Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Hubungan Kadar HbA1C Dengan Kejadian Kaki Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus: Di RSUD Ulin Banjarmasin April-September 2012 Madina, Tria Sefty; Djallalluddin, Djallalluddin; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.951

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is a disorder characterized by hyperglycemia and impaired metabolism of carbohydrates, fats, and proteins caused by a deficiency of insulin hormone in relative or absolute terms. HbA1c level test is a test that gives an indication of blood glucose levels averaged over the previous 2-3 months, which gives an assessment of a person’s glucose control. When it is not controlled, there will be a risk of diabetic foot complication. This study was aimed to analyze the relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in diabetic patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. This study was an analytic observational survey with a cross-sectional approach. Samples were taken with total sampling method with a total sample of 100 patients. The result showed that diabetic patients with diabetic foot ulcers who had HbA1C level ≥ 7% (poor) were 13 subjects (100%) and there were no one who had HbA1C level < 7% (normal), whereas diabetic patients without diabetic foot ulcers with HbA1C level ≥ 7% were 31 subjects (35.6%) and those who had HbA1C level < 7% were 56 subjects (64.4%). The result of data analysis using Fisher test indicated that there was a significant relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer (p = 0.008). It could be concluded that there was a relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in DM patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. Keywords: HbA1C, diabetic foot ulcer, diabetes mellitus ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) adalah kelainan yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut. Pemeriksaan HbA1C merupakan tes yang memberikan indikasi kadar glukosa darah rata-rata selama 2-3 bulan sebelumnya, yang memberikan penilaian tentang pengendalian kadar glukosa seseorang. Apabila kadar glukosa tidak terkontrol, dapat berisiko terjadi komplikasi kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Penelitian ini adalah penelitian survei observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM dengan kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% (buruk) adalah 13 orang (100%) dan tidak ada pasien yang memiliki kadar HbA1C < 7% (normal), sedangkan pasien DM tanpa kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C < 7% sebanyak 31 orang (35,6%) dan yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% adalah 56 orang (64,4%). Hasil analisis data menggunakan uji Fisher menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik (p = 0,008). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Kata-kata kunci: HbA1C, kaki diabetik, diabetes melitus
Hubungan Perilaku Jajan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Dasar: Di Kel. Cempaka Kec. Cempaka Kota Banjarbaru Hernanda, Aditya Pradipta; Djallalluddin, Djallalluddin; Noor, Meitria Syahadatina
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.922

Abstract

ABSTRACT: Diarrheal disease in young children seems increasingly common in many topycal countries,especially in urban areas were dirty and crowded. Until now diarrhea is still one of the major health problem of the community in Indonesia.Diarrhea is always in the order of 3 greater than 10 diseases most health centers. The magnitude of the problem is evident from the high rate of mordibity and mortality due to diarrhea. The design of the study is observational analytic study. This research was conducted with a cross sectional study. From the research group hygienic respondents, 20 students (34.5%) suffered from diarrhea and as many as 38 students (63.5%) did not have diarrhea. Looking at the group of respondents unhygienic, as many as 98 students (78.4%) suffered from diarrhea and only 27 students (21.6%) who did not have diarrhea. The correlation test was used chi-square analysis because the variables have the habit of eating snacks nominal scale data form. Results obtained value of p = 0.000, this result is smaller than the value of a = 0.05. It means there is a significant relationship between the habit of eating snacks with diarrhea. The incidence of diarrhea largely categorized by 65.5% suffered from diarrhea. Figures hygiene most unhygienic categorized by 68.7% There is a significant association with the incidence of diarrhea snack behavior. Keywords: diarrhea, snack behavior, hygienic ABSTRAK      : Penyakit diare pada anak usia muda tampaknya makin sering dijumpai di berbagai negara tropis, khususnya di daerah perkotaan yang kotor dan padat. Sampai saat ini penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Diare selalu masuk dalam urutan 3 besar dari 10 penyakit terbanyak  Puskesmas. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Dari hasil penelitian kelompok responden yang higienis, sebanyak 20 siswa (34,5%) menderita diare dan sebanyak 38 siswa (63,5%) tidak menderita diare. Sedang pada kelompok responden tidak higienis, sebanyak 98 siswa (78,4%) menderita diare dan hanya 27 siswa (21,6%) yang tidak menderita diare. Adapun uji korelasi pada analisa ini digunakan Chi Square karena variabel kebiasaan jajan mempunyai bentuk data berskala nominal. Hasil yang didapatkan nilai p = 0,000, hasil ini ternyata lebih kecil dari nilai a = 0,05. Hal ini dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan dengan kejadian diare. Angka kejadian diare sebagian besar dikategorikan menderita diare sebesar 65,5%. Angka higienitas sebagian besar dikategorikan tidak higienis sebesar 68,7% Ada hubungan yang bermakna perilaku jajan dengan kejadian diare  Kata kata kunci : kejadian diare, perilaku jajan, higienis.
Hubungan Kadar HbA1C Dengan Kejadian Kaki Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus: Di RSUD Ulin Banjarmasin April-September 2012 Tria Sefty Madina; Djallalluddin Djallalluddin; Alfi Yasmina
Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.951

