Heny Suseani Pangastuti
Departemen Keperawatan Medikal Bedah, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Factors Affecting Nurses’ Compliance in Implementing Standard Precautions in Government Hospital in Yogyakarta Rina Wijayanti Sagita; Heny Suseani Pangastuti; Syahirul Alim
Indonesian Contemporary Nursing Journal Volume 3 No. 2 Februari 2019
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/icon.v3i2.4972

Abstract

Background:Nosocomial infection is infections that occur in patients when they are hospitalized. Data in several countries found that hundreds of millions patients worldwide are exposed to nosocomial infection each year. Standard precautions are applied to prevent infections in the hospital. The results of observations and interviews on nurses at Wates Regional Public Hospital found non-compliance of nurses in implementing standard precautions.Objective:The aim of this study is to determine factors affecting nurses’ compliance in Wates Regional Public Hospital, Yogyakarta.Method: This was cross sectional study, using questionnaire and standard precautions compliance check list. Observation was conducted twice on june 26th to July 7th, 2018. The subjects were 103 nurses in 10 inpatients room, taken by total sampling. Data was analyzed by pearson, spearman and mann whitney u test as bivariate, and also linier regression as multivariate.Result:The result of this study indicate that there were significant relationship between gender, standard precautions knowledge, motivation and work experience with nurses’ (p < 0,05), while there were insignificant relationship between age, education level, attitude,  risk perception, preventive efficacy, risk taking personality, needle punctured experience, workload, infection knowledge, work stress, obstacles in standard precautions, the availability of personal protective equipment, safety climate and safety performance feedback with nurses’ compliance (p > 0.05). Multivariate test indicate that motivation has a dominant influence on nurses’ compliance.Conclusion and Suggestion: Factors influencing  nurse compliance with standard precautions include motivation, work experience and risk taking personality. The dominant factor influencing nurse compliance with standard precautions is motivation.  Suggestions from this study are to improve the completeness of facilities and tools related to standard precautions, monitoring and evaluation of nurses’ compliance. Further study needs to be held related to standard precautions each component include hand washing, personal protective equipment usage, care equipment decontamination, safe injecting practices, sharp objects and waste management.Key words:nosocomial infection, compliance to standard precaution, Wates Regional Public Hospital  1: Wates Regional Public Hospital2: Master in Nursing, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing UGM 
Literasi kesehatan pasien kanker tentang traditional complementary and alternative medicine (TCAM) Andham Dewi; Supriyati Supriyati; Heny Suseani Pangastuti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.655 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40561

Abstract

Latar belakang: Prevalensi nasional kanker semakin meningkat yaitu pada tahun 2018 sebesar 1,8% berdasarkan data Riskesdas. Sebagian besar pasien kanker tertangani pada saat stadium tinggi sehingga mempengaruhi hasil pengobatan. Keberhasilan penanggulangan penyakit kanker dipengaruhi oleh keterlambatan pengobatan medis serta penggunaan Traditional Complementary And Alternative Medicine (TCAM). Penggunaan TCAM terbukti secara signifikan mempengaruhi penundaan pengobatan medis pada pasien kanker. Perilaku pengambilan keputusan pasien untuk berobat dipengaruhi oleh literasi kesehatan pasien.Tujuan: Studi literatur ini bertujuan untuk memahami pentingnya peningkatan literasi kesehatan dalam pengambilan keputusan pasien kanker.Konten: Beberapa penelitian menunjukkan banyak pasien yang menggunakan TCAM baik sebelum ataupun selama menjalani pengobatan medis. Praktik penggunaan TCAM pada pasien kanker sebelum pengobatan medis akan berdampak pada penundaan pengobatan medis serta memperparah kondisi penyakit. Sedangkan penggunaan TCAM yang bersamaan dengan pengobatan medis dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan medis. Literasi kesehatan adalah kemampuan individu untuk memperoleh akses, memroses, memahami, serta menggunakan informasi untuk meningkatkan status kesehatan, menentukan keputusan kesehatan dan berperilaku sesuai informasi yang didapatkan. Beberapa penelitian menunjukkan belum terpenuhinya kebutuhan informasi pasien kanker mengenai TCAM. Sumber informasi mengenai TCAM paling banyak berasal dari teman pasien dan internet. Selain itu pengguna TCAM tidak pernah mendiskusikan penggunaan TCAM ataupun mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan meskipun menurut informan tenaga kesehatan merupakan sumber informasi yang paling dipercaya. Peningkatan literasi kesehatan dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan informasi pasien terkait TCAM. Hal tersebut dapat dilakukan melalui: edukasi kesehatan melalui peer group; edukasi kesehatan berbasis internet; media alat bantu pengambilan keputusan pasien kanker; serta edukasi kesehatan melalui tenaga kesehatan/fasilitas pelayanan kesehatan. Diperlukan studi lebih lanjut mengenai peningkatan literasi kesehatan dan pemenuhan informasi kesehatan mengenai TCAM pada pasien kanker untuk mendukung upaya promosi kesehatan dalam pencegahan dan rehabilitasi penyakit kanker.
Kebutuhan Family Caregiver Penderita Gagal Jantung Post Hospitalisasi Di Kabupaten Indragiri Hulu Ardianto Ardianto; Heny Suseani Pangastuti; Syahirul Alim
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.551 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i1.1208

