Muhammad Ilmi Hatta
Psikologi, Universitas Islam Bandung

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pengaruh Job Insecurity terhadap Perilaku Quiet Quitting ASN Bapenda Kota Bandung Shafirah Aurelia Ikram; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1337-1344
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25541

Abstract

Abstract. In the era of digital transformation, civil servants (ASN) face increasingly complex work demands involving efficiency, role clarity, and competence. This shift is particularly salient in agencies undergoing active digitalization, such as the Regional Revenue Agency (Bapenda) of Bandung City, where formal job security coexists paradoxically with the potential for job insecurity and quiet quitting. Although quiet quitting has been widely studied in the private sector, research linking it to job insecurity among civil servants remains limited. This study examined the effect of job insecurity on quiet quitting behaviour among 43 active civil servants at Bapenda Bandung City, using a quantitative causal-predictive design. Job insecurity was measured using an instrument adapted from the Job Insecurity Scale (Ashford et al., 1989), while quiet quitting was measured using a scale developed by Manullang et al. (2025). Data were collected through convenience sampling and analyzed using simple linear regression. Results showed that job insecurity had a significant positive effect on quiet quitting (R² = 0.658), indicating that job insecurity is a dominant predictor: the higher the perceived job insecurity, the greater employees' tendency to psychologically withdraw while still performing formal duties. Theoretically, these findings position qualitative job insecurity as a hindrance demand within the Job Demands–Resources framework. Practically, organizations are encouraged to strengthen communication, adaptive support, and role clarity to reduce quiet quitting tendencies. Abstrak. Di era transformasi digital, Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi tuntutan kerja yang semakin kompleks, mencakup efisiensi, kejelasan peran, hingga kompetensi. Perubahan ini terasa khususnya pada instansi yang tengah aktif berdigitalisasi, seperti Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bandung, di mana jaminan kerja formal berdampingan secara paradoksal dengan potensi munculnya job insecurity dan quiet quitting. Meskipun quiet quitting banyak dikaji pada sektor swasta, penelitian yang mengaitkannya dengan job insecurity pada ASN masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh job insecurity terhadap perilaku quiet quitting pada 43 ASN aktif Bapenda Kota Bandung, menggunakan desain kuantitatif kausal-prediktif. Job insecurity diukur menggunakan instrumen adaptasi Job Insecurity Scale (Ashford et al., 1989), sedangkan quiet quitting diukur menggunakan skala yang dikembangkan Manullang et al. (2025). Data dikumpulkan melalui convenience sampling dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan job insecurity berpengaruh positif signifikan terhadap quiet quitting (R² = 0,658), yang mengindikasikan job insecurity sebagai prediktor dominan: semakin tinggi ketidakamanan kerja yang dirasakan, semakin besar kecenderungan pegawai menarik diri secara psikologis meski tugas formal tetap dijalankan. Secara teoretis, temuan ini memposisikan job insecurity kualitatif sebagai hindrance demand dalam kerangka Job Demands–Resources. Secara praktis, organisasi disarankan memperkuat komunikasi, dukungan adaptasi, dan kejelasan peran guna menekan kecenderungan quiet quitting.
Pengaruh Kontrol Diri terhadap Toxic Disinhibition Online Effect pada Pengguna TikTok Fazza Ajriya Putrajasin; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1443-1450
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25923

