Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

SEJARAH PEMBENTUKAN KECAMATAN KANDIS KABUPATEN SIAK (2001-2002) Siti Nur; Bedriati Ibrahim; Ridwan Melay
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan VOL 6 : EDISI 1 JANUARI-JUNI 2019
Publisher : Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The formation of an area is always needed to achieve good governance and service for the welfare of the community in accordance with the capabilities of each region in the process of development and regional growth. Every region in this world certainly has its own history both in terms of the process of formation, naming and also the development of the area which is certainly different from other regions, making it unique. Similarly, the Kandis Subdistrict, Siak Regency, is a district that has a long history in its formation process. The purpose of this study was to find out the history of formation, to find out the desire of the community to form Kandis into a Subdistrict, to find out the efforts and processes of the people's struggle so that the Kandis District of Siak Regency was formed (2001-2002), and to determine the what factors are supporting and inhibiting the formation of Kandis District, Siak Regency. The method used is historical (historical), where data is collected through observation, documentation, interviews, and literature. Data analysis was carried out in a qualitative manner. The time of research began since the publication of the pre-research letter until the completion of the final revision of the author's thesis. The results showed that the original Kandis tribe was a sakai tribe, with the Pekanbaru-Dumai road even going to North Sumatra through Kandis which included the East Sumatra crossing road by Chevron which made Kandis grow rapidly with an increase in the population in each year, with developments and the population is increasing and while the range of control and public services that are less than optimal raises people's aspirations to make Kandis a district. With a long process of community struggle finally on December 31, 2002 Kandis officially became Kandis District.Key Words: History, Formation, Kandis Distric
Analisis Survey Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terhadap Literasi Digital Pada Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Nusantara Luki Luqmanul Hakim; Yussi Perdana Saputra; Siti Nur
WACANA AKADEMIKA: Majalah Ilmiah Kependidikan Vol 6 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine (1) student perceptions of the implementation of the MBKM curriculum that has been implemented at the Faculty of Engineering, Islamic University of Bandung, and (2) to determine student perceptions of digital literacy to support the success of MBKM. This research is a case study assisted by an online survey. Researchers collected data through an online survey via google form which was addressed to students of the Faculty of Engineering, Nusantara Islamic University, Bandung, as many as 655 students. The survey contains structured questions and leads to several answers that have been provided by the Ministry of Education and Culture as the compiler of the survey. The results showed that the implementation of MBKM at the Faculty of Engineering, Universitas Islam Nusantara was good, although the socialization that had been carried out by universities had not obtained maximum results. In addition, with regard to digital literacy, 94% of students stated that digital literacy is very important and strongly supports the MBKM program.
Analisis Kuat Tekan Satuan Lava Andesit Binade dan Satuan Lava Andesit Wonokarto Daerah Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur Nizar Hilmy; Sukartono; Siti Nur
Retii Vol 18 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-18 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara administratif daerah penelitian berada di dua kabupaten yaitu : Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan, tepatnya terletak di daerah Mrayan dan sekitarnya, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, serta sebagian kecil termasuk Provinsi Jawa Timur. Satuan geomorfologi pada daerah penelitian dapat dibagi menjadi beberapa satuan Geomorfologi yaitu : Satuan Geomorfologi Punggungan Jatuhan Piroklastik Mrayan, Satuan Geomorfologi Punggungan Aliran Piroklastika Mrayan, Satuan Geomorfologi Punggungan Aliran Lava Wonokarto, Satuan Geomorfologi Punggungan Jatuhan Piroklastika Mrayan, Satuan Geomorfologi Punggungan Aliran Lava Wonokarto. Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 4 satuan batuan, 2 khuluk, dari umur yang paling tua meliputi; satuan lava andesit Wonokarto berumur Oligosen, satuan lava andesit Binade Oligosen Akhir, satuan batuan terobosan andesit Baosan lor Miosen Awal dan yang terakhir adalah satuan piroklastik jatuhan tuff Mrayan pada kala Miosen Akhir. Hasil sampel uji kualitas pada batuan di daerah penelitian memiliki kuat tekan 2223,385 kg/cm² (Sampel 1), 599,859 kg/cm² (Sampel 2), dapat digunakan sebagai Bahan pondasi bangunan yaitu beton jalan raya, beton tiang pancang, landasan pacu pesawat terbang (Standar Direktorat Jendral Bina Marga 1976), dan penutup lantai trotoar, batu hias atau temple, bangunan sedang (Standar Industri Indonesia, 0378-80).
PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM MENJADI KOMPOS HAYATI DAN BRIKET DI DESA BALINGBING, KECAMATAN PAGADEN BARAT, KABUPATEN SUBANG Tita Kartika Dewi; Ade Suparman; Nine Wahyuni Maulani; Okke Rosmaladewi; Ahmad Khori; Siti Nur
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 14 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v14i2.3387

