Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM MENJADI KOMPOS HAYATI DAN BRIKET DI DESA BALINGBING, KECAMATAN PAGADEN BARAT, KABUPATEN SUBANG Tita Kartika Dewi; Ade Suparman; Nine Wahyuni Maulani; Okke Rosmaladewi; Ahmad Khori; Siti Nur
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 14 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v14i2.3387

Abstract

Produksi padi di desa Balingbing, kecamatan Pagaden Barat, kabupaten Subang sebesar 11.169 ton/tahun, sehingga menghasilkan sekitar 3.127 ton limbah sekam padi per tahunnya. Tingginya produksi padi ini menimbulkan permasalahan limbah sekam yang diperoleh, sementara pemanfaatannya belum oprtimal. Program yang diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis sekam padi menjadi dua produk yaitu pupuk kompos dan briket sekam. Pupuk kompos diproduksi menggunakan penerapan teknologi dan inovasi "Tri in One_okey," yang berfungsi sebagai biofertilizer, biofungisida, dan biodekomposer berbasis jamur Trichoderma harzianum Rifai. Produk kompos yang diperoleh ini dapat meningkatkan efisiensi budidaya tanaman dan mendukung pertanian berkelanjutan. Di sisi lain, briket sekam diproduksi secara mekanis sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Program ini melibatkan ibu-ibu dari Kelompok Tani Tunas Harapan III dan PKK setempat, dengan metode pelatihan dan pendampingan teknis baik pada saat pelatihan maupun pemasaran. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian, memperbaiki kesejahteraan ekonomi, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengelolaan limbah
UJI KEPRAKTISAN MODEL EXPERIENTIAL LEARNING BERBASIS LITERA KSETRA: PENGUATAN LITERASI SAINS DI SDN BANJAR KERTEK Kholifatul, Hania; Ahmad Khori; Desty Putri Hanifah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.45139

Abstract

Scientific literacy is an essential competency in elementary science (IPAS) learning; however, students’ scientific literacy achievement in Indonesia remains relatively low. This condition is partly caused by learning practices that tend to be theoretical and lack the use of direct experience and contextual environmental resources. This study aims to develop and describe an Experiential Learning model based on Litera Ksetra by utilizing the Litera Ksetra environment in Banjar Village as a learning context. The study employed a research and development (R&D) approach using the ADDIE model, which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The analysis stage was conducted to identify learning needs, student characteristics, and problems related to scientific literacy. The design stage focused on developing Experiential Learning syntax, learning materials, and scientific literacy indicators. The development stage involved constructing and validating the model based on Kolb’s Experiential Learning theory, which was modified according to the learning context. Meanwhile, the implementation and evaluation stages were conducted on a limited basis to examine the suitability of the developed model. The results of this study are in the form of a conceptual framework of the learning model, including modified Experiential Learning syntax, the roles of teachers and students, and its alignment with scientific literacy indicators, indicating that the model is systematic, easy to implement, and potentially practical in IPAS learning. The model emphasizes direct experience, reflection, and environmental interaction as the foundation for constructing contextual and meaningful scientific concepts. Therefore, this model is expected to provide both conceptual and practical contributions as a reference for teachers in designing relevant, context-based learning to enhance students’ scientific literacy.