Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Penyediaan Air Bersih Masyarakat Sekitar Masjid Al-Iklas Desa Cukanggenteng Ciwidey dengan Menggunakan Penyaringan Air Sederhana Hans Kristianto; Katherine Katherine; Jenny N. M. Soetedjo
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 3, No 1 (2017): September
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.168 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.28148

Abstract

Cukanggenteng Village, Ciwidey, Bandung has problem with availability of clean water. The villagers use water from Cisondari River near the village and shallow well which has high turbidity. Usage of high turbidity water could cause various health problems, such as cholera, dysentery, typhus, and so on. There is some effort done by the villager to reduce the water turbidity, by utilizing sedimentation process. However the sedimentation process does not work effectively. In this community service project, a sand filter and pipe filter was utilized to solve the clean water scarcity problem. The sand filter was operated up flow, and its overflow was fed into the pipe filter. The pipe filter consisted of three 4” pipes with sand, coconut shell carbon, and sponge. This system was designed with easily obtained filter media, and simple construction, so that it could be taken care, operated, duplicated by the villagers. Analysis of the water showed that the filtration could remove 91.06% of water turbidity from 94.55 NTU to 8.445 NTU, with pH 6.55. The water after this simple filtration process could be categorized as clean water, based on the standards in PERMENKES RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990. The results obtained showed that the filtration process has successfully implemented to reduce the water turbidity. 
APLIKASI ONLINE KUESIONER, FORUM, VOTING DAN VOTING ON SITE DENGAN MENGGUNAKAN FINGERPINT ORGANISASI MAHASISWA FTI UNIVERSITAS TARUMANAGARA Hans Kristianto; Lely Hiryanto
Jurnal Ilmu Komputer dan Sistem Informasi Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Komputer dan Sistem Informasi
Publisher : Fakultas Teknologi Informasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jiksi.v3i2.3312

Abstract

Aplikasi online kuesioner, forum, dan voting merupakan aplikasi yang dibuat untuk mengatasi permasalahan dalam mendapatkan partisipasi mahasiswa. Untuk Voting dibagi menjadi dua, yaitu voting online dan voting on site. Pada voting on site menggunakan autentikasi fingerprint dan dalam pertukaran datanya menggunakan method POST dan dalam pertukaran datanya berformat JSON. Aplikasi ini akan menghasilkan keikutsertaan atau partisipasi mahasiswa  yang meningkat terhadap kegiatan organisasi mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Universitas Tarumanagara yang optimal. Studi kasus yang digunakan dalam aplikasi adalah organisasi mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Universitas Tarumanagara. Hasil pengujian aplikasi ini adalah banyaknya mahasiswa yang menyetujui dengan adanya penggunaan aplikasi ini karena dipermudahkannya mahasiswa dalam mengikuti kegiatan-kegitan yang organisasi mahasiswa lakukan.. Key wordsFingerprint, Organization, Voting Online, Forum Online, Kuesioner Online, Voting On Site user Fingerprint, Partisipasi
Adsorpsi Ion Logam Tembaga Menggunakan Karbon Aktif dari Bahan Baku Kulit Salak Febe Apecsiana; Hans Kristianto; Arenst Andreas
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2016: Prosiding SNTKK 2016
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heavy metals contained inside water may carry negative impacts to humans and environment. The most effective treatment is adsorption using activated carbon which is obtained through chemical activation of snake fruit peel using KOH compound. The ratio of snake fruit peel to KOH (20%-w solution) used was 1:4. Snake fruit peel activated carbon with surface area of 2526  m2/g were obtained. The content of heavy metal ions (Cu2+) in the water were analyzed using spectrophotometer UV-Vis with NH3(p.a) solution which form a complex bound colored dark blue. Investigation was carried out by studying the influence of initial concentration (100, 150, 200, 250, and 300 ppm), pH (2,5; 3,5; 5), the amount of adsorbent (30, 60, 90 mg), dan temperature (25oC, 35 oC, dan 45 oC ) to obtain optimum condition with the highest %removal at initial concentration 100 ppm, pH 5, 90 mg adsorbent, and there's no significant differences by varying temperature. Adsorption isotherm studies indicated that Langmuir model fit better with maximum adsorption capacity of 687 mg/g and Langmuir constant for the variation of initial concentration and the amount of adsorbent were 0.0473 L/mg and 0.0296 L/mg, respectively. The kinetics of adsorption of Cu(II) followed pseudo second order.
Synthesis of Nanosilica Originated from Fly Ash using Sol-Gel Method with Methanol as Solvent Daniel Alvin Chaidir; Hans Kristianto; Arenst Andreas
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2016: Prosiding SNTKK 2016
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coal fly ash could harm environment and dangerous for human health. Coal fly ash could be used as silica precursor because it contains silica in considerable amount. Method that used to isolate silica is alkaline fusion which used NaOH. The goals are to determine the effect of precursor and solvent ratio (1:9; 1:16; 1:23) and ageing time (3, 6, and 9 days) to particle size and characteristic obtain. Procedure of separating silica begin from burnt fly ash at 750°C, dissolved in HCl, filtered the solution to obtain the precipitate, dried the precipitate and dissolved in NaOH to obtained Na2SiO3. Procedure of nanosilica synthesis was carried out with mixed methanol, water, ammonia, and precursor while stirred for 8 hours, ageing for few days, followed with separate solution using centrifugation method. Product obtained was then characterized using SEM-EDS and XRD. From the results obtained, the ratio of precursor and solvent concentration would affect the particle size obtained and the amount of the product. The highest amount of Si obtained when ratio of precursor : methanol = 1:23 and ageing time 9 days which is 22.64%. Meanwhile, ageing time would affect the particle size distribution obtained. The product also known has amorphous structure.
Studi Adsorpsi Biner Zat Warna dengan Karbon Aktif Boas Tua Hotasi; Yosep Christian; Hans Kristianto; Arenst Andreas Arie
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2018: PROSIDING SNTKK 2018
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH RASIO IMPREGNANT ZNCL2 DAN TEMPERATUR KARBONISASI TERHADAP LUAS PERMUKAAN KARBON AKTIF DARI KULIT JERUK Hans Kristianto; Arenst Andreas Arie
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 5 NOMOR 3 DESEMBER 2015
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.135 KB) | DOI: 10.36055/jip.v5i3.260

