Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Rekonstruksi Budaya Rima, Febiana
Jurnal Etika Respons Vol 14, No 02 (2009): Jurnal Etika Respons
Publisher : Jurnal Etika Respons

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Violence against women manifests itself in many ways in our age. It could happen in family, in school, and in society at large. Especially in patriarchal culture, violence has its root in the doctrine that women and men are not equal. The natural differences of both were constructed into social relation that puts men on the highest position of power relation pyramid. Violence in this culture is an instrument to keep and protect the power of men. Searching thesolution to this social issue, this article promotes a political reconstruction that based on the universal declaration of human rights and political communication.
INDUSTRI PANGAN, JAJANAN SEKOLAH, DAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI KONSUMEN Febiana Rima; Rodemeus Ristyantor
Jurnal Paradigma Hukum Pembangunan Vol 2 No 01 (2017): Jurnal Paradigma Hukum Pembangunan
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/paradigma.v2i01.1759

Abstract

Tulisan ini berfokus pada tanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada konsumen anak, terutama anak-anak sekolah dasar, yang menjadi sasaran dari produk jajanan sekolah. Anak-anak sebagai konsumen belum memiliki kemampuan untuk menentukan pilihannya yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana sehingga ketidakmampuan itu menimbulkan kewajiban kepada orang dewasa di sekitar anak untuk memberikanperlindungan. Pemerintah dalam upaya memberikan perlindungan kepada konsumen sudah mengundangkan UU No.8 tahun 1999 mengenai Perlindungan terhadap konsumen. Undangundang ini dalam implementasinya masih menunjukkan ketidakefektifannya karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui UU tersebut. Di sisi lain pengetahuan dan kepedulian orang tua menyangkut perlindungan terhadap anak dalam hal jajanan sekolah masih rendah. Perlindungan terhadap anak menjadi hal yang harus segera mendapatkan perhatian karena anak-anak adalah generasi penerus yang akan menentukan manusia Indonesia di masa depan.
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Rekonstruksi Budaya Febiana Rima
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14 No 02 (2009): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v14i02.413

Abstract

Violence against women manifests itself in many ways in our age. It could happenin family, in school, and in society at large. Especially in patriarchal culture, violence has its rootin the doctrine that women and men are not equal. The natural differences of both wereconstructed into social relation that puts men on the highest position of power relation pyramid.Violence in this culture is an instrument to keep and protect the power of men. Searching thesolution to this social issue, this article promotes a political reconstruction that based on theuniversal declaration of human rights and political communication.
Keutamaan Dalam Tembang Sinom dari Gending Sekar Macapat Febiana Rima; Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i02.550

Abstract

Gending merupakan salah satu tradisi bernyanyi yang tidak pernahditinggalkan oleh orang Jawa. Dalam budaya Jawa, gending bukan sekedar artefakyang menggambarkan jiwa estetis orang Jawa tetapi di dalam gending ada nasihatnasihatbijak dan cara berpikir filosofis yang akan diajarkan kepada anak-anak generasipenerusnya tentang bagaimana sejatinya manusia harus hidup. Menghargai alam,menjaga relasi antar sesama manusia dan membangun kesadaran diri sebagai manusiamerupakan inti ajaran dari seni tersebut. Macapat adalah salah satu jenis gending Jawaberisi kumpulan lagu. Macapat muncul pada akhir Majapahit saat mulainya pengaruhWalisanga di Jawa Tengah sedangkan di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenalsebelum datangnya Islam. Tujuan dari tulisan ini adalah memperkenalkan Macapatsebagai ajaran tentang tentang hidup yang baik melalui menghargai hidup bersamasemua makluk hidup. Gending is one of the Javanese living traditions in teaching childrenabout virtue by singing. Gendhing in Javanese culture is not mere artifact expressingJavanese sense of art but it is more an art of teaching and developing practical wisdomto children in order to have virtue in living a live as human being. Respect to livingbeings both nature and human is the main concern of Gending. Macapat is consideredas a kind of gending consisting songs. Macapat in the end of Majapahit empire mainlyduring the time of Walisanga spreading their Islamic influences in Central Java whilein East Java and Bali Island sedangkan di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenalsebelum datangnya Islam Macapat was developed before the coming of Islam. The aimof this paper is to introduce as a kind of moal taching how to live a good live throughrespect to all living beings.
Muhammad Yamin : Upaya Menyatukan Benang-Benang Keanekaan dalam Simpul Persatuan Febiana Rima Kainama
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.748

