Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Risiko Bencana Longsor dan Kerugiannya Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat Yuti Andila Aninditya; Yulia Asyiawati; Dudi Nasrudin Usman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.368 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1902

Abstract

Abstract. Disaster Management Agency in West Bandung Regency, 5 sub-districts in the southern region of West Bandung Regency have a fairly high vulnerability to landslides, one of which is Cililin District. Based on the West Bandung Regency Disaster Risk Study Document in 2017-2021, Cililin District has a hazard with high parameters and an area of 3,790 Ha. Because this landslide disaster will cause losses. There are 5 threats that cause landslides, namely slope, rainfall, soil type, rock type, overflow. Capacity is the potential possessed by individuals and communities that are used to be able to prevent, and recover from disaster emergencies. Vulnerability is the potential for damage or loss, which is related to the capacity to anticipate a hazard. This disaster risk is used to find out how big the impact of the risk is. The highest threat is in Mukapayung Village. The highest vulnerability is in Mukapayung Village, Rancapanggung Village, Bongas Village, Batulayang Village and Cililin Village. Capacity has a low capacity class. The highest risk areas are Mukapayung Village, Bongas Village, and Batulayang Village. The highest risk areas are Mukapayung Village, Bongas Village, and Batulayang Village. The total loss as a whole is Rp. 2,570,000,000. Mukapayung Village has a high threat due to the extensive jungle and shrubs. Cililin District has a high total disaster vulnerability in Mukapayung Village, Rancapanggung Village, Bongas Village, Batulayang Village and Cililin Village. For its own capacity, it has a low capacity class. Abstrak. Badan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bandung Barat, 5 kecamatan pada wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat memiliki kerawanan cukup tinggi terhadap longsor salah satunya adalah Kecamatan Cililin. Berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017-2021 Kecamatan Cililin memiliki bahaya dengan parameter yang tinggi dan luasnya 3,790 Ha dan bencana longsor ini akan menimbulkan kerugian yang terjadi. Ada 5 ancaman yang menyebabkan longsor yaitu kemiringan, curah hujan, jenis tanah, jenis batuan, tuplah. Kapasitas adalah potensi yang dimiliki oleh perorangan, dan masyarakat yang digunakan untuk mampu mencegah, serta memulihkan dari keadaan darurat bencana. Kerentanan adalah potensi tertimpa kerusakan atau kerugian, yang berkaitan dengan kapasitas untuk mengantisipasi suatu bahaya. Risiko bencana ini digunakan agar mengetahui seberapa besar dampak resiko. Ancaman yang paling tinggi berada di Desa Mukapayung. Kerentanan yang paling tinggi berada pada Desa Mukapayung, Desa Rancapanggung, Desa Bongas, Desa Batulayang dan Desa Cililin. Kapasitas memiliki kelas kapasitas yang rendah. Risiko Tinggi berada paling Desa Mukapayung, Desa Bongas, dan Desa Batulayang.Risiko Tinggi berada paling Desa Mukapayung, Desa Bongas, dan Desa Batulayang. Total kerugian secara keseluruhan adalah Rp. 2.570.000.000. Desa Mukapayung memiliki ancaman yang tinggi disebabkan oleh luas hutan rimba dan semak belukar. Kecamatan Cililin memiliki kerentanan total bencana yang tinggi Desa Mukapayung, Desa Rancapanggung, Desa Bongas, Desa Batulayang dan Desa Cililin. Untuk kapasitas sendiri memiliki kelas kapasitas yang rendah).
Kajian Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Muhamad Arpi Darajat; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.729 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3339

