Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Quantitative and Qualitative Analysis of Protein Content in Moringa Leaves (Moringa oleifera L.) Dwi Retnaningtyas Utami; Andi Rahmad Rahim; Sutrisno Adi Prayitno
Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Vol 5 No 2 (2022): Kontribusia Agustus 2022
Publisher : OJS Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.52 KB) | DOI: 10.30587/kontribusia.v5i2.4100

Abstract

Protein is one of the macronutrients that have an important role in the formation of biomolecules. Protein can be found in various plants, one of which is Moringa leaves. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) are proven to be effective in treating various diseases, including diabetes, hepatitis, heart disease, and high cholesterol. The purpose of this study was to see if there was protein content in Moringa leaves (Moringa oleifera L.) and how much protein content in Moringa leaves. The parameters used are qualitative tests and quantitative tests, qualitative tests are carried out using the biuret method to determine the presence or absence of protein content in Moringa leaves, while quantitative tests are carried out using spectrophotometric methods to determine protein levels contained in Moringa leaves. From the research results, it is known that Moringa (Moringa oleifera L.) leaves contain protein with a protein content of 2,783; 2,657; 2,547 mg/50g.
DAYA TERIMA KONSUMEN TERHADAP KERIPIK PARE HOME INDUSTRY Dwi Retnaningtyas Utami; Andi Rahmad Rahim; Sutrisno Adi Prayitno; Ainanda Alfatina
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 4 No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v4i3.4090

Abstract

Keripik sayuran adalah barang baru yang masuk di pasar pertanian Indonesia. Semua orang, tua atau muda menyukai mengkonsumsi snack di waktu senggang mereka. Selama ini, snack hanya diproduksi dari karbohidrat, seperti kentang, beras, dan dari sumber-sumber glukosa seperti nangka, nanas, snackfruit, dan sedikit buah-buahan, seperti apel, melon, atau semangka. Sangat jarang makanan ringan yang dibuat dari sayuran. Tetapi, saat ini bukan tidak mungkin untuk memproduksi makanan ringan yang dibuat dari sayuran. Berbicara mengenai sayuran, pare dapat diolah sebagai keripik. Permasalahan yang ada, antara lain kurangnya pengenalan produk keripik sayuran dari pare pada masyarakat, sistem pemasaran yang belum jelas dan belum meluas. Selama ini pembuatan keripik pare hanya berdasarkan permintaan atau pesanan. Cara untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan menguji tingkat penerimaan konsumen terhadap parameter sensori keripik sayuran dari pare. Kemudian dari hasil tingkat kesukaan ini, akan didapatkan langkah selanjutnya untuk memerkenalkan produk keripik pare dari Jawa Timur ke tingkat ekspor. Dari karakteristik konsumen, keripik pare disukai oleh perempuan dengan rentang umur 25 – 35 tahun dan sudah memiliki penghasilan. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah produsen keripik pare diharapkan dapat meningkatkan atribut yang dinilai masih kurang, misalnya menambahkan varian rasa sehingga meningkatkan daya terima konsumen.
SOSIALISASI PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN EKADO DI DESA GINTUNGAN, KECAMATAN KEMBANGBAHU, KABUPATEN LAMONGAN Sutrisno Adi Prayitno; Dwi Retnaningtyas Utami; Nur Maulida Safitri; Intan Iriani Dewi; Elfira Oktaviani
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 5 No 1 (2023): DedikasiMU Maret 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v5i1.5384

Abstract

Permasalahan gizi buruk serta stunting merupakan hal yang perlu ditanggulangi di Indonesia. Pengetahuan bahan makanan yang bergizi masih berperan dalam pencegahan kenaikan angka stunting. Beragam pangan dapat diaplikasikan ke dalam olahan makanan untuk balita. Ketidaktahuan orang tua bayi dalam penyajian makanan sehat dan bergizi baik menjadikan ketersediaan makanan bagi balita hanya berdasarkan jumlah saja tanpa melihat komposisi gizi makanan tersebut. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahanan masyarakat terkait pencegahan stunting dan peningkatan status gizi anak melalui diversifikasi olahan berbasis pangan yang memiliki protein tinggi. Hasil dari kegiatan diskusi adalah peserta secara keseluruhan dapat mengetahui beragam bahan makanan sehat bergizi yang dapat digunakan dalam pencegahan stunting, mampu mengolah ekado secara sederhana dengan tepat, hingga pengemasan dan penyimpanan. Berdasarkan hasil survey, didapatkan 21.75% peserta menyatakan sudah pernah memperoleh penyuluhan stunting dan 67.25% peserta belum pernah memperoleh penyuluhan tentang stunting, serta seluruh peserta (100%) menyatakan puas dan memeroleh manfaat dari kegiatan PKM.
ALTERNATIF USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT HIJAU Caulerpa sp. DENGAN METODE LEPAS DASAR PADA MASYARAKAT PESISIR Andi Rahmad Rahim; Nur Maulida Safitri; Aminin Aminin; Sutrisno Adi Prayitno; Ummul Firmani; Dwi Retnaningtyas Utami; Wiharyanti Nur Lailiyah
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 5 No 1 (2023): DedikasiMU Maret 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v5i1.5419

