Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Upaya Peningkatan Pengetahuan PHBS di Sekolah Pada Siswa – Siswi SMPN 265 Jakarta Munawaroh Munawaroh; Dewi Suri Damayanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 14, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v14i2.1252

Abstract

Pengetahuan menjadi salah satu faktor yang membentuk perilaku seseorang. Salah satu upaya peningkatan pengetahuan PHBS di sekolah dilakukan dengan penyuluhan. Siswa-siswi sekolah belum sepenuhnya menerapkan PHBS di sekolah. 50.5% dari responden sudah berperilaku baik dalam PHBS dan 49.5% masih berperilaku buruk terhadap PHBS(Hendrawati et al., 2020). Terdapat  peningkatan pengetahuan sebesar 1.45 nilai mean hasil pre dan post test yang dilakukan terhadap 127 siswa-siswi SMP Islam Mahfilud Duror Jelbuk(Wijayanti et al., 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa-siswi SMPN 265 Jakarta tentang PHBS. Pengetahuan PHBS diukur melalui kuesioner yang diberikan sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan PHBS. Responden penelitian adalah seluruh siswa-siswi SMPN 265 Jakarta yang mengikuti penyuluhan PHBS sebanyak 154 orang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan  deskriptif kuantitatif dan desain penelitian Cross Sectional. Analisis data menggunakan uji t dependen. Hasil penelitian menunjukkan responden yang memiliki pengetahuan baik sebelum dilakukan penyuluhan 58,4% sedangkan responden yang memiliki pengetahuan baik setelah dilakukan penyuluhan sebanyak 94.8%. Hasil pre test menunjukkan rata-rata pengetahuan 7.74  sedangkan hasil post test menunjukkan peningkatan dengan rata-rata pengetahuan 9,39 dengan p value 0.000 sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan dan setelah dilakukan penyuluhan. Upaya-upaya peningkatan PHBS di sekolah hendaknya terprogram sehingga dapat tercermin dalam perilaku siswa-siswinya Kata kunci : Pengetahuan, PHBS, sekolah 
Hubungan Risiko Depresi Postpartum dengan Perkembangan Bayi USIA 3–12 Bulan Berdasarkan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) Rahmi Andrita Yuda; Munawaroh Munawaroh; Dewi Susilawati; Dewi Suri Damayanti
Jurnal Sehat Mandiri Vol 20 No 2 (2025): Jurnal Sehat Mandiri, Volume 20, No.2 Desember 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33761/jsm.v20i2.2105

Abstract

Maternal mental health in the postpartum period is a critical factor influencing infant development, especially during the First 1,000 Days of Life. Postpartum depression may impair caregiving quality and contribute to developmental delays in children. Objective: This study aimed to examine the relationship between maternal Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) scores and infant developmental outcomes based on the Developmental Pre-Screening Questionnaire (KPSP) among infants aged 3–12 months. A cross-sectional study was conducted among 85 mother–infant dyads attending Posyandu in East Jakarta. The EPDS was used to screen for postpartum depression, while KPSP assessed infant development. Data were analyzed using Pearson’s correlation. A total of 83.5% of mothers were at risk of postpartum depression (EPDS ≥10). Only 16.5% of infants showed age-appropriate development, while 56.5% were questionable and 27.1% showed developmental delays. There was a very strong and statistically significant negative correlation between EPDS scores and infant development scores (r = -0.962; p < 0.01). Conclusions: There is a significant association between postpartum depression and delayed infant development. Routine screening and community-based interventions are essential to integrate maternal mental health assessment with child development monitoring.
Faktor Psikososial Yang Berhubungan Dengan Postpartum Blues Pada Ibu Pascapersalinan: Peran Dukungan Keluarga Dan Mekanisme Koping Rahmi Andrita Yuda; Sundari Fatimah; Munawaroh Munawaroh; Siti Jumhati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1189

Abstract

Latar belakang: Masa pascapersalinan merupakan periode transisi yang dapat meningkatkan kerentanan ibu terhadap masalah emosional, salah satunya postpartum blues. Dukungan keluarga dan mekanisme koping diduga berperan dalam proses adaptasi psikologis ibu setelah melahirkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan mekanisme koping dengan kejadian postpartum blues pada ibu pascamelahirkan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) C, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada September–Desember 2025. Sampel terdiri dari 60 ibu pascamelahirkan yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga, mekanisme koping, dan postpartum blues. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher’s Exact sesuai dengan pemenuhan asumsi analisis, dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga baik (78,3%) dan memiliki mekanisme koping adaptif (85%). Sebanyak 25% responden mengalami postpartum blues. Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dan kejadian postpartum blues (p < 0,001). Ibu dengan dukungan keluarga kurang baik lebih banyak mengalami postpartum blues dibandingkan ibu dengan dukungan keluarga baik. Mekanisme koping juga berhubungan secara bermakna dengan postpartum blues (p < 0,001); seluruh responden dengan mekanisme koping maladaptif mengalami postpartum blues. Kesimpulan: Dukungan keluarga dan mekanisme koping berhubungan dengan kejadian postpartum blues pada ibu pascamelahirkan. Deteksi dini kesehatan mental, pelibatan keluarga, dan penguatan mekanisme koping adaptif perlu diintegrasikan dalam pelayanan asuhan pascapersalinan.
Pemberdayaan Masyarakat dengan Optimalisasi Penggunaan Buku KIA Untuk Pemantauan Perkembangan Balita Dewi Suri Damayanti; Munawaroh Munawaroh; Febi Puji Utami; Rahmi Andrita Yuda
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 10, No 3 (2026): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (PAMAS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/pamas.v10i3.6883

Abstract

The Maternal and Child Health (MCH) Handbook is a standard guideline established by the Indonesian government and used by midwives, health workers, community health workers, and parents to monitor the growth and development of toddlers. However, challenges persist in its implementation, including a lack of parental understanding, inconsistent record-keeping, and low health worker outreach in some areas. Based on observations at the Mawar 3 Integrated Service Center (Posyandu) in Gedong Village, East Jakarta, the development monitoring sheet in the MCH handbook was not completed due to staff time constraints and limited knowledge of toddler development monitoring. This lack of community understanding regarding stimulation and monitoring toddler development risks missing developmental delays in children. The purpose of this community service activity is to assist Posyandu cadres in monitoring toddler development and to raise community awareness about independently monitoring toddler development using the MCH handbook. The methods used were: (1) Brainstorming with cadres regarding the use of the MCH book, specifically for stimulating and monitoring toddler development. (2) Creating media for outreach in the form of leaflets and educational videos, which will then be given to cadres to facilitate their outreach. (3) Training of Posyandu cadres on how to fill in toddler development in the KIA book. (4) Counseling and simulation of toddler development monitoring for mothers/caregivers of toddlers so that they can monitor toddler development based on the MCH book independently. The results of community service include increased skills among the cadre, enhanced knowledge and skills among mothers/caregivers, and the availability of educational materials, such as leaflets and videos, on monitoring toddler development using the MCH book. Suggestions: Monitoring toddler development is carried out consistently across age stages, both by cadres and independently by toddlers' mothers/caregivers