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is a disorder characterized by hyperglycemia and impaired metabolism of carbohydrates, fats, and proteins caused by a deficiency of insulin hormone in relative or absolute terms. HbA1c level test is a test that gives an indication of blood glucose levels averaged over the previous 2-3 months, which gives an assessment of a person’s glucose control. When it is not controlled, there will be a risk of diabetic foot complication. This study was aimed to analyze the relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in diabetic patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. This study was an analytic observational survey with a cross-sectional approach. Samples were taken with total sampling method with a total sample of 100 patients. The result showed that diabetic patients with diabetic foot ulcers who had HbA1C level ≥ 7% (poor) were 13 subjects (100%) and there were no one who had HbA1C level < 7% (normal), whereas diabetic patients without diabetic foot ulcers with HbA1C level ≥ 7% were 31 subjects (35.6%) and those who had HbA1C level < 7% were 56 subjects (64.4%). The result of data analysis using Fisher test indicated that there was a significant relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer (p = 0.008). It could be concluded that there was a relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in DM patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. Keywords: HbA1C, diabetic foot ulcer, diabetes mellitus ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) adalah kelainan yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut. Pemeriksaan HbA1C merupakan tes yang memberikan indikasi kadar glukosa darah rata-rata selama 2-3 bulan sebelumnya, yang memberikan penilaian tentang pengendalian kadar glukosa seseorang. Apabila kadar glukosa tidak terkontrol, dapat berisiko terjadi komplikasi kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Penelitian ini adalah penelitian survei observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM dengan kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% (buruk) adalah 13 orang (100%) dan tidak ada pasien yang memiliki kadar HbA1C < 7% (normal), sedangkan pasien DM tanpa kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C < 7% sebanyak 31 orang (35,6%) dan yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% adalah 56 orang (64,4%). Hasil analisis data menggunakan uji Fisher menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik (p = 0,008). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Kata-kata kunci: HbA1C, kaki diabetik, diabetes melitus
Hubungan Perilaku Jajan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Dasar: Di Kel. Cempaka Kec. Cempaka Kota Banjarbaru Aditya Pradipta Hernanda; Djallalluddin Djallalluddin; Meitria Syahadatina Noor
Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.922