Abstract

Abstract. Land conversion is a change in the function of land which was originally agricultural land turned into settlements or other physical buildings. Land conversion is considered to be a big problem when it results in environmental damage and affects the economic structure of the community. Rice fields in Cianjur District are designated as LP2B. Then with adequate road infrastructure, it is used as an indication of one of the factors causing changes in the economic livelihoods of the people in Cianjur District.This study aims to identify the impact of the conversion of paddy fields on the structure of community livelihoods in Cianjur District, while the method used in this research is a quantitative method. Data collection techniques through observation, interviews and questionnaires. The analytical method in this study uses the overlay analysis method and simple regression analysis.The conclusion of this study is the shift in land use change in Cianjur District in a period of 5 - 10 years where the conversion rate is 10% to 14%, then the tendency of land change is more towards paddy fields that have been facilitated by good road infrastructure, and the impact of land conversion The function of paddy fields affects the livelihoods and income of the community in Cianjur District. Abstrak. Alih fungsi lahan merupakan perubahan fungsi lahan yang awalnya merupakan lahan pertanian berubah menjadi permukiman atau bangunan fisik lainnya. Alih fungsi lahan dianggap menjadi persoalan besar ketika berakibat pada kerusakan lingkungan dan menyentuh terhadap struktur perekonomian masyarakat. Lahan sawah di Kecamatan Cianjur ditetapkan sebagai LP2B. Kemudian dengan prasarana jalan yang memadai dijadikan indikasi salah satu faktor penyebab perubahan mata pencaharian ekonomi masyarakat di Kecamatan Cianjur.Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur, adapun metode yang digunakan dalam peneliltian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalu observasi, wawancara dan kuesioner. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis overlay dan analisis regresi sederhana. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah pergeseran perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cianjur dalam periode 5 – 10 tahun yang mana laju konversi sebesar 10% sampai 14%, lalu kecenderungan perubahan lahannya lebih mengarah kepada lahan sawah yang sudah terfasilitasi prasarana jalan yang baik,dan dampak alih fungsi lahan sawah berpengaruh terhadap mata pencaharian dan pendapatan masyarakat di Kecamatan Cianjur.
Kajian Biaya Dampak Pembangunan Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Muhammad Dzulfikar; Tonny Judiantono; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.324 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3596

Abstract

Abstract. In 2016, the West Java Provincial Government has planned development activities for the Revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area, which is included in the Building and Environmental Management Plan for the Linggajati Village Cultural Heritage Tourism Area. The revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area is not only the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building, but the revitalization activities consist of the development of tourism areas so as to have an impact on local government finances in meeting the level of service for public goods. The purpose of this study is to identify the predicted impact of local government financing in the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area. The approach used to achieve the study objectives is a special procedure approach with the case study method analysis method. From the results of the study, it was found that the financing issued by the Regional Government was Rp. 205,857,496,234, for the fulfillment of infrastructure needs. Meanwhile, the income that is expected to be received by the regional government is Rp. 323,983,216,483 sourced from permits, taxes, and regional levies. Based on the analysis carried out, it can be concluded that the construction of the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area is not expected to be a burden on the regional government's finances. The Regional Government of Kuningan Regency must prepare regulations related to the amount of retribution. Abstrak. Pada tahun 2016, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah merencanakan kegiatan pembangunan untuk Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati, yang termasuk kedalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Wisata Cagar Budaya Kelurahan Linggajati. Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati tidak hanya revitalisasi Gedung Perundingan Linggarjati, tapi kegiatan revitalisasi tersebut terdiri dari pengembangan kawasan pariwisata sehingga menimbulkan dampak terhadap keuangan Pemerintah daerah dalam pemenuhan tingkat pelayanan terhadap barang public. Tujuan dari kajian ini adalah mengidentifikasi prediksi dampak pembiayaan Pemerintah Daerah dalam pembangunan revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati. Pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan studi adalah pendekatan prosedur khusus dengan metode analisis case study method. Dari hasil studi diperoleh bahwa pembiayaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp. 205.857.496.234, untuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur Sedangkan pendapatan yang diperkirakan akan diterima Pemerintah daerah adalah sebesar Rp. 323.983.216.483 yang bersumber dari perizinan, perpajakan, dan retribusi daerah. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembangunan revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati diperkirakan tidak akan membebani terhadap keuangan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan harus mempersiapkan aturan-aturan yang terkait dengan besaran retribusi.
Kajian Penyediaan Ruang Terbuka Hijau dalam Mewujudkan Kota Ramah Lingkungan di Kecamatan Gedebage Kota Bandung Sahda Aninda; Yulia Asyiawati; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7916

