Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The fungus Paecilomyces from Leang Pettae in Maros karst area and the suggestions for rock art preservation: Jamur Paecilomyces dari Leang Pettae di kawasan karst Maros dan saran pelestarian gambar cadasnya Permana, R.Cecep Eka; Habibi, Mohammad; Gunawan, Edy
Berkala Arkeologi Vol. 41 No. 1 (2021)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v41i1.602

Abstract

This paper examines microorganisms causing damage to rock arts in Leang Pettae, Maros Karst Area, South Sulawesi. The damage is indicated by a layer of white sediment on the cave walls and rock arts. This research aims to identify the microorganisms that cause the damage and to determine the preservation strategy for the rock arts. Microorganism samples were taken from the area around the damaged hand stencils and figurative paintings of babirusa (Babyrousa). The samples were cultured on PDA (Potatoes Dextrose Agar) medium at the Biology Laboratory of the Agency for Borobudur Conservation. The analysis identifies fungus from the genus Paecilomyces, which thrives in humid and wet conditions, and produces protease enzymes that affect the organic elements of the rock arts. To preserve the rock arts in Leang Pettae, it is suggested to control temperature and humidity, prevent air pollution, and limit human activities inside the cave.
PENETAPAN JUMLAH BELIS DALAM PERKAWINAN DI DESA NANGA MBAUR PRESPEKTIF MASLAHAH Gunawan, Edy
JURNAL DARUSSALAM: Pemikiran Hukum Tata Negara dan Perbandingan Mazhab Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Tata Negara dan Perbandingan Mazhab
Publisher : STIS Darussalam Bermi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.316 KB) | DOI: 10.59259/jd.v2i1.29

Abstract

Belis dalam istilah didesa nanga mbaur disebut sebagai prongkosan perkawinan yakni, salah satu tradisi dengan bertujuan untuk melaksanakan perkawinan yang sah, dalam hal ini belis juga sebagai tuntutan adat yang telah menjadi budaya turun temurun serta bagian kehormatan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat wabil kusus di desa nanga mbaur, Dalam praktik keseharian didesa nanga mbaur besarnya jumlah belis atau perongkosan perkawinan merupakan salah satu masalah yang mendapat reaksi berbagai kalagan serta kendala bagi masyarakat didesa nanga mbaur dalam melaksanakan perkawinan, dalam hukum Islam jumlah belis bukanlah sesuatu hal yang mutlak yang harus dipenuhi dalam perkawinan, lalu bagaimana dengan penetapan jumlah belis dalam perkawinan di desa nanga mbaur prespektif maslahah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis dengan mengumpulkan data-data yang bersifat konseptual dan dianalisis dengan metode miles dan huberman. Tulisan ini mendeskripsikan tentang penetapan jumlah belis dalam perkawinan yang selama ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang konsep pernikahan dalam islam, serta penetapan jumlah belis dalam perkawinan terlalu besar dan memberatkan bagi pria laki-laki, hasilnya adalah banyak kalangan masyarakat menunda pernikahan Karen alasan biaya pernikahan terlalu besar, sangat tidak dianjurkan karena akan menjerumus kepada hal yang mengarah pada kemaksiatan, sedangkan memudahkan pernikahan dengan tidak memberatkan adalah perbuatan yang mulia.