Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Desentralisasi Fiskal Dalam Pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Melalui Kebijakan Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Di Kota Pematangsiantar Periode 2021-2023 Anisah Khoiriyah Damanik; Februati Trimurni
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 10 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i10.9738

Abstract

Fiscal decentralization requires local governments to increase their independence by optimizing Regional Original Revenue (PAD). In Pematangsiantar City, one such effort is the policy of increasing the Taxable Object Sales Value (NJOP) based on Mayoral Regulation Number 4 of 2021. This study employed a descriptive qualitative method through interviews with BPKPD officials, the Mayor, the Regional People's Representative Council (DPRD), and affected communities. The study was analyzed using Herbert Simon's rational model, which includes problem definition, objectives, alternatives, and implementation. The results indicate that this policy arose from the need to increase PAD due to low fiscal independence. However, the formulation process lacked public participation and was implemented directly without a gradual mechanism, triggering community resistance. The initial impact of the policy actually decreased PAD realization, but in the following year, it resulted in a nominal increase. However, the policy implementation has not fully reflected the principles of participatory and equitable rationality.
Otonomi Desa dalam Pengembangan Badan Usaha Milik Nagori (BUMNAG) di Nagori Cingkes, Kabupaten Simalungun Netanya Nava Arella Ginting; Februati Trimurni
Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah Vol. 7 No. 9 (2025): Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/alkharaj.v7i9.9585

Abstract

Village autonomy is a form of decentralization that grants villages the authority to manage community interests based on original rights and local values. In this context, Badan Usaha Milik Nagori (BUMNag) plays a vital role in supporting economic independence through the sustainable utilization of local resources, as mandated by Law Number 6 of 2014 concerning Villages. However, the development of BUMNag in Nagori Cingkes still encounters various challenges, including technical limitations, weak institutional capacity, and low community participation. This study employs a qualitative descriptive method to explore the dynamics of BUMNag’s development in Nagori Cingkes. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document studies involving village officials, BUMNag administrators, and local community members. The analysis is based on the theory of village autonomy by H.A.W. Widjaja (2003), which emphasizes the village's right, authority, and obligation to manage its resources independently and responsibly. The findings reveal that while village autonomy has been initiated through the establishment and management of BUMNag, its development remains limited. Business operations are currently focused only on the clean water sector, while other potentials such as agriculture and tourism remain untapped. Although basic services are being provided, BUMNag’s economic contribution is still minimal due to the absence of significant profit generation. Therefore, it is recommended that the Nagori Cingkes government diversify BUMNag’s business units, improve human resource capacity through training, develop business plans based on local potentials, and increase community participation to realize sustainable village-owned enterprise development.
KOMUNIKASI KEBIJAKAN DALAM PENYELESAIAN KONFLIK AGRARIA Keisha Anabel br Ginting; Februati Trimurni
Jurnal Kebijakan Publik Vol 15, No 4 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkp.v15i4.8616

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara rinci komunikasi dan advokasi kebijakan dalam penyelesaian konflik agraria antara Pemerintah Kabupaten Karo dan Masyarakat Mbal-Mbal Petarum. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai, mengamati dan mencatat dokumen yang berkaitan dengan advokasi dan komunikasi kebijakan dalam penyelesaian konflik agraria. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dengan meninjau semua data yang dikumpulkan yang didukung oleh hasil wawancara dengan teori komunikasi dan advokasi kebijakan yang dikemukakan oleh John Hopkins, 1988 melalui tahapan analisis, strategi, mobilisasi, aksi, evaluasi dan kesinam-bungan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian konflik agraria antara Pemerintah Kabupaten Karo dan Masyarakat Desa Mbal-Mbal Petarum dinilai dari beberapa tahapan. Tahap analisis dilakukan dengan menganalisis masalah dan penyebab masalah konflik agraria. Tahap strategi dibangun dengan forum diskusi Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS)  Sumatera Utara bersama masyarakat dan menggiring opini publik melalui media massa KontraS. Pada mobilisasi masyarakat bekerja sama dengan KontraS dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kemudian hubungan dengan pemerintah berhasil dibangun dengan Komnas HAM dan DPRD Kabupaten Karo. Dalam tahap aksi DPRD Kabupaten Karo merespon gerakan yang dilakukan masyarakat bersama KontraS untuk menyelesaikan konflik dengan melakukan Rapat Dengar Pendapat. Evaluasi menunjukkan perjuangan masyarakat dan GMNI belum maksimal, selain itu Dinas Pertanian Kabupaten Karo juga belum menunjukan perhatian serius dalam masalah ini, dilihat dari rekomendasi kebijakan yang belum ditindaklanjuti sepenuhnya. Pada kesinambungan Dinas pertanian Kabupaten Karo melakukan sosialisasi terkait penggunaan perhutanan sosial bagi petani kemudian KontraS menghubungi Komnas HAM untuk turut serta hadir dalam penanganan konflik.