Riska Rachmawati, Riska
Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSPLORASI KESULITAN BELAJAR DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA (STUDY KASUS SISWA SMA KELAS 10 MAN 2 KOTA BANDUNG) Rachmawati, Riska
Jurnal Pendidikan dan Psikologi: Pintar Harati Vol. 20 No. 2 (2024): Jurnal Pintar Harati Volume. 20, Nomor. 2, Desember 2024
Publisher : Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jph.v20i2.12615

Abstract

Stres akademik yang dialami siswa harus diatasi. Relaksasi menjadi solusi dari kesulitan belajar. Wajah pendidikan Indonesia beranjak dari kurikulum 13 ke kurikulum Merdeka Belajar. Kondisi ini mengharuskan adanya perubahan yang dinamis bagi siswa. Penelitian ini menyoroti kesulitan belajar dalam implementasi kurikulum merdeka pada peserta didik kelas X di MAN 2 Kota Bandung. Data pada penelitian ini meliputi kesulitan belajar siswa, dan upaya guru dalam mengatasi stres akademik pada implementasi kurikulum merdeka. Tujuannya ialah memahami kesulitan belajar siswa MAN 2 Kota Bandung dalam menjalankan program merdeka belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang dipilih adalah studi kasus deskriptif untuk menggambarkan ciri dari kesulitan belajar. Hasil penelitian ini adalah 1) hubungan positif siswa-orang tua diakui menjadi faktor penting mengatasi stres akademis, 2) teori Belajar Behavior dan teori Belajar Kognitif merupakan dua konsep dari psikologi pendidikan yang menawrkan solsui bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Cara yang ditawarkan kedua teori tersebut pertama, guru harus mempunyai kemampuan mengoptimalkan pola pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum merdeka, dan membangun lingkungan yang mendukung. Kedua, teknik relaksasi yaitu siswa mampu mengatasi kesulitan belajar sendiri dengan cara kerja kelompok dan refleksi. Ditambah siswa harus mempunyai hubungan yang baik dengan orangtua.
Patterns of Tobacco Marketing and User Engagement on Social Media in Indonesia: Challenges for Digital Public Health Sutrisno, Resti Yulianti; Ekadinata, Nopryan; Sutantri, Sutantri; Binoriang, Dinasti Pudang; Aditjondro, Enrico; Rachfiansyah, Rachfiansyah; Rabindanata, Yosef; Dini, Silvia; Perl, Rebecca; Rachmawati, Riska; Wulandari, Bertha Tesma; Sugiyo, Dianita
Kesmas Vol. 21, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Large-scale tobacco marketing on social media has resulted in widespread population-level exposure, particularly in Indonesia, which faces growing challenges in digital public health. This study aimed to assess the associations between platform type and marketing tactics and identify correlations of user engagement. An analytical cross-sectional study was conducted using secondary data from the Tobacco Enforcement and Reporting Movement (TERM), collected from January 2022 to August 2023. A total of 21,255 tobacco marketing posts from social media were analyzed. Platform–tactic associations were examined using Chi-square tests, and multivariable Poisson regression was used to identify factors associated with user engagement. The findings indicated that Instagram (66.8%) and Facebook (24.0%) accounted for the majority of tobacco marketing content. Community-based marketing was the most prevalent tactic (64.7%), followed by direct advertising (20.1%). Bivariate analysis demonstrated a significant association between social media platforms and marketing tactics (p-value <0.001). The Poisson regression model was statistically significant (p-value <0.001). Engagement varied substantially by platform. Compared to YouTube, TikTok demonstrated markedly higher engagement (OR = 35.8), followed by Instagram (OR = 1.88). Corporate social responsibility (OR = 2.39) and community-based marketing (OR = 1.70) were associated with higher engagement. Tobacco promotion on Indonesian social media employs platform-specific strategies to increase exposure and normalize consumption narratives. These patterns underscore substantial digital public health concerns and suggest that enforcement of digital TAPS remains inadequate. Therefore, relevant ministries should strengthen TAPS enforcement and expand targeted digital health education initiatives.