Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pathogenicity and Effectiveness of Entomopathogen Nematode Heterorhabditis sp. to Potato Tuber Moth Phthorimaea operculella (Zeller)(Lepidoptera: Gelechiidae) PATOGENISITAS DAN KEEFEKTIFAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN Heterorhabditis sp. TERHADAP PENGGEREK UMBI Lufthi Rusniarsyah; Aunu Rauf; Supramana .; Samsudin .
Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Silvikultur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.6.1.%p

Abstract

Potato tuber moth, Phthorimaea operculella Zell. (Lepidoptera: Gelechiidae) is one of the important potato pest. Damage occurs in the field as well as in the storage warehouses. If control is not performed well, the potential loss will reach almost 100%. The effectiveness of entomopathogenic nematodes of the Heterorhabditis has been studied to control several crop pests. Infective juveniles (IJ’s) of nematodes are capable to seek and infect insects that live in soil and in plant tissues. The objectives of the research are to study the pathogenicity of the Heterorhabditis sp. against P. operculella in the laboratory in direct treatment and in the potato tuber. The experiment was employed a completely randomized design with 6 treatments and 4 replications. The treatment tested are the density level of nematodes Heterorhabditis sp. (100, 200, 300, 400, and 500 IJ/ml) and the control. The results showed that P. operculella infected by Heterorhabditis sp. has symptoms of decreasing motion and feeding activity. Dead insects have change color to dark brown and the body become soft. Heterorhabditis sp. can kill P. operculella within 12 hours after application (HAA). At density level 100 IJ/ml it can control P. operculella by 85% within 24 HAA. The mortality rates of P. operculella in the tubers was 35% at doses of 1000 IJ/tubers, although the ANOVA test was not significantly different.Key words: Phthorimaea operculella, entomopathogenic nematodes, Heterorhabditis sp.
Aktivitas Terbang dan Perkembangan Koloni Lebah Kelulut (Tetragonula laeviceps) di Kampus IPB Darmaga Bogor: Flying Activities and Development of The Colony of Kelulut Bees (Tetragonula laeviceps) at IPB Darmaga Campus, Bogor Noor Farikhah Haneda; Lufthi Rusniarsyah; Muhammad Ridho Robbani
HUTAN TROPIKA Vol 17 No 1 (2022): Volume 17 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jht.v17i1.4354

Abstract

Lebah kelulut (Tetragonula laeviceps) merupakan salah satu jenis lebah yang tidak memiliki sengat (stingless bee) dan termasuk serangga sosial tingkat tinggi yang hidup berkoloni. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas terbang keluar-masuk lebah kelulut dari sarang, pengaruh faktor lingkungan terhadap aktivitas terbang lebah kelulut, perkembangan bobot koloni, dan melihat potensi sumber pakan yang ada di sekitar lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas terbanyak terjadi pada pukul 09.00 WIB (keluar sarang), 11.00 WIB (masuk sarang), 07.00 WIB (membawa polen). Analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa aktivitas keluar sarang dan masuk sarang dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Nilai korelasi yang diperoleh yaitu rs = 0.414, p > 0.01 (keluar sarang) danrs = 0.470, p < 0.01 (masuk sarang). Aktivitas membawa polen dipengaruhi oleh kelembaban relatif dengan nilai rs = 0.705, p < 0.05. Selama dua bulan pengamatan, perkembangan bobot koloni didapatkan hasil sebesar 8.1%. Potensi sumber pakan di sekitar lokasi penelitian cukup melimpah. Didapatkan sebanyak 20 jenis tanaman bunga maupun tegakan yang mengandung nektar, polen, serta resin.
Diversity of Soil Insects in Cananga (Cananga odorata(Lam.) Hook. f. & Thomson) Stands with Fertilization Treatment Noor Farikhah Haneda; Cindikia Annisa Puspadewi; Lufthi Rusniarsyah; Yeni Aryati Mulyani
Jurnal Silvikultur Tropika Vol 13 No 03 (2022): Jurnal Silvikutur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.13.03.191-197