Abstract

Abstract. The rapid growth of TikTok social media usage has triggered the emergence of the toxic disinhibition online effect among young adults, raising critical concerns regarding psychological control mechanisms such as self-control. This study aims to bridge research gaps resulting from previous inconsistencies and to examine the contribution of self-control toward the toxic disinhibition online effect. This quantitative study utilized a cross-sectional design involving 110 active TikTok users selected through purposive sampling among Bandung Islamic University students aged 18–24 years. Data were collected using the Self-Control Scale and the Toxic Disinhibition Online Effect Scale. Simple linear regression analysis revealed a significant negative effect of self-control on the toxic disinhibition online effect (R Square = 0.528, p < 0.05). Dimension analysis indicated that non-impulsive actions serve as a strong predictor in mitigating destructive online behavior, while self-disclosure represents the most dominant manifestation of toxic disinhibition. In conclusion, robust self-regulation capacity significantly reduces destructive online tendencies. Abstrak. Maraknya fenomena toxic disinhibition online effect di media sosial TikTok memicu urgensi untuk meneliti faktor psikologis penekannya, salah satunya yaitu kontrol diri. Penelitian ini dilakukan untuk menghubungkan kesenjangan (research gap) dari adanya inkonsistensi temuan sebelumnya, serta untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kontrol diri terhadap toxic disinhibition online effect pada pengguna media sosial TikTok. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 110 mahasiswa aktif Universitas Islam Bandung rentang usia 18–24 tahun. Pengumpulan data menggunakan skala kontrol diri dan skala toxic disinhibition online effect. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh negatif dan signifikan dari kontrol diri terhadap toxic disinhibition online effect (R Square = 0,528, p < 0,05). Analisis dimensi menemukan bahwa aspek tindakan non-impulsif merupakan prediktor kuat dalam menekan perilaku negatif, sementara self-disclosure menjadi manifestasi dominan.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Guru MA Maula Qinayah Farihatul Isna Muttaqin; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1149-1156
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26301

Abstract

Abstract. Teachers in boarding schools face more complex job demands than in regular schools, extending beyond classroom teaching to supervising students outside class hours. Under these conditions, teachers' perception of organizational support plays an important role in encouraging voluntary behavior beyond formal obligations. This study examines the level of Organizational Citizenship Behavior (OCB) and the effect of Perceived Organizational Support (POS) on OCB among teachers at MA Husnul Khotimah Islamic Boarding School, using a quantitative correlational design with 55 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using an adapted OCB scale (Tentama & Subardjo, 2018) and an adapted Survey of Perceived Organizational Support (Syahputra et al., 2022), analyzed with simple linear regression in SPSS 26. Results show both POS and OCB are generally high (89.1% and 83.6%, respectively). POS has a positive and significant effect on OCB (F = 50.668; t = 7.118; p < 0.001), with regression equation Y = 30.313 + 1.783X and R Square of 0.489, meaning POS explains 48.9% of OCB variance. POS contributes most to sportsmanship (42.9%) and least to altruism (25.5%). These findings suggest strengthening organizational support can enhance teachers' OCB. Abstrak. Guru di sekolah berasrama menghadapi tuntutan kerja yang lebih kompleks dibandingkan sekolah reguler, karena keterlibatannya tidak terbatas pada kegiatan mengajar formal, tetapi juga mencakup pembinaan peserta didik di luar jam pelajaran. Kondisi ini menjadikan persepsi guru terhadap dukungan organisasi berperan penting dalam mendorong munculnya perilaku sukarela di luar kewajiban formal. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat Organizational Citizenship Behavior (OCB) serta menganalisis pengaruh Perceived Organizational Support (POS) terhadap OCB pada guru di MA Husnul Khotimah Islamic Boarding School, menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 55 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala OCB hasil adaptasi Tentama dan Subardjo (2018) serta skala Survey of Perceived Organizational Support hasil adaptasi Syahputra dkk. (2022), dianalisis menggunakan regresi linear sederhana melalui SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan tingkat POS dan OCB pada guru secara umum berada pada kategori tinggi (89,1% dan 83,6%). Hasil uji regresi menunjukkan POS berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB (F = 50,668; t = 7,118; p < 0,001), dengan persamaan regresi Y = 30,313 + 1,783X dan R Square sebesar 0,489, berarti POS menjelaskan 48,9% variasi OCB. Analisis lebih lanjut menunjukkan POS berkontribusi terbesar pada dimensi sportsmanship (42,9%) dan terkecil pada altruism (25,5%). Temuan ini mengindikasikan penguatan dukungan organisasi dapat menjadi strategi institusi meningkatkan OCB guru.