Abstract

Desa Sungai Teluk, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, merupakan daerah pesisir di Pulau Bawean yang memiliki potensi wisata dan marikultur yang tinggi. Mayoritas masyarakat setempat mengandalkan sumberdaya di wilayah pesisir sebagai mata pencaharian, terutama sebagai pembudidaya lobster, nelayan, maupun penggerak wisata alam pesisir. Desa ini memiliki potensi budidaya komoditas perikanan cukup tinggi, salah satu diantaranya adalah rumput laut, yang merupakan produk bernilai ekonomis sebagai bahan baku industri farmasi-kosmetik yang sangat dibutuhkan di pasar global. Namun demikian, hingga saat ini, masyarakat Bawean masih memandang sebelah mata akan komoditas rumput laut ini. Masyarakat masih belum tahu manfaat hingga tata cara pembudidayaan rumput laut. Mereka masih mengambil langsung ke perairan dalam jumlah yang besar dengan harga murah. Jika hal ini dilakukan terus menerus dapat menyebabkan kelangkaan stok. Padahal, telah ditemukan berbagai cara pembudidayaan rumput laut untuk meningkatkan potensi komoditi tersebut sehingga menjadi komoditas penting untuk menopang tingkat perekonomian masyarakat. Hal ini didukung dengan pertimbangan kondisi perairan yang baik, teknologi budidaya yang mudah, waktu pemeliharaan relatif singkat, pasar global yang cukup tersedia, serta tawaran harga yang kompetitif. Metode yang digunakan yaitu FGD (Fokus grub diskusi) meningkatkan produksi dengan sistem lepas dasar, pengolahan pascapanen dan pemasaran hasil panen rumput laut bernilai jual tinggi.
GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) PRODUKSI TEH HITAM (BLACK TEA) DI PTPN XII MALANG JAWA TIMUR Sutrisno Adi Prayitno; Dwi Retnaningtyas Utami; Domas Galih Patria; Silvy Novita Antrisna Putri; Sugiyati Ningrum; Rahmad Jumadi; Ainanda Al Fatina
JUSTI (Jurnal Sistem dan Teknik Industri) Vol 3 No 3 (2022): justi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/justicb.v3i3.5526

Abstract

Teh sebagai bahan pangan (minuman) merupakan produk yang memiliki kepopuleran di semua lapisan masyarakat. Teh juga merupakan komoditi penghasil devisa Negara Indonesia. Produk teh memiliki ragam jenis, seperti teh hijau, teh putih dan the hitam. Salah satu produsen besar yang ada di Jawa Timur adalah PTPN yang memproduksi the dengan label “Teh Rolas”. Jenis teh yang diproduksi berupa teh hijau dan teh hitam. Untuk menjalakan produksi dan menjaga kualitas pada produk teh yang dihasilkan PTPN melaksanakan program kelayak dasar berupa penerapan GMP. Program tersebut dilaksanakan demi mendukung dan mewujudkan salah satu misi perusahaan yaitu berupa Competitive Advantage. Tahapan dalam proses pengolahan teh adalah penerimaan bahan baku, pelayuan, penggilingan, oksidasi enzimatis, pengeringan, sortasi, pengemasan, penyimpanan dan pengiriman. Untuk mendukung proses produksi, proses penerapan GMP dilakukan dengan pengawasan yang baik. Bebrapa aspek penerapan GMP yang di PTPN adalah lingkungan dan lokasi pabrik, bangunan dan fasilitas, penyediaan dan pemeliharaan fasilitas sanitasi, peralatan pengolahan, pengendalian hama, sanitasi dan higiene karyawan, pengawasan proses produksi, manajemen pengawasan, pencatan dan dokumentasi. PTPN telah melaksanakan program kelayak dasar (GMP) dengan baik dalam menjaga mutu utama teh yang diproduksi. Untuk mempertahankan penerapan GMP perlu dilakukan improvisasi dan kesadaran pada karyawan pada setiap lini proses produksi. Selain itu proses pengawasan terhadap karyawan dan aspek program kelayakan dasar perlu untuk ditingkatkan dalam menjaga mutu serta aspek dalam lingkungan produksi.
PELATIHAN PENGOLAHAN PANGAN LOKAL BERBAHAN UBI JALAR UNGU UNTUK SISWA SMKN KABUPATEN GRESIK Dwi Retnaningtyas Utami; Sutrisno Adi Prayitno; Silvy Novita Antrisna; Sugiyati Ningrum; Andi Rahmad Rahim
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 6 No 2 (2024): DedikasiMU Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v6i2.7614