Abstract

Kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson) atau ylang- ylang dari famili Anonaceae merupakan salah satu tanaman kehutanan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan serangga permukaan tanah di tegakan Kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson) yang diberi perlakuan pemupukan. Prosedur penelitian mencakup tahapan penentuan lokasi pengamatan, pengambilan sampel menggunakan metode pitfall trap, pengukuran faktor lingkungan, identifikasi serangga dan analisis data. Jumlah total fauna tanah pada perlakuan sebelum dipupuk ditemukan sebanyak 14 ordo dan 1421 individu sedangkan untuk perlakuan sesudah dipupuk ditemukan sebanyak 16 ordo dan 2108 individu. Setiap plot terjadi penambahan jumlah individu ketika sudah diberi perlakuan pupuk kecuali pada perlakuan pupuk. Faktor bertambahnya individu serangga tidak hanya dari pemberian pupuk namun dari faktor mikrohabitat, yaitu banyaknya serasah, tumbuhan bawah, suhu dan kelembaban. Morfospesies yang mengalami penambahan jumlah individu paling signifikan yaitu formicidae. Indeks keanekaragaman spesies semut yang relatif tinggi ditemukan pada plot kontrol. Kata kunci: Cananga odorata, keanekaragaman hayati, pupuk, serangga
Analysis on Crown Health Assessment of Fabaceae in Bogor Botanical Garden Erianto Indra Putra; Lutfi Ranggawuni Nugraha; Hendra Helmanto; Arief Noor Rachmadiyanto; Usman Usman; Lufthi Rusniarsyah; Andi Sukendro
Jurnal Silvikultur Tropika Vol 14 No 01 (2023): Jurnal Silvikutur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.14.01.9-14

Abstract

Bogor Botanical Garden (KRB) is an ex-situ plant conservation area with many plant types that dominated by tree. One of the family of trees collected in KRB is the Fabaceae family. This research aims to estimate the level of crown health condition in Fabaceae family in KRB using forest health monitoring (FHM) method. A total of 44 trees were observed using crown condition parameters to gain the visual crown rating (VCR), crown size index (CSI), and crown damaged index (CDI). This research showed that Fabaceae family in KRB reveal the VCR score of 6, indicated the medium health crown condition of tree. Thus, this research shows that most of the Fabaceae family’s tree at KRB are categorized in medium crown damaged rate. Keywords: Crown damaged index, crown health condition, crown size index, forest health monitoring, visual crown rating
13. Pendugaan Kerapatan Vegetasi untuk Menentukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Bogor Putra, Erianto Indra; Waldi, Robi D; Rifaldo, Ahmad; Khairunisa, Yovielachicha; Akmalia, Deya; Siburian, Siti Labora; Huda, Rian Dwirizqi Miftahul; Susanti, Pratiwi D; Putri, Citra S; Matangaran, Juang R.; Nurhayati, Ati Dwi; Rusniarsyah, Lufthi
Journal of Tropical Silviculture Vol. 14 No. 03 (2023): Jurnal Silvikutur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.14.03.268-272

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan bagian dari ruang-ruang terbuka (open space) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi untuk mendukung manfaat ekologis, sosial budaya, dan arsitektur. Salah satu pendekatam yang dapat dilakukan untuk menentukan RTH adalah dengan menganalisis kerapatan vegetasi. Persebaran minimal vegetasi pada suatu wilayah kota adalah 30% dari total luas wilayah tersebut. Sebaran vegetasi ini dapat dihitung dengan pemanfaatan Citra Landsat 8. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan Ruang Terbuka Hijau di Kabupeten Bogor dengan menggunakan Citra Landsat 8. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak wilayah yang masih kekurangan vegetasi sehingga sangat diperlukan untuk membangun Ruang Terbuka Hijau di wilayah-wilayah ini. Kata kunci: Citra Landsat 8, Kabupaten Bogor, Ruang Terbuka Hijau, Vegetasi
Pengaruh Serbuk Sengon, Daun Jati, dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) terhadap Kultivasi Jamur Tiram (Pleurotus spp.) Nina Herliyana, Elis; Lul Godi, Rizal; Rusniarsyah, Lufthi
Journal of Tropical Silviculture Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal Silvikultur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.16.1.55-61