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan family caregiver penderita gagal jantung selama melakukan pengasuhan pada tahap post hospitalisasi. Rancangan mixed methods jenis sekuensial eksplanatori melibatkan 97 responden dan 5 partisipan dari family caregiver penderita gagal jantung post hopitalisasi. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan mixed methods jenis sekuensial eksplanatori. Penelitian dilakukan selama 2 bulan di Kabupaten Indragiri Hulu. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan criterion sampling. Instrumen FNAT modifikasi dipakai untuk menilai kebutuhan family caregiver dan didukung oleh panduan wawancara mendalam. Data kuantitatif dianalisis dengan analisis deskriptif dan data kualitatif menggunakan content analysis, diintegrasikan melalui pendekatan joint displays. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata dari masing-masing domain kebutuhan meliputi: kebutuhan informasi (88,80±9,16), kebutuhan kesehatan (88,66±9,31), kebutuhan rumah tangga (72,68±18,51), kebutuhan dukungan sosial (71,55±13,72) dan kebutuhan finansial (66,39±10,23). Enam tema yang ditemukan adalah: beban psikologis dan gangguan kesehatan, bantuan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, keuangan keluarga tidak mencukupi, kurang informasi tentang penyakit dan penanganannya, membutuhkan dukungan dari orang terdekat, serta kebingungan menghadapi penyakit yang tidak dapat diprediksi. Disimpulkan bahwa selama merawat penderita gagal jantung pada tahap post hospitalisasi, family caregiver membutuhkan dukungan informasi, bantuan kesehatan, bantuan finansial, bantuan pekerjaan rumah tangga, serta dukungan sosial keagamaan.
Tingkat Risiko Kejadian Kardiovaskular pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Aini, Fiska Nur; Wicaksana, Anggi Lukman; Pangastuti, Heny Suseani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.439 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.191