Abstract

Produksi padi di desa Balingbing, kecamatan Pagaden Barat, kabupaten Subang sebesar 11.169 ton/tahun, sehingga menghasilkan sekitar 3.127 ton limbah sekam padi per tahunnya. Tingginya produksi padi ini menimbulkan permasalahan limbah sekam yang diperoleh, sementara pemanfaatannya belum oprtimal. Program yang diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis sekam padi menjadi dua produk yaitu pupuk kompos dan briket sekam. Pupuk kompos diproduksi menggunakan penerapan teknologi dan inovasi "Tri in One_okey," yang berfungsi sebagai biofertilizer, biofungisida, dan biodekomposer berbasis jamur Trichoderma harzianum Rifai. Produk kompos yang diperoleh ini dapat meningkatkan efisiensi budidaya tanaman dan mendukung pertanian berkelanjutan. Di sisi lain, briket sekam diproduksi secara mekanis sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Program ini melibatkan ibu-ibu dari Kelompok Tani Tunas Harapan III dan PKK setempat, dengan metode pelatihan dan pendampingan teknis baik pada saat pelatihan maupun pemasaran. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian, memperbaiki kesejahteraan ekonomi, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengelolaan limbah
PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM MENJADI KOMPOS HAYATI DAN BRIKET DI DESA BALINGBING, KECAMATAN PAGADEN BARAT, KABUPATEN SUBANG Tita Kartika Dewi; Ade Suparman; Nine Wahyuni Maulani; Okke Rosmaladewi; Ahmad Khori; Siti Nur
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 14 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/jpkm.v14i2.3387

Abstract

Produksi padi di desa Balingbing, kecamatan Pagaden Barat, kabupaten Subang sebesar 11.169 ton/tahun, sehingga menghasilkan sekitar 3.127 ton limbah sekam padi per tahunnya. Tingginya produksi padi ini menimbulkan permasalahan limbah sekam yang diperoleh, sementara pemanfaatannya belum oprtimal. Program yang diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis sekam padi menjadi dua produk yaitu pupuk kompos dan briket sekam. Pupuk kompos diproduksi menggunakan penerapan teknologi dan inovasi "Tri in One_okey," yang berfungsi sebagai biofertilizer, biofungisida, dan biodekomposer berbasis jamur Trichoderma harzianum Rifai. Produk kompos yang diperoleh ini dapat meningkatkan efisiensi budidaya tanaman dan mendukung pertanian berkelanjutan. Di sisi lain, briket sekam diproduksi secara mekanis sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Program ini melibatkan ibu-ibu dari Kelompok Tani Tunas Harapan III dan PKK setempat, dengan metode pelatihan dan pendampingan teknis baik pada saat pelatihan maupun pemasaran. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian, memperbaiki kesejahteraan ekonomi, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengelolaan limbah
Pemberdayaan Perempuan Melalui Bisnis Kreatif Wedding Organizer untuk Membangun Kemandirian Ekonomi PKK Desa Ciwaruga Kabupaten Bandung Barat Resawidjaya, Okke Rosmaladewi; Deti Rostini; Siti Nur
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan usaha kreatif berbasis komunitas menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa. Namun, potensi keterampilan ibu-ibu PKK di Desa Ciwaruga Kabupaten Bandung Barat, seperti menjahit, merias, memasak, dan dekorasi, belum sepenuhnya terwadahi dalam bentuk usaha yang terorganisir. Permasalahan ini mendorong perlunya inovasi bisnis kreatif berupa Wedding Organizer (WO) yang memanfaatkan keterampilan lokal sekaligus kearifan budaya Sunda. Metode yang digunakan dalam program ini adalah pendekatan partisipatif melalui pemberdayaan masyarakat. Tahapan meliputi identifikasi potensi SDM dan kearifan lokal, pemetaan infrastruktur serta peluang kerja sama dengan UMKM desa, pelatihan manajemen WO dan pemasaran digital, hingga perancangan model bisnis berbasis kolaborasi. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa ibu-ibu PKK mampu berkontribusi dalam berbagai layanan WO seperti tata rias, dekorasi, catering, dan penyediaan souvenir khas lokal. Selain itu, jejaring sosial serta pemanfaatan media digital terbukti efektif dalam meningkatkan promosi. Sinergi dengan UMKM lokal memperkuat keberlanjutan usaha dan menciptakan paket layanan pernikahan yang lebih lengkap serta bernuansa budaya. Kesimpulannya, pengembangan WO berbasis pemberdayaan perempuan di Desa Ciwaruga tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal serta meningkatkan kemandirian keluarga. Model ini berpotensi direplikasi di desa lain sebagai strategi pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Abstract The development of community-based creative enterprises has become an effective strategy to enhance rural economic independence. However, the skills of the women’s community group (PKK) in Ciwaruga Village, West Bandung Regency—such as sewing, make-up artistry, cooking, and decoration—have not been fully utilized in an organized business. This issue highlights the need for an innovative creative business in the form of a Wedding Organizer (WO) that integrates local skills with Sundanese cultural wisdom. The method applied in this program was a participatory empowerment approach. The stages included identifying human resource potentials and local wisdom, mapping infrastructure and collaboration opportunities with local MSMEs, conducting training on WO management and digital marketing, and designing a collaborative business model. The results indicate that PKK members are able to contribute significantly to WO services such as bridal make-up, decoration, catering, and the production of local souvenirs. Furthermore, social networking and the use of digital media proved effective in enhancing promotion, while synergy with local MSMEs strengthened business sustainability and created more comprehensive wedding service packages with cultural value. In conclusion, the development of a women-empowered WO in Ciwaruga Village not only generates new economic opportunities but also reinforces local cultural identity and supports family independence. This model has the potential to be replicated in other villages as a strategy for community-based creative economic development.