Abstract

Pleurotus cystidiosus (jamur tiram coklat) dan Pleurotus djamor (jamur tiram merah) merupakan salah satu jenis jamur kayu yang banyak dikonsumsi masyarakat karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Limbah serbuk gergaji kayu sengon, Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), dan serasah daun jati menjadi alternatif sebagai media tanam dalam kultivasi jamur tiram. Penelitian ini bertujuan mempelajari pertumbuhan dan produksi jamur tiram (Pleurotus spp.) pada media yang mengandung serbuk gergaji kayu sengon, TKKS, daun jati, dan Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama terdiri atas jamur tiram cokelat dan merah, faktor kedua terdiri atas 6 komposisi media. Hasil penelitian menunjukkan formula 2 (serbuk sengon 1860 g + daun jati 300 g) memberikan pengaruh terbaik pada fase vegetatif dengan rata-rata pertumbuhan miselium 0,75 cm/hari. Fase generatif paling baik dalam 2 kali panen diperoleh formula 4 (serbuk gergaji kayu sengon dengan TKKS 1:2) yaitu 9 hari. Total bobot basah tertinggi diperoleh formula 4 yaitu 103,39 g dengan nilai efisiensi biologis 53,28%. Hama dan penyakit yang ditemukan adalah tungau, Collembola, dan Trichoderma sp.
Keanekaragaman Fauna Tanah di Lahan Agroforestri Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak Rusniarsyah, Lufthi; Mariah Padilah, Nada
Journal of Tropical Silviculture Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal Silvikultur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.16.1.87-95

Abstract

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan area konservasi yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan lahan melalui sistem agroforestri. Keberadaan fauna tanah di lahan agroforestri diperlukan sebagai indikator kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman fauna tanah serta menganalisis pengaruh kerapatan vegetasi dan hubungan faktor lingkungan terhadap keanekaragaman fauna tanah di lahan agroforestri TNGHS. Pengambilan sampel fauna tanah dilakukan menggunakan metode pitfall trap. Data dianalisis dengan mengukur kelimpahan, indeks keanekaragaman (H’), kekayaan (DMg), dan kemerataan (E) spesies, serta menggunakan uji t-paired dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 15 ordo dan 32 famili, dengan Formicidae (Hymenoptera) sebagai famili yang paling banyak ditemukan. Indeks H’ dan DMg pada lahan dengan kerapatan vegetasi tinggi lebih besar (masing-masing 072 dan 3,28) dibandingkan dengan kerapatan sedang (0,63 dan 2,95). Indeks E pada kedua tingkat kerapatan tergolong rendah, menunjukkan adanya dominansi oleh famili Formicidae. Hasil uji t-paired menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kerapatan tinggi dan sedang. Korelasi antara keanekaragaman fauna tanah dengan pH tanah, respirasi, dan intensitas cahaya tergolong sangat rendah. Korelasi antara keanekaragaman fauna tanah dengan ketebalan serasah tergolong rendah, sedangkan korelasi dengan suhu tanah tergolong sedang.
AGROFORESTRI BERBASIS WAKAF UNTUK OPTIMALISASI LAHAN DI LOKASI EKS HGU PT HEVINDO, DESA NANGGUNG, KABUPATEN BOGOR Shohibuddin, Mohamad; Priyanto, Priyanto; Rusniarsyah, Lufthi; Bahri, Adi D.
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.60688

Abstract

This community service program initiated a waqf-based agroforestry model to optimize land use and strengthen community capacity in Blok Pasir Kolecer, a site located within the former land concession (HGU) of PT Hevindo in Nanggung Village, Bogor Regency, which is currently being prepared for agrarian reform implementation. The program was carried out through a participatory approach involving technical training, joint assessments of land-use conditions, agroforestry design planning, policy advocacy, and the initiation of tree-waqf donations via a digital platform. The results demonstrate that the waqf-based agroforestry model not only addresses farmers' capital constraints but also significantly enhances social solidarity and community control over local agrarian resources. Its broader implication is the potential replication of this model as a strategic access-reform mechanism within agrarian reform programs, integrating farmer participation, religious philanthropy, and digital innovation.Program pengabdian masyarakat ini menginisiasi model agroforestri berbasis wakaf untuk mengoptimalkan lahan serta memperkuat kapasitas komunitas di Blok Pasir Kolecer, sebuah lokasi di area bekas Hak Guna Usaha (HGU) PT Hevindo di Desa Nanggung, Kabupaten Bogor yang sedang dipersiapkan untuk pelaksanaan program reforma agraria. Kegiatan ini dijalankan secara partisipatif yang mencakup pelatihan teknis, penilaian bersama atas kondisi penggunaan lahan, perencanaan desain agroforestri, advokasi kebijakan, dan inisiasi skema wakaf pohon melalui platform digital. Hasil program ini menunjukkan bahwa model agroforestri berbasis wakaf selain berpotensi untuk menjawab keterbatasan modal petani, juga berperan besar dalam memperkuat solidaritas sosial dan kontrol komunitas atas sumber agraria setempat. Implikasinya, model ini berpotensi direplikasi sebagai strategi penataan akses dalam program reforma agraria yang memadukan partisipasi petani, filantropi keagamaan, dan inovasi digital.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati pada Sistem Agroforestri berbasis Kopi di Desa Garahan, Jember, Jawa Timur Yunik Istikorini; Muhammad Alam Firmansyah; Lufthi Rusniarsyah; Ikhwan Shodiq; Tiska Aulia Azzahra; Idelia Latifah
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2023): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.9.2.191-198