Abstract

ABSTRACT: Diarrheal disease in young children seems increasingly common in many topycal countries,especially in urban areas were dirty and crowded. Until now diarrhea is still one of the major health problem of the community in Indonesia.Diarrhea is always in the order of 3 greater than 10 diseases most health centers. The magnitude of the problem is evident from the high rate of mordibity and mortality due to diarrhea. The design of the study is observational analytic study. This research was conducted with a cross sectional study. From the research group hygienic respondents, 20 students (34.5%) suffered from diarrhea and as many as 38 students (63.5%) did not have diarrhea. Looking at the group of respondents unhygienic, as many as 98 students (78.4%) suffered from diarrhea and only 27 students (21.6%) who did not have diarrhea. The correlation test was used chi-square analysis because the variables have the habit of eating snacks nominal scale data form. Results obtained value of p = 0.000, this result is smaller than the value of a = 0.05. It means there is a significant relationship between the habit of eating snacks with diarrhea. The incidence of diarrhea largely categorized by 65.5% suffered from diarrhea. Figures hygiene most unhygienic categorized by 68.7% There is a significant association with the incidence of diarrhea snack behavior. Keywords: diarrhea, snack behavior, hygienic ABSTRAK      : Penyakit diare pada anak usia muda tampaknya makin sering dijumpai di berbagai negara tropis, khususnya di daerah perkotaan yang kotor dan padat. Sampai saat ini penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Diare selalu masuk dalam urutan 3 besar dari 10 penyakit terbanyak  Puskesmas. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Dari hasil penelitian kelompok responden yang higienis, sebanyak 20 siswa (34,5%) menderita diare dan sebanyak 38 siswa (63,5%) tidak menderita diare. Sedang pada kelompok responden tidak higienis, sebanyak 98 siswa (78,4%) menderita diare dan hanya 27 siswa (21,6%) yang tidak menderita diare. Adapun uji korelasi pada analisa ini digunakan Chi Square karena variabel kebiasaan jajan mempunyai bentuk data berskala nominal. Hasil yang didapatkan nilai p = 0,000, hasil ini ternyata lebih kecil dari nilai a = 0,05. Hal ini dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan dengan kejadian diare. Angka kejadian diare sebagian besar dikategorikan menderita diare sebesar 65,5%. Angka higienitas sebagian besar dikategorikan tidak higienis sebesar 68,7% Ada hubungan yang bermakna perilaku jajan dengan kejadian diare  Kata kata kunci : kejadian diare, perilaku jajan, higienis.
Effect of Conjugated Hyperbilirubinemia on the Prognosis of Patients Hospitalized in Intensive Care Unit at Kariadi Hospital Semarang Agung Prasetyo; Djallalluddin Djallalluddin; Hirlan Hirlan; Agus Suryanto
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy VOLUME 11, NUMBER 3, December 2010
Publisher : The Indonesian Society for Digestive Endoscopy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24871/1132010108-111

Abstract

Background: In critically-ill patients, liver dysfunction plays a significant role on patient’s morbidity and mortality in the intensive care unit (ICU). Metabolic, hemodynamic and inflammatory factors also contribute in liver damage. Bilirubin is one of clinical markers for liver dysfunction. Some literatures indicated that patients with hyperbilirubinemia have higher mortality rate. The aim of this study was to assess the death prognosis of critically-ill patients with hyperbilirubinemia. Method: This study was an observational, prospective, and cohort study. All patients at the ICU of Kariadi hospital with hyperbilirubinemia were consecutively recruited over 8-month period from May 1st 2008 to January 31st 2009. Hyperbilirubinemia was defined as serum bilirubin levels ≥ 1.3 mg/dL for at least 72 hours and no hyperbilirubinemia was observed when the patients were admitted to the hospital. Results: Of 79 subjects who fulfilled inclusion criteria, the incidence of hyperbilirubinemia in critically-ill patients was 39.2%. About 56 subjects were enrolled in the study. Among them, 28 subjects showed hyperbilirubinemia and the other 28 subjects were included in the control group. There was no significant difference regarding the baseline characteristics of hyperbilirubinemia group and non- hyperbilirubinemia group. At the end of the study, the mortality rate in hyperbilirubinemia patients were 60.7% and 21.3% in the non-hyperbilirubinemia patients. The relative risk (RR) of death was 2.8; (95% CI = 1.3 - 6.1; p = 0.003). Conclusion: The incidence of hyperbilirubinemia was high in critically ill-patients hospitalized in the ICU of Kariadi hospital. The incidence of death between non-hyperbilirubinemia and hyperbilirubinemia subjects was significantly different. The significant relative risk of death indicates that hyperbilirubinemia may have influences on the mortality rate of critically-ill patients hospitalized in the ICU.   Keywords: liver dysfunction, hyperbilirubinemia, death
Hubungan Kebisingan Rumah dengan Kejadian Hipertensi Wahyu Sandika Putra; Farida Heriyani; Djallalluddin Djallalluddin
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.873 KB)