Abstract

Sekolah sebagai wadah pencetak generasi bangsa. SMK memiliki berbagai macam program keahlian. Program Keahlian yang ada di SMK salah satu diantaranya yaitu Program Keahlian Tata Boga. Dimana melalui pendidikan Tata Boga, SMK mampu menghasilkan output yang memiliki keterampilan di dalam bidang tata boga. Namun, hal ini tidak bisa terwujud jika tidak didukung dengan praktik yang memadai. Ubi jalar merupakan salah satu hasil pertanian terbesar di Jawa Timur. Ubi jalar ungu bisa menjadi makanan layak konsumsi sebagai makanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizi (karbohidrat, protein, lemak, zat besi, dan vitamin C) setiap hari. Kandungan ubi jalar ungu (antioksidan, serat yang tinggi, dan karbohidrat dengan glikemik rendah) dapat mengurangi resiko hipertensi, dan diabetes mellitus ibu hamil trimester kedua. Ubi jalar ungu potensial dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Hal ini disebabkan ubi jalar ungu memiliki antosianin, pigmen yang berwarna ungu mempunyai aktivitas antioksidan dan kandungan serat pangannya bermanfaat untuk pencernaan. Selain itu indeks glikemiknya yang rendah sampai medium, juga merupakan nilai tambah ubi jalar sebagai pangan fungsional. Meskipun manfaat ubi jalar ungu sangat banyak namun pemanfaatannya masih terbatas, sehingga perlu disosialisasikan teknik olahan yang sesuai dan menarik. Produk olahan dari ubi jalar segar maupun produk antara (tepung) berpeluang mensubstitusi penggunaan terigu 10-100%. Ubi jalar ungu juga potensial digunakan sebagai bahan pewarna alami untuk makanan dan minuman. Pengembangan produksi dan pemanfaatan ubi jalar ungu sesuai dengan program unggulan daerah yang berbasis pada hasil pertanian lokal.
Optimizing Quality and Growth of Gracilaria verrucosa (Gracilariaceae: Gracilariales) in Extensive Ponds Andi Rahmad Rahim; Ummul Firmani; Dwi Retnaningtyas Utami
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v14i1.25488

Abstract

Faktor penting dalam budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di tambak ekstensif  adalah penentuan kepadatan komoditas yang tepat, pemberian pupuk sebagai nutrisi untuk mendukung pertumbuhan rumput laut, dan tanah tambak sebagai penampung nutrisi dan menjaga kestabilan rumput laut di tambak selama proses budidaya. Indikator keberhasilan kegiatan budidaya rumput laut pada tambak ekstensif diukur dari  kualitas agar, rendemn, viskositas, dan kekuatan gel yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk memahami sejauh mana faktor-faktor pertumbuhan, jumlah sel, dan kandungan unsur hara berkontribusi terhadap peningkatan kualitas agar rumput laut dalam bentuk model jalur, serta memastikan bahwa kondisi air dan tanah di tambak memenuhi standar yang diperlukan untuk mendukung produksi rumput laut yang berkualitas tinggi. Substrat tanah khususnya di daerah pantura jawa timur sudah banyak terkontaminasi bahan kimia dari aktivitas industri, sehingga kami ingin menguji apakah tanah dengan kondisi tersebut di atas masih layak untuk digunakan dalam peningkatan kualtias agar rumput laut. Penelitian ini dilakukan di hamparan tambak  dengan menggunakan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: A (Kepadatan Terbaik + Tanpa Pupuk Vermicompost + Substrat Tanah Tambak), B (Kepadatan Terbaik + Pupuk Vermicompost + Substrat Tanah Tambak) dan C (Kepadatan Terbaik + Pupuk Vermicompost + Tanpa Substrat Tanah Tambak). Berdasarkan model analisis jalur yang dihasilkan menunjukkan pertumbuhan, jumlah sel serta unsur hara (kandungan gizi) masing-masing memiliki hubungan medium, kuat, dan sangat kuat dalam menghasilkan peningkatan kualitas agar rumput laut  di tambak ekstensif. Kemudian, kualitas air dan tanah secara deskriptif termasuk dalam kategori layak untuk mendukung pertumbuhan dan kualitas rumput laut di tambak.