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan sintesis karbon aktif dari kulit jeruk (Citrus nobilis var microcarpa) dengan menggunakan aktvasi kimia ZnCl2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio impregnant dan temperatur karbonisasi terhadap luas permukaan karbon aktif yang diperoleh. Rasio kulit jeruk terhadap impregnant divariasikan 4:1, 2:1, 1:1, 1:2, dan 1:4, dengan temperatur karbonisasi pada 400, 500, dan 600˚C. Karbonisasi dilakukan dengan menggunakan electrical tubular furnace dengan atmosfer nitrogen selama 1 jam. Luas permukaan karbon aktif dianalisa dengan menggunakan Micromeritics apparatus NOVA 1000/3200e Quantachrome. Diperoleh bahwa temperatur dan rasio impregnant cenderung berpengaruh terhadap luas permukaan karbon aktif yang diperoleh. Pada rasio impregnant 4:1 sampai 1:2, temperatur karbonisasi terbaik pada 500˚C, akan tetapi pada rasio 1:4, luas permukaan yang diperoleh relatif sama untuk setiap variasi temperatur. Luas permukaan yang diperoleh relatif tinggi terutama jika dibandingkan dengan karbon aktif lain yang disintesis dari kulit buah-buahan. Luas permukaan karbon aktif terbesar diperoleh pada rasio impregnant 1:4 dan temperatur 600˚C dengan luas permukaan mencapai 1198,16m2/g.
REVIEW: SINTESIS KARBON AKTIF DENGAN MENGGUNAKAN AKTIVASI KIMIA ZnCL2 Hans Kristianto
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 6 NOMOR 3 JUNI 2017
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.69 KB) | DOI: 10.36055/jip.v6i3.1031

Abstract

Karbon aktif merupakan material karbon yang berpori dengan luas permukaan yang besar sehingga banyak digunakan untuk berbagai aplikasi. Karbon aktif dapat disintesis dari batu bara antrasit atau pun bituminous, akan tetapi penggunaan biomassa sebagai bahan baku karbon aktif semakin banyak diteliti. Secara umum, pembuatan karbon aktif terdiri atas karbonisasi dan aktivasi secara fisika atau pun kimia. Pada review ini dibahas proses aktivasi kimia dengan menggunakan agen aktivasi ZnCl2. Dalam proses aktivasi, ZnCl2 berfungsi menginhibisi pembentukan tar, serta mendorong terjadinya aromatisasi sehingga menghasilkan produk karbon aktif yang berpori. Rasio ZnCl2 terhadap biomassa dan temperatur karbonisasi merupakan variabel yang berpengaruh terhadap luas permukaan karbon aktif yang diperoleh, sementara waktu karbonisasi cenderung tidak berpengaruh. Penelitian terbaru banyak berfokus pada eksplorasi penggunaan berbagai biomassa, penggunaan gelombang mikro sebagai pemanasan alternatif, serta penggunaan agen aktivasi pembantu dalam aktivasi karbon aktif. Pengambilan kembali agen aktivasi juga perlu diteliti lebih lanjut untuk menjamin sisi ekonomis proses pembuatan karbon aktif dengan aktivasi kimia.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING ) DALAM MATA KULIAH MANAJEMEN LIMBAH B3 Hans Kristianto; Tedi Hudaya
JURNAL PENDIDIKAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PENDIDIKAN SAINS (JPS)
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.6.2.2018.41-47