Abstract

Abstract. This research study study aims to examine the provision of green open spaces in the Gedebage District area to create a green city based on the ecological function aspect which is the main function of green open spaces as a producer of oxygen to increase the availability of clean and cool quality air, improve the quality of life of urban residents by providing comfortable open spaces, and improve environmental sustainability. The background of this research is the unavailability of fulfilling 20% of public green open space in Gedebage District and based on the disaster aspects of floods and earthquakes that almost the entire area of Gedebage District is in a high disaster-prone area so that disaster mitigation is needed by providing green open spaces as disaster management which has an ecological function so that it will create a safe, comfortable and sustainable area. The research method used is descriptive quantitative with a green city approach, especially green open space indicators. Data collection was carried out through field observations and literature studies. The method of analysis carried out is an analysis of the calculation of the need for green open space based on the number of residents and the need for oxygen which is calculated using the geometric method to determine the amount of oxygen demand (O2) and produce recommendations for types of oxygen-producing plants based on typology of green open spaces adjusted to applicable standards and in accordance with the characteristics of the research study area. Abstrak. Kajian studi penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penyediaan ruang terbuka hijau pada wilayah Kecamatan Gedebage untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan berdasarkan pada aspek fungsi ekologis yang merupakan fungsi utama ruang terbuka hijau sebagai penghasil oksigen untuk meningkatkan ketersediaan udara yang berkualitas bersih dan sejuk, meningkatkan kualitas hidup penduduk perkotaan dengan penyediaan ruang terbuka yang nyaman, serta memperbaiki keberlanjutan lingkungan. Latar belakang penelitian ini adalah belum tersedianya pemenuhan 20% ruang terbuka hijau publik di Kecamatan Gedebage serta berdasarkan aspek kebencanaan banjir dan gempa bumi yang hampir seluruh wilayah Kecamatan Gedebage berada pada wilayah rawan bencana tinggi sehingga diperlukan mitigasi bencana dengan penyediaan ruang terbuka hijau sebagai penanggulangan bencana yang memiliki fungsi ekologis sehingga akan menciptakan wilayah yang aman, nyaman dan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan kota hijau khususnya indikator green open space. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan studi pustaka. Metode analisis yang dilakukan yaitu analisis perhitungan kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan pada jumlah Penduduk dan kebutuhan oksigen yang dihitung menggunakan metode gerarkis untuk mengetahui besaran kebutuhan oksigen (O2) dan menghasilkan rekomendasi jenis tanaman penghasil oksigen berdasarkan tipologi ruang terbuka hijau yang disesuaikan dengan standar yang berlaku dan sesuai dengan karakteristik wilayah studi penelitian.
Kajian Penyediaan Ruang Terbuka Hijau dalam Mewujudkan Kota Ramah Lingkungan di Kecamatan Gedebage Kota Bandung Dynanti; Yulia Asyiawati; Wishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8177

Abstract

Abstract. This study aims to examine the provision of green open space in the Gedebage District area to create an environmentally friendly city based on the aesthetic aspect of its function as an enhancer of the beauty of the environment and urban landscape. The background of this research is the unavailability of fulfilling 20% of Public Green Open Spaces in Gedebage District so that a study is needed regarding the provision of Green Open Spaces based on aesthetic functions to address urban problems in the aesthetic aspect. The research method used is descriptive descriptive with a green city approach, especially green open space indicators. Data collection was carried out through questionnaires, field observations and literature studies. The analytical method used is scenic beauty estimation analysis (SBE) and analysis of perceptions and preferences to determine the value of the aesthetic quality of green open spaces in Gedebage District, which will then be used as a reference for the provision of green open spaces based on aesthetic functions in the future. The output or results of the research will produce recommendations for types of facilities based on the Green Open Space typology that are adjusted to applicable standards and in accordance with the characteristics of the research study area. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penyediaan ruang terbuka hijau pada wilayah Kecamatan Gedebage untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan berdasarkan kepada aspek fungsi estetika sebagai peningkat keindahan lingkungan dan lansekap kota. Latar belakang penelitian ini adalah belum tersedianya pemenuhan 20% Ruang Terbuka Hijau Publik di Kecamatan Gedebage sehingga diperlukan kajian mengenai penyediaan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan fungsi estetika guna mengatasi permasalah perkotaan pada aspek estetika. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan kota hijau khususnya indikator green open space. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi lapangan dan studi literatur. Metode analisis yang dilakukan yaitu analisis scenic beauty estimation (SBE) dan analisis persepsi dan preferensi untuk mengetahui nilai kualitas estetika ruang terbuka hijau di Kecamatan Gedebage yang selanjutnya penilaian tersebut akan dijadikan acuan untuk peyediaan ruang terbuka hijau berdasarkan fungsi estetika di masa yang akan datang. Output atau hasil penelitian akan menghasilkan rekomendasi jenis fasilitas berdasarkan tipologi Ruang Terbuka Hijau yang disesuaikan dengan standar yang berlaku dan sesuai dengan karakteristik wilayah studi penelitian.
Identifikasi Keberlanjutan Lingkungan pada Permukiman Hana Diaz Amirah; Yulia Asyiawati; Bambang Pranggono
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8259

