Dwi Setiyadi, Dwi
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Performance Assessment : Sebuah Dilema Penilaian Hasil Pembelajaran Setiyadi, Dwi
Jurnal Pendidikan Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Jurnal Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is attempted to figure out the nature and essence of performance assessment in the point if view of lecturers of higher educational instituion around Madiun Municipality. Theories have launched their judgement that performance assessment is regarded better than a sole pencil-and-paper test, in terms that it records the broader scope of students achievement, not only cognitively but also affectively and psychomotorically. Inspite of the approval from lecturers that performance assessment is theoretically better than pencil-and-paper test, they (lecturers) are reluctant to implement the performance assessment model, for its complicated natures. The research method applied to get data is survey, so as to draw ‘mapping’ of lecturers responds on performance assessment. The result of the analysis shows contradiction between what lecturers say and what they do in relation to the implentation of performance assessment.Key words  :  performance assessment, dilema
Affective Assessment dari Teori Menuju Penerapannya dalam Pembelajaran Setiyadi, Dwi
Jurnal Pendidikan Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Jurnal Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Affective variable is regarded essential in teaching process. The learners’s attitude against learning process, for example, can significantly influence their achievement. Values which students nurture about truth and integrity will be consequently reflected in their daily conducts. Students’ appreciation against anything will affect everything they do. It is then critical for teachers to design affective assessment.Realities shows that very view of teachers have been willing to seriously design the nurturing model of students’ affection in learning. Teachers should realize when their students become awfully depressed against the learning process because of one and other things. Unfortunately, it is veru rarely heard that teachers systematically make a record on the students’ affection.This article discusses some aspects related to students’ affection against the learning process, and then serves practical procedures, step-by-step to make a record on the students affection in relation to values and attitudes which are critical in learning process. Keywords: Affective assessment, instruction
TEKNIK PENERJEMAHAN DAN KUALITAS TERJEMAHAN EPIGRAF DARI BAHASA INGGRIS KE BAHASA INDONESIA Utama, Amanda Christiane; Setiyadi, Dwi; Ricahyono, Sigit
Widyabastra : Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/widyabastra.v11i2.19060

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan teknik dan kualitas penerjemahan epigraf dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sumber datanya adalah buku berbahasa Inggris karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Patty Hansen berjudul “CSFTS Divorce and Recovery” dalam berbahasa Inggris dan telah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Susi Purwoko dengan judul “CSFTS Menyembuhkan Luka Perceraian”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui teknik penerjemahan serta menganalisis tingkat keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan hasil terjemahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan cara mengambil sampel epigraf dari sejumlah bab untuk dianalisis teknik dan kualitas terjemahannya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendapat Molina dan Albir tentang 18 teknik penerjemahan (adaptasi, amplifikasi, peminjaman, kalke, kompensasi, deskripsi, kreasi diskursif, padanan lazim, generalisasi, amplifikasi linguistik, kompresi linguistik, terjemahan harfiah, modulasi, partikularisasi, reduksi, substitusi, transposisi, dan variasi). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penerjemah menggunakan penerjemahan literal, transposisi, kompensasi, reduksi, amplifikasi, modulasi, padanan lazim, kreasi diskursif, dan peminjaman. Sedangkan untuk kualitas terjemahan, peneliti menggunakan teori dari Nababan, Nuraeni dan Sumardiono mengenai 3 aspek kualitas terjemahan (keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan). Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 18 data akurat dan 5 data kurang akurat; 10 data berterima, 9 data kurang berterima, dan 4 data tidak berterima; 21 data dengan tingkat keterbacaan tinggi, 2 data dengan tingkat keterbacaan sedang.
Peningkatan Kemampuan Menulis Pantun Dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Menggunakan Media Kartu Kata Pada Siswa SD Sumaryani, Sumaryani; Setiyadi, Dwi; Ricahyono, Sigit
Wewarah: Jurnal Pendidikan Multidisipliner Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/wjpm.v3i2.20568

