Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Nurcholish Madjid dan Pemikirannya (Diantara Kontribusi dan Kontroversi) Nasitotul Janah
Cakrawala: Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.598 KB) | DOI: 10.31603/cakrawala.v12i1.1655

Abstract

Dalam konteks Indonesia, sejak tahun 1970-an, Nurcholish Madjid adalah ikon cendekiawan Islam yang dianggap paling kontroversi sekaligus paling kontibutif. Pemikirannya berkelindan diantara tiga tema besar; Keislaman, Keindonesiaan dan Kemodernan. Dia berani mendekonstruksi pemikiran pemikiran Islam yang dianggapnya sudah mengalami fosilisasi, kemandegan, stagnasi dan kejumudan yang membuat umat Islam menjadi kehilangan daya adaptasinya menghadapi laju problematika kehidupan nyata yang semakin kompleks. Salah satu pemikiran yang dianggap paling polemis dan kontroversial adalah ketika ia mendekontruksi eksklusivisme dan menawarkan inklusvisme sebagai gantinya. Hal ini jelas dianggap melawan arus pemahaman mainstream. Sebagai cendekiawan neomodernisme, Ia membangun nalar inklusivisme menggunakan pendekatan dan metodologi modern tanpa menafikan argumensi doktrin-doktrin otentik Islam itu sendiri, yaitu al Qur’an dan hadis plus pendapat ulama-ulama terdahulu. Oleh karena itulah, walaupun sejak ia mempublikasikan pemikiran-pemikirannya, ia telah mengundang kontroversi yang hebat bahkan sampai saat ini, ia tetaplah dianggap sebagai pemikir yang paling memiliki kontribusi yang cemerlang bagi dinamika pemikiran Indonesia.
Pendekatan Normativitas dan Historisitas serta Implikasinya dalam Perkembangan Pemikiran Islam Nasitotul Janah
Cakrawala: Jurnal Studi Islam Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.256 KB) | DOI: 10.31603/cakrawala.v13i2.2331

Abstract

Islam is a religion that demands autonomy and must not be distorted. But in its function as a worldview, it is always faced with the progressivity of human life’s problem that is able to accommodate the changes. In this context, there are two approaches in Islamic studies; normative and historical approaches, both have different implications. The normative approach focuses on respecting normative values and the sacredness of the text. The Implication is understanding of Islam becomes very legal-formal and rigid. Islamic scholarship becomes repetitive and involutive, which is often paradox with humanitarian problems. While the historical approach is more focused on the substantial meaning behind religious symbols and texts. The implication is Islamic studies are becoming more progressive and compatible with the progress of life. However, this approach often criticized will make Islam lose its intensity
Proses Distribusi Sebagai Upaya Mewujudkan Keadilan Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam Nasitotul Janah; Heni Hendrawati; Heniyatun
Jurnal Hukum Ekonomi Islam Vol. 4 No. 2 (2020): Jurnal Hukum Ekonomi Islam (JHEI)
Publisher : Asosiasi Pengajar dan Peneliti Hukum Ekonomi Islam Indonesia (APPHEISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.196 KB)