Abstract

Abstract: The rate of high population density and dense residential houses in East Kelayan Health Center Region, Banjarmasin can trigger some disturbing noises. These noises may result to the increase levels of stress hormones such epinephrine, non-epinephrine and cortisol, which can lead to hypertension. This study aims to determine the association between house noise and the occurence of hypertension in dense residential houses at East Kelayan Health Center Region, Banjarmasin. This study used an analytic observational method with a case control approach. The sample of this study were patients with hypertension and non-hypertension based on medical record data according to the diagnosis by the doctors at East Kelayan Health Center from January-July 2019. The sample were obtained using simple random sampling technique. Chi-square test is used to analyze the data. The results in the case group showed there are 86.7% of patients with hypertension in noisy areas, and 13.3% in quite áreas. The results of the control group showed there are 53.3% of patients without hypertension in noisy areas, and 46.7% in quite areas. Chi square analysis showed the result of (p = 0.011 OR = 5.688) showing there is a significant association between house noise and the occurence of hypertension in dense residential houses at East Kelayan Health Center Region Banjarmasin. Keywords: Noise homes, hypertension, solid occupancy, East Kelayan. Abstrak: Kepadatan penduduk yang tinggi dan hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin dapat memicu suatu kebisingan di wilayah tersebut. Akibat dari kebisingan tersebut dapat meningkatkan kadar hormon stres, seperti epineprin, non-epinerpin dan kortisol tubuh yang dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kebisingan rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini pasien hipertensi dan tidak hipertensi berdasarkan data rekam medis yang sesuai diagnosis dokter Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin periode Januari-Juli 2019. sampel diambil menggunakan simple random sampling. Uji análisis dengan chi-square. Hasil penelitian ini pada kelompok kasus terdapat 86,7% penderita hipertensi berada di tempat yang bising, 13,3% tidak bising sedangkan kelompok kontrol terdapat 53,3% penderita tidak hipertensi berada di tempat yang bising, 46,7% tidak bising. Hasil análisis dperoleh (p=0,011 OR=5,688) terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Kata-kata kunci: Kebisingan rumah, hipertensi, hunian padat, Kelayan Timur.
Literature Review: Hubungan Pekerjaan dan Penghasilan Keluarga dengan Kejadian Kurang Energi Kronik Pada Ibu Hamil Dwike An Nisa Kurniawan; Triawanti Triawanti; Meitria Syahadatina Noor; Djallalluddin Djallalluddin; Nur Qamariah
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.749 KB)