Abstract

Abstract.One of the basic needs of every human being is a place to live. Providing safe and sustainable settlements is a challenge, especially in urban areas because limited land is not proportional to the high population. One of the large-scale housing developments in Bandung City is in Antapani District. The development are grow rapidly. This makes Antapani currently a high-density area, namely 21,262 people/km2. Over time, various new developments were carried out resulting in significant changes to the settlement area, including the lack of green open space. Apart from that, there is a problem in one of the RW, when it downpour there will be puddles. Therefore, research is needed to identify the level of environmental sustainability in RW 03 Antapani Kidul. This study used scoring analysis and qualitative descriptive technique method with a mixed approach. Based on the analysis, it is known that there are still several variables that aren’t sustainable. The variables that have achieved sustainability are Water Access, Sanitation Access, Habitability, Public Transportation, and Air Quality. As for the unsustainable variables, namely Waste Management, Proportion of Open Space, Disaster, and Use of Eco-friendly Energy. Abstrak. Salah satu kebutuhan dasar setiap manusia ialah tempat tinggal. Mewujudkan permukiman yang aman dan berkelanjutan khususnya di kawasan perkotaan menjadi tantangan tersendiri, mengingat keterbatasan lahan kerap kali tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang tinggi. Salah satu pembangunan perumahan skala besar yang terdapat di Kota Bandung berada di Kecamatan Antapani. Pembangunan perumahan tersebut berkembang pesat sehingga menjadikan Antapani saat ini termasuk wilayah dengan kepadatan tinggi, yakni sebesar 21.262 jiwa/km2. Seiring berjalannya waktu, berbagai pembangunan baru dilakukan sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan terhadap wilayah permukiman tersebut, diantaranya minimnya ruang terbuka hijau. Selain itu muncul permasalahan di salah satu RW berupa timbulnya genangan air cukup tinggi bila hujan deras. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian untuk mengidentifikasi tingkat keberlanjutan lingkungan di RW 03 Antapani Kidul. Peneliti menggunakan metode teknik analisis skoring dan deskriptif kualitatif dengan pendekatan campuran. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa masih terdapat beberapa variabel yang belum berkelanjutan. Variabel yang telah tercapai keberlanjutannya, yakni Akses Air, Akses Sanitasi, Kelayakan Hunian, Transportasi Publik, dan Kualitas Udara. Adapun variabel yang tidak berkelanjutan, yaitu Pengelolaan Sampah, Proporsi Ruang Terbuka, Kebencanaan, dan Penggunaan Energi Ramah Lingkungan.
Identifikasi Kesesuaian Atraksi Wisata Pantai Berdasarkan Daya Tampung dan Daya Dukung Widya Maharani; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8331

Abstract

Abstract. Pangandaran Beach has various kinds of tourist attractions such as beach recreation areas, watersport, swimming, snorkeling, mangrove tourism and camping, but these tourist attractions have not considered the suitability of tourist attractions considering that the Pangandaran beach area is a disaster-prone area, for this reason it is necessary to carry out this study to consider the carrying capacity and carrying capacity of tourist attractions. This study aims to identify the types of tourist attractions in the Pangandaran beach area, identify the suitability of tourist attractions and identify the carrying capacity and carrying capacity of beach tourism attractions in the Pangandaran beach area. The analytical method used is the tourism suitability index, carrying capacity analysis by calculating physical carrying capacity (PCC), real carrying capacity (RCC), and effective carrying capacity (ECC) and regional carrying capacity analysis. Based on the results of the suitability index analysis for beach recreation tourism in the appropriate category (84.52%), mangrove ecotourism (64.10%) and snorkeling tourism (56.14%) in the conditional category, based on the results of calculating capacity, the value of PCC (319,051) > RCC (11,928) > ECC (10,504) shows that the tourism capacity of Pangandaran Beach has not been exceeded. The results of the calculation of the area's carrying capacity can accommodate 65,049 people from all types of tourist attractions. From the results of this analysis, what can be recommended from this study is to develop tourist attractions by adding and updating variations in various kinds of tourist attraction activities. Abstrak. Pantai Pangandaran memiliki berbagai macam atraksi wisata seperti area rekreasi pantai, watersport, berenang, snorkeling ,wisata mangrove dan berkemah akan tetapi atraksi wisata tersebut belum mempertimbangkan kesesuaian atraksi wisata mengingat kawasan pantai pangandaran merupakan kawasan rawan bencana, untuk itu perlu dilakukan kajian ini untuk mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung untuk atraksi wisata. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis atraksi wisata yang terdapat di kawasan pantai pangandaran, mengidentifikasi kesesuaian atraksi wisata dan mengidentifikasi daya tampung dan daya dukung atraksi wisata pantai di kawasan pantai Pangandaran. Metode analisis yang digunakan adalah indeks kesesuaian wisata, analisis daya tampung dengan menghitung daya tampung fisik (PCC), daya tampung riil (RCC), dan daya tampung efektif (ECC) dan analisis daya dukung kawasan. Berdasarkan hasil analisis indeks kesesuaian wisata rekreasi pantai kategori sesuai (84,52%), ekowisata mangrove (64,10%) dan wisata snorkeling (56,14%) kategori sesuai bersyarat, berdasarkan hasil pehitungan daya tampung didapatkan nilai PCC (319.051) > RCC (11.928) > ECC (10.504), menunjukan daya tampung wisata Pantai Pangandaran belum terlampaui. Hasil perhitungan daya dukung kawasan dapat menampung 65.049 orang dari seluruh jenis atraksi wisata. Dari hasil analisis tersebut yang dapat direkomendasikan dari kajian ini adalah melakukan pengembangan atraksi wisata dengan penambahan dan pembaharuan variasi dalam berbagai macam aktivitas atraksi wisata.
Kajian Pengendalian Penggunaan Lahan di Kecamatan Cimenyan Muhammad Farhan; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8673

