Asmadi
Poltekkes Kemenkes Pontianak

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP PETUGAS DAN KETERSEDIAN PRASARANA DAN SARANA DENGAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) DI RSUD ADE MUHAMMAD DJOEN SINTANG Martini; Suharno; Asmadi
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 5 No 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.472

Abstract

Limbah B3 rumah sakit berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan jika tidak dikelola dengan baik, sementara di RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang masih terkendala sarana, pengetahuan, dan sikap petugas, sehingga perlu dievaluasi agar pengelolaan limbah sesuai standar. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional . Populasi penelitian adalah seluruh petugas cleaning service pengelola limbah medis padat di RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang yang berjumlah 52 orang, yang sekaligus menjadi sampel menggunakan teknik total sampling . Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi menggunakan ceklis, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-square pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil uji statistik menunjukkan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan petugas dengan pengelolaan limbah B3 (p-value = 0,014; PR = 1,962). Petugas dengan pengetahuan kurang, 1.962 kali lebih mungkin memiliki pengelolaan limbah B3 yang tidak baik. Ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan pengelolaan limbah B3 (p-value = 0,030; PR = 1,890). Petugas dengan sikap tidak setuju, 1.890 kali lebih rentan menerapkan pengelolaan limbah B3 yang tidak standar. Ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan prasarana dan sarana dengan pengelolaan limbah B3 (p-value = 0,001; PR = 2,211).
GAMBARAN KONDISI SANITASI DEPOT AIR MINUM BIRU DI KOTA PONTIANAK Weni Wahyuni Aprilya; Asmadi; Abdul Syukur
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 5 No 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.475

Abstract

Peningkatan jumlah Depot Air Minum di Kota Pontianak dan temuan surveilans Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 yang menunjukkan kontaminasi Escherichia coli pada air minum isi ulang. Data dari sumber terdahulu juga menunjukkan masalah sanitasi dan higiene di Depot Air Minum Biru, seperti praktik mencuci tangan yang kurang higienis dan lingkungan yang belum cukup ideal menunjukkan bahwa DAM Biru memerlukan perhatian dalam usaha mencegah kontaminasi yang disebabkan oleh kondisi dan fasilitas sanitasi yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi sanitasi Depot Air Minum Biru di Kota Pontianak meliputi lokasi, desain bangunan luar dan dalam, fasilitas, penjamah, peralatan, dan sumber air baku. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan observasi menggunakan ceklist Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 17 Tahun 2024. Dengan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Sampel penelitian adalah tujuh DAM Biru di Kota Pontianak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketujuh DAM Biru secara umum telah memenuhi syarat sanitasi (≥80%) berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 17 Tahun 2024. Namun, terdapat beberapa kekurangan, seperti kurangnya fasilitas cuci tangan di area luar di ketujuh depot Biru, beberapa kekurangan di fasilitas kamar mandi di dua dari tujuh depot biru, ketujuh penjamah di depot biru belum melakukan praktik cuci tangan yang baik dan tidak dilakukan secara berkala, dan belum adanya bukti pemeriksaan kesehatan berkala bagi seluruh penjamah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan Depot Air Minum Biru di Kota Pontianak memiliki Kondisi lokasi yang 100% memenuhi syarat. Namun untuk desain bangunan luar 100% masih belum memenuhi syarat. Bangunan dan fasilitasnya 100% memenuhi syarat konstruksi dan standar sanitasi. Kondisi penjamah telah memenuhi standar higiene 100%. Semua peralatan DAM 100% memenuhi standar, Sumber air baku DAM Biru juga telah 100% memenuhi syarat menurut Permenkes Nomor 17 Tahun 2024.
EFEKTIVITAS PENGOLAHAN BOD (BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND) PADA LIMBAH CAIR DENGAN METODE RBC (ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR) DI KLINIK PRATAMA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK Rindu Puza Annisa Zaskia; Asmadi; Hajimi
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 5 No 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.477

Abstract

ABSTRAK Klinik Pratama merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang dalam aktivitas operasionalnya menghasilkan limbah cair domestik. Limbah cair tersebut mengandung bahan organik dan berbagai zat pencemar lain yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Hasil uji pendahuluan menunjukkan bahwa kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) pada limbah cair Klinik Pratama Poltekkes Kemenkes Pontianak mencapai 125 mg/L. Nilai ini jauh melebihi ambang batas baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.68 Tahun 2016, yaitu 30 mg/L. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode Rotating Biological Contactor (RBC) dalam menurunkan kadar BOD, melalui variasi waktu pengolahan. Penelitian menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment) dengan empat variasi waktu pengolahan, yaitu 24, 48, 72, dan 96 jam. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata kadar BOD awal sebesar 513 mg/L. Setelah pengolahan, terjadi penurunan bertahap, yaitu menjadi 371 mg/L (27,73%) pada 24 jam, 245 mg/L (52,39%) pada 48 jam, 115 mg/L (77,75%) pada 72 jam, dan 49 mg/L (96,62%) pada 96 jam. Penurunan tertinggi diperoleh pada waktu 96 jam dengan efektivitas 90,62%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (<0,05), menandakan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pengolahan. Dengan demikian, metode RBC terbukti efektif dalam menurunkan kadar BOD limbah cair Klinik Pratama, meskipun hasil akhir masih belum sepenuhnya memenuhi baku mutu yang berlaku.
KOMBINASI TANAH KAOLIN DAN TAWAS SEBAGAI KOAGULAN DALAM MENURUNKAN KADAR KEKERUHAN DAN WARNA PADA AIR SUNGAI BAONG DI DESA SUNGAI RAYA KAB. BENGKAYANG Pitriana; Asmadi; Taufik Anwar; Sunarsieh; Hajimi
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 4 No 2 (2025): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i2.436

