Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ETIKA MENURUT PANDANGAN MURTADA MUTAHHARI Yunan, Muhammad
AL-Fikr Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : AL-Fikr

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the ethics according to Murtadha Mutahhari. To Murtada Mutahhari, human actions can be distinguished between acts naturally (normal) and act akhlaqi. Natural act is an act that does not make the perpetrators be worthy of praise, for example; a hungry will eat, drink thirsty, tired of break and so on. Type of acts of this nature is also made by animals. Find akhlaqi act is an act that deserves to be praised or flattered, the artistry that is identical to the (voluntary). In that sense, people will recognize the great value of an act akhlaqi. The question is not whether prices can be juxtaposed or aligned with the material, such as money or other goods, of any such material. The question is ranked higher in the human person.
Resepsi Organisasi Masyarakat Nahdlatul Ulama dan Wahdah Islamiyah terhadap Cadar di Kabupaten Majene: (Studi Living Qur’an) Octaviani, Nur Afni; Nasir, Muhammad Nasir; Yunan, Muhammad
PAPPASANG Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v6i1.958

Abstract

Controversial debate surrounding the veil and its prohibition in several institutions in Indonesia. Employing a qualitative approach and a descriptive comparative method, primary data is obtained from the organizations' officials, while secondary data involves relevant literature. Data collection methods include observation, interviews, and documentation, with analysis using Hans Robert Jauss' reception theory. Nahdlatul Ulama sees the veil not as an obligation in Islam but as a pre-Islamic tradition. They emphasize the importance of covering the aurat according to specified conditions, irrespective of the model of aurat covering. Conversely, Wahdah Islamiyah considers the veil a duty and recommendation to preserve the honor of Muslim women. The research findings indicate that Nahdlatul Ulama is oriented towards the Quran, hadith, fiqh books, ijma, and qiyas, following the Shafi'i school, while Wahdah Islamiyah relies on the Hambali school and classical interpretations of related verses. Both organizations agree that the essence of wearing the veil lies in the purity of the heart and choosing clothing in accordance with religious norms. Penelitian ini mengevaluasi pandangan Nahdlatul Ulama dan Wahdah Islamiyah terhadap cadar di Majene menggunakan metode Living Qur'an. Fokusnya pada perdebatan kontroversial seputar cadar dan pelarangan di beberapa instansi di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif komparatif, data primer diperoleh dari pengurus ormas, sedangkan data sekunder melibatkan literatur terkait. Metode pengumpulan data melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan analisis menggunakan teori resepsi Hans Robert Jauss. Nahdlatul Ulama melihat cadar bukan kewajiban Islam, melainkan tradisi pra-Islam. Mereka menekankan pentingnya menutup aurat sesuai syarat, tanpa memandang model penutup aurat. Wahdah Islamiyah, sebaliknya, menganggap cadar sebagai kewajiban dan anjuran untuk menjaga kehormatan wanita Muslim. Hasil penelitian menunjukkan Nahdlatul Ulama berorientasi pada al-Qur'an, hadis, kitab fiqih, ijma, dan qiyas, mengikuti mazhab Imam Syafi'i, sementara Wahdah Islamiyah berlandaskan pada mazhab Hambali. Keduanya sepakat bahwa inti penggunaan cadar adalah kebersihan hati dan pemilihan pakaian sesuai norma agama.
MEHAMAHI KAIDAH TARADUF DALAM PEMBELAJARAN ALQURAN Yunan, Muhammad
JPPI (Jurnal Pendidikan Islam Pendekatan Interdisipliner) Vol 7 No 2 (2023): JPPI Volume 7 Nomor 2 Desember 2023
Publisher : UI DDI AGH AD Polewali Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36915/jppi.v7i2.150

Abstract

Alquran menggunakan keunggulan bahasa Arab, yang kaya akan kosa kata dan sinonimnya, dengan sangat teliti dalam mengambarkan sesuatu. Terbukti, banyak orang yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang bahasa Arab terkagum-kagum ketika meneliti dan merenungi susunan redaksi ayat-ayat Alquran. Karena itu, maka yang menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini adalah “apa dan bagaimana kaidah tara>duf di dalam Alquran?” Kata tara>duf sewazan dengan tafa>‘ul yang berasal dari kata radifa-yardafu-radfan yang artinya mengikuti di belakang, membonceng. Secara terminologi, tara>duf adalah lafaz-lafaz mufrad yang menunjuk atas sesuatu yang semakna dan dengan keterangan yang sama pula, atau sesuatu yang lafaznya berbilang dan mengandung satu makna. Adapun kaidah-kaidah tara>duf di dalam menafsirkan Alquran adalah sbb: 1) Selama makna lafaz-lafaz Alquran memungkinkan untuk menghindari tara>duf, maka itulah yang diinginkan; 2) Terkadang perbedaan dua lafaz menerangkan sesuatu yang sama, maka sebaiknya keduanya disebutkan dengan cara memberikan ta’kid; dan 3) Makna yang dihasilkan dari penggabungan dua mutara>dif, tidak didapatkan ketika salah satu dari keduanya berdiri sendiri.
EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN FIQIH MAWARIS DI MADRASAH ALIYAH TARBIYAH ISLAMIYAH KECAMATAN HAMPARAN PERAK Lubis, Sakban; Tumiran, Tumiran; Yunan, Muhammad; Rahayu, Sinta
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 11 No 1 (2025): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54248/alhadi.v11i1.4911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran Fiqih Mawaris yang diterapkan di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Fiqih Mawaris sebagai bagian dari ilmu Fiqih memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, sehingga memerlukan pendekatan pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memahami dan menerapkannya dengan baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan guru mata pelajaran Fiqih dan siswa, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional, yaitu ceramah dan penugasan, dengan sedikit penerapan metode kontekstual atau praktikum. Meskipun sebagian siswa mampu memahami konsep dasar pembagian waris, namun secara umum efektivitas pembelajaran masih tergolong sedang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya variasi metode, minimnya media pembelajaran yang mendukung, serta keterbatasan waktu alokasi mata pelajaran. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fiqih Mawaris.