Abstract

Abstract: Chronic lack of energy is the condition of pregnant women who lack food intake so that they experience long-lasting poor nutritional status. A person’s condition is said to be less chronic energy if the measurement results of the circumference of his than 23,5 cm. Writing this literature review is intended to summarize what is known about the relationship between work and family income with the incidence of KEK in pregnant women. The method used is narrative review by analyzing several related journals. There are 20 journals included in the literature review. The research reviewed showed that 45% conducted research on occupational variables with KEK and 85% conducted statistical test on the relationship between family income and KEK. The results that work (66,67%) and family income (64,71%) have a relationship with KEK in pregnant women. Keywords: work, family income, lack of chronic energy, pregnant women. Abstrak: Kurang energi kronik adalah keadaan ibu hamil yang kekurangan asupan makanan sehingga mengalami status gizi buruk yang berlangsung lama. Keadaan seseorang dikatakan kurang energi kronik jika hasil pengukuran lingkar lengan atasnya kurang dari 23,5 cm. Penulisan literature review ini ditujukan untuk merangkum hal yang diketahui tentang hubungan pekerjaan dan penghasilan keluarga dengan kejadian KEK pada ibu hamil. Metode yang digunakan narrative review dengan menganalisa beberapa jurnal terkait. Ada 20 jurnal disertakan dalam literature review. Data penelitian yang direview menunjukkan 45% melakukan penelitian variabel pekerjaan dengan KEK dan 85% yang melakukan uji statistik hubungan penghasilan keluarga dengan KEK. Hasil menunjukkan bahwa pekerjaan (66,67%) dan penghasilan keluarga (64,71%) memiliki hubungan dengan KEK pada ibu hamil. Kata-kata kunci: pekerjaan, penghasilan keluarga, kurang energi kronik, ibu hamil.
Hubungan Suhu Rumah dengan Kejadin Hipertensi Muhammad Halil Gibran; Farida Heriyani; Djallalluddin Djallalluddin
Homeostasis Vol 3, No 3 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.294 KB)

Abstract

Abstract: High population density and dense housing in the area of Banjarmasin East Kelayan Health Center can trigger a hot temperature in the region. As a result of these hot temperatures can increase levels of stress hormones, such as epineprin, non-epineprin and cortisol, the body can cause hypertension. The purpose of this study is to determine the relationship of home temperature with the incidence of hypertension in dense residential dwellings in the area of Health Center East Kelayan Banjarmasin. This study uses an analytic observational method with a case control approach. The sample of this study was hypertension and non-hypertension patients based on medical record data which was according to the diagnosis by the doctor at the Kelayan East Health Center in Banjarmasin. The method of sampling uses random sampling technique which is divided into 30 groups of hypertensive cases and 30 control groups without hypertension and obtained as many as 60 samples that fit the inclusion criteria. Data analysis using Chi square test. The results of this study in the case group there were 76.7% of patients with hypertension at high temperatures, 23.3 low temperatures while the control group contained 40% of patients without hypertension at high temperature, 60%. The results of the analysis were obtained (p = 0.009 OR = 4,929) there is a significant relationship between house temperature and the incidence of fist hypertension in dense residential dwellings in the Banjarmasin Kelayan Timur Health Center area. Keywords: House Temperature, Solid residence, Hypertension. Abstrak: Kepadatan penduduk yang tinggi dan hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin dapat memicu suatu suhu panas di wilayah tersebut. Akibat dari suhu panas tersebut dapat meningkatkan pelebaran vasodilatasi pembuluh darah tepi dan vasokontraksi pembuluh darah dalam yang disertai terjadi peningkatan denyut nadi dan tekanan darah naik menyebabkan hipertensi.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan suhu rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Penelitian ini dengan menggunakan metode observasionaal analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini pasien hipertensi dan tidak hipertensi berdasarkan data rekam medis yang sesuai diagnosis dokter Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Analisis data menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian ini pada kelompok kasus terdapat 76,7% penderita hipertensi berada tinggal di rumah suhu yang tinggi, 23,3% suhu rendah sedangkan kelompok kontrol terdapat 40% penderita tidak hipertensi berada tinggal di rumah suhu yang tinggi, 60% suhu rendah. Hasil analisis diperoleh (p=0,009 OR=4,929) terdapat hubungan signifikan antara suhu rumah dengan kejadian hipertensi tinjuan pada hunian rumah yang padat di wilayah‘Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Kata-kata kunci: Suhu rumah, Hunian padat, Hipertensi
Literature Review: Perbedaan Kadar Hemoglobin dan LiLA Ibu Hamil di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan Daniar Agustini Husniah; Meitria Syahadatina Noor; Djallalluddin Djallalluddin; Nur Qamariah
Homeostasis Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.097 KB)