Abstract

ABSTRAKIndividu dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat terjadinya risiko kejadian kardiovaskular, yaitu serangan jantung atau stroke. Organisasi kesehatan dunia dan masyarakat international hipertensi mengembangkan alat untuk memprediksi tingkat risiko kejadian kardiovaskular dalam kurun waktu sepuluh tahun yang akan datang. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkatan risiko kardiovaskular pada penyandang diabetes tipe 2 dalam sepuluh tahun mendatang di Yogyakarta. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan di Puskesmas Depok, Yogyakarta dengan menggunakan teknik proportional sampling pada tiga Puskesmas Depok. Responden penelitian yaitu pasien terdiagnosis diabetes tipe 2, berusia 40-79 tahun, dan tidak memiliki komplikasi atau penyakit lain. Instrumen yang digunakan yaitu WHO/ISH risk prediction charts wilayah Indonesia (SEAR B) untuk menilai tingkatan risiko kejadian kardiovaskular. Data diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko kejadian kardiovaskuler yang dimiliki. Data dianalisis secara univariat. Hasil: Sejumlah 66 responden terlibat dengan mayoritas responden adalah perempuan, tidak bekerja, menikah dan rerata usia 61,02 ± 8,86. Tingkat risiko kejadian kardiovaskular penyandang diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok, Yogyakarta dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang yaitu risiko rendah 56,1%; risiko sedang 30,3%; risiko tinggi 9,1%; dan risiko sangat tinggi 4,5%. Lebih dari separuh responden memiliki risiko rendah (<10%) terkena serangan jantung atau stroke dalam waktu sepuluh tahun mendatang. Selain itu, satu dari tiga responden memiliki risiko sedang (10-20%) terjadi serangan jantung atau stroke. Kesimpulan: Separuh dari responden penyandang diabetes memiliki risiko non-fatal kejadian kardiovaskular.Kata Kunci: diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, insidenRisk Level of Cardiovascular Event Among Type 2 Diabetes Mellitus ABSTRACTIndividuals with type 2 diabetes have two to three times risk of cardiovascular event, as heart and stroke attack. World Health Organization and International Society of Hypertension had developed a prediction method of the risk level of cardiovascular event for the following ten years. Objective: This study aimed to identify the risk level of cardiovascular event over the next ten years on people with type 2 diabetes in Yogyakarta. Method: The study used a cross-sectional design in three Public Health Centers Depok, Yogyakarta using proportional sampling technique. The respondents were patients diagnosed with type 2 diabetes, age of 40-79 years, and no comorbidity. The WHO/ISH risk prediction charts for diabetes population in Indonesian (SEAR B) was used to assess the risk level of cardiovascular event. Data was analyzed with univariae analysis. Results: A total of 66 respondents were recruited after reviewing eligibility criteria. The majority of the respondents were women, unemployed, married, and the average age was 61.02 ± 8.86. The risk levels of cardiovascular event among participants in the next ten years were gradually low risk (56.1%); moderate risk (30.3%); high risk (9.1%); and very high risk (4.5%). More than a half of participants had low risk or less than 10% for being cardiovascular event in the following ten years. Furthermore, one third of participants had moderate risk or 10-20% developing cardiac arrest or stroke attack. Conclusion: A half of diabetes participants had non-fatal risk of cardiovascular event.Keywords: type 2 diabetes, cardiovascular disease, incidence
Kualitas Hidup Peserta Prolanis Diabetes Tipe 2 di Yogyakarta Noviyantini, Ni Putu Ayu; Wicaksana, Anggi Lukman; Pangastuti, Heny Suseani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.699 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.183

Abstract

ABSTRAKDiabetes merupakan penyakit metabolik yang dapat berpengaruh pada kualitas hidup. Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes melalui Prolanis. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian ini adalah peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta berjumlah 85 orang, diperoleh dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengkaji kualitias hidup adalah Diabetes Quality of Life-Brief Clinical Inventory. Analisis data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil: Rerata kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 adalah 3,84 ± 0,51. Angka tersebut relatif mendekati nilai optimal yang menunjukkan kualitas hidup baik. Rerata kualitas hidup berdasarkan karakteristik demografi ditemukan bahwa pada kelompok usia dewasa akhir (≥ 60 tahun), berjenis kelamin laki-laki, pendidikan terakhir SMP, tidak bekerja, berstatus menikah, berpenghasilan 2 juta - 4 juta, lama menyandang diabetes selama <5 tahun, mengikuti Prolanis ≥ 6 bulan, dan tidak memiliki penyakit penyerta menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik. Kesimpulan: Kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta dalam kategori baik.Kata Kunci: diabetes mellitus, diabetes tipe 2, kualitas hidup, Prolanis Quality of Life Among Prolanis Members of Type 2 Diabetes in Yogyakarta ABSTRACTDiabetes is a metabolic disease that will affect quality of life. Implementing Prolanis is the current effort of the Indonesian government to improve the quality of life for people with diabetes. Objective: The research aimed to determine the quality of life for Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Method: It was a quantitativedescriptive study with a cross-sectional design. Respondents involved were Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. We recruited 85 respondents using total sampling technique. Diabetes quality of life-brief clinical inventory assessed quality of life among respondents. The analysis was presented in a distributionfrequency table. Results: The average quality of life of Prolanis type 2 diabetes participants was 3.84 ± 0.51, relatively closed with the optimal number, which indicated good quality of life. The average quality of life based on the demographic characteristics revealed the age group of late adult, male, junior high school alumnae, unemployed person, marriage, income 2 - 4 million, having diabetes for <5 years, following Prolanis ≥ 6 months, and no comorbidity indicated good category of quality of life. Conclusion: Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta have good category of quality of life.Keywords: diabetes mellitus, Prolanis, quality of life, type 2 diabetes
Analisis Subjective Well-being Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Haerianti, Masyita; Warsini , Sri; Pangastuti, Heny Suseani
Journal of Health, Education, Economics, Science, and Technology (J-HEST) Vol. 1 No. 1 (2018): Journal of Health, Education, Economics, Science, and Technology
Publisher : Journal of Health, Education, Economics, Science, and Technology (J-HEST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36339/

