Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Terhadap Penafsiran Ahmad Hassan Tentang Azab Kubur dalam Tafsir Al-Furqan Husnel Anwar; Sugeng Wanto; Muslim Muslim
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12559

Abstract

ABSTACTAhmad Hassan walaupun bukan orang pribumi Indonesia namun kontribusinya terkait bidang agama untuk nusantara ini sangatlah banyak. Diantaranya usahanya adalah bergerak mempelopori perbaikan kehidupan keislaman masyarakat. Tafsir al-Furqan adalah salah satu tafsir nusantara karya Ahmad Hassan yang terbit pada tahun 1928 dan di terima masyarakat dengan baik dan dengan antusias tinggi. Tafsir ini menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an menggunakan metode Ijmali /secara umum atau global.Inti dan pokok-pokok yang membangun ajaran Islam dikategorikan sebagai persoalan akidah yang memiliki konsekuensi-konsekuensi signifikan dalam kehidupan beragama seseorang. Di antara perkara akidah yang harus diyakini seorang muslim adalah berkaitan dengan azab kubur dan ia merupakan bagian dari keimanan dengan hari kiamat. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dipusatkan pada aspek akidah tentang azab kubur, bertujuan untuk menganalisa secara mendalam penafsiran Ahmad Hassan terhadap ayat-ayat yang berkaitan tentang  azab kubur dalam Tafsir al-Furqan.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini dalam menganalisis data yang telah terkumpul dengan menggunakan analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ahmad Hassan tentang azab kubur dalam Tafsir al-Furqan adalah Ahmad Hassan tidak meyakini adanya azab kubur. Ahmad Hassan mengatakan: Di dalam hadis-hadis ada disebut azab kubur dan nikmat kubur. Azab dan nikmat itu bukan sebenarnya, karena manusia tidak diberi nikmat atau disiksa sebelum pemeriksaan amal di hari kiamat. Ringkasnya, dari keterangan agama bahwa azab kubur dan nikmat kubur itu ialah gambaran azab dan nikmat yang dipertunjukkan kepada orang yang di dalam kubur. Ahmad Hassan memahami bahwa azab yang dijanjikan untuk orang-orang yang durhaka adalah azab di akhirat bukan di alam barzakh, siksaan hanya ada setelah hari pembalasan.Kata Kunci: Tafsir al-Furqan, Azab Kubur, Akidah, Muslim
Tradisi Adat Jawa Tujuh Bulanan (Tingkeban) Dalam Perspektif Kewahyuan (Studi Sosiologis Kultural Komunitas Suku Jawa Di Desa Sidomulyo, Kabupaten Batubara) Sugeng Wanto; Ahmad Perdana Indra; Hermansyah Hermansyah
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11443

Abstract

Upacara Tingkeban, atau yang sering dikenal sebagai mitoni, merupakan tradisi daur hidup masyarakat Jawa dalam memperingati usia kehamilan tujuh bulan untuk anak pertama. Artikel ini menganalisis eksistensi, rekonstruksi simbolis, dan dialektika teologis tradisi Tingkeban pada komunitas Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) di Desa Sidomulyo, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Melalui pendekatan sosiologis-kultural dan metode analisis hukum Islam ('Urf), studi ini mengkaji bagaimana identitas kultural diaspora Jawa berinteraksi dengan normativitas ajaran Islam yang menjadi keyakinan mayoritas penduduk. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Tingkeban di Desa Sidomulyo merepresentasikan asimilasi kultural yang diwariskan oleh para penyebar Islam terdahulu, khususnya Sunan Kalijaga, melalui modifikasi rapalan doa (ngujutne). Dalam perspektif hukum Islam, tradisi ini diklasifikasikan sebagai 'Urf Shahih (adat yang valid) sepanjang praktik simbolisnya dimurnikan dari aspek determinisme magis (tathayyur dan takhayyul) serta disesuaikan dengan aturan penutupan aurat pada prosesi siraman. Integrasi nilai-nilai keislaman berupa sedekah, doa keselamatan, dan penumbuhan rasa syukur menjadi pilar penting yang menjaga keberlanjutan tradisi ini di tengah arus modernisasi.
DIMENSI KETAHANAN PSIKOSPIRITUAL MENGHADAPI ERA DIGITAL: STUDI TAFSIR AL-MISBAH TERHADAP Q.S. AL-BAQARAH AYAT 45 Nesya - Hadichintya; Sugeng Wanto
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026): Al Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v16i1.29768

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran Q.S. Al-Baqarah ayat 45 dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab serta menganalisis fungsi kesabaran, shalat, dan khusyuk sebagai dimensi ketahanan psikospiritual dalam membangun ketenangan jiwa di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan yang bersifat deskriptif-analitis. Data primer berupa penafsiran M. Quraish Shihab terhadap Q.S. Al-Baqarah ayat 45 dalam Tafsir Al-Misbah, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan tentang psikologi Islam, regulasi emosi, dan kesehatan mental di era digital. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan teknik analisis isi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Tafsir Al-Misbah membangun tiga dimensi psikospiritual yang saling berkaitan: kesabaran sebagai mekanisme regulasi emosi yang aktif, shalat sebagai terapi jiwa yang memulihkan kondisi batin, dan khusyuk sebagai kesadaran penuh yang menentukan kualitas ibadah sekaligus kestabilan psikologis seseorang. Temuan ini selaras dengan pendekatan psikologi Islam yang menekankan pentingnya pengendalian diri, kedekatan spiritual, dan kesadaran batin dalam menjaga kesehatan mental. Penelitian ini menegaskan bahwa penafsiran Q.S. Al-Baqarah ayat 45 memiliki relevansi yang signifikan dengan tantangan psikologis di era digital, sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur'an menyimpan wawasan psikologis yang mendalam tentang cara manusia menghadapi tekanan, memulihkan diri, dan membangun ketahanan jiwa di tengah kompleksitas kehidupan modern.