Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Desain Gedung Tidak Beraturan Dengan Re-Entrant Corners Menggunakan Dinding Geser Berangkai M. R*, Geraldo De Jesus; Utomo, Junaedi
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 4 (2023): Agustus, Social Religious, History of low, Social Econmic and Humanities
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i4.26236

Abstract

Semakin tinggi suatu bangunan maka sistem pembebanan lateral yang dapat berupa beban angin atau beban gempa yang akan semakin besar dengan bertambah tingginya gedung. Ketidakteraturan konfigurasi memperkenalkan tantangan besar dalam desain seismik struktur bangunan. Salah satu bentuk ketidakteraturan tersebut adalah adanya sudut re-entrant yang menyebabkan beban lateral dan amplifikasi torsi pada bangunan; karenanya menyebabkan keruntuhan dini. Dengan demikian, penelitian konstruktif terhadap masalah ketidakberaturan sudut re-entrant. Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami perilaku seismik bangunan dengan denah tidak beraturan denah lantai bentuk-C melalui evaluasi ketidakteraturan konfigurasi efek sudut re-entrant pada tuntutan respons seismik terukur. Respons yang diukur meliputi perpindahan, simpangan antar lantai, gaya geser dasar, dan periode waktu. Tiga model bangunan yaitu; bangunan berbentuk-C menggunakan dinding geser, bangunan berbentuk-C tanpa dinding geser dan bangunan beraturan. Model dianalisis dengan ETABS menggunakan metode Response Spectrum (RS). Hasilnya membuktikan bahwa penambahan dingding geser untuk bangunan re-entrant corner secara signifikan mengurangi perpindahan maksimum dan simpangan antar lantai, namun gaya geser dasar bangunan bertambah karena penambahan dinding geser maka kapasitas penahan beban meningkat. Periode waktu bangunan beraturan lebih tinggi maka bangunan beraturan kurang rentan terhadap gempa bumi dengan frekuensi yang lebih tinggi. Bangunan dengan re-entrant corners dengan periode waktu yang lebih rendah maka rentan terhadap gempa bumi.
PENGARUH RANGKAIAN GEMPA UTAMA – GEMPA SUSULAN TERHADAP REDUNDANSI DAN KERUNTUHAN PROGRESIF STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BETON BERTULANG Zacharias, Hendry David; Utomo, Junaedi; Arfiadi, Yoyong; Lisantono, Ade
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.9601

Abstract

Rangkaian kejadian gempa meningkatkan kerusakan kumulatif pada struktur karena meningkatnya simpangan antar lantai, terutama untuk daerah potensi gempa kuat atau bangunan penting. Redundansi bergantung pada karakteristik dinamis dan geometris strukturnya serta sifat eksitasi gempa, peningkatan redundansi tidak dapat didefinisikan sebagai kriteria untuk meningkatkan perilaku seismik struktur, namun sangat berkaitan erat dengan keruntuhan progresif. Penelitian ini melihat pengaruh rangkaian gempa MSEq –ASEq terhadap redundansi dan keruntuhan progresif dari 16 model struktur rangka pemikul momen beton bertulang dengan variasi jumlah bentangan dan jumlah lantai tapi dengan luas denah yang sama, dengan melihat nilai simpangan antar lantai dan rotasi balok serta rasio gaya aksial terhadap kapasitas aksial kolom pada beberapa skenario pelepasan kolom. Rangkaian gempa MSEq-ASEq berpengaruh sangat signifikan terhadap kebutuhan redundansi struktur terlihat dari peningkatan nilai simpangan antar lantai namun tidak untuk keruntuhan progresif dimana tidak terjadi peningkatan nilai rotasi balok dan gaya aksial kolom (rasio ≈ 1). Menambah jumlah bentangan pada denah tidak selalu mengurangi besaran simpangan antar lantai, namum efektif untuk mengurangi nilai rotasi balok dan rasio gaya aksial terhadap kapasitas aksial kolom
Analisis Riwayat Waktu Nonlinier Struktur Flat Slab dengan OpenSees Navigator Hasibuan, Samsul A Rahman Sidik; Arfiadi, Yoyong; Utomo, Junaedi
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 1 (2022)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.304 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v28i1.38184

Abstract

Pengembangan sistem struktur yang tidak menggunakan balok sebagai komponen utama pertama kali diajukan oleh Turner pada tahun 1906. Sistem struktur ini lebih dikenal dengan flat slab. Struktur flat slab didukung oleh kepala kolom dan drop panel, atau tanpa drop panel, atau tanpa kepala kolom. Beberapa peraturan bangunan seperti IS 456:2000, ACI 318-19, EC 2:2004, dan NZS 3101 (Part 1):2006 hanya memberikan pedoman untuk merancang sistem flat slab di bawah beban gravitasi saja. Namun demikian, bangunan flat slab juga banyak dibangun di daerah dengan gempa tinggi yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan akibat beban gempa. Dalam tulisan ini struktur gedung flat slab 10 tingkat hasil rancangan dianalisis menggunakan analisis riwayat waktu respons nonlinier dengan bantuan software OpenSees Navigator menggunakan beberapa rekaman gempa yaitu Kobe (Jepang, 1995), Imperial Valley (California, 1979) dan Tabas (Iran, 1978) yang telah disesuaikan dengan spektra desain kota Yogyakarta. Dari hasil analisis menggunakan OpenSees Navigator diperoleh bahwa story drift yang terjadi masih dalam batas-batas yang disyaratkan dalam peraturan, sehingga gedung yang ditinjau masih dalam batas perencanaan life safety.