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan subjective well-being pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Jumlah sampel 110 orang. Penelitian dilakukan di Unit Hemodialisis RSUP Dr.Sarjito Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Pengambilan data menggunakan lima kuesioner yakni kuesioner data demografi, kuesioner Personal Wellbeing Index-Adult (PWI-A), kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), kuesioner Sarason’s Social Support Questioner (SSQ) dan kuesioner nilai-nilai agama dengan analisa data chi-square dan uji regresi logistic berganda dengan metode backward. Mayoritas pasien memiliki subjective well-being yang tinggi. Faktor yang berhubungan dan paling dominan memengaruhi subjective well-being hanya harga diri (p=0,010). Faktor yang berhubungan dengan subjective well-being yakni jenis penyakit dan harga diri. Faktor yang paling berhubungan adalah harga diri. Berbagai tindakan yang dapat meningkatkan harga diri pasien hemodialisa penting untuk dilakukan untuk meningkatkan subjective well-being pasien.
The Effect of Hydrotherapy (Warm Water Feet Soaks) on Blood Pressure in Hypertension Patients Librianty, Rina; Lismidiati, Wiwin; Pangastuti, Heny Suseani
Journal of Nursing Care Vol 8, No 2 (2025): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i2.63378

Abstract

Hypertension, if not treated immediately, can cause various complications. One non-pharmacological therapy that can lower blood pressure is hydrotherapy (soaking the feet in warm water). Hydrotherapy (warm water foot soak) is a water therapy that can dilate blood vessels so that it can improve blood circulation and reduce blood pressure. The intervention was given 6 times in a row using warm water with a temperature of 38°C- 40°C, duration 15-20 minutes, water height 25 cm from the soles of the feet to above the ankles without using footwear, to maintain the stability of the water temperature using aluminum foil which was covered over the surface of the basin. The sample in this study were 30 hypertensive patients in the intervention group and 30 in the control group. Data analysis used an independent T-test .There was an effect of hydrotherapy (warm water foot soak) on blood pressure in the intervention group, the results were obtained (p = 0.001). Hypertension if not treated immediately can cause various complications. One of the non-pharmacological therapies that can lower blood pressure is hydrotherapy (warm water foot soak). Hydrotherapy (warm water foot soak) is a water therapy that can dilate blood vessels so that it can smooth blood circulation and lower blood pressure. The intervention was given 6 times in a row using warm water with a temperature of 38 ° C- 40 ° C, a duration of 15-20 minutes, a water height of 25 cm from the soles of the feet to above the ankles without using footwear. The sample in this study were 30 hypertensive patients in the intervention group and 30 in the control group. Data analysis used an independent T-test. There was an effect of hydrotherapy (warm water foot soak) on blood pressure in the intervention group, the results were obtained (p = 0.001)
Factors associated with the use of long-acting contraceptive methods (LACMs): an analysis of Sleman HDSS 2016 Dewi, Andham; Supriyati; Pangastuti, Heny Suseani
BKM Public Health and Community Medicine Vol 37 No 05 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v37i05.22147

Abstract

Purpose: This study aimed to analyze the relationship between individual and service-related factors and the use of long-acting contraceptive methods among women of reproductive age in Sleman Regency, Yogyakarta. Methods: This was a cross-sectional study using secondary data from the Sleman Health Demographic Surveillance System (HDSS) cycles 1 and 2. Study samples were married women of reproductive age who were using modern contraception. Multivariable analysis was performed using logistic regression. Results: The prevalence of LACM users in Sleman is 47.01%, while non-LACM users account for 52.99%. Variables included in the multivariable analysis were age, education, urban-rural status, socioeconomic status (SES), family planning services, type of care provider, and method of payment. Variables that significantly influence LACMs utility are urban-rural (OR=2.2; p=0.002; CI=1324-3,728), SES (OR=2.9; p=0,000; CI=1,768-5,041) free contraceptives (OR=17.22; p=0,000; CI=7.093-41.81), and national health insurance (OR=4.8; p=0,000; CI=2,923-7,930). Conclusion: Individual factors influencing the use of LACMs include place of residence and socioeconomic status, while health service factors include free contraceptive distribution and national health insurance.