Abstract

Distribution in general is a further economic activity after production and consumption. In order to be consumed, the products must pass through a distribution process from one party to another, either by means of an exchange between goods or for money. Distribution has the most significant and most important role in the economic cycle of a society or a country, whether it adheres to capitalism, socialism or Islam. Economics in Islam is different from Capitalists and Socialists, both philosophically-ontologically, and axiologically. Economics in Islam is built on moral values, both divine (transcendental) and human values ​​(humanism). Therefore, in the context of distribution, in contrast to capitalists and socialists who focus on distribution after production, Islam focuses attention and formulates the concept of distribution before discussing the dimensions of production; who owns it, in what way the product is distributed, and what are the obligations. The discussion of distribution in the Islamic concept which includes the distribution of income and the distribution of wealth is important because distribution is the key to realizing prosperity, justice and economic equality. The state in the Islamic concept has a very important position in creating distribution justice because it is an economic agent that has authoritative power. According to Ruslan (2013), the state must play a role in the distribution of primary (daruriyyah), secondary (hajjiyyah), tertiary (tahsiniyyah / the commendable) needs and even complementary needs (the luxury / kamil). Keywords: Distribution, Justice, Islamic Economic Law. Abstrak Distribusi secara umum merupakan kegiatan ekonomi lebih lanjut setelah produksi dan konsumsi. Agar dapat dikonsumsi, hasil produksi harus melewati proses distribusi dari satu pihak ke pihak lain, baik dengan mekanisme pertukaran antar barang atau dengan uang. Distribusi mempunyai peran paling signifikan dan terpenting dalam perputaran ekonomi suatu masyarakat ataupun negara baik yang menganut sistem kapitalisme, sosialisme, maupun Islam. Ekonomi dalam Islam berbeda dengan Kapitalis dan Sosialis, baik secara filosofis-ontologis, maupun aksiologis. Ekonomi dalam Islam dibangun diatas nilai-nilai moral, baik ketuhanan (transcendental) maupun nilai-nilai kemanusiaan (humanism). Oleh karena itu dalam konteks distribusi, berbeda dengan kapitalis dan sosialis yang menfokuskan distribusi itu pasca produksi, Islam justru fokuskan perhatian dan merumuskan konsep distribusi sebelum membahas dimensi produksi; siapakah yang memilikinya, dengan cara apa produk didistribusikan, dan apa saja kewajibannnya. Pembahasan tentang distribusi dalam konsep Islam yang meliputi distribusi pendapatan maupun distribusi kekayaan menjadi penting karena distribusi merupakan kunci untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan pemerataan ekonomi. Negara dalam konsep Islam memiliki posisi sangat penting dalam menciptakan keadilan distribusi karena ia merupakan agen ekonomi yang mempunyai kekuasaan otoritatif. Negara menurut Ruslan (2013) harus berperan dalam distribusi kebutuhan primer (daruriyyah), sekunder (hajjiyyah), tertier (tahsiniyyah/the commendable) dan bahkan kebutuhan pelengkap (the luxury/kamil). Kata Kunci: Distribusi, Keadilan, Hukum Ekonomi Islam Distribution in general is a further economic activity after production and consumption. In order to be consumed, the products must pass through a distribution process from one party to another, either by means of an exchange between goods or for money. Distribution has the most significant and most important role in the economic cycle of a society or a country, whether it adheres to capitalism, socialism or Islam. Economics in Islam is different from Capitalists and Socialists, both philosophically-ontologically, and axiologically. Economics in Islam is built on moral values, both divine (transcendental) and human values ​​(humanism). Therefore, in the context of distribution, in contrast to capitalists and socialists who focus on distribution after production, Islam focuses attention and formulates the concept of distribution before discussing the dimensions of production; who owns it, in what way the product is distributed, and what are the obligations. The discussion of distribution in the Islamic concept which includes the distribution of income and the distribution of wealth is important because distribution is the key to realizing prosperity, justice and economic equality. The state in the Islamic concept has a very important position in creating distribution justice because it is an economic agent that has authoritative power. According to Ruslan (2013), the state must play a role in the distribution of primary (daruriyyah), secondary (hajjiyyah), tertiary (tahsiniyyah / the commendable) needs and even complementary needs (the luxury / kamil). Keywords: Distribution, Justice, Islamic Economic Law. Abstrak Distribusi secara umum merupakan kegiatan ekonomi lebih lanjut setelah produksi dan konsumsi. Agar dapat dikonsumsi, hasil produksi harus melewati proses distribusi dari satu pihak ke pihak lain, baik dengan mekanisme pertukaran antar barang atau dengan uang. Distribusi mempunyai peran paling signifikan dan terpenting dalam perputaran ekonomi suatu masyarakat ataupun negara baik yang menganut sistem kapitalisme, sosialisme, maupun Islam. Ekonomi dalam Islam berbeda dengan Kapitalis dan Sosialis, baik secara filosofis-ontologis, maupun aksiologis. Ekonomi dalam Islam dibangun diatas nilai-nilai moral, baik ketuhanan (transcendental) maupun nilai-nilai kemanusiaan (humanism). Oleh karena itu dalam konteks distribusi, berbeda dengan kapitalis dan sosialis yang menfokuskan distribusi itu pasca produksi, Islam justru fokuskan perhatian dan merumuskan konsep distribusi sebelum membahas dimensi produksi; siapakah yang memilikinya, dengan cara apa produk didistribusikan, dan apa saja kewajibannnya. Pembahasan tentang distribusi dalam konsep Islam yang meliputi distribusi pendapatan maupun distribusi kekayaan menjadi penting karena distribusi merupakan kunci untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan pemerataan ekonomi. Negara dalam konsep Islam memiliki posisi sangat penting dalam menciptakan keadilan distribusi karena ia merupakan agen ekonomi yang mempunyai kekuasaan otoritatif. Negara menurut Ruslan (2013) harus berperan dalam distribusi kebutuhan primer (daruriyyah), sekunder (hajjiyyah), tertier (tahsiniyyah/the commendable) dan bahkan kebutuhan pelengkap (the luxury/kamil). Kata Kunci: Distribusi, Keadilan, Hukum Ekonomi Islam
Implementasi Model Pembelajaran Blended Learning Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Pasuruhan 2 Magelang Nopriyanto, Muhammad; Sari, Kanthi Pamungkas; Janah, Nasitotul
Borobudur Islamic Education Review Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bier.12167