Abstract

Abstract: Anemia and KEK are nutritional health problems that are still widely experienced by pregnant women around the world. Some literature shows variations in the incidence of anemia and KEK between rural and urban seats. This literature review will analyze the differences in hemoglobin and LiLA levels in rural and urban pregnant women. The method used narrative review, articles obtained using keyword search in several databases with a range of publications in 2010-2020 in Indonesian or English. Of the 14 articles analyzed, 9 articles (100%) discussing about pregnant women's anemia shows a difference. While 6 out of 7 articles (85.7%) which discussed about pregnant women's KEK showed a difference, while 1 article (14.3%) equal opportunities between rural and urban pregnant women. It is influenced by multifactorials such as age, education and knowledge, food variation, parity, socioeconomic, physical activity, to environmental sanitation of pregnant women.  Keywords: hemoglobin, MUAC, pregnant, rural, urban Abstrak: Anemia dan KEK merupakan masalah kesehatan gizi yang masih banyak dialami oleh ibu hamil di seluruh dunia. Beberapa literatur menunjukkan variasi kejadian anemia dan KEK antara peduduk pedesaan dan perkotaan. Tinjauan literatur ini akan menganalisis mengenai perbedaan kadar hemoglobin dan LiLA pada ibu hamil di pedesaan dan perkotaan. Metode yang digunakan narrative review, artikel didapat menggunakan pencarian kata kunci dibeberapa database dengan rentang publikasi tahun 2010-2020 dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Dari 14 artikel yang dianalisis, sebanyak 9 artikel (100%) membahas mengenai anemia ibu hamil menunjukkan adanya perbedaan. Sedangkan 6 dari 7 artikel (85.7%) yang membahas mengenai KEK ibu hamil menunjukkan adanya perbedaan, sedangkan 1 artikel (14.3%) menunjukkan peluang yang sama antara ibu hamil di pedesaan dan pekotaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh multifaktorial seperti usia, pendidikan dan pengetahuan, variasi makanan, paritas, sosio ekonomi, aktivitas fisik, hingga sanitasi lingkungan ibu hamil. Kata-kata kunci: hemoglobin, LiLA, ibu hamil, pedesaan, perkotaan.
Relationship between C-Reactive Protein Levels, Lactate Dehydrogenase, and Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio with Coronavirus Disease 2019 Severity Hendra Wana Nur&#039;amin; I Nyoman Suarjana; Mohammad Rudiansyah; Nanang Miftah Fajari; Djallalluddin Djallalluddin
Berkala Kedokteran Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v19i1.15718

Abstract

Abstract: Risk stratification of Coronavirus disease 2019 (COVID-19) patients is very important to determine patient care and prognosis. The reliable parameters include C-reactive protein (CRP), lactate dehydrogenase (LDH), and neutrophil-lymphocyte ratio (NLR). This study aimed to determine the relationship between CRP, LDH, and NLR levels with the severity of COVID-19 patients. An observational study with a cross-sectional approach was conducted at Ulin Hospital Banjarmasin on 91 eligible subjects. A logistic regression test was conducted to determine the relationship between variables and the severity of COVID-19. The results showed that there was no significant relationship between CRP levels and the severity of COVID-19 (prevalence odds ratio (POR) 0.85, 95% confidence interval (CI 95%) 0.34-2.09, p=0.72). There was a significant difference between the mean LDH levels in severe COVID-19 compared to non-severe COVID-19 (1006 + 601.77 vs 543.5 + 480.41, p<0.001), with POR 4.23, 95% CI 95% 1.56-11.45, p=0.005; there was also a significant difference between the mean NLR values in severe COVID-19 compared to non-severe COVID-19 (9.01 + 6.32 vs 5.38 + 5.03, p=0.002) with POR of 12.21 CI 95% 3.80-39.31, p<0.001. This study showed that LDH levels and NLR values were important predictors of COVID-19 severity.