Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SOSIALISASI PENYULUHAN HUKUM PERNIKAHAN DINI PEMAHAMAN MASYARAKAT DALAM ISLAM (Studi Lapangan Di Kampung Cideng, Kresek, Kabupaten Tangerang) Marpi, Yapiter; Farhan, Ahmad; Untari, Retno; Wulandari, Hilda; Sidqi, Ahmad
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bersinergi Inovatif Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bersinergi Inovatif
Publisher : PT. Gelora Cipta Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan menjadi persoalan yang sangat utama dan penting dalam agama islam, bahkan karena pentignya Rasulullah SAW bersambda Barang siapa menikah, maka telah melengkapi separuh dari agamanya. Pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan adalah dalam bentuk edukasi dan konsultasi kepada masyarakat melalui penyuluhan hukum. Pelaksanaan kegitan pengabdian ini dengan mengunakan metode ceramah, diskusi dan Tanya jawab. Langkah-langkah kegiatan 1) perencanaan, 2) Pelaksanaan, dan 3) evaluasi.  Proses pelaksanaan kegitan dapat berjalan dengan baik karena adanya kerjasama antara tim Pengabdian masyarakat dengan mitra. Dalam hal ini mitra berkontribusi penuh dalm menyiapkan waktu, alat, bahan serta kebutuhan-kebutuhan yang digunakan selam kegiatan pengabdian. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian pada masyarakat dapat disimpulkan bahwa kasus pernikahan dini di Kampung Cideng, Kresek, Kabupaten Tangerang tidak terlalu banyak, dan melalui penyuluhan ini masyarakat semakin memahami pentingnya kematangan usia perkawinan
THE PROBLEMS OF JÜRGEN HABERMAS’s DELIBERATIVE DEMOCRACY THEORY Sidqi, Ahmad
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 01 (2023): FILSAFAT DAN AGAMA
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i01.28

Abstract

Jürgen Habermas a German philosopher who adopts of Karl Marx’s thought in the social order. However, Habermas does not immediately accept of the raw Marx’s thought. Habermas with rationalism as the epistemology. The Critical Theory criticize the sciences positive as the science of economics, sociology, technology, psychology; and also philosophy. The sciences is not questioned the direction of the process of the community itself. In a critique of the ideology of Habermas through the role of basic ethics and adopt the Immanuel Kant’s thought. Habermas to a blurb about dialectical theory of hermeneutic action through Aufhebung (hermeneutics of philosophy and psychoanalysis). Habermas was critique to postmodernism that universal as hegemony and discriminative to getting a plural morality Habermas's critical theory is a kind of epistemology that seeks to mate between objectivity and subjectivity, between scientists and philosophers, between the ontentic and the articulate. Critical theory also tries to expose the traditional theory, because it positions the object as untouchable, as it is. So difficult to capture its meaning by humans. This makes the object seem very sacred and must be received unanimously. The democracy of Habermas is deliberative democracy. Deliberative democracy aims to find a middle ground between Western liberalism and Asian and Islamic communitism. This assumption is established in a democratic form in the form of an intensive political system and public sphere.
Criminological Review of the Crime of Terrorism in Indonesia (Case Study at Cipinang Class I Correctional Institution, East Jakarta) Wulandari, Hilda Adinta; Monied, Defira; Sidqi, Ahmad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.13577

Abstract

Extraordinary crime adalah suatu kejahatan yang berdampak besar dan multidimensional terhadap sosial, budaya, ekologi, ekonomi dan politik. Pendekatan kriminologis diarahkan pada pemahaman faktor-faktor penyebab, karakteristik pelaku, serta upaya penanggulangan dan deradikalisasi di lingkungan lapas. Sudah menjadi kewajiban negara untuk melakukan pencegahan tindak pidana terorisme di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membentuk dan menyebabkan seseorang melakukan perbuatan tindak pidana terorisme menurut perspektif kriminologi diantaranya faktor lingkungan, keluarga, kerabat, teman, ekonomi, faktor lemahnya pendidikan, faktor persepsi masyarakat terhadap keadilan, kekecewaan terhadap pemerintah, motif balas dendam, pemahaman agama yang dangkal dan penafsiran terhadap kitab suci yang sempit serta media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan ideologi kekerasan. Pelaksanaan penanggulangan melalui program deradikalisasi terhadap narapidana terorisme terdiri dari beberapa program yaitu Identifikasi/program pembinaan perilaku disiplin, rehabilitasi atau pembinaan kesadaran beragama dan berbangsa bernegara, re-edukasi program pembinaan kesadaran hukum dan intelektual dan reintegrasi/program pembinaan kemandirian.