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi karena adanya pandemi covid-19 yangmengakibatkan terjadinya perubahan pada model pembelajaran, yaitupembelajaran dengan model kombinasi di dalamnya atau disebut blendedlearning. Salah satu sekolah yang menerapkan model pembelajaran ini adalah SDNegeri Pasuruhan 2 Magelang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiimplementasi, kendala, dan pendukung model pembelajaran blended learningmata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) khususnya untuk kelas 5. Informandalam penelitian ini adalah kepala sekolah, penannggung jawab kurikulum, guruPAI, wali murid, dan peserta didik. Penelitian ini menggunakan metodependekatan kualitatif jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukandengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan datamenggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data yang digunakan adalahmodel Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi, display data (sajiandata), analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkanbahwa (1) implementasi model pembelajaran blended learning mata pelajaranPAI dilaksanakan dengan tiga tahapan yaitu perencanaan dengan menyiapkanperangkat pembelajaran seperti program tahunan (prota), program semester(promes), silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), hingga LembarKerja Siswa (LKS). Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukansecara daring dan luring, dan evaluasi atau penilaian berupa penilaian sikap,pengetahuan, maupun keterampilan. (2) faktor pendukung dan penghambatimplementasi model pembelajaran blended learning mata pelajaran PAI di SDNegeri Pasuruhan 2 Magelang yaitu adanya sarana dan prasarana yangmendukung terlaksananya proses pembelajaran blended learning. Selain itu,terdapat kerjasama antara kepala sekolah, penanggung jawab kurikulum, dan guruPAI demi tercapainya tujuan pembelajaran di tengah situasi pandemi covid-19saat ini. Selanjutnya untuk faktor penghambatnya adalah sinyal internet yangburuk, peserta didik lebih sulit dalam memahami materi, wali murid yang tidakbisa mendampingi anaknya belajar di rumah setiap saat, keterbatasan waktu dalampembelajaran, peserta didik kurang dalam menerapkan protokol kesehatan disekolah, dan seringnya keterlambatan pengumpulan tugas oleh peserta didik.
Merumuskan Kembali Teologi Hubungan Lintas Agama Di Tengah Pengalaman Kemajemukan (Sebuah Pendekatan Terhadap Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah) Janah, Nasitotul
Jurnal Tarbiyatuna Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas iman adalah fakta kehidupan yang tidak bisa dihindari karena merupakan desain Tuhan. Dilihat dari perbedaan cara pandang dan sikap manusia terhadap fakta kemajemukan agama ini, adan 3 corak teologi hubungan lintas agama yaitu; 1). Eksklusivisme, 2). Inklusivisme; dan 3). Pluralisme. Ekslusivisme merupakan karakteristik dari kebanyakan umat beragama yang berpandangan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya ada di dalam agamanya sendiri, karena itu orang beragama lain harus ditobatkan. Inklusivisme adalah sikap dan pandangan terbuka yang melihat bahwa agama-agama lain di luar agamanya juga berhak untuk diberi ruang untuk eksis, sehingga tidak tertutup adanya dialog dan kerjasama. Sedangkan pluralisme merupakan pandangan yang mengusung konsep relativisme kebenaran dan semangat kesetaraan dalam beragama. Dalam konteks pluralitas agama ini, sejak awal al-Qur’an telah membangun worldview sendiri yang dapat dicermati sejak periode makkah yang terwakili dalam QS Al Kafirun hingga periode Madinah diantaranya pada QS Al-Baqarah:62, QS Ali-Imran:64 , QS Al-Maidah:51. Dari ayat-ayat tersebut dapat diambila nilai-nilai bahwa dalam urusan yang menyangkut iman, Islam sejak awal bersikap eksklusiv dan menolak tawaran pluralisme agama yang berpandangan pada relativisme kebenaran, tapi sejak awal pula Islam memberi ruang bagi adanya eksistensi keimanan lain untuk saling hidup berdampingan, saling dialog dan diskusi dalam konteks membuka ruang hubungan kemanusiaan. Perbedaan iman tidak dijadikan justifikasi yang menghalangi antar pengikut iman yang berbeda untuk merajut kerja-kerja kemanusiaan, dialog dan kerjasama dalam kebajikan sebagaimana dipraktekan Nabi pada periode Madinah, dimana toleransi, ko-eksistensi, bahkan pro-eksistensi antar agama ditumbuhkan.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Novel Serdadu Pantai Karya Laode Insan Dan Relevansinya Terhadap Perilaku Sosial Anak Usia Sekolah Dasar Wardani, Ana; Mawardi, Imam; Janah, Nasitotul
Jurnal Tarbiyatuna Vol 6 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dan pembentukan perilaku anak dapat dilakukan dengan berbagai media tanpa kecuali melalui novel Serdadu Pantai. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami gambaran novel Serdadu Pantai dan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Serdadu Pantai dan relevansinya terhadap perilaku sosial anak usia sekolah dasar.Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif dalam bentuk library research. Sumber data dalam penelitian ini adalah kajadian dalam novel Serdadu Pantai dan media lain yang relevan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Data yang terkumpul disusun kemudian baru dianalisis. Analisa ini berguna bagi penulis sebagai upaya pengidentifikasian nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel serdadu pantai serta relevansinya terhadap perilaku sosial anak usia sekolah dasar. Hasil analisis deskriptif mengungkapkan bahwa gambaran novel Serdadu Pantai dapat dilihat dari latar belakang penulisan, sinopsis cerita, tokoh cerita, inti cerita yang meliputi alur, latar, sudut pandang, serta gaya bahasa yang digunakan. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel serdadu pantai yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab.
Fazlur Rahman's Thoughts of Double Movement in the Context of the Development of Unity of Sciences Janah, Nasitotul; Nugroho, Irham
Jurnal Tarbiyatuna Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/tarbiyatuna.v13i1.5718

