Kasdin Sihotang, Kasdin
Atma Jaya School Of Economic And Bussiness Atma Jaya Catholic University Of Indonesia

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Implementasi Tanggung Jawab Moral dalam Profesi Akuntansi Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20, No 01 (2015): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.021 KB)

Abstract

Abstract: Moral responsibility is one of the ethical principles of profession. It means one’s ability to do the job best and to respons the question on problems that appear in his job according to the ethical principles. Tere are two aspects of the moral responsibility of profession. First, it includes of doing job freely, being aware of job procedures and having good knowledge. Second, he dare to takes risk on job. Accountance needs this aspects as well. It means, accountant does best the job by doing it freely and being aware of what he will do, and having good knowledges. In addition, accountance is responsible for the consequences of his opinion or decision. In short, moral responsibility counts on two things, that are to do the job best and dare to take the risk on job.Key Words: Moral responsibility, freedom, counsiousness, good knowledge, technical competences, moral competences, accountant, auditor and auditee, subject.Abstrak: Tanggung jawab moral merupakan salah satu dari prinsip etis profesi. Tanggung jawab moral adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya serta memberikan tanggapan terhadapnya berdasarkan prinsip-prinsip etis. Dari pengertian ini, ada dua aspek tanggung jawab moral, yakni menunjukkan diri sebagai seorang profesional yang bermutu dan berani menjawab persoalan-persoalan yang muncul di dalamnya. Aspek pertama meliputi pengakuan diri sebagai pribadi yang bebas, sadar dan tahu apa yang akan dilakukan serta kecintaan pada pekerjaannya. Apek kedua, seorang profesional berani menanggung risiko dari perbuatannya. Esensi tanggung jawab ini juga berlaku bagi profesi akuntansi. Ini berarti, seorang akuntan menyadari diri sebagai orang bebas. Ia juga secara sadar akan prosedur-prosedur pekerjaannya dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu seorang akuntan berani menanggung resiko dari perbuatannya. Singkatnya, tanggung jawab moral adalah kemampuan kaum profesional menggunakan kompetensi teknis dan kompetensi etis dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Immoralitas Fraud dan Upaya Preventifnya Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 24, No 02 (2019): Respons - Jurnal Etika Sosial
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Fraud merupakan tindakan penipuan dengan tujuan mendapatkan uang atau memuaskan kepentingan pribadi. Motif utama di balik tindakan fraud adalah ekonomi, yakni mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi diri sendiri atau perusahaan dengan menghalalkan segala cara. Dengan kata lain, fraud adalah tindakan tidak etis, karena tindakan ini mengabaikan kejujuran, merampas hak orang lain, serta mematikan tanggung jawab terhadap hak dan hidup orang lain. Melihat berbagai dampak negatif ini, fraud harus dihentikan. Cara menghentikannya adalah meningkatkan kualitas etis pribadi dengan menghidupkan kesadaran moral individu dan menerapkan tata kelola yang baik di perusahaan dengan memberlakukan prinsip tatakelola, yakni transparansi, tanggung jawab, akuntabilitas dan fairness dalam kegiatan bisnis.KATA KUNCI: fraud, immoralitas, tata kelola, konsientisasi.ABSTRACT: Fraud is a criminal kind of deception intended for fi nancial or personal gain. Fraud is motivated by economy, intended to gain a big profi t for oneself orcompany. In other words, fraud is an unethical action, because it neglects honesty, deprives someone’s rights, and subverts responsibility for the rights and lives of others. Considering these negative eff ects, fraud must be prevented by increasing ethical awareness and implementing good corporate governance, based on transparency,accountability, responsibility and fairness in business activities.KEYWORDS: fraud, immorality, governance, conscientization.
Bentuk-Bentuk Etika Bermedia Sosial Generasi Milenial Sri Hapsari Wijayanti; Kasdin Sihotang; Vanessa Emmily Dirgantara; Maytriyanti
Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 2 (2022): VOLUME 16 NO 2 APRIL 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol16.iss2.art3

Abstract

This study aims to reveal and identify forms of social media etiquette for the millennial generation in Jakarta. Participants of this study were 268 students at a private university in Jakarta. The social media observed were Facebook, Instagram, WhatsApp, and Line. From the results of distributing online questionnaires, online interviews, documentation, and observations in the lecture and student organizations, it was found that the language used on social media between lecturers and students was formal and informal Indonesian. The language used on social media between students and peers is Indonesian and English, mixed with alay (slang). Social media etiquette includes not offending others, rereading messages before being sent, choosing the right time, choosing polite words for permitting, saying greetings, saying thanks, introducing him/herself, and not interrupting the talk. Nevertheless, etiquette violations are found in using impolite or sarcastic words.
BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI GENERASI MILENIAL DI SOSIAL MEDIA Wijayanti, Sri Hapsari; Sihotang, Kasdin; Dirgantara, Vanessa Emmily; Maytriyanti, Maytriyanti
BASINDO : jurnal kajian bahasa, sastra Indonesia, dan pembelajarannya Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Departemen Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um007v6i12022p84-99

