Mochamad Ali
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : DIKSI

REPRESENTATION OF JAVANESE MESSIANIC MANIFESTO IN THE DOMAIN OF IMPERIAL LITERATURES Ali, Moch.
Diksi Vol. 14 No. 1: DIKSI JANUARI 2007
Publisher : Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.778 KB) | DOI: 10.21831/diksi.v14i1.6541

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melacak dan mendeskripsikan representasi manifesto messianisme Java pada ranah karya-karya sastra keraton. Sejak semula, masyarakat Jawa memiliki ideologi tentang manifesto messianisme sebagai identitas kultural. Pada ranah politik kerajaan Jawa, sebenarnya ideologi ini dianggap sebagai wahana orientasi kosmik. Sejak era kerajaan Kediri, masa kebudayaan Jawa-Kuna (Jawa Hindu-Buddha), hingga era kerajaan Mataram, masa kebudayaan Jawa-Islam; para 'rakawi' dan 'pujangga' telah mengadopsi, mengembangkan, mengkristalkan, mereformulasikan, bahkan telah merekayasa ulang tentang episteme messianik Jawa melalui proses pengimitasian konsep messianisme Kitab-kitab Suci dari peradaban Semit (Arab) dan Arya (India). Temuan yang berkaitan dengan pengaruh kultur keagamaan manca tentang manifesto messianisme asing dalam teks-teks tertulis berbahasa Jawa, dapat dianalisis melalui karya-karya sastra keraton yang menyuarakan kronologi profetisme Jawa, seperti Kakawin Bharatayudha, Kakawin Sutasoma, dan Kitab Primbon Quraisy Adammakna. Dalam sejarah sastra Jawa, karya-karya sastra yang bersifat messianik, yang digubah oleh para penulis keraton, kenyataannya telah menciptakan konsep yang tidak berbeda, meskipun mereka menggunakan istilah-istilah religiositas dari agama Hindu, Buddha, maupun Islam. Dalam konteks ini, ideologi messianistik Jawa dapat diidentifikasi dan direpresentasi melalui dua hal (1) orientasi messiansime etnik yang merujuk pada paradigma identitas kultural Jawa, dan (2) orientasi eskatologi messianisme Jawa Islam.Key words : Hindu, Buddha, Islam, Indic, Semitic, Brahmanic, Abrahamic, incarnation, Javanese, messianic episteme.
WACANA BENTURAN PERADABAN DALAM NOVEL THE SATANIC VERSES KARYA SALMAN RUSHDIE Ali, Moch.
Diksi Vol. 15 No. 1: DIKSI JANUARI 2008
Publisher : Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.534 KB) | DOI: 10.21831/diksi.v15i1.6555

Abstract

This article is about a research describing a discourse on the clash ofcivilizations represented in the person of Mahoud, the Hellenized Islamic prophetin the pejorative novel of the Western World The Satanic Verses by SalmanRushdie, who was born in the Bhí£rat tradition of India. As a famous novel in thatworld, The Satanic Verses politically represents a hegemony in discourse of asecretive quantum literary industry to create a clash in civilization between theEast and the West through a deconstuction of religious power.The research employs a descriptive qualitative technique in the dataanalysis, which is textually done by understanding (1) the position of SalmanRushdie as a Indian-English author toward the well-known Islamic religioussymbols in creating the representation and (2) his way in representing Mahoud theprophet in the novel.The research uses Stuart Hall's and Michel Foucault's theory ofrepresentation. As a result, the analysis shows that The Satanic Verses as a novel byan author of Indian and English blood offers a literary discourse as an imaginativepolitical manisfesto through the projection of language power. Obviously, theimaginative discourse also shows how the Indian-English author has an absolutecontrol over the literary language play used in the representation of religioussymbols.Keywords: Bhí£rat, the West, Islam, Indian-English author, The Satanic Verses