Abstract

The paradigms of rationalism, empiricism and positivism as the basis for the development of Western science adopted by the Islamic world have led to the emergence of a dichotomy and dualism that puts science and religion a vis a. The implication is that science becomes value-less, wild, secular and sometimes destructive. Science and religion are two independent entities, do not interfere with each other and are in different zones, even their relationship is sometimes colored by conflict that negates each other. To find a solution to this situation, ideas and concepts for the integration of science and religion, such as de-westernization and Islamization of knowledge, emerged from Islamic thinkers as an effort to build a more harmonious, conducive, and constructive relationship between science and religion. However, this idea received resistance from Fazlurrahman because according to him science is objective so that Islamization or dewesternization is not needed, but rather integration or unity of science. This research is a library research. Sources of data were obtained through various written works, both in the form of books and journals, to find out how relevant Fazlurrahman's thoughts are in the context of developing unity of science in the Islamic world. The results of this study offer the concept of returning knowledge to its natural state by placing Allah as the main source of knowledge in the context of the ontological dimension; making the universe (kauniyyah verse) and sacred texts of the holy book (qauliyyah verse) a source of knowledge in the context of the epistemological dimension; in its application and implementation, science must have a moral responsibility to humanistic values ​​in the context of the axiological dimension.
Distribution of Zakat through the Rumah Gemilang Indonesia Programme via the Networking Scheme Usman, Nurodin; Janah, Nasitotul; Iman, Muis Sad
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 8, No 2 (2025): Vol. 8, No. 2, April 2025
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v8i2.37050

Abstract

Among the challenges encountered by zakat institutions in Indonesia are traditional management practices and limited collaboration with other institutions. This study employs qualitative research methodologies to analyse the distribution of zakat with the aim of enhancing human resource quality through a networking framework involving fellow zakat institutions. The development model is manifested in the form of a flagship programme, Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Magelang Campus, which results from collaboration between Lembaga Amil Zakat Dana Kemanusiaan Dhuafa (LAZ DKD) Magelang City and Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Al-Azhar Peduli Ummat Jakarta. Data collection techniques were conducted through observation, interviews, and documentation. Data analysis involved a series of activities, including data reduction, data presentation, and deriving conclusions. The findings of the study indicate that network development is essential for zakat institutions to enhance their performance in fundraising and distribution programmes. The collaboration between LAZ DKD and LAZNAS Al-Azhar, exemplified by the Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Magelang Campus, has demonstrated significant benefits that bolster the development of zakat management for both institutions. For LAZNAS Al-Azhar, the RGI Magelang Campus represents a key programme for zakat fund distribution, while for LAZ DKD, it serves as a leading initiative to foster closer ties with the community. The partnership between the two institutions continues to evolve, giving rise to additional pioneering programmes that are mutually beneficial and have empowering effects on the mustahiq. From an Islamic legal perspective, the distribution of zakat for the empowerment of the impoverished youth is permissible, as they are classified among the groups entitled to receive zakat. Through this training programme, it is anticipated that participants will emerge as individuals capable of paying zakat in the future.