Abstract

Abstract.Cimenyan District in the development of land use is still not controlled causing disruption of the protective function. so that it can lead to landslides. The occurrence of landslides from time to time is of course a special concern regarding the area which is prone to landslides. On the other hand, Cimenyan Sub-District has a relatively high population among other sub-districts in Bandung Regency, of course the occurrence of this disaster can not only cause material losses but can also claim lives. From this study aims to identify the level of deviation and identify the suitability of land use control instruments in Cimenyan District. In carrying out this analysis, it was carried out using the overlay method of land use maps, spatial patterns, and data on the level of vulnerability to landslides from KRB Bandung Regency. From these results, land changes from 2013 - 2022 have increased the area of agriculture and settlements, while there is a level of deviation. Large land use deviations are quite high, namely, 7.82% or the equivalent of 353.70 Ha. To identify the causes of landslides due to high rainfall and reduced plant vegetation with strong roots. and identification of control instruments can be done by overlaying a map of land irregularities and the level of vulnerability to landslides, as for the recommendations from the control, of course, first verify the legality of the permit. If there is no legality/permit, of course, sanctions/disincentives must be given. Abstrak. Kecamatan Cimenyan dalam perkembangan penggunaan lahan masih belum terkendali menimbulkan gangguan fungsi lindung. sehingga dapat mengakibatkan bencana tanah longsor Terjadinya bencana tanah longsor dari waktu ke waktu tentu dapat menjadi perhatian khusus terkait wilayah tersebut yang rawan akan bencana longsor. Di sisi lain Kecamatan Cimenyan memiliki jumlah penduduk cukup tinggi diantara kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung, tentunya terjadinya bencana tersebut tidak hanya dapat memberikan kerugian berupa materiel saja melainkan dapat merenggut korban jiwa. Dari penelitian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat penyimpangan dan mengidentifikasi kesesuaian instrumen pengendalian penggunaan lahan di Kecamatan Cimenyan. Dalam melakukan analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode overlay peta penggunaan lahan, pola ruang, dan data tingkat kerentanan bencana tanah longsor dari KRB Kabupaten Bandung. Dari hasil tersebut perubahan lahan dari tahun 2013 - 2022 terjadi penambahan luasan pada pertanian dan permukiman sedangkan untuk adanya tingkat penyimpangan Penggunaan lahan besar penyimpangan cukup tinggi yaitu, 7,82% atau setara dengan 353,70 Ha. Untuk identifikasi penyebab terjadinya tanah longsor diakibatkan karena tingginya curah hujan dan berkurangnya vegetasi tanaman berakar kuat. dan untuk identifikasi instrumen pengendalian dapat dilakukan dengan overlay peta penyimpangan lahan dan tingkat kerentanan tanah longsor, adapun dari rekomendasi dari pengendalian tersebut tentuntunya verifikasi terlebih dahulu legalitas izinnya Apabila tidak ada legalitas/izinnya maka tentu harus diberikan sanksi/disinsentif.
Identifikasi Potensi Pengembangan Kegiatan Pertanian dalam Mendukung Perwujudan Food Estate Daffa Satria Wiguna; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8692