Abstract

The productivity of coffee plants on the most cultivated land in Garahan Village decreased. This decline is thought to be caused by, among others, climate change, land degradation and the presence of pests and diseases in coffee plants. This training aims to introduce pests and diseases in coffee-based agroforestry to farmers and develop environmentally friendly biofertilizers. This activity begins with a pre-test, socialization and training and ends post-test. Based on the survey and direct observation, coffee plants found upas fungal diseases, root diseases, and stem borer pests. The agroforestry system applied is complex and straightforward agroforestry. In complex agroforestry, coffee plants are grown with various other crops, such as pepper, vanilla, leucaena, taro, banana, gamal, and mahogany. Simple agroforestry consists of coffee land planted with single-shade crops such as leucaena and gamal or a combination of Leucaena and pine. The training results showed an increased farmer's better understanding of coffee pests and diseases, the benefits of agroforestry, and the manufacture of biofertilizers. The biofertilizer developed is expected to increase the productivity of coffee plants.
TREE SPECIES DIVERSITY AND MANAGEMENT IN AGROFORESTRY POHPOHAN (Pilea melastomoides): THE CASE IN THE TRADITIONAL ZONE OF GUNUNG HALIMUN SALAK NATIONAL PARK, INDONESIA Adisti Permatasari; Sheikha Ananda Mosa; Bayu Winata; Lufthi Rusniarsyah; Peniwidiyanti Peniwidiyanti; Izzbilhaq Izzbilhaq
BIOTROPIA Vol. 31 No. 3 (2024): BIOTROPIA Vol. 31 No. 3 December 2024
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2024.31.3.2281

Abstract

Article Highlights- Pohpohan (Pilea melastomoides) is the main commodity cultivated by using traditional agroforestry in the traditional zone of Gunung Halimun Salak National Park as a fresh vegetable.- There is a limited database of plant species diversity in the traditional zones, which is dynamic and needs further research.- This study found 54 tree species from 37 families with the dominant family being Rubiaceae.- Most farmers cultivated Pohpohan by conducting plant spacing, maintenance, and harvesting. Their income is USD 154 – 256/month. AbstractGunung Halimun Salak National Park (GHSNP) is Java's largest tropical mountain forest. GHSNP is still facilitating community grounds around GHSNP with the existence of a traditional zone. Pohpohan (Pilea melastomoides) is the primary commodity in the traditional zone cultivated by the local people around GHSNP. Pohpohan is planted using traditional agroforestry planting patterns. The traditional zone has a limited plant species diversity and management database, so further study is necessary. This study was conducted in the traditional zone of GHSNP, specifically at the agroforestry system in Tamansari Village, Bogor Regency. Data collection of tree diversity was conducted by establishing 25 plots. This study also interviewed 30 local farmers belonging to the Mandiri farmer group. There are 54 species from 37 families. Rubiaceae, Malvaceae, Fabaceae, and Phyllanthaceae families are the most common families. Pinus merkusii, Agathis dammara, and Maesopsis eminii have the highest important value index (IVI) values. Understorey and seedlings have a low category on H' due to the dominant planting of Pohpohan. Most respondents are people aged 35-55 (70%) with a farming area of 1000 m2. They cultivate Pohpohan by conducting plant spacing, plant maintenance (e.g., soil cultivation, weeding, fertilization), and harvesting. Most farmers conduct fertilization 9 times/year. Farmers produce 30.000-50.000 bunches/harvest. The price of a bunch of Pohpohan is 0,00054 USD. Their income is about 154 USD – 256 USD/month.