Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jutek JAGO

Pengaruh Jenis Material Pipa Pendingin Terhadap Distribusi Temperatur di Dalam Beton Yang Didinginkan dengan Sistem Post Cooling Ratnawati
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 1 No. 1 (2021): June
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.942 KB) | DOI: 10.53620/jtg.v1i1.6

Abstract

Mass concrete is a concrete casting with a large enough volume, usually used for foundations, bridges,dams and so on. The heat of hydration in the mass concrete causes a temperature difference between the inside and the outside of the concrete surface. This can cause cracks in the concrete,where the temperature inside the concrete has a higher temperature rise than the outer surface yhat is in contact with the environment. One way to control the temperature of the concrete is to use a post cooling system.Post cooling system design requires knowledge of temperatur distribution in concrete. The research was conducted by varying the cooling pipe materials used,namely steel,PVC,and PEX where the cooling water discharge and temperatur were constant.The result of the research that have been carried out show that with the same cooling water discharge and temperature,concrete with PVC cooling has a higher temperature than PEX cooling pipe or steel.
Analisa Kerugian Head Akibat Perluasan Dan Penyempitan Penampang Pada Sambungan 90o Ahmad Yani; Ratnawati; Ardyanto Darmanto
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 1 No. 1 (2021): June
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1786.505 KB) | DOI: 10.53620/jtg.v1i1.10

Abstract

PVC pipe (polyvinyl chloride), galvanized, and stainless steel are types of pipes that are widely used, especially for delivering clean water to people's homes or in the industrialized world. This research was conducted by collecting data such as: flow rate (Q), pressure height (h), pipe flow velocity (v), time (s), and head loss (H), data were collected and calculated to determine pressure loss, effect variations in discharge changes and loss coefficients. From the experimental results, it was found that for the narrowing of the cross section at a discharge of 25 liters / second the value of the head loss was greater, which was located in the galvanic pipe, namely 0.09568, then followed by a discharge of 20 liters / second the value was 0.06454 and a discharge of 15 ltr / second the value was 0 , 03723. While the smallest value in panampang narrowing lies in PVC pipe, at a discharge of 25 ltr / second the value is 0.05957, at a discharge of 20 ltr / second the value is 0.03989 and at a discharge of 15 ltr / second the value is 0.02303. Likewise in the expansion of the cross-section, the greatest value lies in the galvanized pipe. For a debit of 25 ltr / second the value obtained is 0.03526, a debit of 20 ltr / second the value is 0.02355, a debit of 15 ltr / second the value is 0.01352. While the smallest value is located on the stainless steel pipe, the value is 0.02688 for the flow rate of 25 liters / second, the value for 20 liters / second is 0.01811, the value for 15 liters / second is 0.01044.
Perencanaan Elevator (LITF) Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Industri Bontang (STTI Bontang) Lantai Enam Dengan Kapasitas Delapan Orang Ratnawati; Rosiyan Nurdin
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 2 No. 1 (2022): June
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.105 KB) | DOI: 10.53620/jtg.v2i1.64

Abstract

Lift atau Elevator pada dasarnya adalah sebuah rakitan sistem katrol sederhana yang menerapkan prinsip kerja hukum mekanika newtonian secara sederhana gedung kampus sekolah Tinggi Teknologi Industri Bontang (STTIBontang) yang dibangun pada tahun 2003 dan selesai pembangunanya 2005, Dengan spesifikasi tinggi Lantai enam (6) dengan fungsi sebagai media belajar dan mengajar secara aktifitas lainya, Sistem transportasi yang digunakan hanya dengan anak tangga.oleh karna itu merancang pesawat angkat dengan jenis Elevator (lift) untuk memudahkan pekerjaan maupun mobilisasi. Proses perencanaan elevator harus sesuai dengan factor-faktor atau standar antara lain safety, ekonomis dan praktis. Sangkar lift bergerak di dalam lorong pada rel penuntun yang terpasang tetap. untuk keperluan ini kedua sisi sangkar pada bagian atas dan bawah diberi dua penuntun yang bentuknya sesuai dengan rel penuntun. Rel atau batang penuntun terbuat dari batang baja profil siku T – ganda atau batang kayu dan diikat pada kedua sisi lorong elevator . rel diberi pelumas gemuk secara teratur .kerugian gesekan pada rel penuntun diambil sebesar 5 -10% dari bobot komponen gesek . penuntun dipasang pada tempat sempit diantara dua rel ,sehingga dapat berfungsi untuk mencegah ketidak serasian sangkar lift
Pengaruh Suhu Gas Alam Terhadap Flow Gas Dengan Menggunakan Perhitungan Software Flow Calculation Ratnawati; Irwandi
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 1 No. 2 (2021): December
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.985 KB) | DOI: 10.53620/jtg.v1i2.44

