Triana Setijaningsih, Triana
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH STIMULASI TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK SEBAGAI TINDAK LANJUT DDTKA MASAL PASCA PENCATATAN REKOR MURI DI KOTA BLITAR Martiningsih, Wiwin; Setijaningsih, Triana; Winarni, Sri
Jurnal Keperawatan Vol 3, No 1 (2012): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jk.v3i1.1055

Abstract

Children must get serious attention in early of their life such as good nutrition, appropriate stimulation, good environment factors, early detection and intervention of development delays. The development is the increasing of the skill in structure and function of body in more complex and in regular pattern and predictable, as result of maturation process. The research’s purpose is to know the influence of stimulation to child’s development after DDTKA massal in Blitar city. The research type is quasy experiment, and the sample is children that have hesitate and delay developments after DDTKA massal in Blitar city, with inclution criteria: has normal growth, visit to posyandu regularly in the latest 3 mounts and have good health, there are 20 children. The sampling technique uses purposive sampling. The independent variable is stimulation of development, and the dependent variable is development of child. Data is collected using observation sheet and questioner of KPSP. The analysis use wilcoxson signed ranks test, statistic test with sensing level p < 0,05. We can get result as follows: 1) development of child before giving stimulation is 70% hesitate, 30% have delay, after stimulation is normal (65%), 25% hesitate and 10% have delay; 2) there is influence of stimulation to child development (p-value 0,000). We can conclude that the care pattern to child in their family to achieve optimal developments is important.
DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MAKAN PENDERITA TBC PARU DI RUMAH Setijaningsih, Triana
Journal of Borneo Holistic Health Vol 2, No 1 (2019): Journal Of Borneo Holistic Health
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.366 KB) | DOI: 10.35334/borticalth.v2i1.657

Abstract

Dukungan keluarga merupakan bantuan nyata yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga, meliputi dukungan informasional, dukungan instrumental, dukungan penilaian dan dukungan emosional. Tujuan penelitian ini menggambarkan dukungan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan makan penderita TBC Paru di rumah. Desain penelitian menggunakan rancangan deskriptif. Populasi penelitiannya  keluarga dengan salah satu anggota keluarganya menderita TBC Paru, jumlah sampel 44 keluarga, diambil menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan makan penderita TBC Paru di rumah dengan kategori supportif sebanyak 59,1% (26 keluarga) dan dengan kategori nonsupportif sebanyak 40,9% (18 keluarga). Hal tersebut ditunjukkan dengan kurangnya pengalaman keluarga dalam merawat penderita tuberkulosis dan kurangnya informasi yang diterima keluarga tentang nutrisi bagi penderita tuberkulosis. Pemegang program TB di UPTD Puskesmas diharapkan dapat meningkatkan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi bagi penderita tuberkulosis.Kata kunci: dukungan, keluarga, tuberkulosis, nutrisi
PERSEPSI ANTARA REMAJA YANG BERPACARAN DENGAN REMAJA YANG TIDAK BERPACARAN TENTANG PERILAKU SEKS PRANIKAH Setijaningsih, Triana
Journal of Borneo Holistic Health Vol 2, No 1 (2019): Journal Of Borneo Holistic Health
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.849 KB) | DOI: 10.35334/borticalth.v2i1.513

Abstract

Saat ini istilah pacaran bagi kalangan remaja bukan merupakan hal yang asing, bahkan remaja beranggapan bahwa masa remaja adalah masa berpacaran.Remaja seringkali memiliki persepsi yang salah mengenai makna pacaran sehingga hubungan seksual pranikah menjadi fenomena yang saat ini banyak dilakukan oleh remaja yang berpacaran.Tujuan Mengetahui persepsi antara remaja yang berpacaran dengan remaja yang tidak berpacaran tentang perilaku seks pranikah. Metode penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif. Populasinya siswa/siswi SMAK Diponegoro Kota Blitar kelas X dan XI besar populasi sebanyak 260 siswa. Sampel 72 remaja dengan teknik purposif sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Hasil penelitian remaja yang tidak berpacaran 75.0% memiliki persepsi positif, 25% negative, remaja berpacaran 52.8% memiliki persepsi positif, 47,2% negatif. Remaja yang tidak berpacaran memiliki persepsi yang positif dibandingkan dengan remaja yang berpacaran mengenai perilaku seks pranikah. Saran berilah perhatian, bimbingan serta arahan kepada remaja ketika mereka ingin tahu dan mengerti akan suatu hal agar mereka tidak menutup diri dan salah dalam memilih pergaulan yang dapat mengakibatkan melakukan hubungan seks pranikah.
Gambaran Pemenuhan Nutrisi Pada Balita Stunting Umur 7-23 Bulan Dalam Keluarga di UPTD Puskesmas Sukorejo Setijaningsih, Triana
Journal of Borneo Holistic Health Vol 3, No 1 (2020): Journal Of Borneo Holistic Health
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borticalth.v3i1.1100

