Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Contrastive Analysis of Kinship Terminology in Cina Benteng and Hakka (Khek) Inggrit Laurenza; Sonya Ayu Kumala
SUAR BETANG Vol 17, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i2.442

Abstract

Kinship terminology is a way of addressing someone who is bound to themselves because of blood, descent, and marriage. Kinship terminology is culturally bounded. Kinship systems are widely discussed in different areas of humanity studies, such as linguistics studies. Terminologies in the kinship system of both Cina Benteng and Khek will be used as the linguistic evidence of this research. Since it is an ethnolinguistics study, this research attempts to analyze the kinship terminology of two similar ethnic communities, Cina Benteng and Hakka (Khek) in Tangerang through the ethnolinguistic point of view. It aims to provide the kinship terminology in Cina Benteng and Khek and also to contrast the similarities and differences between the term of address and term of reference in the chosen communities. This research will utilize the kinship theory from Nanda, Burling, and Lounsbury. The data of this research are being collected by doing interviews, recording the interview, taking notes, dan observe the site. This research revealed that even though Cina Benteng and Khek communities belonged to the same root, they have some contrast in their referring and addressing system of kinship. AbstrakIstilah kekerabatan adalah kosakata yang digunakan untuk menyebut seseorang yang terikat dengan diri/penutur karena hubungan darah, keturunan, dan perkawinan. Istilah kekerabatan dalam sebuah bahasa terikat oleh budaya. Sistem kekerabatan dibahas secara luas dalam berbagai studi humaniora, termasuk linguistik. Istilah kekerabatan dalam sistem kekerabatan Cina Benteng dan Khek akan digunakan sebagai data atau bukti linguistik penelitian ini. Penelitian ini mencoba menganalisis terminologi kekerabatan dua komunitas etnis Tionghoa, yaitu Cina Benteng dan Hakka (Khek), di Tangerang dari sudut pandang etnolinguistik. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan istilah kekerabatan di Cina Benteng dan Khek serta untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dari istilah kekerabatan dan sapaan di komunitas itu. Penelitian ini menggunakan teori kekerabatan dari Nanda, Burling, dan Lonsburry. Data penelitian ini dikumpulkan dengan melakukan wawancara, perekaman, pencatatan, dan pengamatan di lokasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun berasal dari akar yang sama, komunitas Cina Benteng dan Khek memiliki beberapa perbedaan dalam sistem kekerabatan baik, dalam fungsi merujuk maupun memanggil.
Analysis of Language Attitude and Language Preservation in Javanese Language.: A Case Study of Javanese Speaker in Madiun, East Java Sonya Ayu Kumala
e-LinguaTera Vol. 1 No. 1 (2021): e-LinguaTera, Universitas Buddhi Dharma
Publisher : Fakultas Sosial dan Humaniora - Universitas Buddhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.246 KB) | DOI: 10.31253/pr.v1i1.578

Abstract

People socialize trough language. Language uses as media of communication and fulfils formal and informal roles in society. In communicating, people have their preference in using certain language for certain roles. Speaker preferences represent their language attitude toward those languages. Speaker attitude of language will strongly affect the preservation of language. In East Java, the regional language is Javanese language. However, people tend to use Indonesia language or Javanese language as their lingua franca in this modern era. This phenomenon encourages one language become dominant or minor. This paper focuses on the attitude of Javanese speaker among participant. The writer chooses participant from Javanese speaker in Madiun, East Java. Participants are chosen in consideration of aspects native speaker and distribution of Javanese language in Java. The domain of language usage and variety of attitudes are used to measure the attitude of language speaker. Besides investigating the language attitude of the participant, in this article, the writer also analyses the language preservation of the participant. The result shows that the participant perform positive attitude toward Javanese language. Therefore, the language preservation that has done by the participant is in the intermediate level. This article is, therefore, only a case study of language attitude, particularly to see how the attitude of native speaker of Javanese language can be problematic in the modern era
ISTILAH KEKERABATAN PADA MASYARAKAT CINA BENTENG Sonya Ayu Kumala; RMT Multamia Lauder; Frans Asisi Datang; Winci Firdaus
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1372

