuan yang menggunakan salinitas 35ppt (P2.1) dan 37ppt (P3.2) menunjukkan jumlah kepadatan sel yang lebih tinggi senilai 1.176 ×  sel/mL dan 2.692 ×  sel/mL, serta bertahan lebih lama dibandingkan perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa salinitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jumlah sel Tetraselmis chuii (r = 0,054; Sig. = 0,625), sehingga perubahan salinitas tidak berdampak pada pertumbuhannya secara nyata. Uji ANOVA juga memberikan hasil yang serupa (F = 0,241; Sig. = 0,625), yang menunjukkan bahwa model regresi tidak signifikan dan variasi jumlah sel lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti nutrisi, pencahayaan, oksigen terlarut, pH, dan suhu, daripada salinitas.