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasikan bentuk-bentuk komunikasi di Facebook, Instagram, Line, dan Whatsapp. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Responden penelitian ini adalah 268 mahasiswa di Jakarta. Data dikumpulkan menggunakan g-form dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa bahasa yang digunakan mahasiswa adalah  campuran bahasa Indonesia nonformal, bahasa daerah, bahasa Inggris, dan bahasa alay. Bentuk komunikasi meliputi singkatan dan akronim, emotikon, stiker, permainan huruf, penggunaan tanda seru, tanda tanya, tanda petik, angka dua, huruf kecil, huruf kapital, penambahan sufiks, eufemisme,kiasan, dan perubahan fonem.
Pemberdayaan Perempuan Dalam Mendaur Ulang Botol Sampah Plastik Di Kawasan Wisata Desa Borobudur Wijayanti, Sri Hapsari; Ristyantoro, Rodemeus; Sihotang, Kasdin; Harisson, Alfonso; Theodora Jessica; Cecilia Francessa
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v13i2.67762

Abstract

Desa Borobudur merupakan salah satu kawasan wisata yang selalu ramai pengunjung. Dampak yang paling dirasakan dari kedatangan pengunjung ialah timbulan sampah. Sampah anorganik, seperti botol plastik, berpotensi untuk didaur ulang menjadi aneka produk bernilai ekonomis. Kaum perempuan di wilayah homestay belum memiliki keterampilan mendaur ulang botol sampah plastik (bostik). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pemberdayaan perempuan dalam mendaur ulang botol sampah plastik di kawasan wisata. Tahapan kegiatan ini meliputi persiapan, pelatihan, penugasan, pendampingan, monitoring dan evaluasi. Subjek penelitian ini terdiri dari 21 perempuan. Hasil kegiatan ini memperlihatkan bahwa kaum peremuan di Dusun Ngaran II sudah mampu mengolah daur ulang botol plastik menjadi aneka produk, seperti bunga plastik, lampu hias, miniatur Candi Borobudur dan Gereja Ayam. Meskipun masih menunjukkan kekurangan, para perempuan termotivasi untuk berkarya lebih baik dan lebih bervariasi. Pada peserta berharap dapat berwirausaha untuk menambah penghasilan keluarga. Implikasi pengabdian yaitu kegiatan ini menunjukkan keberhasilan dalam menyadarkan kaum perempuan untuk peduli terhadap lingkungan dengan cara mengurangi sekaligus mendaur ulang limbah sampah botol plastik.
PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN APLIKASI CANVA UNTUK MENUNJANG PEMBELAJARAN SISWA SEKOLAH DASAR Wijayanti, Sri Hapsari; Harrison, Alfonso; Rodemeus Ristyantoro; Kasdin Sihotang; Theodora Jessica; Cecilia Francessa6
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v13i1.69195

Abstract

Variasi media pembelajaran berupa video pembelajaran dilaporkan efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Masalahnya, membuat video pembelajaran membutuhkan keahlian tersendiri yang belum dikuasai oleh guru-guru di Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang. Tujuan kegiatan ini ialah membantu guru-guru SDN yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru Gugus 10 Kecamatan Cisauk agar dapat membuat video pembelajaran menggunakan Canva free untuk mendukung pembelajaran. Jumlah peserta sebanyak 23 guru dari sembilan SDN di Kecamatan Cisauk. Metode kegiatan berupa pelatihan, pendampingan, penugasan, monitoring dan evaluasi. Pelatihan diselenggarakan secara luring selama dua kali pertemuan, sedangkan pendampingan secara daring dalam dua kali pertemuan. Dari hasil pretest dan postest diketahui ada peningkatan pengetahuan guru terhadap teknik pembuatan video dan penggunaan Canva. Hasil evaluasi terhadap video yang dihasilkan guru menunjukkan bahwa guru sudah dapat membuat video secara kreatif dengan memanfaatkan fitur-fitur di dalam Canva. Selain disampaikan dengan bahasa sederhana, video pembelajaran dilengkapi dengan soal dan latihan yang siap dibagikan kepada siswa.
PROBLEMATIKA EKSISTENSIAL PENDIDIKAN HUMANIORA BERBASIS MEDIA TEKNOLOGI DIGITAL SECARA DARING Sihotang, Kasdin
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 1 No 01 (2021): Vol 1 No 01 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.699 KB) | DOI: 10.26593/jsh.v1i01.4967