Abstract

Language as part of our culture refers to both general and specific aspects. Specifically, a language has a distinctive aspect that makes it different from other languages. One of the distinguishing aspects can be seen from the greeting or register in terms of kinship. The term kinship in the discipline of linguistics falls into the scope of sociolinguistics. The term kinship according to Wardaugh (2009) is a characteristic in a language that is generally found in every language. The term kinship is being used to address or refer to other people in relation to ourselves (ego) in a structural system that is connected by blood relations, descent, or the occurrence of marriage. The Chinese Benteng community in Tangerang uses a different and distinctive kinship term compared to the Chinese community in other cities in Indonesia. In general the Benteng Chinese community no longer uses their original language as a whole, but speaks Indonesian with a mix of surrounding languages, namely Sundanese and Javanese. The language of their ancestors is still found used by the older generation, trading activities, traditional rituals, and kinship. In addition to the aspect of language use, other forms of cultural acculturation also can be seen such as in dance, musical instruments, and culinary arts. In general, it can be said, China Benteng has a peculiarity that is still upholding the culture of the ancestors but also absorbs the surrounding culture well. This study aims to describe the terms in the Chinese Benteng kinship system, namely through the classification of kinship terms (Chaer, 1997) and analysis of the language distribution of kinship terms. This study was structured using a qualitative descriptive approach. The interview method was used in extracting information from informants, besides that note-taking techniques were also used to document data mining. The results of the analysis show that the terms of kinship in the Cina Benteng community are grouped into three, namely the terms of direct kinship, indirect kinship, and due to marital relations. The distribution of forming languages or used in Chinese Benteng kinship terms are Chinese, Sundanese, and Javanese.Cina Benteng dan Tangerang menjadi satu kesatuan yaitu sebagai objek dan konteks yang potensial dikaji dari sudut pandang bahasa dan budaya. Cina Benteng dengan kemampuan adaptasi dan akulturasi yang unik serta khas apabila dibandingkan dengan model komunitas Tionghoa lain yang ada di Indonesia. Pada tingkat kebahasaan, istilah kekerabatan menjadi hal yang universal yaitu ditemukan di semua bahasa dan juga sekaligus unik yaitu mencirikan masyarakat pemilik istilah kekerabatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan istilah dalam sistem kekerabatan Cina Benteng yaitu melalui klasifikasi istilah kekerabatan yang dianalisis secara semantis dan analisis bahasa pembentuk istilah kekerabatan. Penelitian ini disusun dengan menggunakan ancangan deskriptif kualitatif. Metode wawancara digunakan dalam menggali informasi dari informan, selain itu juga digunakan teknik catat untuk mendokumentasikan penggalian data. Hasil analisis menunjukan istilah kekerabatan dalam komunitas Cina Benteng dikelompokkan menjadi tiga yaitu istilah kekerabatan langsung, tidak langsung, dan karena hubungan perkawinan. Hasil analisis menunjukan bahwa istilah kekerabatan Cina secara umum masih mengikuti struktur dan sistem kekerabatan seperti Tionghoa pada umumnya di kota lain di Indonesia, misalnya perbedaan sebutan kerabat dari pihak ayah dan ibu. Akan tetapi juga sekaligus menunjuk kekhasan dengan mengkombinasikan istilah kekerabatan tionghoa yang beradaptasi dengan konteks budaya dan bahasa yang bersinggungan. Distribusi bahasa pembentuk atau yang digunakan dalam istilah kekerabatan Cina Benteng adalah bahasa Cina, Indonesia (Melayu), Sunda, dan Jawa.
Semiotics Analysis on the Novel Night on the Galactic Railroad By Miyazawa Kenji Using Charles Sanders Peirce’s Triadic Model Ananda Jan Wiyogo; Sonya Ayu Kumala
e-LinguaTera Vol. 3 No. 1 (2023): e-LinguaTera, Universitas Buddhi Dharma
Publisher : Fakultas Sosial dan Humaniora - Universitas Buddhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31253/lt.v3i1.1437

Abstract

This reserach about the semiotic analysis in the novel “Night on The Galactic Railroad” written by Miyazawa Kenji in 1927. The writer wrote this thesis in order to find the sign inside the Novel and interpret the signs using Peirce’s theory by using a Triadic Model. The author decided to further ease the process of interpreting the sign by using Peirce’s triadic model. The writer decided to use qualitative method to find the result for this research. The writer used 2 objects for this research, formal and material object. The formal object being the Charles Sanders Peirce’s theory. While the material object being the Novel Night on The Galactic Railroad by Miyazawa Kenji. The novel was written in 1927 and published by Bunpoudou in 1934. The writer used a note taking method in this research as an instrument. The writer used Peirce’s theory to analyze the data. The consideration of choosing Pierce because this theory can cover all level in semiotics process of meaning interpretation. Based on the analysis process, the writer found that there are 24 signs, which is 17 indexes, 5 symbols, and 2 icons. The writer concludes that the most frequent signs found in the novel are indexes.
ANALISIS PENERJEMAHAN SEJARAH DAN BUDAYA DALAM BUKU PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA BATAK TOBA Riris Mutiara Simamora; Sonya Ayu Kumala
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i1.5375

