Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N.
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Analisis Hubungan Tingkat Kesejahteraan Tanggung Jawab dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja Perawat dan Bidan Mokodompit, Hafsia K. N.; Tendean, Lydia E. N.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.36066

Abstract

Abstract: Health worker is everyone who devotes him/herself in the health sector and has knowledge and skills through education in the health sector, such as nurse and midwife. The maximum service of a health worker can be achievd if the level of satisfaction is good. Various factors can affect the satisfaction of nurses and midwives working in an hospital organization, such as welfare, responsibility, and work motivation. This study was aimed to assess the relation-ship between welfare, responsibility, work motivation and satisfaction among nurses and mid-wives. This was an analytical, observational, and quantitative study with a cross sectional design. There were 119 health workers of General Hospital GMIBM Monompia Kotamobagu involved in this study consisting of 107 nurses and 12 midwives obtained by using the total sampling method. The multiple linear test showed that the level of welfare affected job satisfaction (p=0.000), while responsibility and motivation did not affect job satisfaction (p=0.371 and p=0.415). The simultaneous test resulted in an F-value of 6.112 where welfare/income, respon-sibility, and motivation simultaneously affected the job satisfaction of nurses and midwives. In conclusion, welfare significantly influenced the satisfaction of nurses and midwives meanwhile responsibility and motivation did not.Keywords: level of welfare; responsibility; motivation and job satisfaction Abstrak: Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan seperti perawat dan bidan. Pemberian pelayanan yang maksimal dari tenaga kesehatan dapat tercapai bila tingkat kepuasan kerja perawat dan bidan baik. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada perawat dan bidan dalam suatu organisasi rumah sakit, di antaranya tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi dengan kepuasan kerja pada perawat dan bidan. Jenis penelitian ialah kuantitatif dan analitik observasional dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 119 orang tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum GMIBM Monompia Kotamobagu, terdiri dari 107 perawat dan 12 bidan diperoleh dengan teknik total sampling. Hasil penelitian uji linear berganda mendapatkan tingkat kesejahteraan memengaruhi kepuasan kerja (p=0.,00), sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak meme-ngaruhi kepuasan kerja (p=0,371 dan p=0,415). Pada hasil uji simultan didapatkan nilai F=6,112 dimana kesejahteraan/pendapatan, tanggung jawab, dan motivasi secara serempak memengaruhi kepuasan kerja. Simpulan penelitian ini ialah kesejahteraan/pendapatan mempunyai pengaruh bermakna terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan.Kata kunci: kesejahteraan; tanggung jawab; motivasi kerja dan kepuasan kerja
Hubungan antara Merokok dengan Terjadinya Disfungsi Ereksi di Komunitas Pasar Tradisional Bersehati Manado Tahun 2023 Mamuaja, Fransiscus X. S.; Turalaki, Grace L. A.; Tendean, Lydia E. N.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60870

Abstract

Abstract: More than a third of the population in Indonesia has smoking habit. To date, smoking is identified as a risk factor for many health problems, one of them is erectile dysfunction. This study aimed to evaluate the relationship between smoking and erectile dysfunction among male traders and workers in the Pasar Tradisional Bersehati (traditional market) in Manado. This was an analytical and survey study with a cross-sectional design. Purposive sampling was used for sample selection. The research instruments included interview questionnaires and the IIEF-5 questionnaire. The results obtained 77 males as respondents. The highest percentages were found in age group of 21-30 years (28.6%), senior high school (42.9%), working as trader (84.4%), married (74.0%), and being smoker for >3 years (96.1%). Erectile dysfunction was found in 65 respondents (84.41%), most in the age group of 21-30 years (20 respondents), followed by the age groups of 41-50 years (17 respondents) and 31-40 years (11 respondents). The chi-square obtained a significant relationship between smoking and the occurrence of DE (p=0.021). In conclusion, there is a significant relationship between smoking and the occurrence of DE among the community of Pasar Tradisional Bersehati Manado in year 2023; the majority have mild erectile dysfunction. Keywords: smoking; erectile dysfunction; traditional market   Abstrak: Lebih dari sepertiga penduduk Indonesia memiliki kebiasaan merokok. Merokok merupakan salah satu faktor risiko dari banyak masalah kesehatan, salah satunya disfungsi ereksi (DE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara merokok dengan DE pada pedagang dan tenaga kerja pria di Pasar Tradisional Bersehati Manado. Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain penelitian potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan instrumen penelitian menggunakan kuesioner wawancara dan kuisioner IIEF-5. Hasil penelitian mendapatkan 77 responden penelitian (n=77). Persentase tertinggi didapatkan pada usia 21-30 tahun (28,6%), tingkat pendidikan SMA/sederajat (42,9%), pekerjaan sebagai pedagang (84,4%), status kawin (74,0%), dan lama merokok >3 tahun (96,1%). Disfungsi ereksi didapatkan pada 65 responden (84,41%), terbanyak pada usia 21-30 tahun (20 responden) diikuti usia 41-50 tahun (17 responden), dan 31-40 tahun (11 responden). Hasil uji chi-square mendapatkan hubungan bermakna antara merokok dengan kejadian DE (p=0,021). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan kejadian disfungsi ereksi pada komunitas Pasar Tradisional Bersehati Manado tahun 2023; mayoritas menderita disfungsi ereksi tipe ringan. Kata kunci: merokok; disfungsi ereksi; pasar tradisional