Abstract

Muhammad Yamin adalah seorang tokoh nasional yang bersama Soekarno dan Mohamad Hatta berjuang melahirkan Republik Indonesia. Yamin dengan latar belakangnya sebagai penyair dan ahli hukum telah lama mencita-citakan Indonesia, yang terdiri atas berbagai keanearagaman menjadi negara merdeka dan bersatu. Kesatuan Indonesia diyakini Yamin sebagai nasib yang sudah ditentukan sejak awal bagi bangsa Indonesia. Bagi Yamin keindonesiaan merupakan kehendak untuk hidup bersama mengatasi segala perbedaan-perbedaan yang ada. Romantisme sebagai penyair memandang fakta perbedaan sebagai sesuatu yang indah dan dapat dikelola menjadi kehidupan bersama yang harmonis dalam persatuan sebagai bangsa. Ide persatuan Yamin diawalinya dengan menegaskan perlunya satu bahasa yang menjadi bahasa persatuan sebagai jembatan yang bisa menghubungkan keanekaragaman dengan demikian berbagai keragaman dan perbedaan dapat dikomunikasikan denganbaik. Ide Unitarisme diolah oleh Yamin sehingga unitarisme Yamin bukan sekedar konsep politik namun yang lebih kuat dari itu gagasan ini merupakan konsep budaya yang kelak diharapkan mampu membentuk kesatuan karakter.
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Rekonstruksi Budaya Febiana Rima
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 14, No 02 (2009): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.617 KB)

Abstract

Violence against women manifests itself in many ways in our age. It could happenin family, in school, and in society at large. Especially in patriarchal culture, violence has its rootin the doctrine that women and men are not equal. The natural differences of both wereconstructed into social relation that puts men on the highest position of power relation pyramid.Violence in this culture is an instrument to keep and protect the power of men. Searching thesolution to this social issue, this article promotes a political reconstruction that based on theuniversal declaration of human rights and political communication.
MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI RASIONALITAS EKONOMI DARI PERSPEKTIF EMBEDEDDNESS ECONOMICS Urbanus Ura Weruin; Febiana Rima Kainama2
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.433 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.18484

Abstract

Riset kepustakaan (library research) dengan metode analisi isi ini bertujuan untuk menunjukkan pertimbangan terhadap rasionalitas ekonomi dari perspektif sosiologi ekonomi menurut konsep embededdness economics. Artikel ini dimulai dengan menunjukkan pengertian rasionalitas, memetakan rasionalitas ekonomi menurut pemikiran ekonomi neoklasik, merumuskan pemahaman tentang rasionalitas ekonomi menurut perspektif embededdness economics, untuk kemudian merumuskan karakteristik dan kritik terhadap rasionalitas ekonomi dari perspektif embededdness economics. Menurut konsep ‘ketertanaman’ ekonomi ini, asumsi dan gambaran tentang “manusia ekonomi” yang sepenuhnya rasional karena mampu mempertimbangkan semua prilaku ekonomi secara tepat dan holistik sebagaimana dianut oleh Rational Choice Theory (RCT) tak lagi memadai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika ekonomi neoklasik memahami rasionalitas prilaku ekonomi bersifat subjektif, mendasarkan diri pada penalaran, self-interest; mengedepankan kegunaan; holistik karena kemampuan rasional individu, serta bersifat pasti; pandangan sosiologi ekonomi dengan konsep embededdness rationality justru menunjukkan bahwa rasionalitas atau kalkulasi ekonomi tidak pernah hanya bersumber dari pikiran, idea, gagasan individual-subjektif yang steril dari pengaruh lingkungan atau jaringan sosial, melainkan bersumber pada jaringan  relasi sosial. Referensi bagi rasionalitas ekonomi bukan semata-mata pada individu yang rasional, self-interest, melainkan pada social-interest, altruism, atau demi kebaikan bersama. Karena pemikiran dan prilaku ekonomi tertanam dalam insititusi, relasi, dan jaringan sosial. Prilaku ekonomi tidak tercerabut dari institusi dan relasi sosial lain di luar ekonomi. Pasar sebagai institusi dan praktik ekonomi, ditentukan oleh ide, kalkulasi, pertimbangan, dan keputusan sosial, politik, dan kebudayaan. Rasionalitas ekonomi, menurut sosiologi ekonomi, merupakan blanded rationality; tertanam dalam lingkungan, insititusi, dan jaringan sosial (networking rationality); dan dengan demikian tidak pernah pasti dan komplet.
KRITISI SISTEM PERTANGGUNG JAWABAN NEGARA ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM STUDI PERBANDINGAN ACTIO POPULARIS DI HUNGARIA Halomoan Benarivo; Putri Purbasari Raharningtyas; Febiana Rima Kainama
Gloria Justitia Vol 1 No 2 (2021): JURNAL GLORIA JUSTITIA
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/gloriajustitia.v1i2.3069