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai penerjemahan istilah-istilah sejarah dan budaya yang ditemukan pada buku pelajaran. Buku-buku pelajaran, khususnya buku muatan lokal dirancang untuk memberikan informasi terkait bahasa dan daerah setempat. Sehingga, buku-buku ini tidak hanya berfokus pada satu keahlian saja, namun terdapat topik-topik seperti budaya, sosial, politik dan lain-lain. Penelitian ini berfokus buku pelajaran Bahasa dan Sastra Batak Toba. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis istilah-istilah sejarah dan budaya yang ditemukan dalam buku pelajaran Bahasa dan Sastra Batak Toba dan mendeskripsikan pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam menerjemahkan istilah-istilah sejarah dan budaya yang ditemukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yaitu dengan menggunakan data primer yaitu dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengkaji dokumen, wawancara narasumber dan penelusuran pustaka terkait. Data yang digunakan adalah tujuh cerita berbahasa batak yang terdapat dalam buku muatan lokal Pelajaran Bahasa dan Sastra Batak Toba 3 edisi 1 tahun 2011. Tujuh cerita tersebut diterjemahkan dari bahasa Batak Toba ke Bahasa Indonesia dengan menggunakan kamus bahasa batak, penelusuran pustaka dan narasumber. Penelitian ini menggunakan teori konsep penerjemahan budaya oleh Newmark (1988) dan strategi penerjemahan oleh Baker (1992). Dari hasil analisis ditemukan bahwa kategori organisasi,adat istiadat, aktivitas sebagai kategori yang paling dominan muncul sebanyak 23 ungkapan, lalu, kategori budaya sosial sebanyak 9 ungkapan, kategori ekologi sebanyak 7 ungkapan, dan Kategori budaya material sebanyak 6 ungkapan. Strategi yang paling banyak digunakan adalah parafrase, padanan istilah yang lebih umum, tambahan informasi dan mempertahankan istilah. Kata Kunci: Sejarah, Budaya, Penerjemahan, Bahasa Daerah, Batak Toba
Toponymy, Identity, and Place Attachment: Toponym Karawaci and Cina Benteng Community in Tangerang, Banten Sonya Ayu Kumala; Evi Maha Kastri; Winci Firdaus
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1705

Abstract

This article examines the toponym Karawaci as a historically and culturally meaningful place name associated with the heritage of the Cina Benteng community in Tangerang, Banten. The study explores how the name Karawaci functions not only as a geographical marker but also as a linguistic representation of collective identity, historical memory, and emotional attachment to place. In the framework of toponymy studies, place names are understood as socio-cultural symbols that preserve narratives of migration, settlement, ethnicity, and local history. This research adopts theories of identity and place attachment to explain the relationship between language, community, and spatial belonging. The concept of cultural identity proposed by Stuart Hall (1990) explains that identity is continuously constructed through history, representation, and collective memory. Through this perspective, the toponym Karawaci reflects the historical existence and cultural continuity of the Cina Benteng community within the socio-cultural landscape of Tangerang. In addition, the study applies the theory of place attachment which emphasizes the emotional and symbolic bonds formed between individuals, communities, and meaningful places. Using a mixed qualitative and quantitative research design, the article analyzes Karawaci through historical-cultural interpretation, textual sources, interview themes, questionnaire percentages, and visual documentation. The findings reveal that Karawaci is understood through overlapping meanings, including historical settlement memory, Cina Benteng identity, family attachment, administrative address value, and uncertain or mixed etymology. A questionnaire involving 120 respondents shows that 71% associate Karawaci with historical settlement memory, 64% with Cina Benteng identity, 51% with family attachment, 46% with administrative address value, and 37% with uncertain etymology. These findings indicate that the toponym serves not merely as a place name, but as an identity-bearing cultural symbol that embodies memory, belonging, and local heritage. Therefore, the article argues that Karawaci should be documented and preserved as part of the intangible cultural heritage of Tangerang. AbstrakPenelitian ini membahas toponim Karawaci sebagai nama tempat yang memiliki makna historis dan kultural yang berkaitan dengan warisan komunitas Cina Benteng di Tangerang, Banten. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nama Karawacitidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai representasi linguistik dari identitas kolektif, memori sejarah, dan keterikatan emosional terhadap suatu tempat. Dalam kajian toponimi, nama tempat dipahami sebagai simbol sosial-budaya yang menyimpan narasi migrasi, permukiman, etnisitas, dan sejarah lokal. Penelitian ini menggunakan teori identitas dan keterikatan tempat (place attachment) untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, komunitas, dan rasa memiliki terhadap ruang. Konsep identitas budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall (1990) menjelaskan bahwa identitas terus dibentuk melalui sejarah, representasi, dan memori kolektif. Melalui perspektif tersebut, toponim Karawacimerefleksikan keberadaan historis dan keberlanjutan budaya komunitas Cina Benteng dalam lanskap sosial-budaya Tangerang. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan teori place attachment yang menekankan adanya ikatan emosional dan simbolik antara individu, komunitas, dan tempat yang bermakna. Dengan menggunakan desain penelitian campuran kualitatif dan kuantitatif, artikel ini menganalisis Karawaci melalui interpretasi historis-kultural, sumber tekstual, tema wawancara, persentase kuesioner, dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karawaci dipahami melalui berbagai makna yang saling bertumpang tindih, termasuk memori permukiman historis, identitas Cina Benteng, keterikatan keluarga, nilai administratif alamat, serta etimologi yang tidak pasti atau bercampur. Kuesioner yang melibatkan 120 responden menunjukkan bahwa 71% mengaitkan Karawaci dengan memori permukiman historis, 64% dengan identitas Cina Benteng, 51% dengan keterikatan keluarga, 46% dengan nilai administratif alamat, dan 37% dengan etimologi yang tidak pasti. Temuan ini menunjukkan bahwa toponim tersebut tidak hanya berfungsi sebagai nama tempat, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mengandung identitas, memori, rasa memiliki, dan warisan lokal. Oleh karena itu, artikel ini berpendapat bahwa Karawaci perlu didokumentasikan dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Tangerang.