Abstract

Di desa Sungai Raya Kab. Bengkayang terdapat sungai yang memiliki kualitas fisik yang kurang baik terutama kekeruhan dan warna yang melebihi standar baku mutu air bersih, yaitu Sungai Baong. Agar dapat digunakan oleh masyarakat, diperlukan pengolahan khusus. Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis kemampuan Tanah Kaolin dan Tawas sebagai koagulan dalam menurunkan kadar kekeruhan dan warna pada air Sungai Baong di Desa Sungai Raya, Kab. Bengkayang. Penelitian yang akan dilakukan bersifat eksperimen semu ( Quasi Experiment ) dengan populasi tanah kaolin dan tawas, dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu 30 sampel Air Sungai Baong dengan 5 kali berulang. Hasil penelitian dengan waktu pengendapan selama 30 menit mendapatkan dosis yang paling optimal kombinasi tanah kaolin sebanyak 5gr/l dan tawas sebanyak 0,2 gr/l, dengan penurunan kadar kekeruhan paling efektif, yaitu 5,97 NTU dari kadar sebelum perlakuan yaitu 1731 NTU dan penurunan kadar warna mencapai 18 TCU dari kadar sebelum perlakuan, yaitu 1321 TCU. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan disetiap penambahan variasi dosis kombinasi Tanah Kaolin dan Tawas terhadap kekeruhan dan warna air sungai Baong sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai uji statistik kedua parameter, yaitu p= 0,000 (< 0,05).
EFEKTIVITAS AERATOR VENTURI DAN FILTRASI MENGGUNAKAN MEDIA PASIR KERANG TERHADAP PENURUNAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR SUMUR GALI DI DESA AMPERA RAYA SUNGAI AMBAWANG Febriyan Yusaputra; Asmadi; Paulina; Suharno; Abdul Syukur
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 4 No 2 (2025): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i2.443

Abstract

Kadar besi (Fe) pada air sumur gali di Desa Ampera Raya sangat tinggi yaitu 6,30 mg/L, hasil tersebut melebihi batas aman yang ditetapkan oleh Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2023 yaitu 0,2 mg/L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penurunan kadar besi (Fe) melalui proses aerator venturi dan filtrasi menggunakan media pasir kerang pada air sumur gali. Metode aerator venturi dipilih karena pembuatannya cukup sederhana sehingga mudah diaplikasikan oleh masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian metode quasi eksperimental (eksperimen semu). Sampel yang diteliti memiliki kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan 5 perlakuan waktu pengendapan setelah proses aerasi venturi. Hasil penelitian menunjukkan proses aerator venturi dan filtrasi menggunakan media pasir kerang dapat menurunkan kadar besi (Fe) pada air sumur gali. Hasil penurunan kadar besi (Fe) paling optimal di menit ke-80, dari nilai kadar besi awal 4,62 mg/L turun menjadi 3,31 mg/L dengan efektivitas penurunan sebesar 28,35%. Hasil penelitian kombinasi aerator venturi dan filtrasi menggunakan media pasir kerang bisa menurunkan kadar besi pada air sumur gali. namun, hasil olahan tersebut masih jauh dari nilai kadar besi yang diperbolehkan berdasarkan Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2023. Sebaiknya peneliti selanjutnya melakukan proses penambahan koagulan jenis PAC (Poly Aluminium Chloride) sebelum proses filtrasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PHBS RUMAH TANGGA DI DESA KENDAWANGAN KIRI KECAMATAN KENDAWANGAN Sondang Bolon Gultom; Bambang Supraptono; Malik Saepudin; Suharno; Asmadi
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 4 No 2 (2025): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i2.445

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku yang menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan PHBS di Desa Kendawangan Kiri, Kecamatan Kendawangan. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi pendidikan, pendapatan, pengetahuan, sikap, peran petugas kesehatan, dan peran kader kesehatan. Desain penelitian ini adalah Study Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square. PHBS baik sebanyak 62 responden (62%); pendidikan tinggi 59 responden (59%); pendapatan cukup 45 responden (45%); pengetahuan baik 64 responden (64%); sikap mendukung 59 responden (59%); Peran petugas kesehatan kurang berperan 59 responden (59%); peran kader kesehatan tidak berperan 98 responden (98%). Ada hubungan antara pendidikan (p=0,000); pendapatan (p=0,000); pengetahuan (p=0,000); sikap (p=0,000); dan peran petugas kesehatan (p=0,000); terhadap penerapan PHBS. Tidak ada hubungan peran kader kesehatan (p=0,524 ) terhadap penerapan PHBS.