Abstract

Citizens' lawsuits or commonly referred to as Citizen Lawsuits or Actio Popularis are the main access for citizens to sue the government because of their negligence in making decisions that result in unlawful acts committed by the government. In Indonesia, this lawsuit is not familiar to the public because actually this lawsuit is growing rapidly in the common law system country, but due to several things, Indonesia has finally implemented this. In fact, this lawsuit is also developing in Civil Law countries, for example Hungary, but because it is not as popular as in the United States as a common law system, Indonesia finally uses the term applied in common law countries, namely citizen lawsuit and does not use the term developed in civil law countries, namely action popularis. As a result, citizen lawsuits that develop in Indonesia are far from perfect, and often result in misunderstandings or misinterpretations and lead to inappropriate judges' decisions.
CITRA KEPEMIMPINAN SEBAGAI PELAYAN MENURUT ETIKA EMMANUEL LEVINAS URBANUS URA WERUIN; FEBIANA RIMA KAINAMA
JURNAL EKONOMI, SOSIAL & HUMANIORA Vol 6 No 02 (2024): INTELEKTIVA : JURNAL EKONOMI, SOSIAL DAN HUMANIORA - EDISI MEI -ADUSTUS 2024
Publisher : KULTURA DIGITAL MEDIA ( Research and Academic Publication Consulting )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini kesuksesan sebuah organisasi sebagian ditentukan oleh model dan praktik kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi tersebut, apa pun organisasinya. Seorang pemimpin dituntut tidak hanya memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidangnya melainkan juga memiliki tipe dan gaya kepemimpinan yang tepat. Umumnya orang mengenal beberapa gaya kepemimpinan dalam organisasi yakni kepemimpinan otokratis, demokratis, karismatik, inovatif, partisipatif, transaksional, delegatif, situasional, transformasional, dan servant leadership. Model kepemimpinan pemimpin sebagai pelayan merupakan model kepemimpinan etis dengan visi dan gaya kepemimpinan yang menekankan kesadaran, nilai, orientasi, dan kebijakan-kebijakan praktis yang mengabdi pada kepentingan anggota, bawahan, insitusi, bahkan juga masyarakat luas secara keseluruhan. Dalam masyarakat Indonesia dimana banyak pejabat tersangkut persoalan korupsi, model kepemimpinan ini sangat relevan untuk dibahas dalam penelitian ini. Model kepemimpinan seperti ini, jika dilihat dari teori-teori etika, memiliki akar yang mendalam dalam pemikiran etika Emmanuel Levinas. Menurut Levinas, seorang pemimpin memiliki kewajiban etis yang bersifat mutlak, konkret, asimetris, untuk menerima, mengakui, mengapresiasi, dan memperhitungkan keberadaan orang lain dalam kedirian dan keberlainannya yang mutlak. Melalui penelitian kepustakaan dengan metode analisis isi, pertama-tama akan dijelaskan konsep dasar etika Levinas dan kemudian akan menarik implikasi-implikasi teori etika Levinas terhadap citra kepemimpinan servant leadership dalam organisasi. Bagi Levinas, pemimpin sejati adalah pemimpin yang menjadikan ‘Yang Lain’ sebagai tujuan akhir kepemimpinan. Seorang pemimpin wajib ‘memberikan diri’ kepada bawahanya agar mereka berkembang dengan potensi yang mereka miliki. Pemimpin dan manajemen perlu mengatasi kepentingan diri sendiri dan sebaliknya melayani pekerja, stakeholders, konsumen, kepentingan publik; dan masyarakat luas. Tanggung jawab seorang pemimpin ini melampaui aturan atau kode etik, tidak tergantikan, dan melulu demi kebaikan Yang Lain. Kepentingan bawahan, komunitas, masyarakat luas, dan semua stakeholders harus menjadi prioritas seorang pemimpin dan bukan kepentingan pribadi pemimpin.