Abstract

Education is a path of humanization and hominization. Through education the subject develops multidimension of human being in order to be more human. The development of multidimensional humanity is existentially taking place through personal encounters between educators and students. But Covid 19 has changed all that. The essence of education based on personal and direct relationships between educators and students is considered threating, because it can become a new cluster in the spread of Covid 19. Therefore, the form of teaching that is considered appropriate is online-based learning. This learning model does not prioritize direct relationships, but rather relationships mediated by technology. This form of relationship certainly has two sides. On the one hand, the use of digital technology helps reduce the anxiety of parents, while helping the government overcome the spread of virtues. But on the other hand, it is also necessary to look at the fundamental problems that are present behind the use of digital technology. The fundamental problem concerns several things: first, the elimination of educational values as a form of co-living characterized by interpersonal relationships. Second, the problem of justice, be it commutative justice and legal justice that supposes the availability of technology equally and adequately as a means of use, but in reality, is not. The third, the formation of digitally characterized human being, that are heteronomy, passive attitudes, and absolute dependence.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DARI SUDUT PANDANG HUKUM LINGKUNGAN: STUDI PADA SUKU BADUY, PROVINSI BANTEN Siombo, Marhaeni Ria; Sinaga, Valerei Selvie; Sihotang, Kasdin
Bina Hukum Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 7, Nomor 1, Oktober 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia terikat untuk melaksanakan kewajiban menjaga luas hutannya sebagai konsekuensi telah meratifikasi beberapa konvensi tentang perubahan iklim. Disisi lain maraknya kebakaran hutan, akan melemahkan posisi Indonesia dalam pergaulan dunia secara ekonomi dan sosial budaya. Pada bulan September 2019 kebakaran hutan serentak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Total luas hutan yang terbakar kurang lebih 322 ribu hektare (Sumber: KLHK). Tujuan penelitian ini adalah ingin menggali informasi kearifan lokal masyarakat Suku Baduy Dalam, dengan menggunakan metode observasi. Sumber hidup utama warga suku baduy dalam adalah memanfaatkan areal hutan untuk bertani dan berkebun. Mereka memiliki tradisi yang arif dan bijaksana, memiliki nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman dalam mereka berinteraksi dengan hutan termasuk dalam memanfaatkannya. Hasil penelitian disimpulkan bahwa konsep kehutanan yang berkelanjutan sudah mereka laksanakan dalam kehidupan kesehariannya, tidak mengeksploitasi hutan karena mereka memanfaatkan sesuai kebutuhan hidupnya. Sebagai saran (rekomendasi) dari penelitian ini dalam rangka mencapai pembangunan kehutanan yang berkelanjutan dan partisipasi Indonesia dalam mengatasi climate change maka regulasi tingkat daerah dan nasional harusnya berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DARI SUDUT PANDANG HUKUM LINGKUNGAN: STUDI PADA SUKU BADUY, PROVINSI BANTEN Siombo, Marhaeni Ria; Sinaga, Valerei Selvie; Sihotang, Kasdin
Bina Hukum Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 7, Nomor 1, Oktober 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia terikat untuk melaksanakan kewajiban menjaga luas hutannya sebagai konsekuensi telah meratifikasi beberapa konvensi tentang perubahan iklim. Disisi lain maraknya kebakaran hutan, akan melemahkan posisi Indonesia dalam pergaulan dunia secara ekonomi dan sosial budaya. Pada bulan September 2019 kebakaran hutan serentak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Total luas hutan yang terbakar kurang lebih 322 ribu hektare (Sumber: KLHK). Tujuan penelitian ini adalah ingin menggali informasi kearifan lokal masyarakat Suku Baduy Dalam, dengan menggunakan metode observasi. Sumber hidup utama warga suku baduy dalam adalah memanfaatkan areal hutan untuk bertani dan berkebun. Mereka memiliki tradisi yang arif dan bijaksana, memiliki nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman dalam mereka berinteraksi dengan hutan termasuk dalam memanfaatkannya. Hasil penelitian disimpulkan bahwa konsep kehutanan yang berkelanjutan sudah mereka laksanakan dalam kehidupan kesehariannya, tidak mengeksploitasi hutan karena mereka memanfaatkan sesuai kebutuhan hidupnya. Sebagai saran (rekomendasi) dari penelitian ini dalam rangka mencapai pembangunan kehutanan yang berkelanjutan dan partisipasi Indonesia dalam mengatasi climate change maka regulasi tingkat daerah dan nasional harusnya berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat.
PROBLEMATIKA EKSISTENSIAL PENDIDIKAN HUMANIORA BERBASIS MEDIA TEKNOLOGI DIGITAL SECARA DARING Sihotang, Kasdin
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 1 No 01 (2021): Vol 1 No 01 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v1i01.4967

Abstract

Education is a path of humanization and hominization. Through education the subject develops multidimension of human being in order to be more human. The development of multidimensional humanity is existentially taking place through personal encounters between educators and students. But Covid 19 has changed all that. The essence of education based on personal and direct relationships between educators and students is considered threating, because it can become a new cluster in the spread of Covid 19. Therefore, the form of teaching that is considered appropriate is online-based learning. This learning model does not prioritize direct relationships, but rather relationships mediated by technology. This form of relationship certainly has two sides. On the one hand, the use of digital technology helps reduce the anxiety of parents, while helping the government overcome the spread of virtues. But on the other hand, it is also necessary to look at the fundamental problems that are present behind the use of digital technology. The fundamental problem concerns several things: first, the elimination of educational values as a form of co-living characterized by interpersonal relationships. Second, the problem of justice, be it commutative justice and legal justice that supposes the availability of technology equally and adequately as a means of use, but in reality, is not. The third, the formation of digitally characterized human being, that are heteronomy, passive attitudes, and absolute dependence.