Abstract

Abstract. Food estate development is one way to maintain food security in Indonesia. The current phenomenon is the need for food as a basic human need which will continue to increase over time, besides that it is also necessary to limit food imports and continue to prioritize food with regional independence. Therefore, the Government through the Ministry of Defense is currently planning The 5 locations to be developed as food estates include Kertajati Village, Kertajati District, Majalengka Regency. This village is considered potential because Mekarjaya Village itself has an area of ​​25% of the total plantation area in Kertajati District. The area for plantations in Mekarjaya Village itself is recorded at 2237.502 Ha. This area is the largest compared to 13 other villages in Kertajati District, Majalengka Regency. The purpose of this research is to identify the development of agricultural activities in supporting the realization of food esate activities. The stages of analysis carried out in this study include Geospatial analysis, On farm Analysis and Off Farm Analysis which have the aim of assessing from these three aspects whether Mekarjaya Village is suitable to be used as an Agricultural Area in supporting food estate activities and it was found that Mekarjaya Village is suitable for used as a food estate area but there are still many things that need to be repaired or developed. Abstrak. Pengembangan food estate merupakan salah satu cara dalam upaya dalam menjaga ketahanan pangan yang ada di Indonesia. Fenomena yang terjadi saat ini adalah kebutuhan akan pangan sebagai basic human needs yang seiring dengan berjalanya waktu akan terus meningkat, selain itu juga perlu adanya pembatasan mengenai impor pangan dan tetap mengedepankan pangan dengan kemandirian daerah, Maka dari itu Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan saat ini sedang merencanakan 5 lokasi untuk dikembangkan sebagai food estate diantaranya adalah Desa Kertajati Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Desa ini dianggap potensial karena Desa Mekarjaya sendiri memliki luasan 25% dari total luas perkebunan di Kecamatan Kertajati. Tercatat luasan untuk perkebunan di Desa Mekarjaya sendiri yaitu sebesar 2237,502 Ha, Luasan Tersebut merupakan yang terbesar bila dibandingkan dengan 13 Desa lainnya yang berada di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Tujuan untuk peneleitian ini adalah mengidentifikasi pengembangan kegiatan pertanian dalam mendukung perwujudan kegiatan food esate. Tahapan Analisis yang dilakukan pada kajian ini diantaranya adalah analisis Geospasial, Analsisis On farm dan Analisis Off Farm yang memiliki tujuan untuk menilai dari ketiga aspek tersebut Desa Mekarjaya apakah cocok untuk dijadikan Kawasan Pertanian dalam mendukung kegiatan food estate dan di dapati hasil bahwa desa mekarjaya cocok untuk dijadikan Kawasan food estate tetapi masih banyak hal hal yang harus diperbaiki atau dikembangkan.
STATUS EKOSISTEM PESISIR BAGI PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR DI KAWASAN TELUK AMBON YULIA ASYIAWATI; FREDINAN YULIANDA; ROKHMIN DAHURI; SANTUN R.P. SITORUS; SETYO BUDI SUSILO
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 10 No. 1 (2010)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v10i1.242

Abstract

This study aims is to analyze the status of coastal ecosystems, to analyze factors that affect the quality of coastal ecosystems, and to prepare the direction on spatial planning in coastal areas of Ambon Bay Area.The analytical method used in this study is the analysis of ecosystem status, principal components analysis, analysis GIS and analysis of dynamic systems.The results showed that the condition of ecosystem status damaged in 2008, whereby, the status of mangrove ecosystems is moderate with a density of 1100 trees/ha, the status of seagrass ecosystems damaged by percentage cover of 38,76%, and the status of coral reef ecosystems are damaged by the percentage of live coral is 42,27%By using dynamic systems analysis, created the scenario of land use planning in Ambon Bay Area that integrates land and wet land. The scenario used in this study is the optimistic, pessimistic and moderate scenarios. The variable that is used to determine of policy scenarios spatial planning based on the rate of population growth is 2,5% per annum, while variable forest area of at least 30% of the area. Of the three scenarios, the scenario chosen for the land use planning policy in Ambon Bay Areas in the future is to use the moderate scenario. The simulation results moderate scenario, the status of coastal ecosystems is improved from the criteria of the coastal ecosystem damaged by coastal ecosystems index 44,44% in 2008 turned into good condition with the index of coastal ecosystems 88,89% in 2029