Abstract

Perubahan metode pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada pengajar (teacher-centered learning) menjadi berpusat pada siswa (student-centered learning), menuntut penggunaan berbagai model pembelajaran yang inovatif. Dalam penelitian ini dipaparkan penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning; PBL) dalam mata kuliah Manajemen Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) di Program Studi Teknik Kimia UNPAR pada semester genap 2016/2017, dengan tujuan mengamati  perubahan gaya belajar mahasiswa sebelum dan setelah pembelajaran dengan model PBL dengan menggunakan kuesioner Grasha. Selain itu mahasiswa diminta untuk mengisi kuesioner evaluasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Teramati perubahan gaya belajar mahasiswa, yaitu pada menurunnya gaya belajar avoidant, kenaikan pada gaya belajar competitive dan collaborative. Sekalipun terlihat perubahan, hasil tersebut belum signifikan secara statistik. Hasil umpan balik dari mahasiswa peserta kuliah pun cukup positif, karena mahasiswa merasa lebih aktif, belajar bekerja dalam tim, dan berkomunikasi. Hasil-hasil positif yang ditunjukkan dalam penerapan model PBL pada mata kuliah ini membuka peluang untuk menerapkan model pembelajaran serupa pada berbagai mata kuliah lain.
Pengembangan mata kuliah industri kimia berkelanjutan dengan metode pembelajaran berbasis masalah Hans Kristianto; Yos Tri Atmodjo; Linda Gandajaya
JURNAL PENDIDIKAN SAINS (JPS) Vol 7, No 2 (2019): JURNAL PENDIDIKAN SAINS (JPS)
Publisher : Pendidikan Kimia Unimus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jps.7.2.2019.179-187

Abstract

In this paper we described preparation of new sustainability course that used problem based learning in its teaching learning activities. The new course was deemed necessary to prepare our future chemical engineers that could apply their knowledge in sustainability frameworks. This course is taught at 8th semester of curriculum thus it should accommodate the depth learning materials that integrate basic knowledge of chemical engineering and apply it in the context of sustainability. Problem based learning is considered appropriate to accommodate these needs. Furthermore, we measured the difference of students’ learning approach before and after participating 1 semester problem based learning session, using Study Process Questionnaires (SPQ). It was found that there was increase of deep approach with decrease of surface approach values. Positive feedbacks were also given by the students, as they could explore learning materials, team works, and other personal soft skills.
Pemanfaatan Ekstrak Protein dari Kacang-kacangan sebagai Koagulan Alami: Review Hans Kristianto; Susiana Prasetyo; Asaf Kleopas Sugih
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.068 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.46292

Abstract

Coagulation and flocculation are commonly used in water and wastewater treatment. Inorganic coagulant such as alum (Al2(SO4)3), ferrous sulphate (FeSO4), and polyaluminium chloride (PAC) are commonly used. These coagulants are known for its effectiveness and simple operation procedure. However, there are some drawbacks such as reduction in pH, potential negative health effect when the treated water is consumed, and large sludge volume. To overcome these problems, utilization of natural coagulants has been proposed. Based on its active coagulating agent, natural coagulant could be divided as polyphenolic, polysaccharides, and protein. Protein from beans and seeds is commonly used as the source of active coagulating agent, due to its effectiveness, availability, and relatively simple pretreatment is needed. Usually the protein is extracted by using 0.5-1 M NaCl solution as globulin is the major protein fraction in beans.The extracted protein could act as cationic polymer to neutralize negatively charged colloids through adsorption-charge neutralization mechanism. Extracted protein could work effectively to treat turbid and waste water with lower cost compared to alum. However, most of existing studies are still focused on small – pilot scale utilization thus further explorations are still needed.A B S T R A KKoagulasi dan flokulasi merupakan proses yang umum digunakan dalam pengolahan air dan limbah cair. Pada umumnya digunakan koagulan seperti alum (Al2(SO4)3), ferro sulfat (FeSO4), dan polialuminium klorida (PAC). Selain efektif, koagulasi merupakan proses yang relatif sederhana dan mudah diterapkan. Akan tetapi koagulasi dengan koagulan anorganik memiliki beberapa kekurangan seperti menurunnya pH menjadi asam saat digunakan, potensi gangguan kesehatan jika air hasil pengolahan terkonsumsi, serta volume sludge yang dihasilkan relatif tinggi. Penggunaan koagulan alami menjadi alternatif dalam pengolahan air untuk mengatasi berbagai kekurangan tersebut. Berdasarkan bahan aktif koagulannya, koagulan alami dapat dibagi menjadi polifenol, polisakarida, dan protein. Protein dari kacang-kacangan merupakan salah satu sumber koagulan alami yang umum digunakan, karena selain efektif, kacang-kacangan mudah didapat, serta membutuhkan perlakuan yang relatif sederhana, meliputi pengeringan, pengecilan ukuran, ekstraksi, serta purifikasi. Proses ekstraksi kacang-kacangan pada umumnya menggunakan larutan garam NaCl dengan konsentrasi 0,5-1 M, dikarenakan fraksi protein dominan pada protein kacang-kacangan pada umumnya berupa globulin. Protein yang terekstrak berfungsi sebagai polimer kationik yang cocok digunakan untuk mengolah koloid yang bermuatan negatif melalui mekanisme adsorpsi-netralisasi muatan. Pemanfaatan ekstrak protein dapat bekerja efektif untuk mengolah kekeruhan dan air limbah, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan alum. Akan tetapi pemanfaatannya masih pada skala laboratorium-pilot, sehingga diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk isolasi ekstrak serta aplikasinya pada skala industri.