Abstract

The purpose of this study is to demonstrate how fifth-grade students at SDN 7 NgrayunPonorogo can enhance their pantun writing skills by using word card media in conjunction with the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach. Through observations, interviews, and documentation, data were gathered from informants, events, and documents using Classroom Action Research (CAR). Triangulation was used to assess the authenticity of the data. The average scores increased from 65.1 prior to the cycle to 72.3 in Cycle I and 86.35 in Cycle II, according to the results. The use of word card media in the CTL approach has been shown to improve student engagement and pantun writing abilities.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media kartu kata untuk meningkatkan kemampuan menulis pantun siswa kelas V SDN 7 Ngrayun Ponorogo. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan sumber data berupa informan, peristiwa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan validitas dijamin melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 65,1 sebelum siklus menjadi 72,3 pada Siklus I dan 86,35 pada Siklus II. Pendekatan CTL dengan media kartu kata terbukti efektif meningkatkan keterlibatan dan keterampilan menulis pantun siswa. 
Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik Reka Gambar dengan Menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning untuk Siswa Kelas VI SD Rahayu, Puji Nur; Setiyadi, Dwi; Ricahyono, Sigit
Wewarah: Jurnal Pendidikan Multidisipliner Vol 2, No 3 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/wjpm.v2i3.19430

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara dengan menggunakan model pembelajaran penemuan teknik rekonstruksi gambar. Siswa menggunakan foto cetakan untuk presentasi mereka pada Siklus I, namun grafik PowerPoint yang menarik digunakan pada Siklus II. Rata-rata nilai kemampuan berbicara pada Siklus I sebesar 66,33 dengan ketuntasan 66%, sedangkan pada Siklus II nilai rata-rata kemampuan berbicara sebesar 80,0 dengan ketuntasan 80%. Hasil ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hasilnya, penggunaan rekonstruksi gambar bersamaan dengan pembelajaran eksplorasi membantu siswa menjadi pembicara yang lebih mahir. Namun, ada masalah dengan kemampuan generalisasinya untuk semua lingkungan pembelajaran.The goal of the study was to improve speaking abilities by using the discovery learning model to the picture reconstruction technique. Students used print-out photos for their presentations in Cycle I, but interesting PowerPoint graphics were used in Cycle II. The average speaking ability score in Cycle I was 66.33 with 66% mastery, while Cycle II's average score was 80.0 with 80% mastery. These results revealed a significant improvement. As a result, using picture reconstruction in conjunction with exploration learning helps students become more proficient speakers. However, there are issues with its generalizability to all learning environments
Nilai Moral Cerita Fabel Karya Ahmad Filyan Sebagai Bahan Ajar Apresiasi Sastra di Kelas Tinggi Sekolah Dasar Nurwidayati, Aviyanti; Setiyadi, Dwi; Saputro, Agung Nasrulloh
Wewarah: Jurnal Pendidikan Multidisipliner Vol 3, No 1 (2024)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/wjpm.v3i1.19491

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas tentang nilai moral pada cerita pendek fabel karya Ahmad filyan sebagi bahan ajar apresiasi sastra kelas tinggi di sekolah dasar. Metode penelitian yang di gunakan adalah deskriptif kualitatif. Jenis penelitian dokumen analisis yaitu menganalisis isi dari cerita pendek fabel karya Ahmad Filyan. Instrumen yang digunakan teknik baca dan catat. Teknik pengumpulan data penulis membaca berulangulang cerita pendek fabel karya Ahmad Filyan kemudian menganalisis nilai moral yang terkandung pada cerita pendek tersebut dan kemudian mencatatnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada cerita pendek fabel karya Ahmad Filyan terdapat nilai moral yang menunjukkan adanya kejujuran, kesediaan untuk bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, dan kerendahan hati. Sehingga bisa menjadi bahan ajar apresiasi sastra pada kelas tinggi Sekolah Dasar.This research aims to obtain a clear description of the moral values in the short fables written by Ahmad Filyan as teaching material for literary appreciation in upper elementary classes. The research method used is qualitative descriptive. The type of research is document analysis, which involves analyzing the content of the short fables by Ahmad Filyan. The instrument used is the reading and notetaking technique. The data collection technique involves reading the short fables by Ahmad Filyan repeatedly, analyzing the moral values contained in the short stories, and then recording them. The results of the research show that in the short fables by Ahmad Filyan, there are moral values that indicate honesty, a willingness to take responsibility, moral independence, moral courage, and humility. Therefore, they can be used as teaching material for literary appreciation in upper elementary clas