Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Indeks Prediktif Under-reporting Case TBC Rumah Sakit Di Kudus, Jawa Tengah R Rusnoto; Bhisma Murti; R Reviono; Vitri Widyaningsih; Eti Poncorini Pamungkasari; Chatarina Umbul Wahyuni
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.283 KB)

Abstract

Kasus tuberkulosis yang tidak dilaporkan adalah pasien yang tidak dilaporkan ke sistem surveilans TB nasional setelah diagnosis sehingga perkiraan beban TB tidak akurat. Penelitian ini mengkaji beberapa indikator (indeks) penyebab kasus TB kurang terlapor di RSUD Kota Kudus. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran Explanatory. Dalam studi kuantitatif menilai sembilan indikator kasus tuberkulosis yang tidak terlapor untuk mengetahui berapa indikator yang berkaitan dengan kasus yang tidak terlapor. Sedangkan pada studi kualitatif menggali persepsi dan informasi dari tenaga medis dan dokter rumah sakit mengenai alasan pemilihan indikator kasus under-reporting. Analisis regresi logistik bertingkat dilakukan untuk data kuantitatif, dan analisis konten untuk data kualitatif. Temuan dari bagian studi kuantitatif dan kualitatif dicampur pada interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa indikator yang berhubungan dengan kasus TB yang kurang terlapor dalam analisis multilevel adalah: 1) kompetensi dokter (OR = 0,09; CI95% = 0,05 hingga \ 0,17; p <001), 2. Kompetensi perawat (OR = 0,05) ; CI95% = 0.02 hingga 0.09; p <001), 3. Komitmen perawat (OR = 0.13; CI95% = 0.07 hingga 0.24; p <001), 4. Smear negative (OR = 0.35; CI95% = 0.18 hingga 0.67; p = 0,002), 5. TB paru ekstra (OR = 15,45; CI95% = 8,08 sampai 29,51; p <0,001), dan 6) manajemen rumah sakit (ICC = 11,24%; CI95% = 2,20% sampai 41,62%). . Dapat disimpulkan bahwa terdapat enam indeks yang berhubungan dengan kasus under-reporting TB di RSUD Kudus.
EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUKTUR TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN RHINITIS ALERGIKA: META ANALISIS I Gusti Bagus Panji Widiatmaja Widiatmaja; Setyo Sri Raharjo; Vitri Widyaningsih; Kadek Buja Harditya
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v7i2.503

Abstract

Abstrak Rhinitis alergika (RA) adalah salah satu gangguan kesehatan sebagai kelainan pada hidung disertai gejala bersin-bersin, hidung berair, rasa gatal dan tersumbat pada hidung setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE). Banyak penelitian yang membuktikan dampak akupunktur pada sistem imun. Penelitian ini merupakan sistematic review dan meta-analisis, dengan PICO, yaitu Population: pasien rhinitis alergika. Intervention: terapi akupunktur. Comparison: sham/placebo akupunktur. Outcome: kualitas hidup. Artikel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari beberapa database antara lain Google Scholar, MEDLINE/PubMed, Science Direct, Hindawi, Europe PMC dan Springer Link. Artikel-artikel ini dikumpulkan selama 1 bulan. Kata kunci untuk mencari artikel adalah sebagai berikut: “acupuncture for allergic rhinitis” OR “acupuncture for seasonal allergic rhinitis” OR “acupuncture for parenial allergic rhinitis” AND “quality of life” AND “randomized controlled trial”. Artikel yang termasuk dalam penelitian ini adalah artikel full text dengan desain studi randomized controlled trial (RCT). Kualitas hidup diukur dengan menggunakan Rhinitis Quality of Life Quissioner (RQLQ). Meta analisis ditulis menggunakan PRISMA flow diagram dan dianalisis dengan menggunakan aplikasi Review Manager 5.4. menunjukkan terdapat pengaruh terapi akupunktur terhadap kualitas hidup pasien rhinitis alergika. Akupunktur mampu menurunkan skor RQLQ (meningkatkan kualitas hidup), meskipun secara statistik tidak signifikan. Pasien rhinitis alergika yang mendapatkan akupunktur rata-rata memiliki kualitas hidup dengan skor RQLQ 0.17 unit lebih baik daripada mendapatkan sham akupunktur/akupunktur palsu (SMD = -0.17; CI 95% = -0,40 hingga 0.05; p = 0.120). Terdapat pengaruh akupunktur terhadap kualitas hidup pasien rhinitis alergika. Kata Kunci: Acupuncture, Allergic rhinitis, Kualitas Hidup, RQLQ, Randomized Controlled Trial, Meta-analisis
Dampak Pelatihan Program CREADIS dalam Meningkatkan Pemahaman Disabilitas dalam Berwirausaha Fadjri Kirana Anggarani; Dian Atnantomi Wiliyanto; Joko Yuwono; Mahardika Supratiwi; Selvi Sumardin; Vitri Widyaningsih; Nazmin binti Abdullah
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i2.849

Abstract

Berwirausaha adalah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian bagi disabilitas. Tujuan pelatihan CREADIS adalah untuk memberikan pelatihan komunitas disabilitas binaan dalam mengembangkan usahanya, mendapatkan omzet, dan mendapatkan pasar yang lebih luas. Kegiatan pelatihan CREADIS ini menggunakan metode kuantitatif untuk melihat dampak pelatihan terhadap pemahaman disabilitas binaan dalam memahami pengelolaan bisnis atau wirausaha bidang makanan sehat. Program pelatihan CREADIS dilaksanakan dalam tiga tahapan utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan melibatkan 10 disabilitas binaan. Hasil analisis secara statistik uji t-test dengan menggunakan Wilcoxon menunjukkan bahwa setiap pelatihan yang diikuti oleh binaan disabilitas memiliki signifikansi p < 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pemahaman tentang materi bisnis atau wirausaha peserta pelatihan. Pelatihan sudah diberikan fasilitas Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk memberikan pelatihan yang inklusif bagi peserta disabilitas binaan dalam mengakses materi yang disampaikan narasumber. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi pelatihan kewirausahaan yang dilaksanakan bagi disabilitas, karena pelatihan yang inklusif penting untuk memberikan akses lebih mudah bagi interaksi narasumber dan peserta pelatihan. Rekomendasi pelatihan kewirausahaan bagi disabilitas di rumah sakit maupun instansi lain adalah perlu diberikan satu kegiatan lagi untuk presentasi pemasaran produk kepada masyarakat atau pengusaha makanan yang sudah memiliki merek.