Abstract

Pengukuran dan perhitungan flow rate dan Total flow untuk aplikasi Metering atau Custody Transfer melibatkan proses pengukuran, perhitungan dan pengenaan Faktor Koreksi untuk flow terhitung terhadap kondisi referensi. Pada skripsi ini dijelaskan tentang Prinsip Kerja dan Fitur sebuah Flow Computer serta Sistem Komputer untuk sebuah Metering System. Berdasarkan hasil penelitian dari sempel gas yang digunakan dengan suhu 30°C yang menunjukkan aliran gas sebesar 0,3612548 MMSCFD untuk perhitungan software dan 0,363916282 MMSCFD menggunakan perhitungan manual, 40°C yang menunjukkan aliran gas sebesar 0,3550708 MMSCFD untuk perhitungan software dan 0,357446244 MMSCFD menggunakan perhitungan manual, 50°C yang menunjukkan aliran gas sebesar 0,3492298 MMSCFD untuk perhitungan software dan 0,351371198 MMSCFD menggunakan perhitungan manual, 60°C yang menunjukkan aliran gas sebesar 0,3436834 MMSCFD untuk perhitungan software dan 0,345648067 MMSCFD menggunakan perhitungan manual, 70°C yang menunjukkan aliran gas sebesar 0,338397 MMSCFD untuk perhitungan software dan 0,34039947 MMSCFD menggunakan perhitungan manual. Dapat disimpulkan semakin rendah suhu gas alam maka semakin besar flow yang terhitung dan semakin tinggi suhu gas alam maka akan semakin kecil flow yang terhitung oleh software flow calculation dan perhitungan manual. Kata kunci: Suhu Gas Alam, Flow Computer
Pengaruh Variasi Debit Aliran Terhadap Performa Pompa Air Sentrifugal Single Stage Grundfos NS Basic 4-23M Ratnawati; Adam Tires, Brian; Anoi, Yano Hurung; Yani, Ahmad
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 2 No. 2 (2022): December
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53620/jtg.v2i2.87

Abstract

Pompa merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam hal pendistribusian cairan (terutama air). Dalam memompa cairan, pompa sentrifugal memiliki peranan yang amat penting karna paling banyak penggunaanya. Karna banyaknya penggunaan tersebut, maka dibutuhkan pompa sentrifugal yang unjuk kerjanya maksimum. Untuk mengetahui pengaruh variasi debit aliran terhadap kinerja pompa air sentrifugal Single Stage Grundfos Ns Basic 4-23M. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dalam skala laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan instalasi pompa air pada workshop Teknik Mesin Sekolah Tinggi Teknologi Industri Bontang dapat disimpulkan bahwa nilai daya poros pompa terbesar terjadi pada debit aliran 0,0014 m3/dtk dengan menghasilkan daya poros sebesar 0,654 hp, selanjutnya nilai daya hidrolis terbesar terjadi pada debit aliran 0,0012 m3/dtk dengan nilai sebesar 0,168 hp, dan nilai effisiensi pompa tertinggi terjadi pada debit aliran 0,0010 m3/dtk dengan nilai sebesar 29,087 %.
Analisis Model Sambungan Baut Baja M12 Terhadap Kekuatan Tarik Material Plat ST-42 Muh Rifky Algifari; Ratnawati; Anoi, Yano Hurung
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 3 No. 2 (2023): December
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53620/jtg.v3i2.121