Abstract

 Stunting pada balita masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Salah satu intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting perlu dilakukan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dari anak balita yaitu praktik-praktik pemberian makanan anak balita. Hal ini dapat mewujudkan kemandirian keluarga dalam memberikan makanan pada anak stunting di rumah. Penelitian   ini   merupakan   penelitian   kualitatif   yang   bertujuan untuk mengidentifikasi tentang pemenuhan nutrisi pada balita stunting umur 7-23 bulan dalam keluarga di UPTD Puskesmas Sukorejo Kota Blitar.  Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi kepada 5 partisipan yang semuanya terdiri dari anggota keluarga yang merawat secara langsung balita yang mengalami stunting. Hasil penelitian menyimpulkan pemberian nutrisi pada balita stunting dalam keluarga di Sukorejo kurang baik seperti mereka tau bahwa pemberian nutrisi pada balita itu perlu tapi mereka tidak memahami bahwa stunting adalah sebuah masalah. Pemenuhan ASI ekslusif kurang, memberikan MPASI terlalu dini, tidak memenuhi jumlah kebutuhan nutrisi sesuai usianya, pemberian makanan yang kurang bervariasi dan menyimpan makanan untuk anak lebih dari satu jam dalam suhu ruangan. Diharapkan petugas kesehatan meningkatkan mutu pelayanan konseling gizi. Keluarga dapat meningkat perilaku kesehatan dengan meningkatkan pemberian ASI eksklusif, memberi gizi seimbang dan melakukan kunjungan anak ke fasilitas kesehatan.Kata kunci :Pemenuhan Nutrisi, Balita Stunting, Keluarga
GAMBARAN PERTOLONGAN PERTAMA DALAM KELUARGA PADA PENANGANAN BALITA DIARE DI POLI MTBS UPTD PUSKESMAS SE-KOTA BLITAR Setijaningsih, Triana
Journal of Borneo Holistic Health Vol 3, No 2 (2020): Journal Of Borneo Holistic Health
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borticalth.v3i2.1685

Abstract

Diare adalah buang air besar berbentuk cair lebih dari 3 kali sehari dan jumlahnya lebih banyak. Menurut World Health Organization (WHO) diare menempati urutan keempat penyebab kematian anak di dunia, yaitu sebesar 9% (WHO, 2015). Dari data kasus balita diare di Kota Blitar pada tahun 2016 dan 2017 menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 52 kasus. Tujuan penelitian untuk menggambarkan pertolongan pertama dalam keluarga pada penanganan balita diare. Desain penelitian menggunakan rancangan deskriptif dengan populasi keluarga yang pernah memeriksakan balita diare di Poli MTBS UPTD Puskesmas se-Kota Blitar, sampel sebanyak 32 keluarga dengan teknik Accidental Sampling dan pengumpulan data dengan bantuan kuesioner.. Hasilnya menunjukkan bahwa 62.5% dengan kategori baik, 28.1% dengan kategori cukup dan 9.4% dengan kategori kurang. Pertolongan pertama baik karena seluruh keluarga sudah memberikan cairan lebih banyak dari biasanya. Pertolongan pertama cukup karena sebagian kecil keluarga tidak memberikan cairan meskipun diare sudah berhenti. Pertolongan pertama kurang karena sebagian besar keluarga memberikan obat anti diare saat balita mengalami diare. Rekomendasi penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penyusunan kegiatan dalam hal pertolongan pertama diare di UPTD Puskesmas se-Kota Blitar. 
PERUBAHAN SUARA NAPAS DAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA KLIEN YANG MENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) DENGAN FISIOTERAPI DADA DI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR: CHANGES IN BREATHING SOUND AND BREATHING FREQUENCY OF CLIENTS WHO HAVE CHRONIC OBSTRUCTION PULMONARY DISEASE (COPD) WITH CHEST PHYSIOTHERAPY IN MARDI WALUYO HOSPITAL, BLITAR Setijaningsih, Triana; Fazira, Giana Irda; Sepdianto, Tri Cahyo
Bali Medika Jurnal Vol 6 No 2 (2019): Bali Medika Jurnal Vol 6 No 2 Desember 2019
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v6i2.77

Abstract

Chest physiotherapy is a nursing action performed to clean the lungs from secretions. The purpose of this study was to describe changes in breathing sounds and breathing frequency before and after chest physiotherapy. The study design used a descriptive research design with a sample of 11 people. Data collection using questionnaire sheets and observation. The results showed that the average breathing frequency in COPD patients before and after chest physiotherapy visits I to visit III decreased by 11 points, from 31x / minute to 20x / minute, and the lobe location occurred with additional breathing sounds, ronkhi before and after chest physiotherapy, on visit I to visit III it dropped by two points, from three lobes or 46% (5 patients) to one lobe, 78% (7 patients). Chest physiotherapy on being able to increase secret expenditure. The implementation of chest physiotherapy should be done 2x/day in order to obtain maximum results.