Abstract

Abstract Along with the increasingly rapid development of tecnology of technology in science today, it will have a very complex impact on companies which are required to produce quality product in accordance with market demand, especially in the development of technology in the fields of construction, automotive, manufacturing and home industry. Comparing the 2 bolt, 3 bolt connection on the tensile strength of ST steel plate plate material. 42 To determine the magnitude of the greater the tensile strength of ST steel plate material.42 To Determine the magnitude of the influence of variations in connection models of 2 bolts, 3 bolts as an effort to increasear the tensile strength of ST steel plate material. 42 To determine the magnitude of the influence of variations in connection models of 2 bolts, 3 bolts as an effort to increase the tensile strength of ST 42 plate material. The more bolts you use in a connection, the greater the tensile strength production. Namely, for the connection, 2 vertical model bolts with a strength value of max = 96.019 Mpa, 3 horizontal model bolts with a strength value of max = 175.556 Mpa, Parallelogram style bolts (a) are the best type of connection as a result of tensile test. Variations in bolt connection models influence efforts to increase tensile strength for both the 2 bolt, 3 bolt models, namely for the 2 bolt connection the horizontal model max 2 bolt = 89.722 Mpa, the vertical model max 2 bolt = 96.019 Mpa and the incline model max 2bolt = 86,667 Mpa and for a connection of 3 bolts, horizontal model max 3 bolt = 137,222 Mpa, vertical model max 3 bolt = 120,556 Mpa , inclined model max 3 bolt = 122,315 Mpa , triangular model (a) max 3 baut = 134,074 Mpa and triangular model (b) max 3 baut = 133,889 Mpa. Keywords: Bolted Connection, ST 42 Steel
Analisis Variasi Kecepatan Angin Dan Beban Lampu Terhadap Kinerja Turbin Angin Poros Horosontal Studi : Eksperimental Pada Alat Praktikum Mesin Fluida Muhammad Rian Hartoyo; Ratnawati; Yani, Ahmad
Jurnal Teknik Juara Aktif Global Optimis Vol. 4 No. 1 (2024): June
Publisher : STTI Bontang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53620/jtg.v4i1.152

Abstract

Kebutuhan energi di Indonesia dan khususnya di dunia pada umumnya terus meningkat karena pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu sendiri yang senantiasa meningkat. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan salah satu negara yang terletak di garis khatulistiwa merupakan salah satu faktor bahwa Indonesia memiliki potensi energi angin yang melimpah. Angin merupakan energy yang mudah didapat serta tidak membutuhkan biaya besar. Angin juga termasuk energi yang dapat di perbaharui atau tidak termakan oleh waktu. Alat yang dapat digunakan adalah kincir angin akan menangkap energy angin dan menggerakkan generator yang nantinya akan menghasilkan energy listrik. Kincir angin yang digunakan adalah kincir angin bersudu empat dengan poros horizontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beban lampu terhadap kinerja turbin angin poros horizontal. Kesimpulan yang diperoleh dalam penilitian ini adalah sebagai berikut: Pada kecepatan angin 3,0 m/s menghasilkan daya angin sebesar 3,35 watt, dan daya output 2,198 watt, kecepatan 3,8 m/s menghasilkan daya angin sebesar 6,81 Wattdan daya output 2,774 watt, kecepatan 4,2 m/s menghasilkan daya angin sebesar 9,2 Watt dan daya output 4,114 watt. Pengujian lampu terhadap ketahanan aki untuk lampu DC 3 watt dapat bertahan selama 98 jam, Pengujian lampu terhadap ketahanan aki untuk lampu DC 5 watt dapat bertahan selama 59 jam, Pengujian lampu terhadap ketahanan aki untuk lampu DC 9 watt dapat bertahan selama 32 jam, Pengujian lampu terhadap ketahanan aki untuk lampu DC 10 watt dapat bertahan selama 29 jam.